17.3.05

Suka Suka Dong

Pagi-pagi suasana hati agak aneh. Mungkin karena mendung. Padahal hari ini, jadwal ngajar sangat tidak bersahabat. Selang 1-1,5 jam untuk pergantian kelas (dan pergantian kampus). Artinya, waktu nanggung untuk ngapa-ngapain.

maaf ya, Pak, gak tahan aku untuk tidak publish foto ini Herannya, pagi-pagi memang sudah ada aja yang bikin kesal. Setelah kelas yang jam 7 pagi, aku harus ke tempat lain untuk kelas berikutnya. Harus datang lebih cepat di tempat berikutnya karena ada utang nilai yang harus diselesaikan. Ealaaaa, sampai di tempat parkir ada mobil parkir persis di belakang mobil dengan rem tangan dan tanpa menitipkan kunci mobil pada pak satpam. Ggrrhhh!!!!! Bayangkan saja, harus mencari pemilik mobil di sebuah kampus sama sekali bukan pekerjaan mudah. Walhasil, aku bengong selama satu jam (!), kelaperan dan kesal (jadi sebetulnya kesel karena lapar atau karena terlambat ke tempat selanjutnya?).

Bukan pertama kali. Dulu, aku dan Lusi pernah mengalami hal yang sama di Lomie Imam Bonjol. Tilik punya tilik, si empunya mobil sedang makan persis di samping mobil tersebut, dan adalah orang yang pertama kali kami tanya (Ada yang punya mobil ini gak?), dan tidak menjawab apapun. Aku dan Lusi terpaksa kesal selama satu jam!

Dua kasus di atas punya kesamaan. Waktu yang punya mobil datang, gayanya itu DeWeDe abis (dingin we dingin). Senyum sedikit ke entah siapa, terus dengan santai masuk ke mobil. Tanpa basa basi sama sekali.

Pilihan: terbakar emosi atau terbakar emosi. Iya gak sih? Berhubung harus buru-buru, jatah bakar membakar emosi aku berikan pada pak satpam (Bu, ini pasti saya marahi habis-habisan, ini nih, dosen luar biasa deh kayaknya).

Kesadaran. Akal sehat. Memikirkan orang lain. Sadar diri!

Itu yang harus dilakukan setiap orang yang harus parkir di lokasi padat parkir. Kalau tidak mau titip kunci, jangan parkir di tempat yang bisa memicu kerusuhan dan emosi dong! Atau, kalau memang tidak tahu aturan parkir, ya sudah, naik angkot, bus, beca atau jalan kaki, gih.