29.3.05

Moci Sukabumi

foto moci ini disimpen di Photobucket.comAku suka moci. Itu loh, makanan khas Sukabumi. Kalaupun tidak sempat lewat Sukabumi, moci bisa kamu beli hampir di setiap toko oleh-oleh sepanjang jalan besar di Kota Cianjur. Bentuknya bulat, kenyal kenyel dengan kacang didalamnya, dan dilumuri tepung putih. Rasanya manis, kadang agak sepet karena tepung putihnya.

Belinya memang bisa dimana-mana. Harganya juga tidak mahal. Herannya, orang masih suka membeli semurah mungkin, kadang dari tangan-tangan tidak bertanggungjawab, alias bukan di toko. Rasanya sering kali seperti kacang basi, bentuknya juga aneh.

Ternyata, tidak banyak yang setuju bahwa moci itu enak. Mas Firman, misalnya, tidak terlalu suka moci. Mau tau, katanya moci itu dibuatnya di kelek gitu. Kekekek. Jorok ya. Harus diperagakan dulu, baru bisa terbayang. Jelas aku dan rombongan terkekeh-kekeh, antara tidak percaya dan percaya sih. Pantesan Mas Firman tidak begitu antusias waktu kami ngotot untuk mampir di salah satu pabrik moci yang sebetulnya sebuah rumah kecil di sebuah gang itu.

Psssttt, biar tidak suka, Mas Firman ngeborong loh. 4 x 5dus moci itu dibelinya. Dua puluh ribu diberikan untuk si penjual.

Mas Firman, Pak Ari, Pak Kepala BappedaItu dia, salah satu hasil perjalanan ke Sukabumi kemarin. Tujuan utama sih untuk mendampingi mahasiswa salah satu mata kuliah. Pertemuan dengan Bappeda Kota Sukabumi. Melihat rumah tempat tinggal mahasiswa itu selama seminggu ini. Makan siang di Bu Eutik (?) yang punya goreng oncom yang enak itu. Ditutup dengan pergi ke pabrik moci tadi. Salah satu yang menggangu adalah, tawaran untuk arung jeram di Citarik akhir minggu ini dari salah seorang mahasiswa. Kenapa mengganggu, kan suka arung jeram? Ya mengganggu, karena Sabtu ini aku punya janji dengan anak-anak Ile, ada latihan spesial.

27.3.05

Mentionitis

Bridget Jones (salah satu karakter favoritku) dalam buku keduanya punya satu teori yang dia sebut mentionitis. Aku pikir itu teori yang memang teruji kebenarannya.

Coba deh, misalnya ada satu jenis telepon genggam yang kamu incer. Biasanya nih, tiba-tiba sepertinya semua orang kok ya pakai telepon jenis itu. Padahal sebelumnya, kayaknya tidak begitu banyak deh. Itu juga bisa terjadi ke jenis mobil dengan warna tertentu, yang begitu kita tertarik, biasanya jadi ada dimana-mana. Bisa jadi, karena kita mulai menaruh perhatian, makanya terlihat ada dimana-mana.

Mentionitis sih sebetulnya lebih berhubungan dengan orang. Misalnya gini nih, kalau kamu kebetulan lagi kesel banget ama seseorang, biasanya itu orang akan muncul dimana-mana loh. Ketemu teman yang satu, bercerita, kok ada orang itu lagi. Ketemu teman yang lain, cerita sana cerita sini, kok ya orang itu tersangkut-sangkut. Main ke supermarket kecil, bisa ketemu orang itu. Di angkot tiba-tiba ketemu lagi. Heran deh, justru orang yang kita suka, biasanya sulit sekali ditemui secara kebetulan seperti itu. Nah ini nih namanya mentionitis. Sekali di”mention”, disebut, biasanya kesebut-sebut melulu, deh.

Jadi, mendingan gak usah, deh, memulai dengan ngomongin seseorang apalagi yang tidak kita sukai, nanti malah akan jadi muncul dimana-mana, di obrolan atau di tempat-tempat tidak terduga.

Paskah

1 cross + 3 nail = 4giveness

Our Lord Jesus has risen today.
The greates love ever for the human kind has been assured for time to time.
Happy Easter
He loves you and bless you

23.3.05

Hari Paling Gak Puguh Sedunia

Sering sekali, seharian itu semuanya menjadi serba salah, menjadi tidak pararuguh.

