23.3.05

Hari Paling Gak Puguh Sedunia

Sering sekali, seharian itu semuanya menjadi serba salah, menjadi tidak pararuguh.

Seperti hari kemarin. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur, semuanya gak puguh.

Bangun pagi, gak puguh ngapain, tiba-tiba sudah jam 10 pagi. Walhasil sampai di kantor sudah jam 11-an. Langsung persiapan ngajar, ternyata otak sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Kosong. Tengah hari, diajak keluar. Antara langsung pergi atau tidak. Herannya, si boss tidak menunjukkan tanda-tanda mau keluar makan siang bareng sampai hampir jam 1. Ya sudah, aku keluar saja dulu. Eh, begitu keluar kantor, tiba-tiba emosiku tinggi lagi. Hanya karena hal-hal kecil yang tidak penting. Untunglah gak perlu marah-marah lama-lama. Sampai di kantor, perut lapar sekali karena belum makan, tapi si boss menolak makan siang. Ya, sudah, aku coba bertahan dengan buku-buku di depan mata, tapi sama sekali tidak bisa konsentrasi. Kacamata yang baru seminggu bercokol terasa sangat mengganggu. Dipakai salah, tidak dipakai juga salah. Perut memberontak minta diisi. Aku putuskan pulang ke rumah dulu, makan siang sekalian ambil partitur yang ketinggalan untuk latihan sore ini. Ternyata, aku jatuh tertidur dengan pakaian lengkap sampai hampir jam pulang kantor (kwakakakak). Begitu terbangun, langsung kembali ke kantor, dan jujur bilang sama boss kalau aku ketiduran. Dan ternyata si boss tetap belum makan siang (yang terbukti kemudian bahwa si boss pundung, wadoh). Tidak lama di kantor karena harus latihan yang hari ini dipercepat sejam. Tapi ternyata di jalan, maag aku sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Walhasil, aku ambil jalan berputar. Pulang. Ritual teteleponan sebelum tidur kemarin juga berakibat aneh. Tidak puguh. Sakit. Walhasil, aku merasa de javu. Kembali mengulang semua hal yang begitu pahit yang sama sekali tidak ingin aku rasakan.

Apa mau dikata. Kemarin memang hari paling tidak puguh sedunia. Hampir setahun lalu, abang pernah bilang, kalau sedang tidak puguh berarti tahu yang puguh-nya. Betulkah seperti itu? Aku merasa memulai pagi dengan segala sesuatu yang serba tidak puguh dan itu berimbas sampai ke malam hari. Pernah kayak gitu? Semua jadi serba salah.

Apakah aku tahu yang puguh-nya? Mungkin. Tapi itu tidak bisa merubah kenyataan, semuanya serba gak puguh.

Puguh itu bahasa Sunda yang aku juga kerepotan mencari padanan bahasa yang sebenar-benarnya