30.12.05

Natal


Beberapa hari menjelang Natal, di otak isinya bertanya-tanya. Apa ya yang membuat seseorang begitu teringat dengan Natal? Ada banyak hal yang sangat “Natal”. Mulai dari yang resmi seperti kelahiran Yesus Kristus, sampai warna merah dan hijau, serta pohon Natal komplit dengan kadonya.

Beberapa hari menjelang Natal, aku sangat sensitif setiap mendengar lagu Natal. Dulu, waktu di Belanda juga gitu, setiap denger lagu Natal pasti sedih banget, maklum keluarga jauh di Indonesia sini. Sekarang, aku juga sedih tapi juga gembira setiap mendengar lagu-lagu Natal. Untuk aku sih, lagu memang selalu berperan besar baik untuk bikin senang atau mendukung perasaan melow.

Natal baru saja lewat beberapa hari. Kepanikan beli kado saat terakhir sudah usai. Kehebohan pergi ke gereja beramai-ramai-sambil-takut-terlambat-karena-itu-berarti-tidak-ada-tempat-duduk sudah selesai. Kebaktian tengah malam sambil doa bersama juga akhirnya dilakukan sampai jam 2 pagi, dilanjutkan sambil minum dan bergosip tentunya.

Natal, lagi-lagi terasa sangat cepat dan dilewati dengan cepat, kalau tidak hati-hati, bahkan terlalu cepat sampai tidak disadari kedatangannya.

Dia lahir dengan sangat sederhana, bukan dengan kemewahan.
Dia memakai keluarga yang papa, bukan yang berada.
Kini, Dia pun hadir dalam hatimu, sediakanlah tempat bagiNya.
Selamat Natal kawan!

Selamat Natal by Photobucket.com


Bagaimana Natal kamu?

22.12.05

Ibu


Berat banget siaran hari ini, semua tentang ibu. Berat, karena topik ini bukan topik yang enak buat aku buat cuap cuap, buat ngarang ini itu (ngarang? Ya iyalah emang kalo lagi siaran bukannya cuap cuap ngarang ya? Hehehe).
Aku punya beban banget kalau musti bicara tentang ibu. Cerita panjang di belakang membuat aku tidak begitu nyaman kalau udah musti berurusan dengan kata yang satu itu. Ibu.
Melly and Mom by Photobucket.comAku tidak tahu sebetulnya siapa dan kapan dan kenapa seseorang disebut ibu?

Ibu sendiri? Aku sayang pada mami, itu panggilanku untuknya. Untuk apapun dan biar bagaimanapun, aku sayang padanya. Banget. Tapi bukan berarti ini adalah sesuatu yang bisa aku pahami. Karena aku belum menjadi ibu? Entah...

Selamat hari ibu, untuk teman-temanku para ibu, dan juga seorang ibu yang dalam kesederhanaannya justru sangat menunjukkan kekayaan hatinya...

13.12.05

Bikin SIM

Pernah bikin SIM secara benar – tidak pake calo, tidak pake biro, tidak pake unit kampus, tidak pake kenalan ini itu, tidak pake sambal dan tidak pake kecap. Loh? Ini bikin mie baso atau bikin SIM ya?

Jalur ‘biasa’ aku dan keluarga bikin SIM adalah jalur tinggal dateng, mampir ke ruangan seseorang yang akan menunjuk siapapun yang bisa ditunjuk untuk nganter aku ke ruang foto, bikin foto, nanti tinggal tunggu SIM dianter ke rumah pula. Bayar? Lupa, tergantung ruangan mana yang didatengin, ada yang masih harus ngasih tips (bukan biaya bikin SIM yang juga tidak pernah aku tahu besarnya), ada yang malah langsung ngabur, takut kalo harus nerima tips. Lewat biro atau calo yang biasa nongkrong? Belum pernah. Jadi beneran deh, gak tau berapa sih biaya bikin SIM itu!

Iseng, aku nemuin tulisanku tahun 2003. Waktu itu, karena penasaran, aku menolak jalur biasa dan mau nekad saja coba jalur resmi. Lebih nekad, aku malah gak bawa informasi apapun. Aku pikir, pasti ada informasi musti kemana-mananya dan berapa-berapanya tokh di kantor polisi?

Salah berat! Aku dateng jam 8 pagi ke Jalan Jawa dengan kebingungan tingkat tinggi, belum lagi musti terus berkelit menghindari rayuan gombal (maaf oom gombal!) para calo. Ini nih, penelusuranku…



Image hosted by Photobucket.com



Jadi kalau ditotal, berapa ya untuk bikin SIM itu (10ribu, 8ribu, 57ribu5ratus, 5ribu, 20ribu, 1ribu5ratus). Ntar kalo perpanjangan? Kayaknya nyerah deh kalo ngantri fotonya itu looohhh

ps: Ini, untuk kamu, Na. Sesuai janji kannn

24.11.05

Sahabat (bagian II)

Apa yang membuat persahabatan?
Ingatanku terhadap temanku yang satu ini cukup lucu. Aku mengenalnya sebagai seorang perempuan dengan seragam abu-abu yang mirip dengan aku, di sebuah angkutan kota warna merah jambu ngejreng yang setia aku tunggu setiap paginya (atau, aku gak sampe-sampe kali ke sekolahan). Ternyata, beberapa waktu kemudian, dia, aku lihat di antrian pendaftaran jurusan, waktu aku baru saja menjadi mahasiswa di kampus itu.

Dia ini temanku dalam berbagi hal. Senang-senang, sedih-sedih, waktu jatuh cinta, waktu patah hati, waktu sehat, waktu sakit dan herannya itu sering terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Problem pacaran yang pernah mirip mirip (sering miripnya kali ya?) sampe sampe IP yang akhirnya kok berakhir pada angka angka yang sama (kok ya bisa begitu banget ya?)

Malam-malam curhat di Cigadung atau Sukabumi atau pojokan lain. Cekakak cekikik. Bolor-boloran bareng waktu harus nyetir Sukabumi-Bandung subuh-subuh, Jakarta-Bandung tengah malam (maklum kalo udah gelap gulita, kami berdua sama-sama punya masalah dengan nyetir malam, apalagi kalau pakai cerita wiper rusak dan musti lewat jalan tol, ADUH!). Air mata dan gelak tawa, kumplit.

Kontak gak terputus ketika aku harus berangkat begitu jauh untuk ngelanjutin sekolah. Justru dia masih terus memberikan informasi terkini (baca: gosip hehehe). Dan kemudian, gak lama ketika aku memutuskan untuk kembali, ia memutuskan untuk nekad ke Jakarta (kualat oh kualat ini judulnya ya, secara Jakarta sempat dicela-cela begitu rupa). Sama-sama mencoba mengenali jalan-jalan di Jakarta (yang mana kalo sekarang sih jelas dia lebih gape daripada aku deh urusan menjelajah Jakarta), dan bahkan akhirnya pernah bekerja di gedung yang sama walaupun untuk waktu yang sempit.

Senang sekali, ketika beberapa bulan lalu, dia bilang mau menikah.

Kemarin, itu yang aku ingat, awal-awal ngobrolin soal kawinan. Bikin checklist dan ngobrolin banyak hal.

Kemarin, aku senang sekali, bisa main ke Bogor, bisa ikut melihat dan menemani dia melewati satu hari besar dalam hidupnya.

Dia ini temanku dalam banyak hal. Ketika aku sedang berbunga-bunga dan kasuat-suat, ketika aku berurai air mata tangis bombay, ketika aku begitu malu gak tau musti cerita ke siapa, dan bahkan seringkali tanpa musti aku kabari, dia sering membuat aku merasa lebih baik.

Selamat menempuh hidup baru, Lus. Tuhan jaga elu dan Mas Agung ya. Aku sih belum bisa ngasih tips soal kawinan, tapi aku bisa manjatin doa sih. Mudah-mudahan persahabatan kita masih bisa terus dan terus (dan tentu saja kebersamaan elu dan Mas Agung).


Seserahan, Akad dan Resepsi Lusi

23.11.05

Sahabat (bagian I)

Ketika sahabat-sahabat itu adalah sahabat perempuan, maka para lelaki (baca: para pacar) datang dan pergi sesuai nasibnya. Sahabat tentu saja bertahan melihat metamorfosis dari laki-laki yang satu ke laki-laki yang lain, kekekek. Yah, wajarlah waktu lagi kenceng-kencengnya biasanya sahabat suka agak menghilang, setidaknya waktunya tidak sebebas dulu, sih.

Itu kalau kebetulan sahabatan dengan sesama jenis. Gimana kalo persahabatan dengan lawan jenis? Aku percaya pada persahabatan antara laki-laki dan perempuan gak melulu harus berakhir pada hubungan percintaan, tapi tampaknya kepercayaan ini bukan kepercayaan umum ya?

Persahabatan laki-laki dan perempuan masih sering dianggap sebagai ancaman, apalagi buat para pasangan mereka. Terutama ketika persahabatan itu sudah melewati banyak hal, ketika sebuah pelukan adalah sebuah pelukan sayang antar sahabat, ketika sebuah panggilan sayang adalah tulus sebagai bentuk persahabatan tanpa ada unsur nafsu (udah ilfil deh untuk urusan nafsu-nafsu-annya)

Sayang sekali, masih banyak orang melihat sahabat pasangan adalah ancaman. Kecuali tentunya ketika upaya pdkt, uaaaaahhh, sahabat (calon) pasangan itu musti didekati demi kemulusan upaya pdkt, tapi seringkali ketika sudah berhasil berasik masyuk, lupalah itu semua, dan mulailah terlihat kebobrokan sobat pasangan yang sebetulnya udah ada dari dulu (sayangnya, mungkin dulu kebelet butuh, jadi agak-agak tidak bisa melihat kecacatan dan aib mereka). Apa ini penyakit posesif? Kayaknya bukan ya?

Sedih sekali aku, baru baru ini kehilangan seorang sahabat. Bukan, bukan karena dia menikah, tapi entah karena apa. Seorang sahabat yang sudah melewati banyak hal bersama, yang sudah menjadi keluarga. Tanpa angin tanpa hujan musti menghilang dari peredaran. Segala bentuk komunikasi yang dimungkinkan di jaman secanggih gini baru bisa dilakukan dengan 1001 pertimbangan dan penuh strategi. Sakit deh. Harga yang musti dibayar untuk kebahagiaan seorang sahabat? Bisa jadi...

Selamat tinggal, sobat, mudah-mudahan kamu sukses dan bahagia…

15.11.05

te laat

Untuk bicara, kata ibuku, aku terhitung cepet. Kalau percaya ama kisahnya, aku udah bisa ngomong dari umur 6 bulan. Gak heran, kalau sekarang aku terlalu banyak omong, kadang-kadang omongan gak penting dan gak perlu dan loncat-loncat pula.

Untuk membaca, seingatku, aku terhitung agak cepet juga. Aku sudah membaca dari belum sekolah! Mungkin dibandingin anak sekarang, yang umur 3 tahun udah belajar aksara, aku ini gak ada apa-apanya. Tapi di jamanku, rasanya umur 4 udah bisa baca koran, itu agak agak membuat aku merasa berhak agak agak sombong waktu kecil, dan juga menuntut orang tua untuk mulai membelikanku buku cerita.

