9.5.05

AWAir, Medan


Sudah lama sekali aku tidak harus masuk ke terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan domestik yang aku lakukan hampir selalu take off dari terminal 2. Rasanya terakhir kali aku terbang via terminal 1 itu hampir 3 tahun yang lalu, di pertengahan tahun 2002. Tiga tahun yang cukup membuat aku lupa betapa semrawut, kumuh dan sesaknya terminal 1. Entah kenapa, terminal 1 seperti anak tiri saja. Menurutku, karena terminal 1 identik dengan penerbangan domestik (dan terminal 2 dengan penerbangan internasional walaupun ada beberapa penerbangan domestik dari maskapai tertentu terbang dari terminal 2) seharusnya pihak Angkasa Putra justru lebih memperhatikan kualitasnya. Bukankah kita harus terlebih dahulu memperhatikan dan menjamin keamanan, keselamatan dan tentu saja kenyamanan kawan sebangsa? Sayangnya di negara ini segala sesuatu memang sering terbalik-balik.

Kalau di terminal 1, kita bisa menunggu orang sebelum masuk ke terminal dengan suasana (agak) adem karena pendingin ruangan, di terminal 1 silahkan berpanas-panas. Begitu masuk ke dalam, langsung dihadapkan oleh sejejeran loket untuk check in yang sudah pasti penuh sesak, dan duh, suka bikin miris, tapi kenapa sih orang-orang ini sangat sulit untuk MENGANTRI? Masih mending kalau bawaannya hanya sebuah koper tenteng, ini sih biasanya bawaannya segudang. Yah, sama aja sih dengan bawaannku saat itu, untuk 5 orang, plus dus-dus berisi undangan untuk dibagikan alias disebar di Medan dan sekitarnya. Pelayanan yang ajaib, dan astaganaga, ternyata satu orang hanya punya jatah 15 kilogram, Duh, nasih oh nasib tiket murah, terbiasa dimanja dengan jatah tiket 20 kg (dan kadang masih suka lebih), kaget juga dengan batas yang "hanya" 15 kg. Terpaksalah aku check-in kan ayahku yang sebetulnya tidak jadi berangkat, lumayan kan ada esktra 15 kilogram, walaupun tiket sih tetap angus, karena kan gak jadi berangkat.

Tapi satu hal yang bikin aku kaget, ternyata tidak ada nomor seat! Astaganaga. Istilah si dia sih Free-Seating. Kalau di luar Jawa, apalagi di tempat-tempat terpencil yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat-pesawat kecil sih aku bisa mengerti. Tapi ini terjadi di Bandara Soekarno Hatta, di pesawat Awair dalam perjalanan Jakarta-Medan.

Pertanda-oh pertanda. Aku memang enggan banget untuk berangkat. Maklum biar darah batak mengalir deras di dalam tubuhku ini, tapi kalau sudah giliran berkunjung kesana, aku selalu saja mengalami culture shock. Darahku memang batak, darah dari oang tua, tapi cara hidupku sudah terlalu Sunda, begitu teman-temanku bilang, jadi aku suka kerepotan, terkaget-kaget dan canggung di lingkungan keluarga sendiri. Jangan salah, sampai sekarang, aku tetap bilang "pulang" kalo di tanya tentang kepergianku ke Bandar Parmonangan, Siantar, daerah asal ayahku, tapi untuk menginjakan kaki di Medan selalu membuat aku mual-mual. Sayangnya aku harus menghabiskan beberapa hari di Medan sebelum berangkat ke Tarutung. Mudah-mudahan bisa bertahan, soalnya aku sangat menikmati kampung halamanku itu, di luar Medannya ya. Aku senang sekali bisa ada di kampung di Siantar, bisa jalan-jalan ke Prapat dan Samosir untuk main ke Tolping dan daerah-daerah lain di luar Medan deh.

Hmmm, sekarang aku masih menunggu di ruang boarding. Mudah-mudahan saja tidak ada penundaan keberangkatan. Aku ingin segera sampai, bukan karena begitu ingin tiba di Medan (itu mah malah bikin tambah males, karena aku harus -lagi lagi- menginap di Hotel Danau Toba, hotel yang sangat tidak aku suka dan hotel yang paling ajaib yang pernah aku temukan, tapi karena banyak hal tetap harus aku tinggali selama beberapa hari ke depan), tapi aku ingin segera bisa istirahat, tidur atau berenang disana.

OK, deh, hanya semingguan lebih kok, demi adik tersayang…

(ps: penulisan memang di ruang boarding, tapi usaha untuk upload dilakukan malam-malam di kamar hotel)