26.1.05

Pagar


Sekarang, sepertinya yang namanya pagar itu sedang menjadi trend. Dimana-mana ada pagar. Bahkan di ruang publik.

Beberapa waktu lalu, waktu aku melewati pasar baru, aku melihat hampir seluruh trotoar disekitar Pasar Baru diberi pagar. Bisa jadi untuk menghindari pedagang kaki lima yang sudah tidak terlihat batang hidungnya, bisa juga untuk membuat pejalan kaki tidak menyeberang sembarang. Pagar hitam yang tinggi. Ini juga membuat aku teringat kawasan Bandung Indah Plaza Merdeka yang juga dikelilingi oleh pagar. Aku juga teringat sebagian besar pedestrian di putaran Bandung yang juga diberi pagar. Aku juga jadi teringat tulisan Mas Kemplu tentang pagar di bundaran slipi.

Aku ingat, pada waktu masih kuliah, aku diberitahu bahwa sebuah desain seharusnya juga mencoba mengadaptasi perilaku manusianya, bukan sekedar membuat sesuatu berdasarkan sebuah aturan, teori, apalagi kalau itu datang bukan dari budaya setempat *berhubungan dengan rancang kota, nih*. Aku pikir seharusnya dilakukan sesuatu yang lebih dari sekedar membuat pagar untuk membuat orang mau berjalan di trotoar dengan tertib dan tidak menyeberang di sembarang tempat.
Aku sangat tidak suka pagar-pagar itu. Jangan di ruang publik, bahkan pagar depan rumahpun tidak aku sukai. Aku merasa seperti berada di sebuah penjara, aku merasa tidak bisa dipercaya dan juga tidak bisa mempercayai orang. Memang, pagar-pagar tersebut dimaksudkan untuk menjaga banyak hal, menjamin keamanan dan keselamatan. Hanya saja aku selalu bertanya-tanya, mengapa harus dengan pagar? Apakah memang penduduk Bandung sudah tidak bisa dipercaya untuk berkelakuan baik tanpa pagar? Lagipula apa yang menjamin bahwa pagar tersebut akan membuat pedagang kaki lima tidak lagi berjualan disana?

Aku memang sangat tidak suka dengan pagar. Rasanya membatasi aku *ketahuan kan, aku ini tidak suka dibatasi ini itu, kekekek*. Aku tahu, terkadang juga banyak pagar kasat mata di sekitar kita, dibuat oleh lingkungan, atau bahkan dibuat oleh kita sendiri entah karena ketakutan, atau kekuatiran atau prasangka. Aku tidak menyukainya. Aku berharap suatu waktu pagar-pagar tersebut bisa diturunkan, aku dan kamu bisa hidup bersama tanpa ketakutan, tanpa kekuatiran, tanpa prasangka, tanpa pagar.

25.1.05

Mengalah Untuk Menang (?)


Kalau kamu senasib seperti aku, menjadi anak sulung, entah dengan hanya seorang adik atau bahkan empat orang adik, kata "mengalah" pasti bukan barang baru. Sejak kecil, yang namanya kakak itu (katanya) harus mengalah dengan adiknya, untuk 1001 alasan. Mengalah waktu kami bertengkar dan aku begitu yakin bahwa aku benar dan adikku salah, mengalah ketika ada makanan dan karena jumlah yang tidak seberapa aku mendapat lebih sedikit dari adik-adikku. Harapan orang tua, sang kakak bisa lebih mengerti adiknya yang masih kecil, sang kakak tidak boleh egois. Bisa jadi dulu aku tidak bisa terima, tapi sekarang aku bisa dengan mudah mengalah untuk adik-adikku. Bukan, bukan karena paksaan dan kewajiban, tapi karena sayang aku pada adik-adikku. Pada akhirnya, bukan saja aku yang harus mengalah, tidak jarang adik-adikku mengalah, apalagi kalau aku lagi super duper sensitif.

