21.1.05

Air Mata

Air mata bisa datang di waktu sedih, tapi juga di saat kamu berbahagia. Air mata bahkan bisa saja keluar ketika kamu merasa begitu marah, tetapi juga ketika kamu tertawa terbahak-bahak. Jadi, aku dan kamu tidak bisa begitu saja mengatakan seseorang sedang sedih ketika air mata turun membahasi pipi seseorang.

Air mata bisa punya beberapa arti, dan itu semua bisa saja terjadi pada waktu yang sama. Air mata keluar ketika kamu merasa bahagia dan juga sedih, terharu dan tidak mampu berkata-kata kecuali dengan butir-butir air yang keluar dari mata tersebut.

Senin yang lalu, air mata keluar dengan berbagai artinya di sebuah rumah sakit di Bandung. Sahabatku, Iya dan Remmy menikah. Sesuatu yang membahagiakan. Hanya karena beberapa situasi yang terjadi saat itu, peristiwa tersebut begitu mengharukan. Ayah Iya sedang sakit keras, kanker pankreas, dan kondisi ini telah ikut mempercepat rencana mereka untuk menikah. Iya menangis pada saat itu, sebagaimana kami semua yang hadir. Aku yakin, air mata yang keluar itu mewakili berbagai perasaan yang kami rasakan saat itu. Sedih, bahagia, terharu dan berbagai perasaan lainnya.


Air mata, terkadang keluar bahkan tanpa kamu sadari, terkadang terasa begitu menyakitkan, terkadang terasa begitu melegakan, dan tidak jarang itu tidak berarti apapun. Aku pikir, tidak perlu malu untuk tampak dengan air mata, dikala itu memang kamu perlukan. Mudah-mudahan air mata yang turun membahasi pipimu beberapa waktu lalu adalah air mata bahagia, dan bukan air mata kesedihan.
Tambahan:
Lupa, kalau air mata juga bisa keluar waktu kita mengalami rasa sakit. Kalau masih bisa ditahan, air mata itu tidak keluar. Tapi ketika rasa sakit tidak tertahankan, tidak jarang air mata keluar begitu saja, seperti ketika mataku terkena bola kasti waktu SD dulu, dan seperti kemarin ketika jari tengah tangan kiriku digigit salah satu anjing ketika aku berupaya melerai pertengkaran mereka.