28.2.05

Wisudaan

Menjelang wisudaan, kalimat yang paling sering didengar adalah "selamat ya, kapan neh makan-makannya." Antara seneng dan kesel juga sih dengernya. Dan, memang, untuk peristiwa seremonial yang berlangsung hanya beberapa detik itu, begitu banyak persiapan yang harus dilakukan. Tunggu dulu, beberapa detik? Iyalah, kalau hanya menghitung saat rektor memindahkan tali di toga (itu juga kalau cukup beruntung bisa maju ke depan, soalnya konon di beberapa universitas, boro-boro ada kesempatan untuk maju saking banyaknya mahasiswanya). Buat aku, wisudaan emang hanya seremonial mindahin tali itu, wong ijazah belum dapat juga kok, hanya sebuah map yang berisi pengumuman bahwa ijazah baru bisa diambil 2-3 bulan lagi.

setelah wisudahaan, beberapa tahun laluSeluruh persiapan yang kadang bikin pusing kepala, buat wisudawan dan keluarga sih masih bisa disambut dengan senyum. Tapi, akibat dari wisudaan itu buat mereka yang tidak wisuda dan bukan keluarga? Sulit disambut dengan senyum!

Salah satu peristiwa yang sangat identik dengan wisudaan adalah: macet. Informasi tentang universitas yang mau wisudaan akan selalu ditanggapi dengan cepat. Maklum, disini ada berbagai universitas besar seperti Unpad, ITB, Unpar, Unisba, Unpas dll. Umumnya wisudaan berlangsung hari Sabtu pagi ke siang. Dan beberapa dari universitas tadi terletak berdekatan. Bayangkanlah, apa yang terjadi jika ada dua universitas itu melangsungkan wisudaan pada hari yang sama. Macet total.

Jalan Dago, adalah salah satu jalan yang terlarang, diikuti Jl. Siliwangi. Bukan itu saja, tapi cabang-cabang Jalan Dago seperti Raden Patah dan Imam Bonjol pun mendadak menjadi tempat paling semrawut. Padahal, sehari-hari jalan-jalan itu sepi. Jadi, kalau tiba tiba di jalan-jalan tersebut harus berhenti total bukan semenit dua menit, tapi bisa sampai satu jam, itu RUARRR BIASSA.

Walhasil, saat ini, aku di Taman Sari, tercebak macet. Lebih baik aku parkir di depan pintu belakang ITB sambil menulis dan mencoba melupakan kemacetan di sekitar aku. Palingan dalam satu jam semua sudah lancar. Satu hal yang pasti, aku gak mungkin bisa nonton The Aviator yang jam 2, wong sekarang saja sudah beberapa menit menjelang jam 2. Yah, sabar sajalah, mudah-mudahan mereka yang baru diwisuda itu tidap perlu ikutan masuk dalam daftar pengangguran yang makin panjang itu.
...iya, aku akui, aku juga menyebabkan macet berkepanjangan waktu wisudaan, karena aku dan teman-teman dengan bahagianya menjadi bagian dari arak-arakan panjang yang bikin macet itu, dan saat itu, aku tidak begitu memikirkan soal macet itu :)

24.2.05

Akibatnya adalah...

Hujan memang terus menerus turun. Hujan yang mengingatkan aku pada masa-masa Osjur sekian tahun lalu. Hujan yang tidak deras sekali, tetapi berlangsung terus menerus selama sekian jam. Bikin kesal sih.

Misalnya saja hari Minggu yang lalu, suasana jam 5 sore seperti jam 7 malam saja. Gelap. Lihat saja foto dibawah ini, diambil jam setengah tujuh-an, suasana sudah sangat gelap, mencekam, tapi juga misterius sih. Jalan Dago, salah jalan protokolpun tidak luput dari luapan air selokan. Walhasil, sebagian besar mobil -khususnya yang menuju ke Utara- lebih memilih lajur kanan yang seharusnya untuk mendahului. Sial, sudah banyak mobil yang mogok di lajur itu. Macet, deh. Mobil-mobil segera berupaya mengambil lajur kiri untuk kemudian segera pindah kembali ke lajur kanan.


Akibatnya, banjir di beberapa tempat, longsor di beberapa tempat, bahkan sampai "meluap"nya gunung sampah di Leuwigajah.