Kadang aku pikir, orang juga harus mau mengalah di jalan raya. Darahku yang 100% batak itu memang lebih sering menggelegak deh di jalan raya. Mungkin bakat supir angkot dan bus sudah mendarah daging, jadi sulit sekali mengontrol emosi di jalanan. Tapi itu dulu! Untunglah aku merasakan, bahwa mengalah terlebih dahulu jauh lebih menyenangkan. Bayangkan saja, hanya karena ngotot, tidak mau mengalah di perempatan yang padat, misalnya, bisa jadi membuat keinginan untuk cepat bergerak malah terhambat sekian menit, tidak jarang sampai jam-jam-an kan. Orang cenderung ingin cepat sampai, orang cenderung merasa jalan ini jatah aku, dan karena itu sulit sekali mengalah karena merasa hak-nya, akibatnya berbentrokan dengan orang-orang keras kepala lainnya.

Saat ini, aku ternyata masih tetap harus terus belajar untuk mengalah. Untuk tidak ngotot dan keukeuh bahwa segala sesuatu harus berjalan sesuai yang aku mau, dengan cara aku, dan pada saat yang aku inginkan. Tidak semua bisa berjalan seperti itu. Aku dan Abang, memang punya jalan yang panjang, dan harus banyak mengalah. Mengalah untuk lebih banyak kebaikan buat kami dan buat sekitar kami. Berteman sajalah, tanpa beban apa-apa, menikmati waktu sambil terus berupaya dan berdoa. Mengalah untuk bisa memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga, mengalah untuk lebih bisa berkonsentrasi ke pekerjaan.

Pada akhirnya, menurut aku, mengalah tidaklah sama dengan kata dasarnya "kalah". Justru terkadang mengalah itu perlu dilakukan untuk mendapatkan lawan katanya: menang.

24.1.05

Selamat Ulang Tahun, Abang


24 Januari 2004, buat sebagian besar orang pastilah hanya menjadi sebuah hari lain dalam rutinitas sehari-hari. Hari Senin pula, hari yang identik dengan keengganan untuk memulai pekan yang baru setelah akhir pekan panjang kemarin ini. Tidak ada yang istimewa, kecuali bahwa hari ini, 35 tahun yang lalu, seorang ibu melahirkan putranya, buah kasihnya sang ibu dan sang bapak. Seorang anak yang dikasihi oleh mereka berdua. Seseorang yang kemudian juga aku kenal.

Hari ulang tahun seseorang.

Sebagian dari kamu menganggap hari itu sebagai pengurangan umur. Aku sendiri lebih suka melihat kebalikannya, bahwa hari itu adalah penambahan umur. Hari untuk kembali bersyukur dan bersyukur atas hari-hari di belakang disertai doa atas harapan untuk hari-hari di depan.

Aku pikir, tidak ada yang salah dengan merayakan atau tidak merayakannya. Sebagian orang senang merayakannya dengan 1001 cara, sebagian lagi bahkan berupaya menyembunyikannya. Setidaknya menyembunyikan tahun kelahirannya yang justru semakin menunjukkan angka tahun kelahiran tersebut loh. Entah bagaimana kamu menanggapi hari kelahiran kamu, tidak masalah.

Aku senang bisa berkesempatan melewati sebuah hari kelahiran seseorang yang aku kenal dan aku sayang. Aku senang bisa mengingat hari kelahiran seseorang dengan doa dan harapan bahwa hari-hari di depan akan membawa kebahagiaan. Aku bahagia jika aku bisa menjadikan hari kelahiran keluarga atau sahabat sebagai hari untuk memanjatkan harap supaya mereka meraih mimpi dan cita-citanya. Berbagi di hari ulang tahun, berbagi kasih.

Selamat ulang tahun, Abang.
catatan kecil, hari ini ada dua orang lain yang aku sayang yang juga berulang taun: Priska dan Kak Goli...what a celebration day...

21.1.05

Air Mata

Air mata bisa datang di waktu sedih, tapi juga di saat kamu berbahagia. Air mata bahkan bisa saja keluar ketika kamu merasa begitu marah, tetapi juga ketika kamu tertawa terbahak-bahak. Jadi, aku dan kamu tidak bisa begitu saja mengatakan seseorang sedang sedih ketika air mata turun membahasi pipi seseorang.

Air mata bisa punya beberapa arti, dan itu semua bisa saja terjadi pada waktu yang sama. Air mata keluar ketika kamu merasa bahagia dan juga sedih, terharu dan tidak mampu berkata-kata kecuali dengan butir-butir air yang keluar dari mata tersebut.

