9.3.05

JavaJazzKu


Keren Banget!

Susah sekali untuk bisa menuliskannya disini. “More than words”. Aku senang sekali. Menikmati 3 hari tersebut yang melelahkan, bikin pegal (gimana gak pegal, wong harus terus menerus berdiri, tapi menjadi sebuah pencerahan (hahahaha). Tidak ada penyesalan, walaupun harus nonton sendiri!

Image hosted by Photobucket.comSeandainya saja, hidup aku bisa terus-terusan ada di tengah-tengah musik. Selalu mendengar musik, selalu melihat penampilan mereka yang punya kemampuan dalam bermusik. Betul-betul membuat aku hidup. Bayangkan saja ada 11 panggung, di kiri kanan ada panggung. Aku bahkan merasa kesal dan frustasi lebih karena sulit menetapkan mau melihat penampilan siapa, karena sebagian besar yang tampil di situ sangat aku suka, kalaupun tidak, aku sangat ingin melihat penampilan mereka.

Kalau aku harus bikin daftar terbaik, bakal muncul kayak gini nih.

Kelompok musik paling bikin kaget: Deodato. Betul-betul dahsyat! Aku hampir tidak menonton mereka, masuk ke plenary hall tanpa sengaja, dan astaga, betul-betul keren. Dapat bonus melihat gitarisnya bermain ala Jimmi Hendrix, bergitar dengan gigi. Waw. Rasanya, tata panggung paling asik juga pas mereka ini loh.

Image hosted by Photobucket.comPenyanyi perempuan paling bikin kaget: Rieka Roeslan. Sungguh, mengagumkan. Heran ya, kok begitu banyak perempuan bertubuh mungil punya suara yang begitu menggelegar. Lihat saja Ruth Sahanaya, kan! Makin ingin dapat kasetnya Teteh satu ini. Lagu-lagu karangan dia begitu berbeda, penampilannya atraktif dan suaranya, duh seandainya saj aku punya sepersekian persen dari suara dia loh.

Penyanyi laki-laki paling bikin kaget: Malik and the essentials. Datang di menit-menit terakhir, ruangan Cendrawasik sudah membludak, tapi untunglah aku berhasil dapat satu trik untuk selalu bisa dapat tempat di sebuah ruangan yang terlihat membludak (dan terbukti trik ini sangat jitu, yah, itulah hasil menonton terus menerus selama 3 hari, makin gape cari pertunjukan dan tempat). Dan, hasilnya, aku musti memberi tepukan kagum deh. Penampilannya memukau, bisa ngajak semua orang di ruangan untuk masuk ke mood-nya Malik, dan suaranya juga asik. Yah, selama ini kan cuman lihat penampilan dia dalam Too Phat, tapi kemarin, weiii, gak nyesel deh.

Penyanyi perempuan terjazzy jelas Lizz Wright. Aku bersyukur banget bisa melihat penampilan perempuan yang satu ini. Kok bisa ya, nyanyi seperti itu? Sepertinya untuk seorang Lizz Wright, aku tidak perlu berkata-kata apa apa lagi!

Penyanyi laki-laki terjazzy siapa ya? Bisa jadi aku akan coba pilih George Duke saja deh. Penampilan awal yang bikin aku kasuat-suat. Melihat George Duke bermain, sambil juga bernyanyi di satu atau dua lagu. Suaranya berat, tapi pas nyanyi, pasti suara falset-nya yang keluar. Romantis pula! Disitu juga aku bisa liat penampilan Glen yang, menurut aku, terbaik! Glen jelas tampil habis-habisan, dan memang betul-betul memukau.

Perempuan dengan penampilan paling asik: Angie Stone. Hmm, mengantri di jajaran terdepan, berlari untuk dapat jajaran paling depan…dan berhasil. Puas banget. Setelah beberapa lagu, baru sadar, aku dan adikku dan Erik dan Iman berada di jajaran paling depan, padahal di belakang kami ada orang-orang yang kira kira ¾ kami tingginya. Duh, maaf…maaf. Sedih juga, kok cepat sekali ya selesainya. Love you, Angie!

