25.1.05

Mengalah Untuk Menang (?)


Kalau kamu senasib seperti aku, menjadi anak sulung, entah dengan hanya seorang adik atau bahkan empat orang adik, kata "mengalah" pasti bukan barang baru. Sejak kecil, yang namanya kakak itu (katanya) harus mengalah dengan adiknya, untuk 1001 alasan. Mengalah waktu kami bertengkar dan aku begitu yakin bahwa aku benar dan adikku salah, mengalah ketika ada makanan dan karena jumlah yang tidak seberapa aku mendapat lebih sedikit dari adik-adikku. Harapan orang tua, sang kakak bisa lebih mengerti adiknya yang masih kecil, sang kakak tidak boleh egois. Bisa jadi dulu aku tidak bisa terima, tapi sekarang aku bisa dengan mudah mengalah untuk adik-adikku. Bukan, bukan karena paksaan dan kewajiban, tapi karena sayang aku pada adik-adikku. Pada akhirnya, bukan saja aku yang harus mengalah, tidak jarang adik-adikku mengalah, apalagi kalau aku lagi super duper sensitif.

Kadang aku pikir, orang juga harus mau mengalah di jalan raya. Darahku yang 100% batak itu memang lebih sering menggelegak deh di jalan raya. Mungkin bakat supir angkot dan bus sudah mendarah daging, jadi sulit sekali mengontrol emosi di jalanan. Tapi itu dulu! Untunglah aku merasakan, bahwa mengalah terlebih dahulu jauh lebih menyenangkan. Bayangkan saja, hanya karena ngotot, tidak mau mengalah di perempatan yang padat, misalnya, bisa jadi membuat keinginan untuk cepat bergerak malah terhambat sekian menit, tidak jarang sampai jam-jam-an kan. Orang cenderung ingin cepat sampai, orang cenderung merasa jalan ini jatah aku, dan karena itu sulit sekali mengalah karena merasa hak-nya, akibatnya berbentrokan dengan orang-orang keras kepala lainnya.

Saat ini, aku ternyata masih tetap harus terus belajar untuk mengalah. Untuk tidak ngotot dan keukeuh bahwa segala sesuatu harus berjalan sesuai yang aku mau, dengan cara aku, dan pada saat yang aku inginkan. Tidak semua bisa berjalan seperti itu. Aku dan Abang, memang punya jalan yang panjang, dan harus banyak mengalah. Mengalah untuk lebih banyak kebaikan buat kami dan buat sekitar kami. Berteman sajalah, tanpa beban apa-apa, menikmati waktu sambil terus berupaya dan berdoa. Mengalah untuk bisa memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga, mengalah untuk lebih bisa berkonsentrasi ke pekerjaan.

Pada akhirnya, menurut aku, mengalah tidaklah sama dengan kata dasarnya "kalah". Justru terkadang mengalah itu perlu dilakukan untuk mendapatkan lawan katanya: menang.