11.2.05

Parkir


Maurice, adikku, pernah bilang gini, "urusan pacaran gue sih berprinsip kayak parkir mobil aja deh, mobil parkir bisa dimana aja, tapi garasi kan cuman satu"

Hehehehe, aku gak berniat membahas kalimat adikku itu sih, cuman memang lagi tertarik sama urusan parkir.

mengantri untuk parkir di PS JakartaSeperti biasa, libur panjang, Bandung penuh. Jalanan sebetulnya agak lengang. Tapi, eits, tunggu dulu, kalau kamu harus melewati tempat belanja atau tempat makanan, selamat deh! Selamat menikmati macet. Penyebabnya sepele sih, parkir mobil. Misalnya di Jalan Dago nih, jalan yang cukup lebar itu hanya bisa dipakai satu lajur, karena lajur lainnya dipakai untuk parkir (istilahnya sih on-street parking deh). Belum lagi ditambah mobil yang hendak memutar dari satu jalur ke jalur, mereka terhambat karena ada mobil-mobil yang parkir itu. Belum cukup sampai situ, waktu aku harus melewati Jalan Sultan Agung, aku kaget, kok macet ya? Ternyata, lagi-lagi urusan parkir. Kok ya ada ada saja mobil yang ngotot untuk bisa parkir di satu titik, satu-satunya titik tersisa di daerah distro itu, padahal mobilnya besar, ruang parkirnya kecil, dan membuat kemacetan! Padahal, bisa saja dia berputar sedikit di Jalan Geusan Ulun, berbalik untuk kembali parkir dengan cara yang lebih benar! Dan, kekesalan aku belum berakhir begitu saja, aku harus berputar kawasan merdeka sebanyak 4 kali untuk mencari parkir. Aku mau nonton Phantom of the Opera (keren euy, otak aku langsung dipenuhi dengan lagu-lagunya Phantom, aku suka filmnya, mudah-mudahan suatu waktu bisa nonton opera aslinya) jam 2 siang, dan aku berada di kawasan itu dari jam 1 lebih sedikit, sampai akhirnya aku mulai panik karena jarum jam menunjukkan beberapa waktu ke jam 2. Mau parkir gedung, mau parkir di pinggir jalan, semua penuh. Walhasil, aku nekat menunggu di depan pintu masuk, karena aku tidak punya pilihan lain. Akhirnya dibukalah palang itu, dan tahukah kamu, di dalam ada begitu banyak ruang parkir!! Apa petugasnya terlalu malas, atau ada pertimbangan lain? Entahlah.

buruan keluar dari tempat parkirnya, udah ada yang ngantri tuuhUrusan parkir, memang tidak mudah. Sewaktu kuliah, secara khusus selalu dibicarakan, khususnya pada mata kuliah yang berhubungan dengan transportasi atau perkotaan. Urusan parkir, selalu diidentikan dengan kemacetan. Apalagi parkir di pinggir jalan. Mungkin itu juga sebabnya, pemerintah kota Bandung bolak balik merubah sistem parkir di Jalan Braga, misalnya, dari serong ke lurus ke serong lagi, dan kalau tidak salah ingat, sekarang kembali sistem paralel. Memang, di Jakarta, rasanya tempat perbelanjaan besar lebih siap dengan ruang parkir yang lega, yang tetap saja selalu harus berebut kalau sedang hari libur. Di Bandung, entah pengusaha tempat belanja yang tidak siap dengan jumlah pengunjung, atau dasarnya saja "koret" alias pelit, jadi tidak mau repot-repot menyediakan ruang parkir yang memadai. Lihat saja BEC, Istana Plaza, BIP atau (apalagi) factory outlet yang bertebaran di Kota Bandung, tempat-tempat tersebut punya masalah dengan ruang parkir. Kalaupun menyediakan jasa vallet parking seperti di BEC, ternyata kemudian diketahui, tempat vallet parking-nya pun dipermasalahkan oleh beberapa pihak.

Rasanya, secara standar, sudah ada ukuran-ukuran yang menetapkan seberapa banyak ruang parkir yang harus disediakan, disesuaikan dengan jenis usaha dan juga besaran usaha atau kegiatan tersebut. Apa pemilik tempat tidak sadar, tempat parkir yang cukup itu mempengaruhi pembeli untuk datang? Atau mereka tidak perduli karena tahu bahwa tokh pembeli akan tetap datang juga? Atau karena lahan parkir diidentikan dengan upeti yang harus dibayarkan ke pemerintah atau siapapun itu. Soalnya, seharusnya sih pemasukan dari parkir untuk PAD pasti cukup besar, tapi kenyataannya pasti kebocorannya yang lebih besar. Bisa dibayangkan 1000 rupiah per kendaraan, dalam sehari bisa dapat berapa ya?

Jadi ingat, urusan parkir di beberapa kota di luar sana, juga urusan yang selalu bikin pusing, kalau harus parkir di pusat kota, sudah jarang dapat tempat, mahal pula. Tapi, setidaknya aku punya pilihan untuk naik angkutan umum atau jalan kaki saja. Mmm, mungkin, aku memang lebih baik naik angkot atau jalan kaki, dan memarkirkan kendaraan di SuperIndo Dago, gratis loh!