Seperti hari kemarin. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur, semuanya gak puguh.

Bangun pagi, gak puguh ngapain, tiba-tiba sudah jam 10 pagi. Walhasil sampai di kantor sudah jam 11-an. Langsung persiapan ngajar, ternyata otak sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Kosong. Tengah hari, diajak keluar. Antara langsung pergi atau tidak. Herannya, si boss tidak menunjukkan tanda-tanda mau keluar makan siang bareng sampai hampir jam 1. Ya sudah, aku keluar saja dulu. Eh, begitu keluar kantor, tiba-tiba emosiku tinggi lagi. Hanya karena hal-hal kecil yang tidak penting. Untunglah gak perlu marah-marah lama-lama. Sampai di kantor, perut lapar sekali karena belum makan, tapi si boss menolak makan siang. Ya, sudah, aku coba bertahan dengan buku-buku di depan mata, tapi sama sekali tidak bisa konsentrasi. Kacamata yang baru seminggu bercokol terasa sangat mengganggu. Dipakai salah, tidak dipakai juga salah. Perut memberontak minta diisi. Aku putuskan pulang ke rumah dulu, makan siang sekalian ambil partitur yang ketinggalan untuk latihan sore ini. Ternyata, aku jatuh tertidur dengan pakaian lengkap sampai hampir jam pulang kantor (kwakakakak). Begitu terbangun, langsung kembali ke kantor, dan jujur bilang sama boss kalau aku ketiduran. Dan ternyata si boss tetap belum makan siang (yang terbukti kemudian bahwa si boss pundung, wadoh). Tidak lama di kantor karena harus latihan yang hari ini dipercepat sejam. Tapi ternyata di jalan, maag aku sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Walhasil, aku ambil jalan berputar. Pulang. Ritual teteleponan sebelum tidur kemarin juga berakibat aneh. Tidak puguh. Sakit. Walhasil, aku merasa de javu. Kembali mengulang semua hal yang begitu pahit yang sama sekali tidak ingin aku rasakan.

Apa mau dikata. Kemarin memang hari paling tidak puguh sedunia. Hampir setahun lalu, abang pernah bilang, kalau sedang tidak puguh berarti tahu yang puguh-nya. Betulkah seperti itu? Aku merasa memulai pagi dengan segala sesuatu yang serba tidak puguh dan itu berimbas sampai ke malam hari. Pernah kayak gitu? Semua jadi serba salah.

Apakah aku tahu yang puguh-nya? Mungkin. Tapi itu tidak bisa merubah kenyataan, semuanya serba gak puguh.

Puguh itu bahasa Sunda yang aku juga kerepotan mencari padanan bahasa yang sebenar-benarnya

22.3.05

Kode KTP

Mas Kere beberapa kali menulis tentang KTP atau kartu identitas. Aku jadi teringat beberapa hal yang pernah aku pikirkan yaitu seharusnya memang ada kode kode tertentu di dalam sebuah Kartu Tanda Penduduk atau kartu identitas. Bukan, bukan kolom agama yang sangat aneh (aku gak tau di negara mana lagi sih memuat kolom agama dalam kartu identitas, dulu waktu di Belanda sih tidak ada). Tapi hal lain. Setahuku, mereka yang (dinyatakan terkadang secara sepihak) terlibat gerakan komunis di tahun 65-an itu, diberi kode khusus di KTPnya yang menyatakan hal tersebut, sebagaimana KTP mereka yang datang dari etnis Cina. Kalau begitu, mengapa tidak ada tanda khusus di KTP mereka para koruptor dan keluarganya. Kalau perlu, jangan tanda di deretan angka yang menjadi nomor KTP (soalnya kan susah untuk langsung diidentifikasikan), tapi di kolom pekerjaan ditulis “koruptor” atau mungkin “penikmat hasil korupsi”. Jadi, waktu menerima pegawai, bisa segera diketahui besar kecenderungan orang itu untuk korupsi. Kayaknya hal itu lebih penting deh daripada memberi kode untuk etnis tertentu atau bahkan kode untuk sesuatu yang bisa jadi tidak pernah dilakukan oleh orang tersebut.

21.3.05

Kenalan

Seneng banget. Akhir minggu kemarin, aku berkenalan dengan banyak orang-orang baru. Temannya teman, yang sekarang dengan senang hati aku bilang, temanku loh.