Kantor juga terkena dampaknya. Pipa air di jalan dekat kantor jebol. Jalan rusak, aspal pecah, kantor kebanjiran. Bukan dari air hujan dari atas, tapi justru dari luapan air dari kali dekat kantor. Senin kemarin, kami harus membongkar kantor, mengeluarkan timbunan kertas yang basah. Selasa bisa mulai bekerja. Kemarin, kembali kebanjiran. Sampai-sampai ibu RT turun tangan untuk mengontak pemilik rumah yang kami sewa, tidak tega melihat kami menjemur tulisan-tulisan boss di tumpukan kertas dan berbagai tulisan yang semuanya masih dalam bentuk kertas. Kejadian itu juga mengundang banyak sekali pemulung kertas yang berharap kami akan menjual kertas-kertas tersebut. Betul-betul banyak loh! Aku aja gak nyangka kalau ada sekian banyak pemulung di daerah Tubagus. Upaya menjemur kertas-kertas itu juga tidak mudah, karena kondisi. Lima menit matahari bersinar, 5 menit kemudian sudah gerimis. Duh, pontang panting banget. Mending kalau hanya mengangkut setumpuk dua tumpuk. Ini sih harus mengangkut tumpukan kertas dari dua gudang! Mantep deh.

Reaksi cepat diperlukan. Bikin rak baru, membuat tanggul, dan beberapa upaya pencegahan lainnya. Aku segera ke toko kayu, ke toko besi, cari tukang dan lain-lain. Tahu apa reaksi pemilik toko,"Neng, masih untunglah, bukan kena tsunami, masih tsunama". Yah, untung jawa, gitu deh istilah beberapa teman. Aku tertegun. Yah, memang kami semua capek sekali bolak balik mengangkut tumpukan kertas, tapi sebetulnya kami bisa melakukan beberapa hal untuk mengantisipasi ini, tapi lagi-lagi asik ditunda-tunda dengan 1001 alasannya. Kata orang, sedia payung sebelum hujan. Sayangnya, walaupun manusia diberi akal, terkadang kemalasan dan ketidakperdulian membuat seringkali setelah basah kuyup, barulah kita sibuk mencari atau membeli payung.

huh, mudah-mudahan hari ini aku bisa bekerja..

21.2.05

Dunia Perteleponan

Jaman sekarang, telepon itu barang sehari-hari. Kayaknya wajar kalau ada yang bilang, telepon itu sekarang sudah jadi kebutuhan primer. Padahal, waktu aku SD dulu, telepon - bahkan telepon tetap - masih merupakan kebutuhan tersier (tersier loh!). Waktu aku masih kelas 4, ayahku harus tinggal di luar untuk waktu yang cukup lama, dan kalau ia ingin menelepon kami sekeluarga, kami harus pergi ke rumah tetangga untuk menerima telepon. Kalau bukan karena kebaikan hati keluarga itu, aku tidak pernah bisa bercakap-cakap dengan ayahku lewat telepon. Telepon barang mahal yang berharga. Beberapa tahun kemudian, rumah kami kebagian jatah saluran telepon, dengan nomor yang terdiri dari 5 angka. Aku masih ingat tuh: 87880. Kalau telepon berdering, semua penghuni rumah dari berbagai penjuru rumah pasti langsung lari berhamburan untuk bisa angkat telepon. Hahahaha, geli juga sih kalau diingat-ingat. Tapi, sampai saat ini, masa-masa itu sangat berkesan buat aku.

Sekarang sih, jangankan telepon rumah, telepon genggampun sudah jadi barang umum. Jadi inget sebuah iklan di televisi yang suka dipelesetkan jadi,"jaman gini belum punya HP?". Sekitar 10 tahun lalu, ayahku masih memakai telepon mobil yang besar, yang seperti radio kaset. Kadang-kadang, kalau mau telepon suka nyetrum pula! Nomernya 082125210. Kalau antenenya gak pas, pasti tulalit deh itu telepon.

telepon genggam yang katanya cukup kuno untuk jaman sekarangGak disangka, urusan kecuekan menerima telepon harus segera dituntaskan. Karena abangku sangat sensitif dalam urusan perteleponan. Terlambat sedikit bisa bermasalah, apalagi kalau sampai tidak diangkat. Jangan berharap ditanya alasannya, kalau sudah marah, ya sudah, marah saja. Titik. telepon dan menulis harus bisa aku lakukan keduanyaPembenaran sih jelas ada 1001 alasan deh, tapi satu hal yang aku sadari, bahwa itu tidak benar. Aku teringat masa-masa semangat mengangkat telepon sekitar...hmmm...hampir 20 tahun yang lalu! Aku sudah terlalu cuek dengan telepon, padahal bisa jadi itu kan telepon penting, mungkin ada proyekan baru, atau malah ada kabar genting, atau ya itu tadi, telepon dari orang yang aku sayang, yang aku kangenin. Masalah angkat mengangkat telepon tampak sepele, tapi bo..salah-salah bisa bikin runyam. Jadi, maaf ya, buat kamu yang udah kesel habis-habisan sama kebiasaanku yang satu itu.

