21.2.05

Dunia Perteleponan

Jaman sekarang, telepon itu barang sehari-hari. Kayaknya wajar kalau ada yang bilang, telepon itu sekarang sudah jadi kebutuhan primer. Padahal, waktu aku SD dulu, telepon - bahkan telepon tetap - masih merupakan kebutuhan tersier (tersier loh!). Waktu aku masih kelas 4, ayahku harus tinggal di luar untuk waktu yang cukup lama, dan kalau ia ingin menelepon kami sekeluarga, kami harus pergi ke rumah tetangga untuk menerima telepon. Kalau bukan karena kebaikan hati keluarga itu, aku tidak pernah bisa bercakap-cakap dengan ayahku lewat telepon. Telepon barang mahal yang berharga. Beberapa tahun kemudian, rumah kami kebagian jatah saluran telepon, dengan nomor yang terdiri dari 5 angka. Aku masih ingat tuh: 87880. Kalau telepon berdering, semua penghuni rumah dari berbagai penjuru rumah pasti langsung lari berhamburan untuk bisa angkat telepon. Hahahaha, geli juga sih kalau diingat-ingat. Tapi, sampai saat ini, masa-masa itu sangat berkesan buat aku.

Sekarang sih, jangankan telepon rumah, telepon genggampun sudah jadi barang umum. Jadi inget sebuah iklan di televisi yang suka dipelesetkan jadi,"jaman gini belum punya HP?". Sekitar 10 tahun lalu, ayahku masih memakai telepon mobil yang besar, yang seperti radio kaset. Kadang-kadang, kalau mau telepon suka nyetrum pula! Nomernya 082125210. Kalau antenenya gak pas, pasti tulalit deh itu telepon.

telepon genggam yang katanya cukup kuno untuk jaman sekarangGak disangka, urusan kecuekan menerima telepon harus segera dituntaskan. Karena abangku sangat sensitif dalam urusan perteleponan. Terlambat sedikit bisa bermasalah, apalagi kalau sampai tidak diangkat. Jangan berharap ditanya alasannya, kalau sudah marah, ya sudah, marah saja. Titik. telepon dan menulis harus bisa aku lakukan keduanyaPembenaran sih jelas ada 1001 alasan deh, tapi satu hal yang aku sadari, bahwa itu tidak benar. Aku teringat masa-masa semangat mengangkat telepon sekitar...hmmm...hampir 20 tahun yang lalu! Aku sudah terlalu cuek dengan telepon, padahal bisa jadi itu kan telepon penting, mungkin ada proyekan baru, atau malah ada kabar genting, atau ya itu tadi, telepon dari orang yang aku sayang, yang aku kangenin. Masalah angkat mengangkat telepon tampak sepele, tapi bo..salah-salah bisa bikin runyam. Jadi, maaf ya, buat kamu yang udah kesel habis-habisan sama kebiasaanku yang satu itu.

Aku memang cuek urusan mengangkat (baca: menjawab) panggilan telepon, tapi aku kesal banget kalau si penelepon itu menjawab telepon sambil ngetik-lah, nonton TV atau VCD-lah atau sambil ngobrol dengan orang lain atau apapun itu yang membuat penjawab telepon itu tidak memberikan 100% teleponnya padaku. Mending gak usah diangkat deh!