Senin yang lalu, air mata keluar dengan berbagai artinya di sebuah rumah sakit di Bandung. Sahabatku, Iya dan Remmy menikah. Sesuatu yang membahagiakan. Hanya karena beberapa situasi yang terjadi saat itu, peristiwa tersebut begitu mengharukan. Ayah Iya sedang sakit keras, kanker pankreas, dan kondisi ini telah ikut mempercepat rencana mereka untuk menikah. Iya menangis pada saat itu, sebagaimana kami semua yang hadir. Aku yakin, air mata yang keluar itu mewakili berbagai perasaan yang kami rasakan saat itu. Sedih, bahagia, terharu dan berbagai perasaan lainnya.


Air mata, terkadang keluar bahkan tanpa kamu sadari, terkadang terasa begitu menyakitkan, terkadang terasa begitu melegakan, dan tidak jarang itu tidak berarti apapun. Aku pikir, tidak perlu malu untuk tampak dengan air mata, dikala itu memang kamu perlukan. Mudah-mudahan air mata yang turun membahasi pipimu beberapa waktu lalu adalah air mata bahagia, dan bukan air mata kesedihan.
Tambahan:
Lupa, kalau air mata juga bisa keluar waktu kita mengalami rasa sakit. Kalau masih bisa ditahan, air mata itu tidak keluar. Tapi ketika rasa sakit tidak tertahankan, tidak jarang air mata keluar begitu saja, seperti ketika mataku terkena bola kasti waktu SD dulu, dan seperti kemarin ketika jari tengah tangan kiriku digigit salah satu anjing ketika aku berupaya melerai pertengkaran mereka.

20.1.05

Jalan Jalan ke Jakarta


Aku, sulit membayangkan Jakarta sebagai tempat favorit untuk kunjungan yang diberi label "wisata". Entah kenapa, buat aku, Jakarta itu kota yang sumpek yang lebih tepat untuk mencari duit dan menghabiskannya dalam sekejap. Apa mau dikata, mahasiswa salah satu kelasku akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Jakarta untuk memenuhi tugas kuliah lapangan untuk mata kuliah yang berbau pariwisata itu.

silahkan klik untuk melihat foto-foto  jalan-jalan lainnyaJakarta Kota, Sunda Kelapa dan Taman Impian Jaya Ancol. Tiga kawasan dengan karakteristik masing-masing. Bahkan dalam perjalanan menuju Kota, mahasiswa-mahasiswaku cukup tergoda untuk mampir ke Mangga Dua! Dalihnya bagus, karena itu kan juga tujuan untuk wisata belanja.

Aku beberapa kali menjelajahi Jakarta Kota dan khususnya Museum Fatahillah. Banyak perubahan, banyak juga yang tidak berubah. Masih saja tidak merasa nyaman dan aman untuk berjalan-jalan di sekitar Kota seorang diri, tapi juga masih mampu membuat aku mengkhayalkan seandainya saja tempat itu menjadi lebih baik dan lebih menyenangkan. Rombongan yang sebagian besar belum pernah kesana, punya berbagai komentar positif dan negatif. Senang, karena tidak ada keluhan karena harus berjalan kaki berputar-putar, bahkan beberapa diantaranya berjalan kaki sampai ke Museum Bahari.
Pelabuhan Sunda Kelapa yang baru saja ramai setelah selama 100 hari pertama presiden baru tidak ada kegiatan bongkar muat. Walhasil, kami harus berjalan berhati-hati kalau tidak mau terantuk kayu yang hilir mudik *orang yang bawa kayu tentunya!* Beberapa diantara mereka memutuskan naik perahu, beberapa memutuskan berjalan di sekitar tempat tersebut, beberapa memutuskan untuk...tidur.