Aku memang sangat menyukai bertemu orang baru. Berkenalan. Makanya, pengalaman seperti masuk sekolah baru itu betul-betul menyenangkan. Penuh pikiran, nanti teman-teman baruku akan seperti apa ya. Seru banget.

Image hosted by Photobucket.comSabtu kemarin, aku kenal dengan, setidaknya, 2 orang teman dari Purwokerto: Hapsari dan Fikri. Mereka temannya teman yang datang ke Bandung untuk sebuah pertemuan dengan teman-teman di KoPi (dan juga merupakan orang-orang baru buat aku loh). Mau bikin film tentang Kampung Laut yang diambil dari buku yang dibuat Fikri. Menjemput ke stasiun, dan karena macet dimana-mana, terpaksa ambil jalan melambung ke arah Antapani. Sebelum sampai disana, mampir dulu ke Jalan Macan. Kali ini, walaupun masih tetap pesan kolak, menu utama adalah soto bandung (yang entah kenapa agak kemanisan, apa karena teman-temanku itu dari Jawa Tengah ya?). Kalau perut kenyang, diskusipun lancar kan?

Image hosted by Photobucket.comDiskusi ternyata berlangsung cukup panjang, dan setelah selesai, kami memutuskan mengunjungi Sofwan yang setia menanti di Tubagus Ismail. Ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sambil menginspeksi gedung baru lembaga penelitian yang satu itu, dan mengambil buku-buku yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Sampai akhirnya mata ini sudah cukup berat untuk dijaga tetap terbuka.

Minggu malam, aku bertemu orang baru lainnya. Pak GWR, begitu deh Abang membahasakannya. Pak Gunawan Wiradi. Seseorang yang cukup sering dijadikan referensi oleh orang-orang yang aku kenal selama 1 tahun terakhir. Potluck jadi pilihan. Lagi-lagi ngobrol ngalor ngidul kemana-mana. Senang sekali mendapat penjelasan ini itu, diceritakan ini itu. Beliau ternyata sangat membumi dan sabar juga menghadapi aku yang lebih banyak tidak tahunya ini.

Akhir pekan yang menyenangkan, walaupun aku harus membatalkan rencana ke Jakarta untuk melepas rindu dengan teman-teman (maaf ya, Lus, Arie...pasti aku ganti deh). Bertemu orang baru memang menyenangkan, apalagi ternyata orang baru itu menjadi teman baru. Mudah-mudahan pertemanan baru ini bisa terus berlangsung.

Hey, kamu mau jadi teman baruku? *ehm ehm*

17.3.05

Suka Suka Dong

Pagi-pagi suasana hati agak aneh. Mungkin karena mendung. Padahal hari ini, jadwal ngajar sangat tidak bersahabat. Selang 1-1,5 jam untuk pergantian kelas (dan pergantian kampus). Artinya, waktu nanggung untuk ngapa-ngapain.

maaf ya, Pak, gak tahan aku untuk tidak publish foto ini Herannya, pagi-pagi memang sudah ada aja yang bikin kesal. Setelah kelas yang jam 7 pagi, aku harus ke tempat lain untuk kelas berikutnya. Harus datang lebih cepat di tempat berikutnya karena ada utang nilai yang harus diselesaikan. Ealaaaa, sampai di tempat parkir ada mobil parkir persis di belakang mobil dengan rem tangan dan tanpa menitipkan kunci mobil pada pak satpam. Ggrrhhh!!!!! Bayangkan saja, harus mencari pemilik mobil di sebuah kampus sama sekali bukan pekerjaan mudah. Walhasil, aku bengong selama satu jam (!), kelaperan dan kesal (jadi sebetulnya kesel karena lapar atau karena terlambat ke tempat selanjutnya?).

Bukan pertama kali. Dulu, aku dan Lusi pernah mengalami hal yang sama di Lomie Imam Bonjol. Tilik punya tilik, si empunya mobil sedang makan persis di samping mobil tersebut, dan adalah orang yang pertama kali kami tanya (Ada yang punya mobil ini gak?), dan tidak menjawab apapun. Aku dan Lusi terpaksa kesal selama satu jam!

Dua kasus di atas punya kesamaan. Waktu yang punya mobil datang, gayanya itu DeWeDe abis (dingin we dingin). Senyum sedikit ke entah siapa, terus dengan santai masuk ke mobil. Tanpa basa basi sama sekali.