Tapi untuk banyak hal lain, aku ini ketinggalan.

Ketika teman-temanku udah asik main sepatu roda di lipstick, aku masih main sepatu roda di deket rumah (inginnya sih ikutan kelompok sepatu roda di Surapati situ, tapi karena banyak hal aku gak bisa ikutan).

Ketika teman-temanku udah seneng banget ke SE (yang sekarang udah hidup lagi itu), aku masih berkutat dengan upaya menciptakan 1001 alasan untuk bisa pulang malam. Aku baru menikmati itu semua ketika kuliah, itupun gak dari awal. Memang aku sudah beberapa kali menginjakkan kaki ke tempat cerah ceria di malam hari itu, yang rasanya identik dengan I will survive dan can’t take my eyes off of you itu. Telat ya?

Aku selalu ingin bisa bermain softball. Waktu SMA, aku tidak jadi ikut ekskul yang satu itu, karena bentrok dengan kegiatan ekskul lain, Paskibra (yang juga, dibandingkan teman-teman SMPku, terlambat aku ikuti). Walhasil, aku membiarkan mimpiku itu tenggelam. Hampir tenggelam ding, soalnya ketika kuliah, aku memutuskan untuk mengambil olahraga softball sebagai olahraga pilihanku (maklumlah, anak TPB wajib hukumnya untuk mengambil mata kuliah olahraga).

Sekalipun aku menulis cita-citaku sebagai penyiar ketika SMP, baru hampir 15 tahun kemudian aku wujudkan. Ketika orang-orang mulai siaran dari kuliah, aku malah setelah lulus kuliah, bahkan setelah bekerja, dan meneruskan kuliah lagi. Terlambat banget kan.

Ada rasa tidak percaya ketika akhirnya melakukan sesuatu yang sempat aku pikir tidak pernah akan aku lakukan. Kata orang, kesempatan gak datang dua kali. Beberapa kali aku mengubur beberapa keinginan. Ada rasa ragu ketika hendak memulainya. Bener gitu? Masih bisakah? Masih layakkah dicoba? Terutama, yang sering muncul adalah…apa gak ketuaan aku coba itu sekarang?

Aku sadar, jawaban dari itu semua adalah masih, tidak ada alasan umur, atau alasan lain yang seharusnya mengambat aku untuk mencoba sesuatu. Aku sadar, aku mungkin telat dibandingin beberapa orang lain dalam mencoba sesuatu. Tapi setidaknya aku sudah mencoba dan aku puas.

jangan te laatAda beberapa hal yang ingin aku kerjakan, walaupun orang bisa saja terheran-heran. Mungkin akan ada yang bilang, inget umur Neng, atau duh, buang- buang waktu, atau bisa jadi mereka akan berkata, apa sih yang kamu cari. Aku tidak perduli.

Masih ada beberapa hal lain yang belum berhasil aku lakukan. Main tenis misalnya, yang tampaknya menjadi sebuah olahraga yang gak akan pernah mampu aku lakukan walopun udah usaha sekitar 3-4 kali (belum tahu ya, apa aku bisa main anggar, aku pengen banget bisa!). Aku masih ingin banget naik gunung (kasian ya!) dan wah, daftarnya akan sangat panjang.

Terlambat? Gak masalah, kan. Setidaknya aku tidak penasaran.

9.11.05

Bluebird di Bandung?


Sumpeh, serius?

taksi bluebirdAku juga kaget pas pertama kali liat sekitar dua hari yang lalu di trunojoyo. Tadi siang aku liat lagi di daerah Cikutra, dan terakhir deket deket Cicaheum. Nekat, aku tanya 108. Usaha pertama gagal. Aku diketawain oleh mba operatornya. Bluebird gak ada di Bandung, Mba. Gitu katanya. Untungnya aku gak begitu gampang menyerah. Waktu aku telepon lagi 108 aku dapat deh nomor teleponnya. Kenapa 108? Soalnya di body kendaraan belum ada nomor teleponnya.

Kampungan ya? Taksi aja kok heboh!

Duh, seandainya kamu ada tinggal di Bandung, tahu sendiri betapa ajaibnya dunia per-taksi-an di Kota Bandung. Kasian untuk para pendatang. Baru menginjakkan kaki di stasiun kereta api, bakal ditodong berbagai taksi dari gelap sampai terang (lah, ada taksi gelap kan ada taksi terang, padahal taksi gelap itu biasanya pakai kaca bening, dan taksi terang pakai kaca gelap, loh). Mau pake argo? Bercanda! Musti kuat ama tarif gila-gilaan, dan bahkan musti tarik urat untuk bisa sampai ke kesepakatan harga antar. Kalau tujuan ada di lokasi yang agak nyempil, dan di pinggiran Bandung…selamatlah!

Pernah ada teman yang meneliti soal taksi di Bandung. Hasilnya, benang kusut aja masih kalah kusutnya ama urusan taksi di Bandung. Sulit sekali mendapatkan taksi pakai argo di Bandung. Konon, kecuali Gemah Ripah, itupun harus lewat pesan telepon. Cegat di jalan? Mana mungkin!

Beberapa waktu lalu, pemerintah kota Bandung memutuskan menaikkan tarif buka pintu dan juga tarif argo per kilometer. Dalam hati sih pingin bilang,”emang ngaruh?”

Aku gak ngerti kenapa susah banget bikin taksi pakai argo. Kok ya para supir lebih memilih “malak” orang dengan tarif minimal 20 ribu untuk jarak dekat, daripada pakai argo walaupun mungkin cuman 10 ribuan, tapi aku yakin dia bisa dapat lebih dari 3-4 penumpang.

Sedih rasanya, di ponselku, aku punya list telepon taksi. Taksi Jakarta, Taksi Surabaya, Taksi Malang, Taksi Mataram dan seterusnya. Tapi aku gak punya nomor telepon Taksi Bandung!

Jadi, pas liat kendaraan biru-biru dengan logo Bluebird di jalanan di Bandung, berplat D, leganya hatiku! Promosi? Bisa jadi. Mudah-mudahan perusahaan taksi yang satu ini cukup konsisten dengan penggunaan argonya, dan mudah-mudahan bukan argo kuda.

Ps: mungkin gak ya, kalau taksi di Bandung oke, orang-orang ber-plat B itu akan berhenti membawa kendaraan ke Bandung dan naik taksi, orang-orang itu berhenti membuat kemacetan, berhenti membuat kekacauan dan keributan dengan gaya “plat-B”nya itu?

8.11.05

Dunia Permantanan

Pagi...
Mba, ketemuan yok. Maen ke rumah temenmu itu. Lebaranan.
Wah, gak bisa. Udah janjian ama Sofwan dan Nina Tulang siang ini mending kita ketemu dimana gitu ya?
Ok, deh, Mba, kita liat ntar ya

Belum sukses. Gak apa-apa, aku maen ama Aan, Candra dan Alvin aja dulu.

Siang...
Mel, ada dinda nih mau dateng, ketemuan yok!
Ayo, aku mau ke Potluck nih, ketemuan disana?
Waduh, Sofwan ada di Black Cofibar tuh, aku mau jemput Dinda ke stasiun terus ntar kesana lagi

Belum juga sukses. Aku malas berpindah ke arah lain. Dago macet menyebalkan soalnya. Sudahlah. Aku juga asik ngobrol di Potluck.

Sore...
Mel, dinda ada disini loh, di Black Coffibar

Hmmm, menggoda, oh menggoda…tapi aku dalam perjalanan mengantar Aan. Sudah magrib, malah sudah lewat magrib. Herannya badan belum juga tumbeng. Antar Aan saja dulu deh. Tapi….."
Bang, kita ke Black Coffibar yok, ketemu Mba Okol"... Sebuah anggukan yang menggembirakan membuat aku segera mengkonfirmasi segala sesuatunya.

Malam...
Mba, masih disana gak? Aku kesana deh!
Masih
Masih lama?
Masih. Mau kesini kan? Beneran ya, ditunggu kok

Setelah pake sedikit peristiwa marah-marah karena salah komunikasi urusan parkir memarkir, dan setelah pakai kebelet dan sebagainya, akhirnya nyampe juga ke Black Cofibar. Ketemu Mba Okol, Dinda, dan lain-lainnya.

Melihat Mba Okol lagi, yang beberapa waktu lalu baru saja memberikan autobiografinya ke aku. Hehehehe

melly, mba okol dan dindaMemperkenalkan Dinda, bahwa,”mencari hotel di Bandung itu pada saat weekend atau liburan adalah sesuatu yang mustahil,” Soalnya ini anak ngotot banget. Kita bahkan sudah kontak berbagai tempat menginap tanpa papan nama taulah…*wisma wisma tersembunyi yang cukup nyaman harga oke itu loh* ternyata semua juga sudah penuh. Tapi gak apa apa ya, Din, yang penting sudah usaha kan :)

Pulang malam lagi, setelah sekian lama. Baru sadar kalau besok kan masih siaran. Gubrak deh!

Ternyata keesokan harinya, pas tengah hari, lagi enak enaknya mimpi nikmat di bobo bobo siangku, ada telepon masuk. Sayangnya gak berhasil membuat aku terjaga. Walhasil baru sekitar 30 menit kemudian aku liat. Nomor tak dikenal. Huh, males banget deh

Ini siapa?
Dinda! Aku dan teteh di Potluck

Langsung otakku lancar lagi. Segar bugar dan bergegas menyusul. Lupa ngantuk dan males keluar kamar, maklum dingin banget deh hari itu, soalnya asik hujan.

Di Potluck liat film-nya Dinda, dan eala, dunia itu memang begitu kecil ya. Ternyata hasil investigasi diketahui bahwa dia adalah mantannya seseorang yang berhubungan dengan mantannya seseorang yang lainnya. Oh, dunia permantanan memang begitu menakjubkan. Masih sering terbengong-bengong melihat beberapa hubungan akibat mantan bermantan!

Memang deh, kesimpulan sementara dunia Bandung itu kecil! Entah ya, seringkali kalau bertemu orang baru, gak perlu waktu lama, tiba tiba diketahuilah bahwa ternyata dia itu berhubungan dengan dia yang lain yang aku kenal. Seru banget sih, walaupun juga bikin waswas kadang kadang. Kekekekek

Oya, usaha kesekian kali membuahkan pertemuanku dengan dua mahluk ini, tapi entah kenapa, aku malah gak berhasil ketemuan ama temen-temen lain yang justru direncanain bertemu sejak beberapa hari yang lalu. Memang deh, kalau mau ketemuan, mending usaha beberapa jam sebelumnya aja ya, lebih tokcer!

24.10.05

Pendapatan Anggota DPR per Bulan

Pos Anggaran Jumlah*

Gaji Pokok 4,200

Tunjangan I
 Istri 1x10%gaji pokok 420
 Anak: 2x 2% gaji pokok 168
 Jabatan 9.700
 Beras 30

Tunjangan II
 Komunikasi intensif 4.140
 Kehormatan 3.720
 Uang Paket 2.000

Bantuan Belanja
 Listrik 2.000
 Telepon 2.000

Total 28.378

*) dalam ribu rupiah

16.10.05

Pada Waktunya...

Kalimat bahwa “segala sesuatu akan indah pada waktunya” adalah sesuatu yang – setidaknya buat aku – begitu sering terdengar. Aku mempercayainya kok, tapi adalah hal yang berbeda untuk mempercayainya dan betul-betul mempercayainya.