Tujuan terakhir adalah Ancol. Beberapa memutuskan untuk ke Dufan, sebagian lagi memutuskan untuk berkeliling Ancol tanpa Dufan. Mereka memang aku beri kebebasan untuk menentukan sendiri titik-titik yang menarik untuk mereka amati. Menyenangkan sekali melihat mereka bergembira, marah-marah karena mengantri dan juga muntah-muntah setelah naik kora-kora (masih kalah sama aku ternyata...hehehehe).
Hari itu ditutup dengan keterlambatan pulang ke Bandung selama satu jam, karena beberapa dari anggota rombongan nyasar ke suatu tempat, dan yang harus disusul oleh orang lain, dan kemudian, tentu saja mereka yang nyasar berinisiatif pulang sendiri sementara mereka yang menyusul tidak kembali-kembali!

Kami beruntung hari Selasa itu tidak hujan, tetapi mendung. Kami bisa berjalan dengan tenang tidak terlalu kepanasan. Kami beruntung karena keesokan harinya banjir melanda sebagian besar Jakarta, dan tentu saja tempat-tempat yang kami kunjungi itu. Hujan hanya kami alami di sepanjang perjalanan menuju dan dari Jakarta. Macet hanya kami alami di beberapa titik.

Jakarta memang punya banyak sekali wajah. Hanya sedikit dari sekian wajah itu yang kami coba lihat. Mencoba mengunjungi tempat-tempat yang barangkali tidak akan dikunjungi kalau bukan karena ini merupakan kegiatan perkuliahan. Mencoba mengunjungi museum yang jelas-jelas bukan tempat kunjungan favorit. Mencoba berjalan kaki di tempat yang tidak begitu nyaman tapi sebetulnya bisa sangat indah. Mencoba menyelusuri suatu pelabuhan yang menjadi cikal bakal sebuah ibukota tetapi sayangnya tampak terlupakan oleh sebagian besar penduduknya. Mencoba melihat sebuah tempat kunjungan favorit yang senantiasa penuh dari sisi lain.

Menyenangkan, walaupun hari ini badanku biru-biru kecapekan :)

14.1.05

Putri


Aku suka sekali dengan kata putri, juga suka dengan kata putra. Kata yang menurut aku sangat Indonesia dan begitu indah. Lebih indah dari pada kata "princess", dan artinya buat aku sih lebih dalam juga. Putri sering diartikan sebagai perempuan dan tentu saja anaknya raja yang yah.Nah, kebayang deh, kalau aku seorang putri, aku selalu membayangkan segala sesuatu yang menyenangkan.
putri dan pangerannyaAku tidak tahu dengan kamu, kalau aku sih, senang sekali kalau aku diperlakukan seperti seorang putri. Aku juga tidak tahu, apakah kamu pernah merasa diperlakukan seorang putri. Perlakuan istimewa tersebut bisa datang dari mana saja, besar atau kecil, tetapi membuat kamu merasa seperti seorang putri.

Tadi malam, aku merasa jadi seorang putri. Aku merasa diperlakukan bak seorang putri. Senang sekali. Soalnya, perlakuan seperti itu membuat aku merasa sangat istimewa. Padahal, bisa jadi perlakukan tersebut bukanlah satu tindakan yang begitu besar. Padahal, bisa jadi perlakuan yang aku terima hanya sebuah tindakan kecil yang tampak tidak berarti buat banyak orang, tapi buat aku sangat sangat berarti.

Semalam aku memang terlalu lelah dan mengantuk untuk benar-benar bisa menyadarinya dan mengucapkan terimakasih, tapi pagi ini aku cukup segar dan bisa mengingat kejadian tadi malam dengan baik.

Terimakasih, untuk kamu yang sudah memperlakukan aku seperti seorang Putri.

13.1.05

Tip Pot


Aku memang suka agak pusing dengan urusan memberi tip. Biar bagaimana, aku merasa memberi tip memang bukan sesuatu yang membudaya disini. Apalagi kalau di nota pembayaran tertulis 17.5% untuk pajak. Uih, agak males deh untuk memberi tip.

Biarpun begitu, tetap saja, aku belajar memberi tip. Di salon, di restoran, di tempat-tempat dugem, di hotel bahkan di tempat cuci mobil. Konon sih, tip kita beri kalau kita merasa puas dengan pelayanan. Hanya saja, sering aku merasa, aku terpaksa memberi tip karena memang harus memberi tip, padahal aku sangat tidak puas dengan pelayanannya. Di salon yang tukang creambath-nya malah bikin pusing kepala, di tempat cuci mobil yang ternyata di bagian dalam sama sekali tidak dibersihkan, dan juga di hotel yang sebetulnya dia hanya membawa daypack yang sangat ringan itu!Kalau nekat tidak memberi tip, duh kok merasa bersalah ya?