Pilihan: terbakar emosi atau terbakar emosi. Iya gak sih? Berhubung harus buru-buru, jatah bakar membakar emosi aku berikan pada pak satpam (Bu, ini pasti saya marahi habis-habisan, ini nih, dosen luar biasa deh kayaknya).

Kesadaran. Akal sehat. Memikirkan orang lain. Sadar diri!

Itu yang harus dilakukan setiap orang yang harus parkir di lokasi padat parkir. Kalau tidak mau titip kunci, jangan parkir di tempat yang bisa memicu kerusuhan dan emosi dong! Atau, kalau memang tidak tahu aturan parkir, ya sudah, naik angkot, bus, beca atau jalan kaki, gih.

15.3.05

1+1=1

Beberapa waktu lalu, sahabatku Dindin baru saja merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Saat itu, tiba-tiba aku teringat beberapa pasangan yang mempunyai kemiripan dengan Dindin dan Rene. Misalnya saja Unieng-Marcel, Aida-Rochus, Hermina-Rene, Amanda-Joris, Yanu-Norbert, Mansi-Bram, Loucee-Laurent dan beberapa pasangan lainnya. Pernikahan dua orang yang berasal dari bangsa yang berbeda.

Selalu ada berbagai praduga terhadap pasangan-pasangan seperti ini, herannya sedikit yang bersifat positif, biasanya cenderung negatif. Entah kenapa. Aku tidak mau ambil pusing dengan yang negatif.

Pernikahan seperti ini memang mulai marak. Buat aku sih, sesuatu yang menyenangkan untuk melihat itu semua. Melihat bahwa cinta tidaklah harus dibatasi ini itu, dalam hal ini tidak dibatasi oleh sebuah kewarganegaraan. Indah, walaupun kalau mengingat beberapa hal yang pernah disampaikan mereka, hal itu juga bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi, hey, aku pikir segala sesuatu yang sangat berharga seringkali bukanlah sesuatu yang begitu saja bisa diperoleh, membutuhkan perjuangan dan banyak sekali cinta.

Aku bersyukur bisa mengenal mereka, bisa belajar banyak hal. Bukan berarti hubungan dengan orang yang berkewarganegaraan sama tidak bermasalah loh, eits tunggu dulu, coba saja mencoba membangun hubungan antar suku di Indonesia, sama sekali bukan masalah sepele (malah kadang aku pikir itu bahkan jauh lebih bermasalah daripada pernikahan antar bangsa!).

Dindin sudah aku kenal sejak, hmm, hampir 10 tahun yang lalu. Dindin-Rene sudah aku kenal sejak beberapa tahun yang lalu, sejak masa pacaran, masa tunangan dan menikah. Suatu kehormatan bisa ikut terlibat dalam persiapan pernikahan mereka dan berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan mereka berdua.

Melihat mereka beberapa tahun terakhir, juga membuat aku sadar, cinta memang lebih sering tidak mengenal aturan ini itu, seringkali tidak masuk diakal, seringkali disepelekan, tapi kekuatannya begitu besar. Aku yakin kekuatan cinta membuat mereka sampai di titik ini. Aku yakin kekuatan itu masih akan memampukan mereka merayakan ulang tahun perkawinan yang selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya.

Mudah-mudahan aku bisa merasakan kekuatan cinta sebesar itu.

Selamat ya, Din. Aku senang sekali melihat kalian berdua, mencoba melalui berbagai hal dalam hidup kalian suka dan duka. Dipupuk aja terus… GBU!

12.3.05

Balikan Lagi Yeuh...

Memang menyenangkan untuk bisa kembali ke rutinitas awal. It's good to be back. Enak sekali bisa kembali lagi.

Minggu lalu, rutinitas tidak keruan, inspirasi sempat mampet. Pekerjaan sih masih berlangsung normal, tapi kok tiba tiba seperti agak terhambat, sedikit. Akhir minggu itu, aku berangkat ke Jakarta, nonton javajazz. Kembali ke Bandung sempat mengalami penyakit pasca liburan. Itu loh, agak sulit untuk kembali ke rutinitas awal, sulit kembali ke kebiasaan. Masih sulit bangun pagi, masih sulit untuk kembali ke mood kerja, masih malas untuk mulai menulis, membalas email dan lain-lain.