Maksudku, aku bisa saja mengatakan,”aku tahu segala sesuatu akan indah pada waktunya” tapi apakah hati dan seluruh sikapku akan mewujudkan keyakinanku itu? Apalagi ketika kalimat itu ditambahkan dengan, ”Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, dan segala sesuatunya itu terjadi untuk kebaikan kita”.

Pada waktunya...

Waktu siapakah itu? Kapankah itu? Ketika itu adalah waktu untuk menunggu kabar untuk bisa memperoleh sekolah, memperoleh pekerjaan, memperoleh pasangan, memperoleh anak? Kapankah waktunya itu? Sehari, dua hari? Seminggu, sebulan, setahun? Atau seumur hidup?

Hari ini, aku diingatkan lagi, bahwa ketika aku percaya bahwa “Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya” tentu saja itu menjadi pada waktu Tuhan. Setidaknya kalau mengikuti logika dari kalimat itu, pastinya jadinya waktu-nya Tuhan kan? Kalau itu waktu aku, maka kalimatnya menjadi “aku membuat segala sesuatu indah pada waktunya”.

menungguSialnya (atau untungnya), aku mempercayai, Tuhanlah yang sanggup membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bukan aku. Sayangnya, aku ini sebagaimana kita pada umumnya (ehm, aku membuat generalisasi nih) sangat tidak sabar melihat hasil dari apapun yang kita tunggu (buktinya, sebagian besar orang bisa mencantumkan “menunggu” sebagai hal yang paling dibenci, kan)

Padahal ketidaksabaran adalah akar penyebab dari menggerutu dan mengeluh. Di mana ada ketidaksabaran, di situ tidak akan ada keyakinan, kan? Tidak ada iman. Sepanjang sejarah, seringkali kita memberikan Tuhan batas waktu, dengan menjerit, "Tuhan, berapa lama lagi kami harus berdoa untuk hal ini? Di manakah engkau? Jika engkau tidak bersegera mengerjakan sesuatu, pasti akan sangat terlambat!"
Tapi, Tuhan kan tidak pernah terlambat. Di sinetron-sinetron pun sekarang sering diulang-ulang, ini pasti ada hikmahnya. Selalu seperti itu! Sesuatu yang begitu mudah diucapkan, tapi superduper sulit untuk meyakininya melalui seluruh sikap kita.

Sore ini, aku mendengar lagu ini

Ku tahu Bapa peliharaku
Dia baik Dia baik
Ku yakin Dia selalu sertaku
Dia baik bagiku

Lewat badai cobaan
Semuanya mendatangkan kebaikan


memujiNyaAku bahagia banget. Aku tahu apa yang harus aku lakukan pada waktu menunggu. Bersyukur. Memuji namaNya. Karena sungguh, berkat dan kasihNya begitu banyak setiap harinya untuk aku.

Setidaknya, aku berpikir aku tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku kan betul-betul melakukannya itu satu tantangan besar. Aku berharap, aku bisa melakukannya.

10.10.05

terimakasih ya...

Makasih buat semua yang udah menunjukkan perhatiannya buat kesehatan papi. Aku musti mengakui, betapa ketakutannya aku. Rasanya, gak pernah aku ketakutan seperti itu dalam hidupku.

Tuhan sungguh baik, masih ngasih kesempatan, masih membantu papi ngelewatin masa-masa kritisnya. Sekarang papi udah mulai bisa beraktivitas walaupun memang harus sangat-sangat dikontrol. Bawaan papi sih pengen kerja dengan kecepatan penuh, tapi sekarang kan sudah tidak memungkinkan lagi.

Masa-masa seperti kemarin, juga memperlihatkan betapa begitu banyak orang yang begitu baik, begitu tulus, dan terkadang di luar dugaan. Makasih untuk semuanya, Tuhan membalas kebaikan hati kalian, terimakasih dari aku dan keluarga.

22.9.05

serangan jantung

Selasa lalu, papi (nyaris) terjatuh pas ngajar. Masih nekat nyetir dari Unpad ke poliklinik Unpad, padahal ternyata dia “tumbeng” itu karena jantung, bukan sekedar sesak napas. Rabu, diperiksa dan ternyata ada penyempitan. Langsung di balon dan dipasang ring.

Tapi ternyata, itu semua sangat menyiksa ya. Untuk seorang papi yang jarang sakit, gak merokok, masih jalan kaki, makan sayur mayur, tapi memang terlalu superduper sangat sibuk dan asik keliling keliling sumatera-jawa-kalimantan-papua non-stop membuat fisiknya yang sudah 70 tahun itu berteriak.

Setelah operasi, kondisi dinyatakan baik oleh dokter, tapi nafsu makannya terus turun, semangatnya naik turun (ke kondisi ekstrem), dan mengeluh kesakitan. Aku gak tahan…

Tolong doakan ya, supaya papi bisa terus semangat, berpikir positif, penyembuhannya berjalan lancar dan bisa sembuh total.

Ada yang pernah punya pengalaman dengan penyakit yang satu ini?

11.9.05

Sepuluh Hal Kenapa Aku Betah Jadi Freelancer?

  1. Menjadi boss buat diri sendiri.
    Siapa yang gak suka? Walaupun sebetulnya selalu ada atasan di tiap-tiap pekerjaan lepas yang dilakukan, tetap saja berbeda dengan atasan kalau bekerja tetap. Tetap saja ada kesadaran bahwa atasan itu hanya atasan untuk satu, dua, tiga bulan atau satu semester ini saja kok.
  2. Punya alasan untuk belanja baju yang beranekaragam.
    Menyenangkan bisa punya beberapa gaya berpakaian. Kalau harus ke tempat kerja yang agak santai, bisa pakai jeans dan baju kutung atau kaos doang. Kalau lihat baju rapi jali yang menarik, sah sah saja dibeli untuk dipakai pada pekerjaan yang lebih formal. Ada banyak kesempatan untuk bereksperimen dengan berbagai jenis pakaian, alasannya kuat pula. Baju kerja jadi beragam dari celana jeans, training, kaos, kemeja, rok, blazer….sebut deh semua jenis pakaian! Jadi, tinggal di negara yang gak punya 4 musim gak masalah, tetep ada alasan untuk ganti pakaian (soalnya dulu temanku berkomentar, kesian deh tinggal di negara yang gak kenal 4 musim, gak ada alasan buat beli baju berbagai jenis sesuai musim)
  3. Pertemanan yang beragam.
    Mulai dari yang kebapakan atau keibuan (atau malah kakek nenek kali ya), sampai yang sepantaran, atau bahkan jauh lebih muda (huhuy, borondong gurih lezat loohhh daun muda itu…*GUBRAK). Dari yang superduper serius, pinter, bloon sampai yang cuek bebek. Untuk itu kemampuan mengingat nama dan muka jadi sangat penting, sayangnya kemampuanku untuk hal itu sangat sangat buruk. Jangan lupa ponsel dengan kapasitas menyimpan data yang besar.
  4. Bisa punya beberapa kartu nama
    Semua sesuai dengan tiap-tiap jenis pekerjaan lepas yang dilakukan. Ada yang sifatnya santai dan bebas, ada yang musti formal dan standar.
  5. Pekerjaan lepas seringkali mendapat bayaran lebih besar daripada pekerjaan tetap!
    Tapi, kata kakek nenek sih easy come easy go. Bukan itu saja, berhubung pekerjaan lepas, kadang si pemberi kerja tampaknya hobi melepas tanggung jawab, alias mangkir memberi honor loh! Prinsip sedia payung sebelum hujan musti dipegang kuat-kuat. Hari ini bisa dapet duit besar, tapi musti cukup menghidupi 12 bulan ke depan loh. Mantep kan!
  6. Honor cepat naik kelas.
    Maklum, jadi sangat tahu “harga” pasaran sebuah pekerjaan, dan semakin tahu trik-trik untuk bisa lihat pekerjaan yang menantang (duitnya atau substansi pekerjaannya). Cuman ya itu tadi, belum tentu bisa selalu ketemu kerjaan yang pas sih, dan duitnya bisa jadi harus diirit-irit sampai proyek selanjutnya.
  7. Bisa punya pengacara sendiri!
    Serasa artis aja ya. Pengacara perlu. Walaupun mungkin masih proyek tengkyu atau proyek gotong royong. Syukur kalau ada kakak/adik atau keluarga lain yang melek hukum. Maklum, kontrak-kontrak untuk pekerja lepas seringkali ajaib (atau bahkan tidak eksis…harus diwaspadai deh kalo kayak gitu). Daripada pakai gak enak hati, ujung-ujungnya nanti bisa gak enak hati, jiwa dan raga, lebih baik selalu bertanya pada ahli hukum tentang segala perjanjian yang ada di tiap pekerjaan yang datang.
  8. Buat para pengejar daftar riwayat pekerjaan, jelas daftar jenis pekerjaan di CV jadi sangat cepat bertambah.
    Kadang bisa jadi senjata makan tuan, kesannya kan kutu loncat banget, padahal mungkin memang karena pekerjaan tersebut pekerjaan kontrakan, bukan pekerjaan tetap. Selama bisa memberi alasan tepat, gak masalah. Daftar bisa terus bertambah dalam hitungan minggu loh!
  9. Bisa punya beberapa ruang kerja.
    kerja di rumah aja ahhhhSeru. Bisa saja kerja di salah satu kantor dimana pekerjaan lepas itu tengah dilakukan, dan kalau bosen, tinggal kasih beberapa alasan dan bekerja dari rumah atau malah dari tempat-tempat lain yang bisa memicu otak untuk bekerja sama dengan tenggat waktu. Bosan dengan ruang kerja yang itu-itu saja gak ada deh dalam kamus freelancer. Efeknya, mobil jadi seperti rumah berjalan. Buku-buku penting harus selalu dibawa, barang-barang penting untuk urusan pekerjaan juga harus selalu siap sedia.
  10. Bisa berlibur kapanpun!
    Kalau mood lagi ingin kerja (atau biasanya sih lebih tepatnya kalau dompet sudah mulai teriak-teriak minta diisi), ya tinggal cari kerjaan. Apapun itu yang penting suka dan bisa ngisi dompet itu bonus dong. Pas lagi muak dengan pekerjaan, tinggal berhenti menerima tawaran dan pergi liburan. Mau harian, atau liburan bulanan, terserah, gak ada yang marah (herannya, tawaran menarik biasanya selalu datang di saat memutuskan mau berlibur loohhh). Asiikkk

Hanya saja, perlu persiapan sangat sangat matang sampai punya jawaban yang pas buat pertanyaan,”kerja dimana, nih sekarang?”


29.8.05

harapan


Beberapa hari ke belakang ini, aku kehilangan sebuah harapan. Harapan yang lama dipegang. Sudah setahun kebelakang. Mungkin bahkan sesungguhnya sebuah harapan yang sudah ada lebih lama dari setahun, lebih jauh ke belakang.

Gak ada harapan lagi! Kalau dokter yang bilang kayak gitu, tau dong apa kesimpulan pasien atau keluarga pasien. Lemas. Sedih.
Untukku, vonis tidak ada harapan datang dari aku sendiri, sih. Aku sudah mengambil sebuah keputusan, yang aku juga bingung, apakah karena keputusan itu maka harapan hilang, atau memang aku sudah semakin menyadari harapan itu semu dan karena itu aku membuat keputusan? Entahlah.