Pernah sih, aku memberi tip karena betul-betul puas dengan pelayanannya. Di restoran, yang walaupun ramai dan harus melayani permintaan aku dan keluarga (atau teman-teman) yang begitu beragam, dia masih tetap memberi senyum terbaik dan memperlakukan kami bak pelanggan nomor 1. Wah, untuk yang seperti ini sih, aku dengan sangat senang hati memberi tip. Dulu, aku sempat tahu, di tempat-tempat dugem itu, pelayannya hanya mendapat honor yang...duh...bikin miris. Disitu, aku juga cenderung untuk memberi tip untuk mereka. Karena aku cukup tahu bagaimana kondisi pekerjaannya.

Konon ada aturan sih untuk memberi tip yang baik. Tentu saja untuk aku dan kamu yang ingin memberi tip, bukan aturan untuk menerima tip. Tapi, tampaknya perlu ada tawaran memperlakukan tip tersebut untuk mereka yang tidak memberi dan juga bukan penerima tip. Bingung? Begini loh, kemarin itu, waktu aku nongkrong di Potluck, aku melihat kejadian yang bikin miris. Sekelompok laki-kali usia awal 20-an datang dengan gaya yang sepa! Di kasir, tiba-tiba salah seorang dari mereka memasukkan tangannya ke dalam tip pot yang disediakan. Tidak lama tangannya keluar dari pot tersebut dengan sekeping uang logam, yang, yah, nilainya sih mungkin tidak seberapa. Tidak lama kemudian, uang itu ia serahkan kepada kasir sebagai pembayaran minuman yang dia beli. Katakanlah dia harus membayar sebesar 10.500 rupiah. Nah, si 500 rupiah itu berasal dari tip pot. Setelah itu, mereka tertawa-tawa senang, seakan-akan itu sebuah lelucon yang sungguh lucu, seakan-akan mereka baru saja melakukan sesuatu hal yang bagus?

Aku terhenyak.

Aku memang tidak begitu tahu bagaimana seharusnya memberi tip. Tapi aku cukup tahu, siapa pemilik tip tersebut. Aku cukup tahu, bahwa tip tersebut bukanlah milikku. Apakah kamu yang mampu masuk ke sebuah café dengan harga minuman di atas 5000 rupiah itu, tidak punya cukup uang dari dompet sendiri untuk melengkapi pembayaran yang hanya kurang beberapa ratus rupiah?

12.1.05

Pertanyaan Seumur Hidup

?????

Ingat tidak, waktu kecil, kalau kamu pergi bersama orang tua bertemu dengan teman-teman mereka atau bertemu keluarga besar, kamu akan dapat pertanyaan soal usia kamu dan pendidikan kamu,”wah, udah besar ya, kelas berapa sekarang?”. Sampai bosan. Kadang menggelikan, karena pertanyaannya itu itu melulu.

Beberapa waktu lalu aku dan temanku berpikir, bahwa hidup kita ini selalu saja dipertanyakan oleh orang-orang lain. Terutama setelah kuliah.

“Kapan lulus?” pertanyaan yang lebih menjadi momok waktu kuliah. Mungkin ini yang membuat mahasiswa sekarang kuliahnya itu cepat ya? Dulu kamu menjawab seperti apa? Aku sih cuek saja, senyam senyum saja. Sadar bahwa sebagian besar yang bertanya sebetulnya tidak terlalu perduli kapan aku lulus. Memang kalau aku baru bisa lulus satu atau dua tahun lagi, apa mereka mau membayarkan SPP aku? Sudah pasti tidak, kan!

Sesudah lulus, jangan berpikir pertanyaan akan berhenti. Karena kemudian akan muncul pertanyaan lain.