Aku memang cuek urusan mengangkat (baca: menjawab) panggilan telepon, tapi aku kesal banget kalau si penelepon itu menjawab telepon sambil ngetik-lah, nonton TV atau VCD-lah atau sambil ngobrol dengan orang lain atau apapun itu yang membuat penjawab telepon itu tidak memberikan 100% teleponnya padaku. Mending gak usah diangkat deh!

20.2.05

Rindu

Aku kangen banget teman-temanku.
Aku kangen masa-masa kuliahku. Di Bandung. Di Rotterdam.
Kangen sekali.

Melanggar itu Menyenangkan

Seringnya, melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan justru lebih menarik daripada melakukan yang memang harusnya dilakukan. Sudah tahu tidak boleh, kok ya bawaannya pengen dilakukan terus ya?

Sudah tahu harus nabung, kok kayaknya tetep tergoda untuk membeli baju hijau itu. Pembenarannya adalah, aku ini jarang belanja, dan bukan tipe penggila belanja, jadi boleh dong memanjakan diri sekali dua kali. Iya kan. Malah lebih parah lagi, uang yang harusnya ditabung itu terus berkurang bukan hanya untuk sebuah baju, tetapi juga sebuah sebuah yang lain, termasuk tiket JavaJazz (mumpung lebih murah 100 ribu gitu loh).

Heran memang, kenapa juga hal-hal yang tidak boleh kita lakukan, yang sebaiknya tidak kita lakukan itu biasanya justru hal-hal yang jauh lebih menyenangkan daripada yang boleh dilakukan. Bukan saja sekedar lebih menyenangkan, terkadang yang seharusnya dilakukan itu justru bikin sedih. Iya kan?

Aku bingung dan merasakan dua hal bersamaan. Senang, tapi juga sedih. Aku harus mencoba untuk menghentikan hal-hal yang tidak boleh itu, dan berupaya melakukan hal-hal yang boleh. BUkan sekedar sesuatu yang terlihat oleh orang, tetapi juga hal-hal yang hanya ada di dalam pikiran aku.

*iya...iya... aku tahu, seharusnya aku tidak bertemu, berbicara, berhubungan, dengan dia yang aku sayang itu dan juga membuat aku selalu bingung dan bersalah juga, hanya dengan memikirkannya*

15.2.05

Senin, 14 Februari 2005

Dari pagi, di radio orang sibuk dengan segala sesuatu yang berbau cinta. Hmm, menyenangkan sih, selama tidak harus pakai baju dengan warna pink (cukup sekali itu ya, teman-temanku!). Aku lebih suka baju hijau dan rok yang memang agak mewakili nuansa 14 Februari ini. Tas karung yang berat itu, kamus yang berat itu (ayo, harus mengedit kerjaan Ine nih), laptop dan setumpuk kertas yang akan menjadi sahabatku sepanjang hari ini.

*sanggy*papi*swiss army victorinox professional watch*mami*adi*dina malang*lien*lidya*abang*ina*idah*par*agung*warih*lusi*lina lawencon*kris*

Ah, tenggat waktu memang bisa datang kapanpun. Draft proposal yang sudah menanti untuk aku tinjau ulang. Sebuah profil perusahaan yang menunggu revisiku. Setumpuk kajian hukum yang juga sudah teronggok beberapa hari, menunggu persetujuan untuk segera dikirimkan. Janji-janji pertemuan yang masih tertunda. Sebuah bukti, hari ini memang hari Senin. Untungnya tidak perlu pakai rapat internal atau pertemuan internal.

