3.2.05

Menjadi Nomor 2

Pernahkah kamu merasa menjadi nomor 2 di negera kamu sendiri? Aku, baru saja mengalaminya, dan shock.

Mewakili sekolahku sebagai representative mereka di sebuah pameran pendidikan Belanda, aku harus menghadiri technical meeting yang diadakan semalam sebelumnya. Peserta pameran, bisa dibilang sebagian besar orang Belanda dengan umur rata-rata 40-50 tahunan. Dan, hey, aku ini hanya seorang perempuan yang berumur jauh dibawah mereka, dengan penampilan kaos oblong putih dengan celana jeans. Siapa juga yang ambil pusing? Oleh sebagian besar peserta, aku dikira panitia. Oleh panitia, jelas-jelas dianggap kelas dua. Kesal sekali, ketika harus menerima senyum yang berbeda, jabat tangan yang berbeda, dan bahasa tubuh yang berbeda.

Tapi, hey, hey, jangan salah. Itu tidak menggambarkan perilaku seluruh panitia penyelenggara. Untunglah, ini bukan kali pertama aku mengikuti kegiatan ini, aku tahu pasti, sebagian besar dari mereka sangat ramah dan baik hati. Betul saja, dia yang mengira aku ini kelas lain, harus menerima teguran dari rekan sejawatnya karena telah memperlakukan aku seperti itu.

Memang, menjadi kelas dua di negara sendiri, rasanya menjadi hal yang klasik terjadi disini. Sangat aku sayangkan. Hanya saja, untung saja (atau tidak untung), aku tahu, darah aku, darah Indonesia aku begitu kuat dan sangat aku banggakan. Tidak akan pernah kecintaan aku sama bangsa ini jadi rusak hanya karena tingkah laku mereka yang masih terlalu silau dengan segala sesuatu yang berbau “bule”, masih begitu panik dan terlalu bersemangat untuk bisa sekedar berbicara dengan bule, atau yang begitu ingin menyenangkan para bule tersebut, sampai bisa jadi lupa, bukankah lebih menyenangkan kalau kita terlebih dahulu mengharga dan menghormati rekan sebangsa?

Tinggal di negeri orang untuk waktu yang singkat (dibandingkan beberapa orang lain), membuat aku pernah mendapat "kehormatan" sebagai orang asing. Sebagai perempuan Indonesia, perempuan dari negeri "eksotik", aku memang mudah mendapatkan perlakuan istimewa dari lawan jenis di negeri orang (a ha!), di bandara, di loket-loket, di tempat umum lainnya. Mereka ingin bercakap-cakap dengan aku, apalagi kalau tahu dari Indonesia, biasanya Bali akan segera jadi topik. Di sebuah restoran di Menara Eiffel, pramuwisma yang drop-dead-gorgeus itu tidak henti memandang aku (ehm, ehm, aku lagi harus menaikkan harga banget sih), sampai-sampai orang tuaku yang jengah. Hahahaha. Jangan salah, aku juga pernah menjadi kelas dua dengan menjadi seorang perempuan yang datang dari negara berkembang, yang dianggap tidak mengerti apapun dan punya kebiasaan yang tidak bisa dimengerti. Apapun itu, aku memang lebih suka dianggap rendah terlebih dahulu, sampai akhirnya aku bisa puas ketika melihat muka kaget mereka engan aku. Maklum, terlalu sering aku menjadi yang paling muda, paling kecil di suatu kegiatan, perempuan pula.

gambar yang mungkin tidak relevan sama topiknya nih

Jadi, ketika di negara sendiri aku mendapat perlakuan seakan-akan menjadi nomor 2, aku tidak perduli. Aku tidak mau ambil pusing memikirkan mereka yang masih terlalu silau itu. Untuk aku. Aku bangga dengan keIndonesiaanku, 100%.