13.1.05

Tip Pot


Aku memang suka agak pusing dengan urusan memberi tip. Biar bagaimana, aku merasa memberi tip memang bukan sesuatu yang membudaya disini. Apalagi kalau di nota pembayaran tertulis 17.5% untuk pajak. Uih, agak males deh untuk memberi tip.

Biarpun begitu, tetap saja, aku belajar memberi tip. Di salon, di restoran, di tempat-tempat dugem, di hotel bahkan di tempat cuci mobil. Konon sih, tip kita beri kalau kita merasa puas dengan pelayanan. Hanya saja, sering aku merasa, aku terpaksa memberi tip karena memang harus memberi tip, padahal aku sangat tidak puas dengan pelayanannya. Di salon yang tukang creambath-nya malah bikin pusing kepala, di tempat cuci mobil yang ternyata di bagian dalam sama sekali tidak dibersihkan, dan juga di hotel yang sebetulnya dia hanya membawa daypack yang sangat ringan itu!Kalau nekat tidak memberi tip, duh kok merasa bersalah ya?

Pernah sih, aku memberi tip karena betul-betul puas dengan pelayanannya. Di restoran, yang walaupun ramai dan harus melayani permintaan aku dan keluarga (atau teman-teman) yang begitu beragam, dia masih tetap memberi senyum terbaik dan memperlakukan kami bak pelanggan nomor 1. Wah, untuk yang seperti ini sih, aku dengan sangat senang hati memberi tip. Dulu, aku sempat tahu, di tempat-tempat dugem itu, pelayannya hanya mendapat honor yang...duh...bikin miris. Disitu, aku juga cenderung untuk memberi tip untuk mereka. Karena aku cukup tahu bagaimana kondisi pekerjaannya.

Konon ada aturan sih untuk memberi tip yang baik. Tentu saja untuk aku dan kamu yang ingin memberi tip, bukan aturan untuk menerima tip. Tapi, tampaknya perlu ada tawaran memperlakukan tip tersebut untuk mereka yang tidak memberi dan juga bukan penerima tip. Bingung? Begini loh, kemarin itu, waktu aku nongkrong di Potluck, aku melihat kejadian yang bikin miris. Sekelompok laki-kali usia awal 20-an datang dengan gaya yang sepa! Di kasir, tiba-tiba salah seorang dari mereka memasukkan tangannya ke dalam tip pot yang disediakan. Tidak lama tangannya keluar dari pot tersebut dengan sekeping uang logam, yang, yah, nilainya sih mungkin tidak seberapa. Tidak lama kemudian, uang itu ia serahkan kepada kasir sebagai pembayaran minuman yang dia beli. Katakanlah dia harus membayar sebesar 10.500 rupiah. Nah, si 500 rupiah itu berasal dari tip pot. Setelah itu, mereka tertawa-tawa senang, seakan-akan itu sebuah lelucon yang sungguh lucu, seakan-akan mereka baru saja melakukan sesuatu hal yang bagus?

Aku terhenyak.

Aku memang tidak begitu tahu bagaimana seharusnya memberi tip. Tapi aku cukup tahu, siapa pemilik tip tersebut. Aku cukup tahu, bahwa tip tersebut bukanlah milikku. Apakah kamu yang mampu masuk ke sebuah café dengan harga minuman di atas 5000 rupiah itu, tidak punya cukup uang dari dompet sendiri untuk melengkapi pembayaran yang hanya kurang beberapa ratus rupiah?