”Kerja dimana?” ini pertanyaan yang selalu sulit aku jawab. Mungkin lebih mudah buat kamu yang sudah bekerja di satu tempat yang punya gedung kantor yang jelas, jenjang karir yang jelas, dan amplop gaji yang rutin datang setiap bulannya. Pertanyaan ini pasti muncul sejak kamu diwisuda. Karena itulah, masa menyenangkan adalah masa setelah lulus sidang dan sebelum wisuda. Setelah wisuda, silahkan nikmati pertanyaan yang satu ini sampai si penanya terpuaskan. Untuk aku, pertanyaan ini masih terus aku dapatkan, karena aku sering terlibat pekerjaan yang bersifat sementara –dari satu bulan sampai 3 bulan- yang sering membuat keberadaan aku tidak jelas ada dimana. Seberapa penting sih “label” pekerjaan tersebut? Seberapa sulit sih untuk mengerti tidak semua pekerjaan bisa di-label-kan? Ah, sudahlah, aku menyenangi ritme pekerjaanku kok.

“Kapan menikah?” nah ini dia pertanyaan tidak ada matinya yang semakin sering aku hadapi. Lagi-lagi, aku sih lebih sering menerima pertanyaan ini dengan pandangan mata menyelidik seakan mencoba mencari seribu satu masalah yang ada di dalam diriku sehingga mereka kemudian tidak hanya berhenti dengan bertanya tapi bisa melanjutkan dengan seribu satu petuah. Usil. Begitulah hasil temuan aku dan beberapa teman, walaupun ada beberapa orang yang bertanya dengan kasih yang tulus, loh.

pertanyaan apa lagi ya?Bukan, bukan tidak ingin menikah, tapi aku masih malas untuk menjawab pertanyaan selanjutnya yang muncul kalau sudah menikah. “Kapan nih punya momongan?” Seakan-akan punya anak itu seperti beli pisang goreng saja! Terus akan berlanjut dengan kapan kakaknya akan punya adik, kapan mau beli rumah, dan kapan yang lainnya. Pertanyaan-pertanyaan seumur hidup yang selalu akan muncul. Melelahkan? Ah, cuek sajalah. Kamu dan aku pasti cukup bisa melihat kapan pertanyaan itu tulus dilontarkan, kapan itu hanya sebuah ungkapan basa basi, dan kapan itu merupakan ungakapan keusilan orang-orang yang haus gosip.

Entah kapan pertanyaan-pertanyaan itu akan berhenti. Terpikir tidak ya untuk bertanya, “nanti kalau mati mau kemana?” Nah, kalau untuk yang satu ini untunglah aku sudah ada jawabannya!
?????

11.1.05

Lari Pagi


Aku suka berolahraga. Entah sejak kapan. Berenang, adalah salah satu favorit aku, dan sudah aku lakukan sejak kecil. Setelah besar, selain berenang ada beberapa olahraga yang (sempat) rutin aku lakukan seperti bulutangkis *hei teman-teman bulutangkisku, kapan kita reunian main bulutangkis lagi ya*, basket *diawali dari postur badan yang cocok untuk berada di posisi defend dan jadi sering ditarik ikut lomba basket antar kelas atau jurusan*, dan aerobik *karena senang menari, karena murah, karena teman-teman jurusan*. Ada juga beberapa olahraga yang aku lakukan hanya dalam satu periode tertentu dalam hidupku, antara lain softball. Hanya ada satu jenis olahraga yang tampaknya tidak pernah bisa aku kuasai semudah olahraga lain: tenis. Nyerah deh.

berlari pagiLari pagi, satu olahraga paling murah meriah yang rasanya bisa dilakukan siapapun *dan berdasarkan survei yang aku lakukan waktu kuliah dulu, ini merupakan olahraga favorit penduduk kota Bandung, loh*. Dulu sih, aku lari pagi tiap minggu, gara-gara ikut kegiatan ekstrakulikuler di SMA yang setiap latgab, pasti harus lari pagi keliling Bandung. Kemudian, aku sering lari pagi, karena olahraga itu paling manjur untuk menjaga tekanan darahku sedikit diatas 90/60. Senang deh, kalau rutin lari pagi, tekanan darahku bisa sekitar 100-an. Lega banget.

Waktu mulai kerja, aerobik dan berenang sudah mulai sulit dilakukan karena curi-curi waktu makin sulit, lari jadi pilihan terbaik. Tinggal bangun agak lebih pagi, lari sekitar 30 menit, badan segar dan masih bisa masuk kantor tepat pukul 08.00 pagi *inilah keuntungan tinggal dan bekerja di Bandung*. Pilihan tempat lari selalu di Sabuga, dekat rumah, dekat kantor *yah, ngantornya juga di lingkungan sekitar Ganesha sih*.