*sebuah pertemuan*cicilan tetralogi pramoedya ananta toer - anak semua bangsa & rumah kaca*a hug* a kiss*kartika sari & hot chocolate*agus*beneri*harry indra*pawel*dindin*kak rita*ivan*nchis*febi jro*marlomba*vera*elise*unieng*klodi*kak jus

Untuk aku sih, hari ini memang hari kerja kok, tidak ada beda. Malah, rasanya pekerjaan menumpuk tidak karu-karuan. Jelas saja, sampai sorepun belum selesai. Setidaknya beberapa sudah rampung, yang lain menunggu untuk dirampungkan. Mudah-mudahan bisa segera selesai. Tapi, aku ingin banget bersantai-santai. Apalagi seharian ini, napsu makanku turun. Ini nih, gara-gara kawat gigi yang baru saja dikencengin.

melly, parul, kotek, pungki, ketut, apor, ben di potluck

*potluck*abang*ngobrol*sayang*lien*ben, ketut, apor*harry, kotek, pungki*tawa*cerita-cerita*foto-foto*potluck's little surprise*tiup lilin*ucapan lagi*intan*made*wenk*aida*maurice*john*tino*jeffry*keliling bandung*burangrang*indomie rebus*pelukan*cinta*
*dede*lusti*priska*dion*jo*priska ika*arga*mas donny*febi*achi*
*yustin*galuh*lala*mba iris*jolita*


makasih Potluck, kejutan dan kejutannya, sukses terus yaTerimakasih untuk kalian, untuk ucapan kalian. Kemarin aku diingatkan awal aku memulai semuanya. Aku bersyukur, aku masih terus bisa menikmatinya. Oh ya, kalian sendiri merayakan tanggal 14 Februari atau tidak, aku berharap hari-hari aku dan kamu selalu dipenuhi cinta.


14.2.05

Kasih

Kebaktian minggu sore kemarin, lagi-lagi kebaktian puji-pujian. Senang sekali. Bukan karena lebih banyak pemuda yang kebaktian (itu sih lagi-lagi jatah Maurice adikku, walopun tetep pake jaim, soalnya gak level banget deh kenalan dan nanya nomor telepon di gereja. Hahaha), tapi karena suasana yang berbeda, dan, kebaktian puji-pujian gitu loh!

cintaKasih. Itulah yang aku dapat selama kebaktian. Kasih itu sabar, kasih itu murah hari, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan menganggung segala sesuatu. Bukan kasih sebagai sebuah slogan.

Kemarin, aku diingatkan pada kasih terbesar yang pernah aku dapat seumur hidupku. Kasih Tuhan untukku. Membuat aku ingin menangis atas semua yang Dia lakukan untuk aku, bersyukur karena aku boleh merasakan kasihNya. Memberikan nyawaNya. Memberikan hidup. Dan, apa yang sudah aku lakukan bagiNya? Apakah kasihku hanya sebuah slogan?

Waktu kamu mengasihi seseorang, mungkin kamu bersikap seperti aku. Aku, selalu ingin memberikan yang terbaik bagi mereka yang aku kasihi, membuat mereka yang aku kasihi itu bahagia. Hanya itu juga yang ingin aku lakukan untuk Dia yang sudah selalu mengasihi aku. Kasih yang bukan “karena” tapi kasih yang “walaupun”. Aku juga ingin belajar lebih mengasihi orang-orang yang ada di sekitar aku, bahkan tanpa melihat siapa mereka.

Pada akhirnya, buat aku, tidak ada yang lebih indah untuk berada di antara orang-orang yang aku kasihi, berada di antara orang-orang yang mengasihi aku. Mudah-mudahan hari ini aku bisa merasakan itu semua.

11.2.05

Parkir


Maurice, adikku, pernah bilang gini, "urusan pacaran gue sih berprinsip kayak parkir mobil aja deh, mobil parkir bisa dimana aja, tapi garasi kan cuman satu"

Hehehehe, aku gak berniat membahas kalimat adikku itu sih, cuman memang lagi tertarik sama urusan parkir.