Tunggu dulu, aku ingat, waktu ibuku sakit kanker rahim stadium superduper lanjut lebih dari 15 tahun yang lalu, dokter berkata gak ada harapan lagi. Puji Tuhan, ibuku masih bersama-sama kami hingga saat ini.

…demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih…

harapankuKarena itu jugalah, aku masih menyimpan harapan untuk Indonesia yang lebih baik, untuk suatu masa dimana orang bisa beribadat dengan tenang tanpa harus dipusingi oleh sejumlah birokrasi demi mewujudkan tembok-tembok tempat ibadat, tanpa ada kekuatiran akan kepungan, tanpa ada kekuatiran akan adanya perintah penutupan atau bahkan pembongkaran. Ketika ada yang bisa dengan mudah beribadah, membuat tempat ibadah bukan hanya di rumah, tapi dimanapun, aku berharap itu akan dirasakan semua pihak. Kemudahan yang sama…

24.8.05

Hop Hop Melangkah Lebih Cepat


Orang Orang Radio Walagri 93.3FM plus Eko JunorTernyata siaran bikin hidup rarusuh. Seneng sih seneng. Hanya, kegiatan bangun sebelum jam 4 pagi, mandi jam 4 pagi, berangkat jam 4.30 pagi, nyampe di radio jam 4.45 dan udah mulai cuap-cuap jam 5 pagi sampai jam 9 pagi, bikin banyak kegiatan rutin gak jadi tidak rutin malahan jadi gak dilakukan. Soalnya habis siaran langsung ke kantor dan lagi dikejar setoran untuk bikin beberapa SAP (ada beberapa perbaikan soalnya) plus beberapa modul perkuliahan, ngaco-nya sore bukannya langsung pulang tapi malah jalan-jalan dengan alasan cari sepatu buat konser Sabtu besok (huh alasan banget ya, padahal emang lagi gatel aja pengen beli sepatu). Sampe di rumah, jam 10 maleman udah tumbeng, cuman sempet download email, itupun dibaca pagi-pagi di ruang siaran pula (dan aku begitu kehilangan rutinitas sejam-an di depan komputer berinternet…hiks). Akhir pekanpun gak bisa bersantai-santai karena "kejar setoran" latihan untuk konser Sabtu ini (kalo di Bandung, 27 Agustus ini, main-main aja Aula Barat ITB jam 7.30 malam ya, nonton Ile nyanyi).

Untungnya, kuliah belum mulai, jadi ada waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebiasan baru.

Seru sih, siaran lagi. Belajar mixing lagi, salah-salah lagi. Salah mencet, lupa mencet, ah biasa deh, problem mixing. Aku juga musti mengkompakkan diri ama temen siaranku, Adit. Belum lagi masalah 'setoran' pagi. Aduh aduh, yang satu ini musti dijadwal ulang. Ada ide gak untuk membuat urusan yang satu itu lancar? Soalnya subuh-subuh, perut gak mau kompromi, mungkin karena senewen sih, perut sudah memberi sinyal untuk beraksi, tapi otak kepikiran musti buru buru berangkat, mana di WC kan dingin tuh jam segitu…bbrrrrr.

Kegiatan malem, selalu dari kegiatan mencari sepatu dan mencari sepatu. Tadinya pengen cari sepatu ungu, musti model sendal kebuka gitu, dan yang paling penting, haknya musti minimal 7 cm. Bukan kenapa-kenapa, sudah terlanjur bikin gaun yang panjang banget, gak lucu kan kalo gan itu jadi dipake buat ngepel panggung. Sialnya lagi, semua yang kena di hati, tidak kena di dompet. Huh! Pas cari-cari lagi (karena berpikir yang udah pas itu kemahalan), malah membuat aku ketemu yang lebih mahal lagi, dua kali lipat harga sepatu ungu yang aku lihat sebelumnya (itu sebtulnya lagi diskon 50% juga), dan warna PUTIH. Emang gak niat nyari sepatu ungu kali ya. Keselnya, itu sepatu putih sampe detik ini kebayang-bayang di depan mata. Pengen banget. Lagian aku gak punya sepatu putih kok.

Alasan kan...

inget waktu, tepat waktuSatu hal yang pasti, musti buru-buru mendisiplinkan diri nih, kalau udah waktunya kerja, gak boleh ngopi-ngopi di Potluck, kalo memang harus mikir, gak boleh memilih ngabur ke rumah abis makan siang, untuk curi-curi tidur siang. Juga kalau sudah waktunya fitness, tetep harus fitnes kalau gak badan remuk redam lagi kayak beberapa waktu lalu. Toh, aku sangat menikmati ritme seperti ini sih.

Huaemmm, ngantukkkkk

13.8.05

Judika Mike

Sedih, Judika kalah...hiks hiks...

Awalnya, aku suka sih ama Mike, tapi makin kesini, duh Judika makin bersinar. Sayang banget yang menang musti Mike. Mudah-mudahan gak pake peristiwa taun lalu, pemenang pertama mundur dan digenti yang kedua.

4.8.05

Bagaimana rasanya menjadi perempuan di akhir 20-an di Indonesia


Tentang aku
Tinggal masih dengan orang tua dan 3 adik, Ina, Moy dan Adi (satu lagi baru aja nikah, Kris) di Bandung. Ingin sekali bisa tinggal sendiri, apalagi sekitaran tahun 2002. Tapi bener bener mentok, selama masih tinggal satu kota dengan orang tua, pastinyalah masih harus tetep musti tinggal serumah. Sialnya pula, orang tua tinggal di dua kota Bandung dan Jakarta, jadi bahkan ketika ada pekerjaan di Jakarta, tetap saja masih harus tinggal di rumah orang tua.

Pekerjaan aku
Menyenangkan! Hidup kerja part time. Aku bisa mengatur waktu sendiri. Kapan mau kerja, kapan mau liburan. Kapan mau cari duit, kapan mau ngabisin duit (plus terbengong-bengong kecekek pas keabisan duit dan itu berarti sinyal untuk segera kerja lebih keras lagi). Dosen di beberapa kampus, supervisor (atau operational manager?) di sebuah konsultan hukum lingkungan, siaran (akan..menjelang) dan juga konsultan perencana kota dan manajemen perkotaan

Ulang tahun ke 30
Akan segera terjadi, bukan tahun ini sih, kalo Tuhan berkenan. Entah akan dilewati dengan cara apa. Sudah beberapa tahun, gak ada tuh perayaan ulangtaunan. Palingan dilewati dengan kerja dan malam-malam doa bareng keluarga aja. Belum tau akan dilewati secara khusus atau tidak. Harapan sih, bisa ngelewatin hari itu dengan orang yang aku sayang.

Skandal nasional
Rhoma Irama ternyata udah nikah dengan Angel itu skandal nasional bukan sih? Hehehehe. Terlalu banyak skandal, dari satu korupsi ke korupsi lain, dari satu bencana ke bencana lain, dari satu penyakit ke penyakit lain. Sedih banget. Tapi aku masih sangat sayang ama tanah airku, dan masih menaruh harapan dan juga kepercayaan sih.

Belanja terakhir
Sebuah tas kerja Bally warna coklat, tadinya sih temenku yang beli, tapi gak lama dia langsung ingin jual, dan karena suka ama bentuk dan bahannya, langsung ta’ embat aja.

Prinsip
Berpikir positif aja deh.

Inspired by Marie Claire June 2005

31.7.05

Tato

Setelah beberapa kali tato permanen yang gak asik itu, aku memutuskan untuk bikin tato beneran. Gak tahan, udah beberapa tahun menggantung di kepala, kayaknya pengen segera diwujudin deh.
Udah ada gambaran lokasi dan bentuk (untuk yang bakal ngerjain, juga udah lebih pasti, tinggal nagih janji untuk yang ini, mah), tapi gak salah kan nanya-nanya?
Jadi, kalian punya usulan gak?

26.7.05

Buku (Baton)

Huiii, dapet "baton" nih, sekarang ada book baton dari Intan.. seneng deh, soalnya emang suka buanget ama buku. Isinya tuh ini:

Total number of books owned:
Image hosted by Photobucket.comWadoh, susah ngitungnya nih. Apalagi kalo musti ngitung dari buku pertama yang aku punya. Gila aja. Pokoknya buku2 pertama yang aku punya itu buku2nya Enid Blyton yang Lima Sekawan. Kumplit (dulu, sekarang mah udan tinggal sisa-sisa kejayaan deh). Sampai terus nambah dengan Pasukan Mau Tahu (tidak bersisa), Malory Towers dan St Claire (masih ada semua - thanks to ominum!), dan rasanya hampir semua Enid Blyton sampe yang buku tunggal aku punya. Ditambah Trio Detektif (makin sadar, kenapa aku pengen jadi mata-mata atau detektif dalam khayalanku), dan masih banyak lagi. Mulai pindah ke Tintin (yang juga kumplit, tapi sekarang juga sudah hilang entah kemana), sampai akhirnya seleraku pindah ke Agatha Christie (juga sudah banyak yang menghilang), kungfu boy, dan masih banyak lagi. Sekarang buku-buku koleksi yang tersisa tinggal kungfu boy, Harry Potter (yang terbaru bakal diambil hari ini...hore), Michael Chrichton, Pramoedya Ananta Toer, Paulo Coelho. Semuanya dalam satu baris rak yang mengambil jatah salah satu dindin kamarku dari atas sampai bawah, dari ujung kiri ke ujung kanan. Di rak lain ada buku-buku tentang perencaan kota dan wilayah, yang didominasi buku-buku tentang urban design dan tourism planning, dan public policy. Terus ada buku-buku tentang Belanda dan Rotterdam yang berderet, mulai dari buku yang berisi foto sampai buku tentang sejarah, dari bahasa Inggris sampai yang bahasa Belanda. Terus ada rak lain, isinya buku-buku rohani, dengan beragam topik dari doa sampai kuasa penyerahan diri. Terus ada buku-buku agak agak filsafat, sebagian buku abang, sebagian bukuku sampai buku-buku tentang lifestyle seperti barbie culture, buku-buku tentang feminisme, buku-buku tentang ekonomi (berhubung baru mau mulai ngajar di ekonomi nih), buku-buku tentang research methods, baik yang sangat teknis sampai yang teori-nya. Terus ada buku-buku tentang manajemen perusahan, bussiness plan untuk keperluan kantorku. Belum lagi ada buku-buku komputer dan graphic design (sebagian bukunya Dindin nih). Jumlahnya? Susah euy, yah, bayangin kamar dengan dinding setinggi 3 meter lebar 4 meter, penuh dengan buku, itu kira-kira adalah 500-600an buku, ditambah yang ada di kamar kerja satu lagi, dengan jumlah hampir mirip, ditambah dengan buku-buku yang akhirnya disimpan di perpustakaan kantor.

