26.1.05

Pagar


Sekarang, sepertinya yang namanya pagar itu sedang menjadi trend. Dimana-mana ada pagar. Bahkan di ruang publik.

Beberapa waktu lalu, waktu aku melewati pasar baru, aku melihat hampir seluruh trotoar disekitar Pasar Baru diberi pagar. Bisa jadi untuk menghindari pedagang kaki lima yang sudah tidak terlihat batang hidungnya, bisa juga untuk membuat pejalan kaki tidak menyeberang sembarang. Pagar hitam yang tinggi. Ini juga membuat aku teringat kawasan Bandung Indah Plaza Merdeka yang juga dikelilingi oleh pagar. Aku juga teringat sebagian besar pedestrian di putaran Bandung yang juga diberi pagar. Aku juga jadi teringat tulisan Mas Kemplu tentang pagar di bundaran slipi.

Aku ingat, pada waktu masih kuliah, aku diberitahu bahwa sebuah desain seharusnya juga mencoba mengadaptasi perilaku manusianya, bukan sekedar membuat sesuatu berdasarkan sebuah aturan, teori, apalagi kalau itu datang bukan dari budaya setempat *berhubungan dengan rancang kota, nih*. Aku pikir seharusnya dilakukan sesuatu yang lebih dari sekedar membuat pagar untuk membuat orang mau berjalan di trotoar dengan tertib dan tidak menyeberang di sembarang tempat.
Aku sangat tidak suka pagar-pagar itu. Jangan di ruang publik, bahkan pagar depan rumahpun tidak aku sukai. Aku merasa seperti berada di sebuah penjara, aku merasa tidak bisa dipercaya dan juga tidak bisa mempercayai orang. Memang, pagar-pagar tersebut dimaksudkan untuk menjaga banyak hal, menjamin keamanan dan keselamatan. Hanya saja aku selalu bertanya-tanya, mengapa harus dengan pagar? Apakah memang penduduk Bandung sudah tidak bisa dipercaya untuk berkelakuan baik tanpa pagar? Lagipula apa yang menjamin bahwa pagar tersebut akan membuat pedagang kaki lima tidak lagi berjualan disana?

Aku memang sangat tidak suka dengan pagar. Rasanya membatasi aku *ketahuan kan, aku ini tidak suka dibatasi ini itu, kekekek*. Aku tahu, terkadang juga banyak pagar kasat mata di sekitar kita, dibuat oleh lingkungan, atau bahkan dibuat oleh kita sendiri entah karena ketakutan, atau kekuatiran atau prasangka. Aku tidak menyukainya. Aku berharap suatu waktu pagar-pagar tersebut bisa diturunkan, aku dan kamu bisa hidup bersama tanpa ketakutan, tanpa kekuatiran, tanpa prasangka, tanpa pagar.