mengantri untuk parkir di PS JakartaSeperti biasa, libur panjang, Bandung penuh. Jalanan sebetulnya agak lengang. Tapi, eits, tunggu dulu, kalau kamu harus melewati tempat belanja atau tempat makanan, selamat deh! Selamat menikmati macet. Penyebabnya sepele sih, parkir mobil. Misalnya di Jalan Dago nih, jalan yang cukup lebar itu hanya bisa dipakai satu lajur, karena lajur lainnya dipakai untuk parkir (istilahnya sih on-street parking deh). Belum lagi ditambah mobil yang hendak memutar dari satu jalur ke jalur, mereka terhambat karena ada mobil-mobil yang parkir itu. Belum cukup sampai situ, waktu aku harus melewati Jalan Sultan Agung, aku kaget, kok macet ya? Ternyata, lagi-lagi urusan parkir. Kok ya ada ada saja mobil yang ngotot untuk bisa parkir di satu titik, satu-satunya titik tersisa di daerah distro itu, padahal mobilnya besar, ruang parkirnya kecil, dan membuat kemacetan! Padahal, bisa saja dia berputar sedikit di Jalan Geusan Ulun, berbalik untuk kembali parkir dengan cara yang lebih benar! Dan, kekesalan aku belum berakhir begitu saja, aku harus berputar kawasan merdeka sebanyak 4 kali untuk mencari parkir. Aku mau nonton Phantom of the Opera (keren euy, otak aku langsung dipenuhi dengan lagu-lagunya Phantom, aku suka filmnya, mudah-mudahan suatu waktu bisa nonton opera aslinya) jam 2 siang, dan aku berada di kawasan itu dari jam 1 lebih sedikit, sampai akhirnya aku mulai panik karena jarum jam menunjukkan beberapa waktu ke jam 2. Mau parkir gedung, mau parkir di pinggir jalan, semua penuh. Walhasil, aku nekat menunggu di depan pintu masuk, karena aku tidak punya pilihan lain. Akhirnya dibukalah palang itu, dan tahukah kamu, di dalam ada begitu banyak ruang parkir!! Apa petugasnya terlalu malas, atau ada pertimbangan lain? Entahlah.

buruan keluar dari tempat parkirnya, udah ada yang ngantri tuuhUrusan parkir, memang tidak mudah. Sewaktu kuliah, secara khusus selalu dibicarakan, khususnya pada mata kuliah yang berhubungan dengan transportasi atau perkotaan. Urusan parkir, selalu diidentikan dengan kemacetan. Apalagi parkir di pinggir jalan. Mungkin itu juga sebabnya, pemerintah kota Bandung bolak balik merubah sistem parkir di Jalan Braga, misalnya, dari serong ke lurus ke serong lagi, dan kalau tidak salah ingat, sekarang kembali sistem paralel. Memang, di Jakarta, rasanya tempat perbelanjaan besar lebih siap dengan ruang parkir yang lega, yang tetap saja selalu harus berebut kalau sedang hari libur. Di Bandung, entah pengusaha tempat belanja yang tidak siap dengan jumlah pengunjung, atau dasarnya saja "koret" alias pelit, jadi tidak mau repot-repot menyediakan ruang parkir yang memadai. Lihat saja BEC, Istana Plaza, BIP atau (apalagi) factory outlet yang bertebaran di Kota Bandung, tempat-tempat tersebut punya masalah dengan ruang parkir. Kalaupun menyediakan jasa vallet parking seperti di BEC, ternyata kemudian diketahui, tempat vallet parking-nya pun dipermasalahkan oleh beberapa pihak.

Rasanya, secara standar, sudah ada ukuran-ukuran yang menetapkan seberapa banyak ruang parkir yang harus disediakan, disesuaikan dengan jenis usaha dan juga besaran usaha atau kegiatan tersebut. Apa pemilik tempat tidak sadar, tempat parkir yang cukup itu mempengaruhi pembeli untuk datang? Atau mereka tidak perduli karena tahu bahwa tokh pembeli akan tetap datang juga? Atau karena lahan parkir diidentikan dengan upeti yang harus dibayarkan ke pemerintah atau siapapun itu. Soalnya, seharusnya sih pemasukan dari parkir untuk PAD pasti cukup besar, tapi kenyataannya pasti kebocorannya yang lebih besar. Bisa dibayangkan 1000 rupiah per kendaraan, dalam sehari bisa dapat berapa ya?

Jadi ingat, urusan parkir di beberapa kota di luar sana, juga urusan yang selalu bikin pusing, kalau harus parkir di pusat kota, sudah jarang dapat tempat, mahal pula. Tapi, setidaknya aku punya pilihan untuk naik angkutan umum atau jalan kaki saja. Mmm, mungkin, aku memang lebih baik naik angkot atau jalan kaki, dan memarkirkan kendaraan di SuperIndo Dago, gratis loh!