The last book I bought:
Sang Maestro - teori-teori ekonomi modern: Mark Skousen (Prenada)
Harry Potter terbaru - JK Rowling
Merebut Negara - Hans Antlov, R. Yande Zakaria
Attraction, Theories, Trade, Investor - Hermawan Kartajaya
Dana Alokasi Umum: konsep, hambatan dan prosep di era otonomi daerah - Dr. Mahmud Sidik

Book reading right now:
Sang Maestro - teori-teori ekonomi modern: Mark Skousen (Prenada)
Collecting & Interpreting Qualitative Methods
Harry Potter and the half blood Prince
(satu dibaca di kamar tidur, satu dibawa-bawa, satu dibaca di Potluck)

Five books that mean a lot to me:
Seri: Lima Sekawan, Malory Towers, St Claire - Enid Blyton. Plus seri-nya Agatha Christie. Terlepas dari ada yang terasa udah agak garing, yang pasti buku-buku itu membentuk aku banget.
The Alchemist - Paulo Coelho
Globalization and Its Discontent - Josepf E Stiglitz
Kuasa Penyerahan Diri - Jerry White
Marketing Asian Places - Kotler
Five people to whom become the next victims:
Abang (walopun sebagian besar bukunya ada disini), Dindin, Patsy, Hera, Dinda
tambahan gak penting: foto-foto training kemarin ada disini ya

25.7.05

hiperbolis?

Manusia berubah? Semua orang juga tahu. Tapi pas orang lain membuat kita sadar bahwa kita berubah, pada saat kita merasa (dengan sok yakinnya) bahwa kita masih sama, ternyata bikin kaget ya.
Waktu ikut walagri announcer training kemarin (cerita dari training ini seru banget!), Eko Junor, menyanggah dengan santai tapi tegas bahwa aku itu hiperbolis. Menurut dia aku ini tidak hiperbolis, tapi memang intens. Omongan dia langsung aku bantah, dan bantahan dalam hati sih lebih dahsyat lagi,"aduh, Mas, gak tau aku banget deh, aku ini hiperbolis hiperbolis banget banget gitu."
Image hosted by Photobucket.comTapi, semalam aku pikir-pikir *jeder* ternyata aku memang sudah berubah banget. Dulu, teman-temanku suka ngingetin teman-teman lain, hati-hati kalau aku yang cerita tentang misalnya, film, karena pas aku cerita, orang akan merasa film itu rame banget, keren banget, padahal ternyata - menurut mereka - film itu membosankan atau seenggaknya gak seheboh yang aku ceritain. Maap atuh! Cerita perjalanan kantor-rumah yang normal-normal aja bisa jadi heboh dan seru karena kebiasaan hiperbolis. Ditambah bahasa tubuhku yang juga ramai, plus volume suara. Lengkaplah predikat hiperbolis itu.
Sekarang, berhubung teman-teman jauh, jarang musti cerita-cerita. Ehm, sebetulnya bukan jarang musti cerita, tapi kalaupun udah kebelet pengen cerita-cerita, susah, gak bisa ketemuan langsung, palingan lewat sms, telepon atau email. Beda dong! Mana beberapa teman dekatku bukan tipe peng-email atau peng-chatting sejati. Boro-boro bisa cerita dengan gaya hiperbolis, bahkan tingkat kecerewetan juga menurun drastis. Saat ini "curhat" palingan terlampiaskan ke abang, atau nulis di blog. Tersalurkan ke situ deh. Apalagi, kebiasaan abang meneliti, nanya2 ke orang merubah aku untuk ingin lebih tahu tentang orang lain ketimbang diri sendiri.
Aku makin mikir, iya ya, aku ini sudah tidak secerewet yang aku bayangkan. Entah, apa akhirnya ini karena umur ya? Makin sadar ada orang lain yang juga ingin bicara, dan terutama makin malas juga sih untuk cerita-cerita gitu.
Kalau udah gini, aku cuman bisa bilang makasih deh ke Mas Eko, tiba-tiba membuat aku sadar pada satu perubahan di aku.

22.7.05

Proses atau Produk

Kamu tipe orang lebih memilih mementingkan prosesnya atau output alias produknya sih

  • Tugas: proses bikin tugas atau nilai tugas (hehehe, ngacung deh pada jawab nilai
  • Pekerjaan: proses ngerjain proyek atau atau produk proyeknya (katakanlah produknya itu sebuah buku, seperti buku rencana tata ruang...huh!)
  • Baca buku: proses membaca bukunya, atau buku selesai dibaca (terserah mau nyerep di otak atau enggak, mau inget atau enggak, yang penting selesai baca)
  • Makan: proses makannya atau bisa kenyangnya (duh, bo, kalo ditanya ama orang kelaperan tingkat tinggi emang terlalu jelas ya jawabannya)
  • Dapet duit: proses bisa memperoleh duit atau yang penting dapet duit (atau yang lebih penting lagi, berapa dapetnya? hehehehehe)
  • Nge-blog: proses bikin blog, nulis, update atau terserah caranya gimana asal punya blog dan asal dilihat orang sebanyak-banyaknya? (ehm)
  • Suami/ istri: proses mendapatkannya (aneh banget ya, kok proses mendapatkan? lebih tepat proses berkenalan a.k.a pacaran kali ya) atau yang penting dapet suami/ istri?

Seberapa besar penghargaan untuk sebuah proses, dan seberapa penting output harus menjadi pertimbangan?

Aku percaya proses. Kalau kamu?

19.7.05

Copy Paste

Image hosted by Photobucket.comTadi untuk pertama kalinya, ngasih ujian lisan untuk anak-anak Unpas. Sesuatu yang bikin dosen lain geleng-geleng kepala. Kaget aja, melihat niat aku untuk "mengurusi" anak-anak itu. Soalnya ujian lisan itu muncul karena aku marah besar setelah melihat tugas harian kelas ternyata disepelekan. Alias, lebih dari setengah kelas mencontek ke satu atau dua sumber. Mereka, jelas-jelas meng-'copy paste' tugas orang lain.

Duh, teknologi copy-paste itu memang sudah terlalu membudaya ya.

Aku juga dimanja banget dengan fasilitas Ctrl C dan Ctrl V itu. Pernah, karena males dan pegel, aku copy paste sebuah email pribadi, tapi lupa mengganti nama *kesalahan gak perlu banget, aku tahu* walhasil temanku yang dapat hasil kopi-an itu ngamuk dong.

Konon, pernah juga ada rencana tata ruang yang dibuat dengan cara copy paste. Gebleknya, seperti aku, nama kota atau nama daerahnya tidak diganti. Duh, miris banget, cermin kebobrokan yang lain lagi nih. Kebayang dong, kalau di Bandung, misalnya, tiba-tiba ada satu konsep jalan di pinggir pantai...bengong dong walikota yang ngasih tu proyek! Rasanya untuk kasus yang satu ini, yang menjadi taruhan jelas rakyat banyak.

Tapi itu terjadi dimana-mana, bahkan sms pun kita sering copy paste, terutama untuk acara-acara khusus seperti ulang tahun atau hari raya. Ah, aku tidak terlalu ambil pusing, karena itu memang tidak perlu dipusingkan, tokh perhatian dari pengirim sms itu yang penting.

Image hosted by Photobucket.comBalik ke urusan tugas...tunggu dulu deh. Copy paste itu sesuatu yang sangat tidak aku suka. Aku ingat, jaman kuliah pun, file tugas aku sering dipinjam untuk di-copy dan kemudian di-paste oleh siapapun itu. Aku agak-agak pilih orang deh, tapi aku tahu pasti, teman-teman kuliahku itu tidak pernah copy paste blek lek blek, palingan cuman ambil ide dasar, atau bahkan kalimat awal *yang konon paling susah dilakukan*. Malah di tingkat 1 sih, asisten praktikum mata kuliah dasar umum, masih mengharuskan tugas ditulis tangan. Duh, kalau jaman sekarang harus ditulis tangan, aku juga gempor. Udah ga biasa, udah dimanja dengan berbagai fasilitas, dan yang terbaru setelah ada PDA, praktis jarang sekali menulis pakai tangan di kertas apapun. Makanya aku heran sekali melihat setengah kelas bisa mengcopy tanpa merubah apapun, bahkan merubah jenis font sekalipun! Aku tahu, karena hasil pekerjaan lebih dari 5 halaman itu, blek blek blek sama bahkan sampai kesalahan tulisnya yang gak cuman satu dua. Duh, please deh...

Mau tahu yang lebih dahsyat?

Ada yang hasil tugas adalah fotokopi-an, lengkap dengan kertas yang agak kehitaman karena hasil fotokopian(!). mBo, ya ntar-ntar kalau foto kopi juga di tempat yang bagus gitu loh...nyontek tuh yang kreatif dan cerdik dikit susah amat!.

15.7.05

handuk

Aku suka sekali wangi yang muncul dari orang yang baru mandi. Segar.
Sebetulnya banyak hal yang aku suka dari urusan mandi. Tapi satu hal yang aku agak rewel adalah urusan handuk. Aku suka sekali handuk putih, yang masih hangat, besar, lembut, dan wangi. Duh, enaknya. Memang kalau di rumah agak keterlaluan mengharapkan selalu wangi. Masak harus dicuci setiap hari ya? Kalau di hotel, itu dia, senang banget kalo hotel itu menyediakan handuk kayak gitu. Sekarang udah jarang. Apalagi kalo handuknya udah dempet. Ihh, males banget. Untungnya gak perlu lagi ngalamin dapat handuk yang udah mah kering dan kasar, kecil dan warnanya itu tidak jelas antara putih coklat abu gitu. Itu cukuplah terjadi di tempat itu, di suatu hotel di pedalaman Kalimantan.
Sialnya handuk putih itu rentan kotor. Tapi gak masalah dong, kan udah ada pemutih. Jadi handuk untuk mandi, handuk untuk dibawa-bawa dan handuk untuk fitness, semuanya tetap harus wangi, hangat, dan lembut....

hmmmm

13.7.05

Teman Teman

Satu-satu teman pergi meninggalkan Bandung, untuk pekerjaan, untuk keluarga, atau untuk hal lainnya. Teman-teman baru berdatangan. Tapi tentu saja, tidak bisa menggantikan tempat di hatiku yang kosong ketika satu per satu teman-temanku pergi. Bukan berarti mereka tidak seberarti yang sebelumnya, mereka menempati tempat baru di hati.Tempat yang kosong akan tetap selalu kosong, untuk teman baru, ada tempat baru. Mudah-mudahan masih cukup tersedia banyak tempat untuk itu. Aku pikir hati itu bersifat elastis kok, tidak seperti kotak kayu yang bisa penuh terisi.Image hosted by Photobucket.com

Memang, justru kepergian mereka membuat aku mendapat banyak teman baru, dari tempat-tempat yang tidak disangka. Kalau pertemanan dulu itu kan karena tetanggaan, atau terutama satu sekolah, entah karena satu kelas atau satu jurusan, atau satu kegiatan ekstrakulikuler ataupun kegiatan unit. Maklum, energiku sedikit berlebih, jadi musti ikut ini itu supaya tersalurkan. Sudah ikutan aja, masih cerewet begini loh!

Kenapa tempatnya tetap kosong? Karena mereka mengisi hatiku dengan caranya masing-masing yang tidak bisa tergantikan oleh keberadaan orang lain. Ada saat-saat kekosongan itu begitu terasa, tapi bukan tidak mungkin itu kembali terisi, walaupun sesaat, di saat waktu dan kesempatan memungkinkan.