Image hosted by Photobucket.comPertunjukan paling menarik: Earth Wind and Fire Experience. Kalau menurut Iya, lebih tepatnya sih McKay and friends ya? Ruangan penuh. Tiket terjual habis (makasih ya, Nggam, buat tiketnya!). Duh, bahkan saat ini pas menulis pun, masih bisa terasa suasana di plennary hall. Seandainya bisa diulang. Mereka bernyanyi kaya sedang sprint. Cepat dan langsung. Mungkin karena ada Incognito setelah itu ya?

Kelompok yang paling bikin kasuat-suat: Tiempo Libre. Nyaris tidak ditonton karena sudah mau pulang, ternyata, untungnya Erik dan Herwin masih berniat nonton. Ya ampun, merengge. Sudah lama sekali bisa berlatin ria. Aku kangen banyak hal. Penampilan Tiempo Libre betul betul meriah, bahkan di kala sebagian besar penontonnya dingin-dingin dan malu-malu untuk turun, walaupun vokalisnya sudah turun panggung dan mengajak menari bersama. Jelas, cari kaset Tiempo Libre setelah ini.

Penampilan paling akrab: Sue and friends. Jelaslah, itu kan sessi nge-jamm bareng. Asik banget. Terutama karena mereka tidak hanya main jazz tapi blues. Blues gitu loh. Asik banget.

Paling cantik: Ruth Sahanaya. Tampilannya memukau, cantik banget banget, dengan suara yang gak perlu ditanya. Aku hampir selalu menonton konser Ruth, kemarin itu kayaknya yang paling cantik. Bukan berarti menyanyinya tidak asik ya, tapi kemarin itu aku terpukau banget deh.

Tradisional paling asik: Kul Kul. Mereka memainkan janger. Seru!

Paling ngebosenin: elfa pop and jazz choir, aku gak bilang jelek, tapi agak bosan, apalagi hari sebelumnya sudah liat Elfa Singers, terus komposisi lagunya sudah sangat sering dibawakan mereka. Untunglah segera pindah lihat funky thumb terus dilanjutkan dengan kul kul.

Kekesalan paling top; Laura Fygi dipercepat satu jam tanpa pemberitahuan. Aduh, rasanya ini kepala mau meledak, waktu jalan ke ruangan Assembly untuk melihat penampilan Laury Fygi, ealah, kok malah udah pada bubaran. Padahal, aku memilih hari Jumat untuk melihat dia. Kesal banget banget! Heran deh. Walaupun disana sini ada keterlambatan, bahkan untuk plenarry hall bisa sampai satu jam lebih, tapi mempercepat penampilan itu sangat sangat terlarang!

Tapi, gosh, betulan deh, suasananya betul betul asik. Kamu mendenger musik dimana-mana, dengan permainan yang memukai, bukan hanya teknik indah, tapi juga indah didengar dan asik ditonton karena mereka punya kekuatan untuk menghibur. Seandainya, bisa terus ada javajazz.. (dengan wish list: Al Jarreau!!!!)
ps: foto2nya ditunggu saja di yahoo, sebagian besar aku rekam sih, bukan aku foto :))
Tambahan nih:
hasil ngobrol-ngobrol sore dengan tante toko bintang balubur (kalau suka cari kaset aneh-aneh pasti tahu toko yang satu ini plus sang tantenya), kita sampai pada kesimpulan bahwa memang, bule-bule yang datang di festival itu umumnya tidak terlalu dikenal publik Indonesia, kasetnya umumnya tidak masuk ke pasaran umum. Terbukti, aku gagal mencari kaset antara lain Tiempo Libre, Angie Stone, Eric Bennet, Deodato dan Rieka Roeslan (eh, ini sih penyanyi lokal yang juga sulit dicari kasetnya, kecuali kalau dicari ke Halaman deh kayaknya). Earth, Wind and Fire hanya dapat CD vol 1 dari kumpulan hitsnya. Mudah-mudahan setelah festival, kaset-kaset mereka mulai masuk pasaran nih.