Lari di Sabuga menyenangkan, karena lingkungan disekitarnya menyegarkan mata. Ada pohon, ada awan, ada gunung. Segar sekali. Biasanya aku menargetkan diri lari minimal 20 menit atau 6 keliling besar *kalau 6 kelilingnya ditempuh kurang dari 20 menit, terpaksalah lari lagi…kekekek*. Kalau sudah rutin nih, biasanya bisa lebih dari 10 keliling, dan itupun berhenti biasanya karena bosan!

Rutin lari di tempat yang sama, membuat aku akrab dengan beberapa muka. Bukan hanya muka tukang parkir dan tukang tiket masuk ya, tapi muka-muka pelari lainnya. Dari yang masih kuliah, sampai yang kakek nenek *yang terakhir ini biasanya sih berjalan kaki bersama sambil bercerita ngalor ngidul, menyenangkan*. Dari pelari cepat yang bikin minder sampai pelari angin-anginan yang kadang lari cepat kadang jalan kaki lambat sekali. Macam-macam jenis orang bisa ditemukan disana.

Aku senang sekali bisa kembali berlari. Aku sadar sekali, butuh waktu setidaknya 2 minggu untuk akhirnya bisa rutin kembali berlari, untuk akhirnya badanku ini malah yang menagih untuk berlari, bukan seperti sekarang musti memaksakan diri untuk bangun dan pergi berlari. Aku tidak suka lari di treadmill yang membosankan dan pengap, aku senang berlari di udara terbuka, merasakan angin, merasakan matahari, melihat pepohonan, melihat pegunungan. Coba deh, pasti menyenangkan

8.1.05

Sehat

Terimakasih loh buat semua!
Aku merasa baikan, demam hilang walaupun masih susah nelan. Tadi, waktu bangun pagi, dengan susah payah, aku mencoba untuk berlari pagi. Lumayan, dapat 4 keliling lari, dan 15 menit jalan kaki. Maunya bisa kembali normal, lari 7 keliling sih, tapi kayaknya kepala masih agak tidak bersahabat. Tidak usah dipaksakan, tokh?
Hanya saja, tadi aku sampai di Sabuga sekitar jam 7 pagi. Normalnya, jam 7 pagi itu aku sudah cooling down. Dan, uih, ternyata Sabuga penuh loh! Ternyata orang masih semangat berlari pagi ya. Aku kagum loh. Dari anak kecil sampai kakek nenek. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan ini. Menyenangkan dan menyegarkan (walaupun agak mengurangi kenikmatan ketika ada saja bapak-bapak yang sok kenal sok dekat, mbo ya kalau ada yang nanya tuh cowok muda kece gitu loh!).
Memang, sehat itu jauh lebih baik dan butuh disiplin ya. Makan yang sehat. Tidur yang sehat. Olahraga yang cukup. Hidup sehat. Mungkin, ini saat yang tepat untuk mengembalikan kebiasaan lama yang sudah terlupakan selama enam bulan terakhir ini.
Oh ya, Lusi juga sudah sehat, setelah operasi, besok paginya sudah dilepas infus. Karena obat bius sudah mulai hilang pengaruhnya, sakit mulai terasa. Tapi kemarin sore sih, sudah mulai duduk dan mencoba jalan. Cepat sembuh ya, say!

6.1.05

Jaga Kesehatan

Minta doanya ya, trnyata aku radang usus buntu, rencana ntar jam 5 operasi
Sender:
Lusi
081211*****
Aduh, kaget banget. Emang sih, kami suka agak agak berbarengan kalo sakit ya, Lus, tapi kali ini aku kaget. Duh, mudah-mudahan semua lancar.
Hari ini, Bandung gerimis mengundang, yang biasanya identik dengan gerimis bikin sakit, cuaca kadang panas, kadang gelap. Hari ini, korban sakit di rumah bertambah satu juga.
Cepat sembuh, ya Lus, dan yang lain, jaga kesehatan ya, kalau udah merasa gak enak badan, udah langsung ke dokter aja ya.