Untung tidak berlangsung lama. Akhirnya semua kembali ke normal. Rabu kemarin, mulai membalas email-email yang masuk, menulis blog, mempersiapkan bahan perkuliahan, mengawasi dan mencek kemajuan pekerjaan di kantor, dan tentu saja termasuk dengan berbenah kamar (berikut membeli paper holder dan alat tulis kantor yang lain).

Image hosted by Photobucket.comKembali ke kantor, tidak banyak perubahan. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku supervisi. Kembali ke kampus, melihat mahasiswa lagi. Senang sekali bisa ada lagi di depan kelas, mempersiapkan ini itu, membahas beberapa rencana perkuliahan yang belum fix. Kembali lagi ke dunia internet-an, walaupun pakai mati lampu (sekarang sih aku pasti menyampaikan ucapan terimakasih sebesar-besarnya sama barang yang namanya UPS itu).

Well, hari ini, mudah-mudahan seluruh aktivitas betul betul bisa kembali normal. Karena, ada yang kembali juga dari jalan-jalannya. Asik asik...

Aku memang mudah merasa bosan, tapi bukan berarti aku tidak suka rutinitas. Sampai batas tertentu aku menyukai rutinitas. Malah sebetulnya sih, aku ini tergila-gila jadwal. Schedulaholic. Kalau memang ada kata itu. Tapi tunggu dul deh, kalau harus melakukan rutinitas yang ama berbulan-bulan. Uaaa, bega banget. Biasanya aku akan merubah rutinitas itu, sewaktu-waktu. Kalau tidak bisa bikin perubahan besar seperti pergi ke luar kota, palingan aku merubah kebiasaan berpakaian, merubah tempat makan siang, merubah rute ke kampus (sayangnya rute ke kantor tidak bisa dirubah, sudah terlalu dekat dari rumah), merubah jawdal menulis. Itu pun sudah bisa menghilangkan kejenuhan. Setelah itu, biasanya kembali lagi ke rutinitas itu. Menyenangkan. Kembali ke rumah yang sudah sangat kita kenal, kembali ke lingkungan yang sudah kita mengerti luar dalam, kembali ke kantor dengan persoalan yang sudah di duga, kembali melewati jalan yang sama dengan tebakan kemacetan yang pasti jitu.

Well, kali ini aku juga bilang, senang sekali bisa kembali ke rutinitas aku termasuk semangat untuk bekerja-nya.

9.3.05

JavaJazzKu


Keren Banget!

Susah sekali untuk bisa menuliskannya disini. “More than words”. Aku senang sekali. Menikmati 3 hari tersebut yang melelahkan, bikin pegal (gimana gak pegal, wong harus terus menerus berdiri, tapi menjadi sebuah pencerahan (hahahaha). Tidak ada penyesalan, walaupun harus nonton sendiri!

Image hosted by Photobucket.comSeandainya saja, hidup aku bisa terus-terusan ada di tengah-tengah musik. Selalu mendengar musik, selalu melihat penampilan mereka yang punya kemampuan dalam bermusik. Betul-betul membuat aku hidup. Bayangkan saja ada 11 panggung, di kiri kanan ada panggung. Aku bahkan merasa kesal dan frustasi lebih karena sulit menetapkan mau melihat penampilan siapa, karena sebagian besar yang tampil di situ sangat aku suka, kalaupun tidak, aku sangat ingin melihat penampilan mereka.

Kalau aku harus bikin daftar terbaik, bakal muncul kayak gini nih.

Kelompok musik paling bikin kaget: Deodato. Betul-betul dahsyat! Aku hampir tidak menonton mereka, masuk ke plenary hall tanpa sengaja, dan astaga, betul-betul keren. Dapat bonus melihat gitarisnya bermain ala Jimmi Hendrix, bergitar dengan gigi. Waw. Rasanya, tata panggung paling asik juga pas mereka ini loh.

Image hosted by Photobucket.comPenyanyi perempuan paling bikin kaget: Rieka Roeslan. Sungguh, mengagumkan. Heran ya, kok begitu banyak perempuan bertubuh mungil punya suara yang begitu menggelegar. Lihat saja Ruth Sahanaya, kan! Makin ingin dapat kasetnya Teteh satu ini. Lagu-lagu karangan dia begitu berbeda, penampilannya atraktif dan suaranya, duh seandainya saj aku punya sepersekian persen dari suara dia loh.

