12.1.05

Pertanyaan Seumur Hidup

?????

Ingat tidak, waktu kecil, kalau kamu pergi bersama orang tua bertemu dengan teman-teman mereka atau bertemu keluarga besar, kamu akan dapat pertanyaan soal usia kamu dan pendidikan kamu,”wah, udah besar ya, kelas berapa sekarang?”. Sampai bosan. Kadang menggelikan, karena pertanyaannya itu itu melulu.

Beberapa waktu lalu aku dan temanku berpikir, bahwa hidup kita ini selalu saja dipertanyakan oleh orang-orang lain. Terutama setelah kuliah.

“Kapan lulus?” pertanyaan yang lebih menjadi momok waktu kuliah. Mungkin ini yang membuat mahasiswa sekarang kuliahnya itu cepat ya? Dulu kamu menjawab seperti apa? Aku sih cuek saja, senyam senyum saja. Sadar bahwa sebagian besar yang bertanya sebetulnya tidak terlalu perduli kapan aku lulus. Memang kalau aku baru bisa lulus satu atau dua tahun lagi, apa mereka mau membayarkan SPP aku? Sudah pasti tidak, kan!

Sesudah lulus, jangan berpikir pertanyaan akan berhenti. Karena kemudian akan muncul pertanyaan lain.

”Kerja dimana?” ini pertanyaan yang selalu sulit aku jawab. Mungkin lebih mudah buat kamu yang sudah bekerja di satu tempat yang punya gedung kantor yang jelas, jenjang karir yang jelas, dan amplop gaji yang rutin datang setiap bulannya. Pertanyaan ini pasti muncul sejak kamu diwisuda. Karena itulah, masa menyenangkan adalah masa setelah lulus sidang dan sebelum wisuda. Setelah wisuda, silahkan nikmati pertanyaan yang satu ini sampai si penanya terpuaskan. Untuk aku, pertanyaan ini masih terus aku dapatkan, karena aku sering terlibat pekerjaan yang bersifat sementara –dari satu bulan sampai 3 bulan- yang sering membuat keberadaan aku tidak jelas ada dimana. Seberapa penting sih “label” pekerjaan tersebut? Seberapa sulit sih untuk mengerti tidak semua pekerjaan bisa di-label-kan? Ah, sudahlah, aku menyenangi ritme pekerjaanku kok.

“Kapan menikah?” nah ini dia pertanyaan tidak ada matinya yang semakin sering aku hadapi. Lagi-lagi, aku sih lebih sering menerima pertanyaan ini dengan pandangan mata menyelidik seakan mencoba mencari seribu satu masalah yang ada di dalam diriku sehingga mereka kemudian tidak hanya berhenti dengan bertanya tapi bisa melanjutkan dengan seribu satu petuah. Usil. Begitulah hasil temuan aku dan beberapa teman, walaupun ada beberapa orang yang bertanya dengan kasih yang tulus, loh.

pertanyaan apa lagi ya?Bukan, bukan tidak ingin menikah, tapi aku masih malas untuk menjawab pertanyaan selanjutnya yang muncul kalau sudah menikah. “Kapan nih punya momongan?” Seakan-akan punya anak itu seperti beli pisang goreng saja! Terus akan berlanjut dengan kapan kakaknya akan punya adik, kapan mau beli rumah, dan kapan yang lainnya. Pertanyaan-pertanyaan seumur hidup yang selalu akan muncul. Melelahkan? Ah, cuek sajalah. Kamu dan aku pasti cukup bisa melihat kapan pertanyaan itu tulus dilontarkan, kapan itu hanya sebuah ungkapan basa basi, dan kapan itu merupakan ungakapan keusilan orang-orang yang haus gosip.

Entah kapan pertanyaan-pertanyaan itu akan berhenti. Terpikir tidak ya untuk bertanya, “nanti kalau mati mau kemana?” Nah, kalau untuk yang satu ini untunglah aku sudah ada jawabannya!
?????