Memang, menyenangkan sekali punya kehidupan yang rutin, dengan kegiatan yang cenderung tetap. Sekolah, kuliah atau bahkan bekerja tetap. Punya putaran sosialisasi yang tetap (eh, enggak juga kali ya, aku jadi beruntung punya teman dari mana-mana dan bisa ada kapanpun).

9.7.05

Logika atau Rasa?

Kenapa dua orang memutuskan menikah? Entahlah, masih misteri untuk aku yang belum menikah ini. Kemarin, temanku bilang, pada akhirnya dia menikah karena pertimbangan logika dan bukan cinta. Karena cinta itu, menurut dia, ada antara dia dan salah seorang mantannya.

Betul ya?

Image hosted by Photobucket.comPantesan saja, banyak film atau buku yang memunculkan bagaimana cinta bisa mengatasi segala hal. Ujung dari film atau buku tersebut adalah dua orang yang jatuh cinta itu akhirnya berpacaran atau menikah. Mungkin cerita seperti itu begitu banyak karena pada dunia nyata, hal itu memang tidak terjadi? Tidak perlulah disebut judul-judul film seperti itu. Terlalu banyak. Dari yang udah sehari mau menikah dengan entah siapa itu, akhirnya batal karena bertemu entah orang baru atau mantan pacar. Apapun yang kemudian menegaskan bahwa cinta akan menemukan jalan dan sebuah hubungan terjadi karena cinta.

Itu semua akhirnya memang hanya di dunia khayalankah? Betulkah akhirnya memang logika yang lebih bermain waktu seseorang memutuskan menikah (eh, dua orang dong ya yang memutuskan menikah).

Pertimbangan logis, aku pikir selama ini memang perlu, tapi aku masih menginginkan cinta menjadi motivasi untuk menikah.

Ngaco ya?

27.6.05

Email Curhat


Din
Hari ini, gue kembali ke one of those days when I miss R'dam very badly. Pagi-pagi, begitu bangun tidur, gue langsung liat buku2 ttg Rotterdam. Ada satu buku, yang secara ga sengaja jadi milik gue. Sebetulnya bukunya milik dosen Erasmus waktu pameran kemarin. Tertinggal, terus gue pegang aja dulu. Gue lihat-lihat sambil mengingat setiap detilnya. Rumah gue (untungnya dekat CS, jadi ampir selalu terpotret). Jalan2 yang selalu gue lewatin. Tempat2 gue nongkrong sehari-harinya. Tempat gue jalan2, tempat gue kuliah, nonton, dugem (well, bukan dugem-dugem amat sih sebetulnya ya), minum, dansa, dan banyak lagi. Gila deh, Din, gue ampe bisa ngerasain bangku trem, goyangannya, rasanya nyeklek karcis, plus sarung tangannya (karena biasanya kalo gue pake tram berarti lagi dingin2nya, atau lagi males2nya naik sepeda tuh), gue keinget kerasnya angin di depan Weena, sampe pengalaman pertama gue gak bisa maju sama sekali, malah ampir jatuh gara-gara angin. Teringat jalur Weenapad-Woodestein, yang kalo naik sepeda kadang gue suka patah semangat, tapi kadang juga membuat gue mikir tiap hari, untuk ambil jalur baru apa lagi, sambil asik ngewaktuin diri sendiri (padahal bukan pertandingan loh). Gue sampe bisa ngerasa pegangan tangan sepeda gue, dan kemudian sepeda Pawel yang tinggi banget itu dengan rem yang model dikayuh ke belakang itu. Inget Dudok dengan ruangannya itu. Terus, ngeliat Erasmus Bridge, gue teringat semuanya disana, juga termasuk New York Hotel tea, tempat gue menyeret elu minum Bailey's (tapi suka kann). Gila deh, Din, saking kangennya, rasanya gue bisa ngerasain udaranya, hawanya. Jalan-jalan malam kesana, sambil pake perahu nyebrang ke New York Café, liat Rotterdam waktu malam.

Ngeliat taman-tamannya, inget jalan2 gue disana, inget waktu gue suka cari inspirasi nulis di taman-taman itu, sambil jalan-jalan pegangan tangan, gue ampe pengen nangis deh saking kangennya. Rasanya bahkan hal kecil kayak telepon umumnya, trotoar yang gak terlalu tinggi sampe garis batas jalur sepeda bikin gue begitu kasuat-suat. Mungkin gara-gara liat foto beberapa temen, gue jadi keingetan. Serunya ganti kostum pas ganti musim. Walopun gue suka sirik, kapan ya gue bisa beli jaket yang mahal-mahal itu. Garing juga sih, pas udah ngeliat baju-bajunya mereka di beberapa foto, beneran ya, Din...kalo urusan dandan, duh, suka payah banget deh mereka itu. Dengan jaketnya yang betul betul lebih mentingin fungsi (dasar gue kan, hidup gaya! Kekekekek). Gue teringat ama sepatu boot gue itu, yang akhirnya gue tinggal di sana karena udah terlalu banyak bawaan gue.
Ah, udahlah, puas-puasin liat foto, sambil ngetok kayu tiga kali nih, mudah-mudahan bisa jenguk lagi dalam waktu dekat.

25.6.05

Baik Bener

Jumat, 24 Juni 2005, pagi hari sepanjang jalan dari rumah menuju Rebel untuk fitnes, dalam katana hijau.

“Mogok dimana sih kemarin,” tanyaku setelah kami menyerahkan baleno hijau itu untuk diperiksa dan diperbaiki oleh Mang Yayat.

“Di tol, masih di daerah Karawang,” katanya.

“Gila, masih jauh banget tuh,” balasku kaget, soalnya aku pikir kejadiannya tuh di Bandung.

“Iya, makanya itu. Mau muter balik juga males, wong di arah ke Jakarta macet total sampe titik mobil mogok itu. Gue bisa udah nyampe Bandung, tapi kalo ke Jakarta bisa-bisa entah jam berapa malam baru sampe. Makanya nekat diterusin. Untungnya masih sempet menepi ke bahu jalan,” balasnya menerangkan.

“Sebenernya kejadiannya gimana sih?” tanyaku

Dia menjelaskan,”ya, gitu deh, tiba tiba ada bunyi nyess gitu, terus tulisan check engine nyala, gue udah feeling aja, langsung kepinggirin, pas sampe di bahu jalan, mati deh tuh mobil. Serem banget deh, Mel, soalnya banyak kendaraan yang suka menyalip dari bahu jalan. Ya ampun udah takut kenapa-kenapa.”

Aku terdiam, teringat kelakuan seseorang yang suka nyalip dari bahu jalan, suka bikin deg-degan. Bahu jalan gitu loh, bukan buat menyalip.

Dia meneruskan,” Tapi Mel, beneran deh, perjalanan kemarin gue dapat pertolongan dari orang-orang tak dikenal, menerima kebaikan dari orang-orang. Gue ampe kaget. Gue dan Mia memutuskan untuk memindahkan mobil agak ke depan, soalnya ada ruang kosong dikitlah, tapi gak dibahu jalan, kan lumayan tuh. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang datang menolong mendorong! Dan setelah mendorong, dia langsung menghilang. Padahal kita masih mau bilang terimakasih.”

Wah, jarang-jarang tuh pikirku, kadang orang yang menolong untuk mendorong berdiri lama di dekat mobil, menunggu “yang perlu ditunggu dari yang sudah ditolong itu”.

“Nah, setelah itu,” katanya masih menerangkan kronologis peristiwa malam sebelumnya,” gue buka kap mobil, ternyata air radiator udah habis banget. Ya udah, musti diisi, padahal di mobil cuman ada dua botol aqua, yang satu penuh, satu lagi setengah. Mana cukup kan? Ya udah gue memutuskan nyari air. Pas ketemu untuk minta air, si yang ngasih air malah ngasih botol lain, soalnya katanya gak akan cukup kalau cuman pake botol yang gue punya. Duh, mel, rasanya terharu banget deh. Udah gitu, ternyata si bapak-bapak yang ngedorong itu datang lagi. Ternyata rumahnya deket-deket situ, dan dia bawain ember untuk ngisiin air. Ya ampun, terharu banget deh”

Gue langsung aja menimpali,” iya ya, baek banget ya, mau ngangkut-ngangkutin air.”

Dia melanjutkan ceritanya,” Terus gue berhenti di tempat peristirahatan, ngeliat air yang ternyata udah kosong lagi! Ampun deh, kita bingung. Waktu itu Mia nelepon suaminya. Gue diminta ngecek ini itu termasuk oli. Ya udah kita cabut aja tempat oli-nya, tapi terus bingung pas mau narok lagi. Soalnya udah mulai gelap pula. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang kayaknya udah ngeliatin gue dan Mia dari tadi, menawarkan bantuan. Dia nyalain korek dari jauh, sampai Mia bisa ngeliat tempat olinya. Bapak itu bilang, kalau mau cek oli sih harus mati mesin. Hehehehehe (aku juga ikutan senyam senyum di bagian ini sih). Terus dia membantu mengisi air lagi. Dia bilang, bisalah berangkat sekarang. Kalau ada apa-apa telepon Beta saja (dan dari situ, kami semua menamakan dia Pak Beta dan bukan nama aslinya). Dia ngasih nomer Hpnya, Mel. Ternyata dia kesitu untuk mengambil mobilnya yang tabrakan beberapa waktu sebelumnya, dan disimpan disitu oleh mobil derek. Merinding deh gue. Baik banget. Untungnya emang gak ada apa-apa sampai tiba di Bandung, loh.”

“Ya ampun, Lus, Bapak Beta itu rela banget ya? Kayaknya elu emang musti ngalamin itu semua buat menerima kebaikan-kebaikan dari orang-orang gak dikenal itu, diingetin lagi untuk berbagi ama orang-orang lain yang mungkin gak kita kenal dalam perjalanan kita,” ujarku

“Iya, gue juga jadi lebih sensitif kalau liat orang ada apa-apa di jalan, jangan-jangan butuh air atau apa gitu,” katanya.

Pay it forward,” balasku, teringat sebuah film yang aku suka yang diambil dari sebuah buku dengan judul yang sama.

“Kita pikir orang-orang udah pada egois semua, jahat-jahat, tapi sebetulnya masih banyak orang yang begitu baik, begitu ringan tangan, begitu mudah menolong orang lain yang kesusahan tanpa memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan imbalan dan keuntungan. Beneran deh.”katanya lagi

“Kata siapa ya orang-orang udah menyebalkan, hanya karena ulah satu dua orang yang sangat super duper menyebalkan, masak kebaikan hati sekian banyak orang lain jadi kita lupakan, dan kita sendiri juga jadi suka gak perduli sama orang di sekitar kita,” kataku sambil membayangkan, betapa bahagianya karena sebetulnya masih banyak orang-orang baik di sekitar kita, ”gue juga jadi diingetin lagi, ya, Lus.”

Perbincangan yang tentu saja sudah diedit sana sini dan juga mengalami perubahan sesuai dengan kapasitas memoriku itu terpaksa berhenti, karena kami sudah tiba di depan Rebel Gym, aku turun untuk berlatih dan Lusi melanjutkan kembali perjalanan dia ke tempat lain, sesuai pesanan (kekekekek).



