11.1.05

Lari Pagi


Aku suka berolahraga. Entah sejak kapan. Berenang, adalah salah satu favorit aku, dan sudah aku lakukan sejak kecil. Setelah besar, selain berenang ada beberapa olahraga yang (sempat) rutin aku lakukan seperti bulutangkis *hei teman-teman bulutangkisku, kapan kita reunian main bulutangkis lagi ya*, basket *diawali dari postur badan yang cocok untuk berada di posisi defend dan jadi sering ditarik ikut lomba basket antar kelas atau jurusan*, dan aerobik *karena senang menari, karena murah, karena teman-teman jurusan*. Ada juga beberapa olahraga yang aku lakukan hanya dalam satu periode tertentu dalam hidupku, antara lain softball. Hanya ada satu jenis olahraga yang tampaknya tidak pernah bisa aku kuasai semudah olahraga lain: tenis. Nyerah deh.

berlari pagiLari pagi, satu olahraga paling murah meriah yang rasanya bisa dilakukan siapapun *dan berdasarkan survei yang aku lakukan waktu kuliah dulu, ini merupakan olahraga favorit penduduk kota Bandung, loh*. Dulu sih, aku lari pagi tiap minggu, gara-gara ikut kegiatan ekstrakulikuler di SMA yang setiap latgab, pasti harus lari pagi keliling Bandung. Kemudian, aku sering lari pagi, karena olahraga itu paling manjur untuk menjaga tekanan darahku sedikit diatas 90/60. Senang deh, kalau rutin lari pagi, tekanan darahku bisa sekitar 100-an. Lega banget.

Waktu mulai kerja, aerobik dan berenang sudah mulai sulit dilakukan karena curi-curi waktu makin sulit, lari jadi pilihan terbaik. Tinggal bangun agak lebih pagi, lari sekitar 30 menit, badan segar dan masih bisa masuk kantor tepat pukul 08.00 pagi *inilah keuntungan tinggal dan bekerja di Bandung*. Pilihan tempat lari selalu di Sabuga, dekat rumah, dekat kantor *yah, ngantornya juga di lingkungan sekitar Ganesha sih*.

Lari di Sabuga menyenangkan, karena lingkungan disekitarnya menyegarkan mata. Ada pohon, ada awan, ada gunung. Segar sekali. Biasanya aku menargetkan diri lari minimal 20 menit atau 6 keliling besar *kalau 6 kelilingnya ditempuh kurang dari 20 menit, terpaksalah lari lagi…kekekek*. Kalau sudah rutin nih, biasanya bisa lebih dari 10 keliling, dan itupun berhenti biasanya karena bosan!

Rutin lari di tempat yang sama, membuat aku akrab dengan beberapa muka. Bukan hanya muka tukang parkir dan tukang tiket masuk ya, tapi muka-muka pelari lainnya. Dari yang masih kuliah, sampai yang kakek nenek *yang terakhir ini biasanya sih berjalan kaki bersama sambil bercerita ngalor ngidul, menyenangkan*. Dari pelari cepat yang bikin minder sampai pelari angin-anginan yang kadang lari cepat kadang jalan kaki lambat sekali. Macam-macam jenis orang bisa ditemukan disana.

Aku senang sekali bisa kembali berlari. Aku sadar sekali, butuh waktu setidaknya 2 minggu untuk akhirnya bisa rutin kembali berlari, untuk akhirnya badanku ini malah yang menagih untuk berlari, bukan seperti sekarang musti memaksakan diri untuk bangun dan pergi berlari. Aku tidak suka lari di treadmill yang membosankan dan pengap, aku senang berlari di udara terbuka, merasakan angin, merasakan matahari, melihat pepohonan, melihat pegunungan. Coba deh, pasti menyenangkan