Penyanyi laki-laki paling bikin kaget: Malik and the essentials. Datang di menit-menit terakhir, ruangan Cendrawasik sudah membludak, tapi untunglah aku berhasil dapat satu trik untuk selalu bisa dapat tempat di sebuah ruangan yang terlihat membludak (dan terbukti trik ini sangat jitu, yah, itulah hasil menonton terus menerus selama 3 hari, makin gape cari pertunjukan dan tempat). Dan, hasilnya, aku musti memberi tepukan kagum deh. Penampilannya memukau, bisa ngajak semua orang di ruangan untuk masuk ke mood-nya Malik, dan suaranya juga asik. Yah, selama ini kan cuman lihat penampilan dia dalam Too Phat, tapi kemarin, weiii, gak nyesel deh.

Penyanyi perempuan terjazzy jelas Lizz Wright. Aku bersyukur banget bisa melihat penampilan perempuan yang satu ini. Kok bisa ya, nyanyi seperti itu? Sepertinya untuk seorang Lizz Wright, aku tidak perlu berkata-kata apa apa lagi!

Penyanyi laki-laki terjazzy siapa ya? Bisa jadi aku akan coba pilih George Duke saja deh. Penampilan awal yang bikin aku kasuat-suat. Melihat George Duke bermain, sambil juga bernyanyi di satu atau dua lagu. Suaranya berat, tapi pas nyanyi, pasti suara falset-nya yang keluar. Romantis pula! Disitu juga aku bisa liat penampilan Glen yang, menurut aku, terbaik! Glen jelas tampil habis-habisan, dan memang betul-betul memukau.

Perempuan dengan penampilan paling asik: Angie Stone. Hmm, mengantri di jajaran terdepan, berlari untuk dapat jajaran paling depan…dan berhasil. Puas banget. Setelah beberapa lagu, baru sadar, aku dan adikku dan Erik dan Iman berada di jajaran paling depan, padahal di belakang kami ada orang-orang yang kira kira ¾ kami tingginya. Duh, maaf…maaf. Sedih juga, kok cepat sekali ya selesainya. Love you, Angie!

Image hosted by Photobucket.comPertunjukan paling menarik: Earth Wind and Fire Experience. Kalau menurut Iya, lebih tepatnya sih McKay and friends ya? Ruangan penuh. Tiket terjual habis (makasih ya, Nggam, buat tiketnya!). Duh, bahkan saat ini pas menulis pun, masih bisa terasa suasana di plennary hall. Seandainya bisa diulang. Mereka bernyanyi kaya sedang sprint. Cepat dan langsung. Mungkin karena ada Incognito setelah itu ya?

Kelompok yang paling bikin kasuat-suat: Tiempo Libre. Nyaris tidak ditonton karena sudah mau pulang, ternyata, untungnya Erik dan Herwin masih berniat nonton. Ya ampun, merengge. Sudah lama sekali bisa berlatin ria. Aku kangen banyak hal. Penampilan Tiempo Libre betul betul meriah, bahkan di kala sebagian besar penontonnya dingin-dingin dan malu-malu untuk turun, walaupun vokalisnya sudah turun panggung dan mengajak menari bersama. Jelas, cari kaset Tiempo Libre setelah ini.

Penampilan paling akrab: Sue and friends. Jelaslah, itu kan sessi nge-jamm bareng. Asik banget. Terutama karena mereka tidak hanya main jazz tapi blues. Blues gitu loh. Asik banget.

Paling cantik: Ruth Sahanaya. Tampilannya memukau, cantik banget banget, dengan suara yang gak perlu ditanya. Aku hampir selalu menonton konser Ruth, kemarin itu kayaknya yang paling cantik. Bukan berarti menyanyinya tidak asik ya, tapi kemarin itu aku terpukau banget deh.

Tradisional paling asik: Kul Kul. Mereka memainkan janger. Seru!

Paling ngebosenin: elfa pop and jazz choir, aku gak bilang jelek, tapi agak bosan, apalagi hari sebelumnya sudah liat Elfa Singers, terus komposisi lagunya sudah sangat sering dibawakan mereka. Untunglah segera pindah lihat funky thumb terus dilanjutkan dengan kul kul.

Kekesalan paling top; Laura Fygi dipercepat satu jam tanpa pemberitahuan. Aduh, rasanya ini kepala mau meledak, waktu jalan ke ruangan Assembly untuk melihat penampilan Laury Fygi, ealah, kok malah udah pada bubaran. Padahal, aku memilih hari Jumat untuk melihat dia. Kesal banget banget! Heran deh. Walaupun disana sini ada keterlambatan, bahkan untuk plenarry hall bisa sampai satu jam lebih, tapi mempercepat penampilan itu sangat sangat terlarang!

Tapi, gosh, betulan deh, suasananya betul betul asik. Kamu mendenger musik dimana-mana, dengan permainan yang memukai, bukan hanya teknik indah, tapi juga indah didengar dan asik ditonton karena mereka punya kekuatan untuk menghibur. Seandainya, bisa terus ada javajazz.. (dengan wish list: Al Jarreau!!!!)
ps: foto2nya ditunggu saja di yahoo, sebagian besar aku rekam sih, bukan aku foto :))
Tambahan nih:
hasil ngobrol-ngobrol sore dengan tante toko bintang balubur (kalau suka cari kaset aneh-aneh pasti tahu toko yang satu ini plus sang tantenya), kita sampai pada kesimpulan bahwa memang, bule-bule yang datang di festival itu umumnya tidak terlalu dikenal publik Indonesia, kasetnya umumnya tidak masuk ke pasaran umum. Terbukti, aku gagal mencari kaset antara lain Tiempo Libre, Angie Stone, Eric Bennet, Deodato dan Rieka Roeslan (eh, ini sih penyanyi lokal yang juga sulit dicari kasetnya, kecuali kalau dicari ke Halaman deh kayaknya). Earth, Wind and Fire hanya dapat CD vol 1 dari kumpulan hitsnya. Mudah-mudahan setelah festival, kaset-kaset mereka mulai masuk pasaran nih.

4.3.05

Pergi Yok!

Daripada mampet terus, lebih baik menjalankan beberapa hal. Akhirnya sampai juga ke hari ini. Jalan-jalan dulu ah! Mudah-mudahan bisa jadi penyegaran. Sudah lama tidak ke Jakarta tanpa urusan kerjaan (kayaknya gak boleh diungkapkan terlalu cepat, karena Senin ada kemungkinan harus berurusan dengan yang berbau pekerjaan di sana).

Mau ikut?
Mau ke JHCC nih, liat javajazzfestival.

2.3.05

Mampet

Paling kesel kalau tiba-tiba otak tidak mau bekerja sama. Berhenti begitu saja (kalau otak itu memang "jalan"). Aneh. Padahal beberapa waktu sebelumnya baik-baik aja, lagi semangat ngerjain ini itu, tiba-tiba sumber inspirasi hilang. Entah ngumpet kemana. Padahal ada banyak hal yang musti aku selesain, dan harus secepat-cepatnya.

Musti mulai mencari cara supaya inspirasi muncul kembali dan bisa enak kerja lagi. Mungkin dengan ...
  • Minum coklat cocoa (masih ada gak ya?)
  • Cari majalah baru (yang isinya gak penting alias gitu-gitu aja tapi asik buat pipilukingeun gak jelas)
  • Lari atau berenang (hmm, di jam segini? duh, please deh)
  • Nyetir keliling-keliling (jadi inget, harusnya aku nyuci mobil, lagian harga bensin baru naik, males banget!)
  • Jalan-jalan ke toko-toko buku (udah buka gitu?)
  • Ke Potluck (mungkin nanti sore saja)
  • Telepon teman-teman, janjian ketemu (miss 'em, al tapi, aduh, berhubung ganti ke Xplore, aku belum bisa pakai telepon dulu)
  • Ngobrol ama abang (ini dia obat paling manjur, sayangnya orangnya entah ada di pelosok mana)

lombok, agustus 2004Bisa jadi aku butuh jalan-jalan. Sepertinya sudah terlalu lama ada di satu tempat nih! Ternyata terbiasa bepergian membuat ketagihan, padahal banyak orang mendambakan bisa ada di satu tempat dengan nyaman, tapi aku malah rindu bepergian. Padahal, baru sekitar sebulan lalu keliling-keliling. Ah, itu urusan kerja sih, tidak bisa dihitung jalan-jalan senang-senang. (atau ini tergoda dia yang lagi "jalan-jalan" ya?)

Atau, ada usul lain, biar otak tidak mampet lagi?