Aku dan Lusi, bbrp waktu lalu di Cikini

22.6.05

satu satu

Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi, dimakan usia
Tak terdengar tangis, tak terdengar tawa
Redalah...reda

Satu-satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis, tak terdengar tawa
Redalah...reda

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun-daun berguguran
Tunas-tunas muda bersemi

Satu satu daun jatuh ke bumi
Satu satu tunas muda bersemi
Tak guna menangis, tak guna tertawa
Redalah...reda

Waktu terus bergulir
Kita kan pergi dan ditinggal pergi
Redalah tangis redalah tawa
Tunas-tunas muda bersemi

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun-daun berguguran
Tunas-tunas muda bersemi

---untuk sebuah kenangan indah terhadap seorang ibu, dan juga untuk sebuah harapan untuk seorang anak yang masih harus terus melangkah mencoba mewujudkan mimpi---

21.6.05

ujan membawa nikmat

Apa yang paling aku syukuri bisa ada hujan besar, tengah hari bolong, pada waktu aku terbaring di rumah karena flu?

Bisa mandi air hangat, pakai sabun wangi yang lembut banget, di gantungan sudah menunggu handuk putih bersih yang masih hangat untuk dipake. Kemudian pakai celana training yang lembut banget itu, plus kaos putih yang masih wangi, dan langsung ngumpet di tempat tidur yang bersih, sambil terus menghangatkan diri di balik selimut tebal dan lembut. Gak lupa, sudah ada hot chocolate di sebelah tempat tidur, dengan lagu-lagu dari soundtract Bridget Jones yang pertama, plus baca calvin dan hobbes (iya, aku harusnya baca buku2 yang udah jadi utang, tapi tolong ya, calvin jauh lebih menghibur ujan-ujan gini mah). NIKMAT! Di luar boleh deh hujan besar basah-basah, tapi di kamarku ini, hangat, bersih, wangi dan yang penting berhasil menghibur aku yang gak bisa keluar rumah gara-gara flu (katanya," gak usah sok sok-an workaholic untuk ke kantor, gak guna, lagian yang ada elu bakal menularkan flu elu ke orang2 kantor.")

so what gitu loh

Pemandangan Indah

Tol CipularangTol Cipularang ternyata menuai banyak komentar ya. Memang, waktu tempuh Bandung-Jakarta jadi berkurang secara signifikan. Tanpa harus mengebut, dengan kendaraan roda empat standar, jarak 3 jam itu menjadi hanya 1,5 jam. Tunggu dulu ya, itu belum dari pintu rumah ke pintu rumah, karena untuk bisa sampai rumah dari tol baik dari pintu tol Bandung atau Jakarta, itu memakan waktu yang bisa lebih lama daripada jarak tempuh Bandung-Jakarta via Cipularang. Untungnya rumahku jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu-pintu tol.

salah satu view dalam perjalanan bandung-jakartaSalah satu yang menarik dari jalan tol Cipularang adalah pemandangannya. Indah memang. Kalau aku sih menyebutnya pemandangan kereta api, karena pemandangan yang aku lihat itu biasanya jadi santapan kalau aku naik kereta parahyangan atau argo gede. Indah dengan sawah dan lansekap yang memukau. Karena itulah, gak heran, banyak kendaraan sering berhenti di bahu jalan tol untuk melihat pemandangan. Terutama di jembatan yang tertinggi itu, yang berseberangan dengan jembatan rel kereta api. Aduh, bukan apa-apa, itu tuh jalan tol, kebayang dong, kalau kendaraan berhenti suka suka untuk menikmati pemandangan di pinggiran jalan tol, apalagi kalo itu bus-bus berukuran besar yang tanpa sungkan mengeluarkan isi kendaraannya, tumpah ruah di Jakarta. Kan yang kena bahayanya mereka-mereka juga, maklum, di jalan tol, kendaraan biasa ngebut. Apalagi, gak jarang, ada anak-anak kecil yang berlari kesenangan di pinggiran tol. Duh. Mending kalau memang ada tempat peristirahatan khusus, yang layak untuk jadi tempat perberhentian kendaraan yang orang-orangnya ingin menikmati pemandangan yang indah itu.

Yah, pemandangan indah memang bisa memukau, tapi juga bisa mencelakakan. Dalam hidup kita, sering terlihat pemandangan yang indah dan membuat kita ingin berhenti untuk menikmatinya, mengecapnya, menyimpannya, tapi sialnya kalau itu tidak di tempat yang tepat, tidak jarang pemandangan itu membahayakan kita. Apa berarti kita gak boleh menikmati pemandangan indah yang ada di sekeliling kita? Wah, jangan, indah kan berarti untuk dinikmati, tapi musti tahu tempat dan waktu, dan musti kontrol diri kali ya, supaya pemandangan itu memang tetap indah tapi gak bikin celaka (hei hei...gimana nih kamu? masih suka ngeliat yang indah2 kan..? aku juga kok!)

15.6.05

Sahabat

Ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara
(Amsal 18:24)
Selama persiapan perkawinan adikku, dan bersamaan dengan masa-masa kritis Ema’ di rumah sakit (yang berakhir dengan dipanggil pergi beliau ke hadirat yang Kuasa), aku belajar banyak tentang Amsal 18:24 itu.

Saudara memang punya hubungan darah dengan kita, tapi tidak jarang, hubungan yang katanya tidak tergantikan itu hanya berhenti sampai disitu. Tak jarang, aku merasa sebuah hubungan yang begitu kental malah lebih banyak memberi kerumetan di otak ketimbang kelegaan. Saudara, dimana aku bayangkan akan selalu ada dalam suka dan duka, ternyata punya persepsi sendiri atas apa yang namanya hubungan persaudaraan. Sebuah perhatian persaudaraan punya bentuk yang berbeda, yang seringkali diwujudkan dalam tuntutan-tuntutan atas nama persaudaraan. Aneh ya. Ketika begitu banyak hal yang seharusnya bisa dirasakan lebih ringan karena dipikul bersama, justru terasa lebih berat karena semakin banyak saudara kok rasanya semakin banyak beban yang harus dipikul.

Di lain pihak, sahabat yang tidak terduga datang disaat-saat sulit. Mereka yang tidak punya hubungan darah, mereka yang dikenal karena pertemuan di satu titik, ternyata sering kali selalu ada dalam suka dan duka. Para sahabat yang siap mendukung kita, dan tidak segan memberikan uluran tangan dalam kondisi apapun. Mereka ini, sahabat ini, kadang muncul dari tempat-tempat tidak terduga.

Buat aku sendiri, aku bersyukur atas sahabat-sahabat yang ada di sekitarku, dari sahabat lama maupun sahabat baru. Tanpa mereka, rasanya sulit bisa melewati banyak hal yang terjadi selama ini. Betul banget kalau ditulis kayak gini: ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara. Kamu sendiri gimana?

6.6.05

Tamat

Berakhir. Selesai. Udahan.

AKHIRNYA!

Cuman itu yang bisa aku bilang. Capek-capek, kekesalan, terbayar juga sih waktu liat Kris dan Lidya di pemberkatan hari Sabtu. Jangan tanya tentang resepsi adat yang rame, hingar bingar itu. Jangan tanya juga tentang resepsi satunya lagi, untuk rekan-rekan kerja. Semua sudah selesai. Mudah-mudahan aja bisa segera upload foto.
Satu pelajaran berharga yang mudah2an bisa aku tulis lebih di waktu nanti adalah
...Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara...

Hal lain yang juga mulai berakhir adalah, aku mulai bisa tidak menangis kalau ingat Ema’. Walaupun belum bisa nonton hal-hal yang sangat sangat Ema’. Kalau yang itu memang masih berat. Aku bahagia saja, bisa punya kenangan yang begitu indah. Aku sudah bisa lebih banyak merasa bersyukur bisa dapat kesempatan mengenal beliau.

Sebuah akhir, kata orang sering kali menjadi awal sesuatu yang lain. Apa iya ya?

3.6.05

Selamat jalan Ema'

Sulit untuk menghentikan air mata yang terus turun, setiap saat aku mengingatnya. Rentang waktu aku mengenalnya tidak terlalu lama (dan sebetulnya tidak singkat-singkat pisan), begitu banyak hal yang aku dapat dan begitu berbekas. Aku hanya bisa bersyukur aku sempat mengenalnya. Ema' telah membuat aku kembali melihat sebuah sosok ibu yang mengagumkan. Aku berharap dia diberi kekuatan untuk melanjutkan apa yang ada di hadapannya.

2.6.05

Mengharap Senin

Banyak orang gak suka hari Senin, tapi aku sedang tidak sabar menunggu hari Senin. Sangat tidak sabar. Hari dimana semuanya berakhir. Apapun itu hasilnya, aku tidak begitu perduli. Tiba di hari Senin pagi, itu yang aku tunggu.

Psssttt...tapi aku sangat sangat kuatir, kalau ternyata ada beberapa hal lain yang juga akan tiba di titik akhir. Sedih, takut dan rasanya hal itu lebih membuat aku senewen ketimbang apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan ini. Apa ini memang jawabannya? Semua harus segera berakhir?

30.5.05

Gundah

Kenapa ya orang bisa kena stroke?

Mudah-mudahan ibunda Abang bisa segera siuman dan sembuh.

25.5.05

Kawin Yok


Persiapan sebuah pernikahan (secara hukum sih harusnya disebut perkawinan, karena kita punyanya UU Perkawinan dan bukan UU Pernikahan) memang selalu bikin pusing. Setelah mengalah dan berdiam diri, akhirnya aku menjadi "tertutuk" juga. Semakin dekat ke hari H (sekarang sudah tinggal 10 hari lagi) semua orang semakin senewen.

Aku tidak mengerti, kalau sebuah pernikahan adalah satu momen bahagia, kenapa begitu banyak air mata yang harus keluar?

Aku juga tidak begitu mengerti, kenapa berbagi kebahagiaan dengan orang lain kok malah seperti memberi berbagai kepusingan ke pihak yang katanya berbahagia.

Aku sering heran, melihat orang berbuat apa saja untuk sebuah pesta pernikahan supaya bisa megah, besar, mentereng dan hal-hal yang seperti itu.

Tapi memang sulit ya, apalagi kalau sudah berhubungan dengan orang tua. Banyak orang bilang, resepsi pernikahan memang bukan acara mempelai tapi justru orang tua mempelai.

Biasalah, menjelang H-7 banyak deadline menunggu, banyak tagihan yang harus dilunasi, banyak hal yang harus di re-confirm. Orang-orang mulai menghujani dengan berbagai peringatan seperti: hati-hati sama katering, suka ada yang nakal dan nilep makanan (haaaa??), hati hati nanti urusan kotak uang suka hilang, hati-hati ini, hati-hati itu. Edan. Bikin tambah panik orangtua padahal maksudnya membantu. Memang susah, batas antara membantu dan bikin pusing itu memang tipis.

Atau, ada yang punya tips dan trik, "hati-hati" yang lain, juga nasihat-nasihat tentang apa-apa saja yang harus diperhatikan nih untuk acara pemberkatan atau resepsi?
ps: it's my lil' brother's wedding, aku...hanya bertindak sebagai kakak...ikut membantu :)

21.5.05

7 Jam Medan-Tarutung

Duh, ternyata perjalanan ke Medan-Tarutung begitu melelahkan.