9.2.05

Terbang


Aku selalu suka terbang, tentu saja pakai pesawat dong. Entah sejak kapan. Gak tau juga ya, apa karena itu aku, dalam mimpi, bisa terbang, atau kebalikannya, justru karena suka mimpi terbang, aku sering sekali terbang. Sudahlah, membingungkan.

Dua minggu terakhir, lagi-lagi aku kembali sibuk terbang. Rasanya teringat pertengahan tahun lalu, waktu hampir selama 3 bulan, aku harus terus menerus terbang dari satu kota ke kota lain. Melelahkan, tapi sangat menyenangkan.

Aku selalu memilih tempat duduk dekat jendela, tidak perduli di depan atau di belakang. Aku sih sebetulnya lebih suka di depan, soalnya di belakang itu bising dengan suara pesawat, apalagi kalo pesawat lama yang banyak dipake oleh maskapai penerbangan yang baru. Tapi, konon, menurut petugas di bandara, sekarang orang beramai-ramai ingin duduk di belakang daripada di depan, terutama sejak kejadian pesawat Lion di Solo. Duh, aku sih pasrah deh kalau sudah urusan nyawa, tapi kalau bisa memilih tidak di bagian belakang, kayaknya aku lebih suka deh. Kalau terbang sekali dua sih tidak masalah, tapi kalau sering, itu kan sebetulnya tidak terlalu baik untuk pendengaran, apalagi kalau harus terus menerus mendengar suara pesawat yang superduper bising itu!

Aku sangat suka terbang di saat-saat matahari terbit atau matahari terbenam, baik pas lepas landas ataupun mendarat. Pemandangannya? Keren banget. Aku teringat sunset di Belgia, yang sangat indah (kebetulan waktu itu penerbangan jarak dekat hanya dari Brussel ke Schipol). Membuat aku bisa tersenyum, walaupun waktu itu aku sangat sedih, karena harus meninggalkan banyak orang yang aku sayang disana. Aku juga teringat lepas landas Jakarta di saat matahari terbenam. Indah sekali. Warna yang aku lihat, sulit aku sampaikan dengan kata-kata. Begitu juga waktu harus meninggalkan Jakarta menjelang matahari terbit. Rasanya begitu berbeda, melihat Jakarta yang sumpek itu dengan pemandangan yang begitu indah. Sebuah kota yang padat, dengan semburat berbagai warna sebagai latar belakang. Cantik. Aku juga teringat pemandangan matahari terbit di Lombok, dengan Rinjani di kejauhan. Mau tahu apa yang aku rasakan? Sebuah semangat, sebuah harapan bahwa di depan akan ada begitu banyak hal yang baik dan indah. Bahwa Tuhan itu betul-betul mengagumkan!

Terbang ke luar Indonesia, apalagi yang memakan waktu belasan jam, biasanya lebih banyak dihabiskan dengan tidur, membaca buku atau menonton film. Jarang sekali punya kesempatan untuk melihat-lihat keluar. Lagipula, pesawat pasti terbang di ketinggian sekian yang kalaupun mau maksa melihat keluar, palingan yang ada hanya pemandangan laut biru, atau daratan yang tidak begitu jelas, saking tinggingnya. Lain halnya terbang jarak dekat seperti Bandung-Jakarta. Aku jadi punya kesempatan untuk betul-betul menikmati landscape Jawa Barat. Entah karena terbang rendah, jadi semua bisa terlihat, atau karena memang istimewa, aku merasa Jawa Barat memang begitu indah, punya bentang alam yang, waw, keren deh. Ada gunung-gunung, bukit-bukit, dengan petak-petak sawah disana sini, rumah-rumah berserakan di kaki gunung, belum lagi sungai-sungai yang berkelok, apalagi waktu melewati waduk Jatiluhur. Aku gak habis-habisnya menengok ke luar jendela, sambil terus berpikir, waw, Tuhan itu memang seniman terbesar! Walaupun terbang dengan pesawat kecil yang guncangan kecilpun sangat terasa, aku tidak perduli, soalnya pemandangan yang aku lihat membuat aku merasa bahagia. Beda sekali waktu harus terbang dengan pesawat kecil lain di wilayah Kalimantan, yang sebelum naik, bukan hanya barang bawaan tapi juga aku harus naik ke timbangan! Hahaha, kalau malu sama berat badan, tinggal salahkan ransel yang ada di pundak. Kalau pesawat kecil yang satu itu sih cukup bikin deg-degan, apalagi pemandangan di bawah itu hutan-hutan tropis tanpa ada rumah sama sekali. Betul-betul membuat aku tidak ingin melepas sabuk pengaman yang ada di pinggangku.

Aku memang senang sekali terbang, aku bersyukur bisa punya banyak kesempatan terbang. Kalau saja aku bisa bawa sendiri itu pesawat terbang, hmmmm, menyenangkan!

Dziedot Augu


Aku senang sekali bernyanyi. Eh, jangan salah sangka, aku gak punya suara keren seperti mereka yang sering nongol di layar kaca. Tidak. Aku hanya senang bernyanyi. Bernyanyi bisa membuat aku merasa bahagia. Musik dan lagu, memang harus selalu ada dalam hidup aku sehari-hari, deh.

Kemarin, aku kembali bernyanyi, bersama mereka yang dulu sering bernyanyi bersama, ketika masih kuliah. Aku ikut latihan bukan karena sebuah kewajiban karena hendak konser, bukan karena ingin memenangkan sebuah festival, tapi karena aku senang berlatih. Bukannya tidak pernah merasa cape karena itu semua, tentu saja capek biasanya akan datang pada waktunya (ha!), tapi aku kangen sekali dengan suasana latihan.

Kaget juga, waktu dikasih lembar "toge" itu. Yah, aku biasanya dengan partitur angka, tiba-tiba dihadapkan dengan not balok. Sebagai bekas anak sekolahan, jelaslah pernah diajar di sekolah, tapi untuk bisa membacanya dengan cepat, apalagi kalo toge-toge itu sudah berderet-deret, wuih, bukan sesuatu yang mudah. Ketukan satu per sekian sekian itu kadang bikin pusing. Tapi gak masalah, karena ada teman-teman, dan aku kan juga punya PR di rumah untuk berlatih itu semua. Lagipula, tampaknya lagu-lagunya menyenangkan sekali. Aku suka.

Okidoki kalo gitu, lembar-lembar partitur ini harus segera aku selamatkan, dan tidak boleh terlupakan, supaya nanti pas latihan lagi, aku tidak sebingung tadi malam.

4.2.05

Taat


Waktu kecil, aku ingat dengan nasihat untuk taat kepada orang tua, taat kepada guru di sekolah dan taat-taat yang lainnya, termasuk, tentu saja, taat kepada Tuhan.

Kok aku merasa, taat itu juga dekat dengan kata takut. Taat kepada orang tua harusnya tidak berarti takut kepada orang tua kan. Aku tidak begitu suka konsep aku taat karena ketakutan, justru karena rasa hormat dan rasa sayang aku pada mereka. Taat kepada Tuhan juga sering diidentikan dengan takut. Dengan pemikiran yang sama, aku juga tidak begitu suka membayangkan aku harus takut kepada Tuhan, tidak dalam pengertian takut Tuhan melakukan sesuatu yang buruk, juga tidak dalam pengertian takut lainnya.

Hanya saja, aku tahu, aku harus terus belajar taat pada Tuhan, karena hormatku dan karena aku mengasihi Tuhan, karena aku tahu, Tuhan berkuasa atas hidupku. Aku sadar, aku terus jatuh bangun untuk bisa taat. Betul-betul taat.

Pagi ini, sejak bangun, aku tidak mengerti kenapa, aku terus diingatkan untuk taat dan taat dan taat. Berat sekali. Tapi, aku memang harus belajar belajar taat, tanpa menunda-nunda.

3.2.05

Mau Sekolah?

Orang sekolah, motivasinya memang macam-macam, terutama untuk pendidikan lanjut. Mau meneruskan dari pendidikan menengah ke pendidikan tinggi, pasti memiliki beberapa motivasi, apalagi kalau mau meneruskan ke pendidikan lanjutan.

Beberapa hari ini, aku menyaksikan betapa begitu banyak orang yang memutuskan untuk Mengambil Master. Apapun alasannya! Jangankan alasan melanjutkan ke jenjang master, ditanya jurusan yang diminatipun, sebagian besar masih tidak tahu. Apa saja asal master!

Duh, belajar itu bukanlah sebuah kewajiban sejarah lain.

Aku pikir, kita bersekolah haruslah dengan tujuan untuk memperoleh ilmu baru, pengalaman baru atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Aku tidak pernah habis pikir ketika seseorang memutuskan bersekolah untuk mengejar selembar kertas bercap ijazah. Buat apa? Apa sih yang ingin dibuktikan dengan selembar kertas tersebut? Bahwa dia adalah orang yang lebih p-i-n-t-a-r? Nanti nanti dulu, deh.

“Pokoknya saya harus sekolah lagi, mau ambil master, jurusan apa saja deh, kalau perlu yang gampang dapat beasiswa ya, Mba!” sambil mengambil brosur kuliah yang beranekaragam dari ekonomi, hukum dan kesehatan secara sambil lalu.

Gosh...

Menjadi Nomor 2

Pernahkah kamu merasa menjadi nomor 2 di negera kamu sendiri? Aku, baru saja mengalaminya, dan shock.

Mewakili sekolahku sebagai representative mereka di sebuah pameran pendidikan Belanda, aku harus menghadiri technical meeting yang diadakan semalam sebelumnya. Peserta pameran, bisa dibilang sebagian besar orang Belanda dengan umur rata-rata 40-50 tahunan. Dan, hey, aku ini hanya seorang perempuan yang berumur jauh dibawah mereka, dengan penampilan kaos oblong putih dengan celana jeans. Siapa juga yang ambil pusing? Oleh sebagian besar peserta, aku dikira panitia. Oleh panitia, jelas-jelas dianggap kelas dua. Kesal sekali, ketika harus menerima senyum yang berbeda, jabat tangan yang berbeda, dan bahasa tubuh yang berbeda.

Tapi, hey, hey, jangan salah. Itu tidak menggambarkan perilaku seluruh panitia penyelenggara. Untunglah, ini bukan kali pertama aku mengikuti kegiatan ini, aku tahu pasti, sebagian besar dari mereka sangat ramah dan baik hati. Betul saja, dia yang mengira aku ini kelas lain, harus menerima teguran dari rekan sejawatnya karena telah memperlakukan aku seperti itu.

Memang, menjadi kelas dua di negara sendiri, rasanya menjadi hal yang klasik terjadi disini. Sangat aku sayangkan. Hanya saja, untung saja (atau tidak untung), aku tahu, darah aku, darah Indonesia aku begitu kuat dan sangat aku banggakan. Tidak akan pernah kecintaan aku sama bangsa ini jadi rusak hanya karena tingkah laku mereka yang masih terlalu silau dengan segala sesuatu yang berbau “bule”, masih begitu panik dan terlalu bersemangat untuk bisa sekedar berbicara dengan bule, atau yang begitu ingin menyenangkan para bule tersebut, sampai bisa jadi lupa, bukankah lebih menyenangkan kalau kita terlebih dahulu mengharga dan menghormati rekan sebangsa?

Tinggal di negeri orang untuk waktu yang singkat (dibandingkan beberapa orang lain), membuat aku pernah mendapat "kehormatan" sebagai orang asing. Sebagai perempuan Indonesia, perempuan dari negeri "eksotik", aku memang mudah mendapatkan perlakuan istimewa dari lawan jenis di negeri orang (a ha!), di bandara, di loket-loket, di tempat umum lainnya. Mereka ingin bercakap-cakap dengan aku, apalagi kalau tahu dari Indonesia, biasanya Bali akan segera jadi topik. Di sebuah restoran di Menara Eiffel, pramuwisma yang drop-dead-gorgeus itu tidak henti memandang aku (ehm, ehm, aku lagi harus menaikkan harga banget sih), sampai-sampai orang tuaku yang jengah. Hahahaha. Jangan salah, aku juga pernah menjadi kelas dua dengan menjadi seorang perempuan yang datang dari negara berkembang, yang dianggap tidak mengerti apapun dan punya kebiasaan yang tidak bisa dimengerti. Apapun itu, aku memang lebih suka dianggap rendah terlebih dahulu, sampai akhirnya aku bisa puas ketika melihat muka kaget mereka engan aku. Maklum, terlalu sering aku menjadi yang paling muda, paling kecil di suatu kegiatan, perempuan pula.

gambar yang mungkin tidak relevan sama topiknya nih

Jadi, ketika di negara sendiri aku mendapat perlakuan seakan-akan menjadi nomor 2, aku tidak perduli. Aku tidak mau ambil pusing memikirkan mereka yang masih terlalu silau itu. Untuk aku. Aku bangga dengan keIndonesiaanku, 100%.