5.1.05

Radang Tenggorokan

Pernah sakit? Rasanya mau ringan atau berat setiap orang pernahlah sakit. Aku juga. Memang tidak pernah sampai harus menginap di rumah sakit *phhfff, untungnya!*, dan aku juga tidak terlalu sering sakit. Eits, itu sih dulu, waktu masih gila olahraga. Hanya saja, dari dulu aku ini langganan tetap satu penyakit: radang tenggorokan.

Sudah dua tahun aku bahagia, soalnya selama 2 tahun itu, aku tidak pernah terkena radang tenggorokan lagi. Entah kenapa, sekarang, itu radang bercokol lagi di tenggorokanku. Mungkin karena ayah dan adikku yang sudah duluan sakit *walaupun tenggorokan mereka tidak sampai meradang,huh*, atau karena aku sudah jarang makan sayur *padahal biasanya, aku tidak bisa makan kalau tidak ada sayur* atau karena aku juga sudah jarang berolahraga *dengan 1001 pembenaran dari mulai pagi yang masih terlalu dingin sampai sore yang hujan terus, makanya aku gak bisa lari pagi lagi* atau karena aku terlalu bernafsu dan semua makanan masuk begitu saja ke perut aku selama Natal dan Tahun Baru kemarin. Entah karena apa, tapi yang pasti saat ini aku sulit sekali menelan, sulit sekali berbicara *catat, seorang Melly sedang sulit ngomong, hmm, sesuatu yang disyukuri atau disesalkan ya? kekekekek*.

Gawat, karena hari ini ada jadwal beberapa kelas. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa terus menerus berbicara di depan kelas dengan kondisi seperti ini. Setidaknya pusing kepala sudah hilang kemarin malam.
Kalau kamu lagi gak enak badan, mudah-mudahan cepat sembuh ya.

3.1.05

Tahun Baru

Baju baru ada karena sebelumnya kita sudah punya baju, beberapa mungkin sudah tidak dipakai, beberapa masih dipakai, tapi tetap saja, kita membeli baju baru dengan berbagai alasan.

Komputer baru ada karena yang lama biasanya diganti, apalagi kalau komputer sendiri, kecuali kalau itu komputer lama milik kantor yang biasanya akan dipindahtangankan ke pegawai baru.

Rumah baru ada berarti rumah lama tidak lagi ditinggali, entah karena pindah kota, rusak atau karena itu rumah orang tua dan kamu sekarang tidak lagi tinggal dengan mereka karena banyak hal.

Teman baru ada berarti kita juga punya teman lama, keberadaan teman baru tidak selalu berarti menggeser teman lama, sering kali berarti menambah jumlah teman.

Pacar baru ada berarti sebelumnya tidak punya pacar atau putus dari pacar lama.

Barang baru ada karena sebelumnya tidak ada atau karena sebelumnya ada barang lama. Bisa saja barang lama tersebut sudah dilupakan tetapi juga bisa tidak terlupakan. Barang lama bisa sudah tidak dipakai, bisa juga dipakai bersamaan dengan barang baru Barang baru itu, lama kelamaan akan menjadi barang lama juga.

Selamat Tahun Baru1 Januari 2005, bisa saja hanya sekedar hari baru (toh aku sendiri lebih banyak menghabiskannya dengan tidur seperti biasa, setelah kebaktian akhir tahun di gereja dan kebaktian akhir tahun sekaligus refleksi bersama dengan keluarga di rumah). Hal itu tidak menghalangiku untuk membuatnya tidak sekedar hari biasa. Tahun baru untuk aku juga adalah harapan baru untuk sesuatu yang lebih baik. Seperti hari baru yang ada di depan aku, berarti ada hari lama di belakangku, ada yang ingin aku lupakan karena usang dan sudah tidak berguna, ada yang masih ingin aku kenang, dan ada yang masih aku pergunakan bersama-sama dengan hari baru tersebut.

Ada kelahiran, ada kematian, ada tangis, ada tawa, ada peluk, ada lambaian perpisahan, ada cinta dan kasih, ada kebencian dan kemarahan, ada semuanya.

Selamat Tahun Baru untuk kamu semua.