Waktu sampai di Medan, cuaca di atas buruk banget. Deg-degan juga, soalnya awannya hitam gitu. Agak agak gonjang ganjing, tapi gak terlalu parah sih. Pilotnya sih cukup andallah, wong pas mendarat gak terlalu berasa kok.

Seperti biasa, suasana garing terjadi. Mau turun pesawat aja kayak orang paling sibuk dan paling musti cepet banget deh. Pesawat masih mau parkir, di luar hujan deras banget, tapi orang-orang udah berebut keluar. Mereka kepikir gak sih, tokh mereka juga musti nunggu bagasi mereka kan?

Hari pertama, aku dan Kris adikku jalan-jalan ke Sun Plaza, mall-nya Medan yang baru deh kayaknya, soalnya terakhir kesini belum ada tuh. Pengen makan, kelaperan berat. Kebayang-bayang saladnya Pizza Hut. Begitu masuk, Aku langsung nanya ke satpam aja, apa ada Pizza Hut, soalnya kayaknya ada papannya sih di luar gedung. Eh, si satpam malah bengong. Dia nanya kalau mau makan di lt. 4, di food court saja. Duh, aku agak tidak terlalu suka makan di food court, gak nyaman. Aku coba jelasin ulang, kalau aku cari tempat makan, resto atau apapun tapi jangan food court. Eh, malah dia nunjukkin Starbuck dan Expresso Café sebagai tempat makan. Aku bengong, dan bilang ke Pak Satpam, wah itu mah tempat ngopi. Eh, itu Satpam tidak terima, dia langsung ngebales, katanya disitu juga bisa makan dengan tentu saja memberi pandangan "duh kasian deh elu" ke aku. Duh, nyerah deh, Pak Saptam memang bener, tapi duh, aku gak terima gitu penjelasan dia. Ya sudahlah, aku dan Kris milih ke Texas aja, paling deket, tokh ada sop kacang merah yang aku suka, walopun nasinya super duper keras. Ternyata oh ternyata Pizza Hut tidak jauh dari tempat aku nanya loh! Kesel banget dan nyesel banget tadi tidak mau jalan sedikit lebih jauh karena udah kelaperannya. Biar udah makan, tetep deh aku beli saladnya.

Itu di malam minggu. Besoknya aku kesana lagi ama papi yang baru dateng dan mami yang semangat 45 karena penyandang dana sudah datang. Aku ngeliat Spice Garden yang biasa ada di Sogo. Semangat banget dong, wong aku doyan banget ama baso-baso-an yang suka ada di Spice Garden. Tapi kejutan lain menanti, ternyata disini mah sistemnya musti mesen gitu deh, gak ambil sendiri. Dan para pelayannya itu terlalu semangat 45 untuk nawarin dagangannya. Mengganggu banget.Yah, sebetulnya sih mungkin gak ganggu-ganggu amat ya, cuman Aku gak biasa. Aku udah punya gambaran musti kayak gimana tempat itu tuh, jadinya shock aja pas tidak sesuai dengan gambaran yang ada di otak.

Duh, entah kenapa ya, Aku selalu aja ngerasa musti ribut-ribut ama pelayanan selama di Medan. Rasanya ada ada aja cacatnya deh. Bisa jadi karena dari aku-nya sendiri udah kayak gitu ya, udah antipati duluan. Kalau dulu-dulu sih aku suka santai aja, masih dengan senyum. Tapi perjalanan kali ini, semua emang udah dicemberutin duluan deh apalagi kalo udah lelet atau bego. Cuman, kalo udah diduluin ama senyum suka luluh sih.

Entah karena apa, aku juga sakit-sakitan selama disini. Perut sakit mulu. Badan meriang. Kepala pusing. Bawaannya pengen muntah mulu. Kacau deh. Udah makan mylanta. Udah minum calcium sandoz. Udah minum susu (walaupun bikin kembung). Napsu makan jelek.

Image Balige dengan background Danau TobaUntungnya perjalanan Medan-Tarutung begitu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Memang aku sangat menyukai perjalanan keluar Medan. Terutama setelah mulai mendekatan Siantar, perjalanan ditengah-tengah perkebunan. Hanya saja kali ini, aku tidak mampir di Bandar, tempat nenekku, tapi langsung ke Siantar. Tadinya mau makan pangsit di sana, tapi akhirnya malah makan di lapo (makan pangsitnya dalam perjalanan pulang ke Medan). Apalagi penggalan di sekitar Danau Toba, di daerah Prapat. Sangat indah. Beneran deh. Aku selalu suka melihat Danau Toba, Samosir, dan monyet-monyet yang berkeliaran di pinggir jalan. Sempat berhenti sebentar di Sipanganbolon untuk melihat tempat kelahiran ayahku (selama ini dia tahunya lahir Prapat, sampai beberapa waktu lalu jelaslah kalau dia lahir agak sedikit di “sebelahnya” Prapat). Perjalanan di daerah Balige juga selalu menyenangkan (walaupun lebih menyenangkan dari arah Tarutung ke Prapat dari sebaliknya, soalnya bisa lihat Danau Toba). Beneran deh, perjalanan 7 jam Medan-Tarutung itu tidak terasa. Foto dan rekaman video sih banyak, tapi belum sempet diulik, masih didiemin di kartu memori. Tunggu saja tanggal mainnya, nanti aku upload di yahoo, kok.

Pagi di Tarutung-dari depan kamarTarutung juga ternyata sangat menyenangkan. Kota kecil yang adem yang cenderung dingin, berkabut dengan gerimis di pagi hari. Dibilang romantis…bisa bisa, tapi kalau inget itu kota Batak, agak susah ya buat aku untuk membayangkan sesuatu romantis. Kekekekekek. Seandainya saja ada sepeda, pasti asik deh untuk puter-puter kota. Sayang, gak terlalu bisa dilakukan, karena persiapan acara martupol. Satu hal, begitu di Tarutung, pelan-pelan sakit perutnya sih berkurang. Atau jangan-jangan aku sakit kepikiran martupol ya? Padahal yang martupol itu adikku loh.

Cerita tentang martupolnya entar ya, butuh energi sendiri.

Sekarang, aku sudah di Bandung, oleh-oleh kacang tarutung sudah menipis (maaf buat yang mau, mudah2an nanti masih bisa disimpen deh). Cape sudah hilang, tapi mood berlibur masih tinggi. Makanya, baru mulai ulik komputer dan kerja nih. Utang kerjaan numpuk…

9.5.05

AWAir, Medan


Sudah lama sekali aku tidak harus masuk ke terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan domestik yang aku lakukan hampir selalu take off dari terminal 2. Rasanya terakhir kali aku terbang via terminal 1 itu hampir 3 tahun yang lalu, di pertengahan tahun 2002. Tiga tahun yang cukup membuat aku lupa betapa semrawut, kumuh dan sesaknya terminal 1. Entah kenapa, terminal 1 seperti anak tiri saja. Menurutku, karena terminal 1 identik dengan penerbangan domestik (dan terminal 2 dengan penerbangan internasional walaupun ada beberapa penerbangan domestik dari maskapai tertentu terbang dari terminal 2) seharusnya pihak Angkasa Putra justru lebih memperhatikan kualitasnya. Bukankah kita harus terlebih dahulu memperhatikan dan menjamin keamanan, keselamatan dan tentu saja kenyamanan kawan sebangsa? Sayangnya di negara ini segala sesuatu memang sering terbalik-balik.

Kalau di terminal 1, kita bisa menunggu orang sebelum masuk ke terminal dengan suasana (agak) adem karena pendingin ruangan, di terminal 1 silahkan berpanas-panas. Begitu masuk ke dalam, langsung dihadapkan oleh sejejeran loket untuk check in yang sudah pasti penuh sesak, dan duh, suka bikin miris, tapi kenapa sih orang-orang ini sangat sulit untuk MENGANTRI? Masih mending kalau bawaannya hanya sebuah koper tenteng, ini sih biasanya bawaannya segudang. Yah, sama aja sih dengan bawaannku saat itu, untuk 5 orang, plus dus-dus berisi undangan untuk dibagikan alias disebar di Medan dan sekitarnya. Pelayanan yang ajaib, dan astaganaga, ternyata satu orang hanya punya jatah 15 kilogram, Duh, nasih oh nasib tiket murah, terbiasa dimanja dengan jatah tiket 20 kg (dan kadang masih suka lebih), kaget juga dengan batas yang "hanya" 15 kg. Terpaksalah aku check-in kan ayahku yang sebetulnya tidak jadi berangkat, lumayan kan ada esktra 15 kilogram, walaupun tiket sih tetap angus, karena kan gak jadi berangkat.

Tapi satu hal yang bikin aku kaget, ternyata tidak ada nomor seat! Astaganaga. Istilah si dia sih Free-Seating. Kalau di luar Jawa, apalagi di tempat-tempat terpencil yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat-pesawat kecil sih aku bisa mengerti. Tapi ini terjadi di Bandara Soekarno Hatta, di pesawat Awair dalam perjalanan Jakarta-Medan.

Pertanda-oh pertanda. Aku memang enggan banget untuk berangkat. Maklum biar darah batak mengalir deras di dalam tubuhku ini, tapi kalau sudah giliran berkunjung kesana, aku selalu saja mengalami culture shock. Darahku memang batak, darah dari oang tua, tapi cara hidupku sudah terlalu Sunda, begitu teman-temanku bilang, jadi aku suka kerepotan, terkaget-kaget dan canggung di lingkungan keluarga sendiri. Jangan salah, sampai sekarang, aku tetap bilang "pulang" kalo di tanya tentang kepergianku ke Bandar Parmonangan, Siantar, daerah asal ayahku, tapi untuk menginjakan kaki di Medan selalu membuat aku mual-mual. Sayangnya aku harus menghabiskan beberapa hari di Medan sebelum berangkat ke Tarutung. Mudah-mudahan bisa bertahan, soalnya aku sangat menikmati kampung halamanku itu, di luar Medannya ya. Aku senang sekali bisa ada di kampung di Siantar, bisa jalan-jalan ke Prapat dan Samosir untuk main ke Tolping dan daerah-daerah lain di luar Medan deh.

Hmmm, sekarang aku masih menunggu di ruang boarding. Mudah-mudahan saja tidak ada penundaan keberangkatan. Aku ingin segera sampai, bukan karena begitu ingin tiba di Medan (itu mah malah bikin tambah males, karena aku harus -lagi lagi- menginap di Hotel Danau Toba, hotel yang sangat tidak aku suka dan hotel yang paling ajaib yang pernah aku temukan, tapi karena banyak hal tetap harus aku tinggali selama beberapa hari ke depan), tapi aku ingin segera bisa istirahat, tidur atau berenang disana.

OK, deh, hanya semingguan lebih kok, demi adik tersayang…

(ps: penulisan memang di ruang boarding, tapi usaha untuk upload dilakukan malam-malam di kamar hotel)

7.5.05

Rapel

Tidak terasa, tiga minggu sudah setelah peristiwa byar pret di rumah. Waktu itu, rasanya ada banyak sekali yang ingin ditulis. Tapi akhirnya, sejalan dengan waktu, semuanya tidak ada yang tertulis.

Begitu juga dengan perjalanan ke Jakarta. Ada banyak cerita. Ada banyak kekesalan tapi juga kegembiraan. