9.2.05

Terbang


Aku selalu suka terbang, tentu saja pakai pesawat dong. Entah sejak kapan. Gak tau juga ya, apa karena itu aku, dalam mimpi, bisa terbang, atau kebalikannya, justru karena suka mimpi terbang, aku sering sekali terbang. Sudahlah, membingungkan.

Dua minggu terakhir, lagi-lagi aku kembali sibuk terbang. Rasanya teringat pertengahan tahun lalu, waktu hampir selama 3 bulan, aku harus terus menerus terbang dari satu kota ke kota lain. Melelahkan, tapi sangat menyenangkan.

Aku selalu memilih tempat duduk dekat jendela, tidak perduli di depan atau di belakang. Aku sih sebetulnya lebih suka di depan, soalnya di belakang itu bising dengan suara pesawat, apalagi kalo pesawat lama yang banyak dipake oleh maskapai penerbangan yang baru. Tapi, konon, menurut petugas di bandara, sekarang orang beramai-ramai ingin duduk di belakang daripada di depan, terutama sejak kejadian pesawat Lion di Solo. Duh, aku sih pasrah deh kalau sudah urusan nyawa, tapi kalau bisa memilih tidak di bagian belakang, kayaknya aku lebih suka deh. Kalau terbang sekali dua sih tidak masalah, tapi kalau sering, itu kan sebetulnya tidak terlalu baik untuk pendengaran, apalagi kalau harus terus menerus mendengar suara pesawat yang superduper bising itu!

Aku sangat suka terbang di saat-saat matahari terbit atau matahari terbenam, baik pas lepas landas ataupun mendarat. Pemandangannya? Keren banget. Aku teringat sunset di Belgia, yang sangat indah (kebetulan waktu itu penerbangan jarak dekat hanya dari Brussel ke Schipol). Membuat aku bisa tersenyum, walaupun waktu itu aku sangat sedih, karena harus meninggalkan banyak orang yang aku sayang disana. Aku juga teringat lepas landas Jakarta di saat matahari terbenam. Indah sekali. Warna yang aku lihat, sulit aku sampaikan dengan kata-kata. Begitu juga waktu harus meninggalkan Jakarta menjelang matahari terbit. Rasanya begitu berbeda, melihat Jakarta yang sumpek itu dengan pemandangan yang begitu indah. Sebuah kota yang padat, dengan semburat berbagai warna sebagai latar belakang. Cantik. Aku juga teringat pemandangan matahari terbit di Lombok, dengan Rinjani di kejauhan. Mau tahu apa yang aku rasakan? Sebuah semangat, sebuah harapan bahwa di depan akan ada begitu banyak hal yang baik dan indah. Bahwa Tuhan itu betul-betul mengagumkan!

Terbang ke luar Indonesia, apalagi yang memakan waktu belasan jam, biasanya lebih banyak dihabiskan dengan tidur, membaca buku atau menonton film. Jarang sekali punya kesempatan untuk melihat-lihat keluar. Lagipula, pesawat pasti terbang di ketinggian sekian yang kalaupun mau maksa melihat keluar, palingan yang ada hanya pemandangan laut biru, atau daratan yang tidak begitu jelas, saking tinggingnya. Lain halnya terbang jarak dekat seperti Bandung-Jakarta. Aku jadi punya kesempatan untuk betul-betul menikmati landscape Jawa Barat. Entah karena terbang rendah, jadi semua bisa terlihat, atau karena memang istimewa, aku merasa Jawa Barat memang begitu indah, punya bentang alam yang, waw, keren deh. Ada gunung-gunung, bukit-bukit, dengan petak-petak sawah disana sini, rumah-rumah berserakan di kaki gunung, belum lagi sungai-sungai yang berkelok, apalagi waktu melewati waduk Jatiluhur. Aku gak habis-habisnya menengok ke luar jendela, sambil terus berpikir, waw, Tuhan itu memang seniman terbesar! Walaupun terbang dengan pesawat kecil yang guncangan kecilpun sangat terasa, aku tidak perduli, soalnya pemandangan yang aku lihat membuat aku merasa bahagia. Beda sekali waktu harus terbang dengan pesawat kecil lain di wilayah Kalimantan, yang sebelum naik, bukan hanya barang bawaan tapi juga aku harus naik ke timbangan! Hahaha, kalau malu sama berat badan, tinggal salahkan ransel yang ada di pundak. Kalau pesawat kecil yang satu itu sih cukup bikin deg-degan, apalagi pemandangan di bawah itu hutan-hutan tropis tanpa ada rumah sama sekali. Betul-betul membuat aku tidak ingin melepas sabuk pengaman yang ada di pinggangku.

Aku memang senang sekali terbang, aku bersyukur bisa punya banyak kesempatan terbang. Kalau saja aku bisa bawa sendiri itu pesawat terbang, hmmmm, menyenangkan!