24.2.05

Akibatnya adalah...

Hujan memang terus menerus turun. Hujan yang mengingatkan aku pada masa-masa Osjur sekian tahun lalu. Hujan yang tidak deras sekali, tetapi berlangsung terus menerus selama sekian jam. Bikin kesal sih.

Misalnya saja hari Minggu yang lalu, suasana jam 5 sore seperti jam 7 malam saja. Gelap. Lihat saja foto dibawah ini, diambil jam setengah tujuh-an, suasana sudah sangat gelap, mencekam, tapi juga misterius sih. Jalan Dago, salah jalan protokolpun tidak luput dari luapan air selokan. Walhasil, sebagian besar mobil -khususnya yang menuju ke Utara- lebih memilih lajur kanan yang seharusnya untuk mendahului. Sial, sudah banyak mobil yang mogok di lajur itu. Macet, deh. Mobil-mobil segera berupaya mengambil lajur kiri untuk kemudian segera pindah kembali ke lajur kanan.


Akibatnya, banjir di beberapa tempat, longsor di beberapa tempat, bahkan sampai "meluap"nya gunung sampah di Leuwigajah.

Kantor juga terkena dampaknya. Pipa air di jalan dekat kantor jebol. Jalan rusak, aspal pecah, kantor kebanjiran. Bukan dari air hujan dari atas, tapi justru dari luapan air dari kali dekat kantor. Senin kemarin, kami harus membongkar kantor, mengeluarkan timbunan kertas yang basah. Selasa bisa mulai bekerja. Kemarin, kembali kebanjiran. Sampai-sampai ibu RT turun tangan untuk mengontak pemilik rumah yang kami sewa, tidak tega melihat kami menjemur tulisan-tulisan boss di tumpukan kertas dan berbagai tulisan yang semuanya masih dalam bentuk kertas. Kejadian itu juga mengundang banyak sekali pemulung kertas yang berharap kami akan menjual kertas-kertas tersebut. Betul-betul banyak loh! Aku aja gak nyangka kalau ada sekian banyak pemulung di daerah Tubagus. Upaya menjemur kertas-kertas itu juga tidak mudah, karena kondisi. Lima menit matahari bersinar, 5 menit kemudian sudah gerimis. Duh, pontang panting banget. Mending kalau hanya mengangkut setumpuk dua tumpuk. Ini sih harus mengangkut tumpukan kertas dari dua gudang! Mantep deh.

Reaksi cepat diperlukan. Bikin rak baru, membuat tanggul, dan beberapa upaya pencegahan lainnya. Aku segera ke toko kayu, ke toko besi, cari tukang dan lain-lain. Tahu apa reaksi pemilik toko,"Neng, masih untunglah, bukan kena tsunami, masih tsunama". Yah, untung jawa, gitu deh istilah beberapa teman. Aku tertegun. Yah, memang kami semua capek sekali bolak balik mengangkut tumpukan kertas, tapi sebetulnya kami bisa melakukan beberapa hal untuk mengantisipasi ini, tapi lagi-lagi asik ditunda-tunda dengan 1001 alasannya. Kata orang, sedia payung sebelum hujan. Sayangnya, walaupun manusia diberi akal, terkadang kemalasan dan ketidakperdulian membuat seringkali setelah basah kuyup, barulah kita sibuk mencari atau membeli payung.

huh, mudah-mudahan hari ini aku bisa bekerja..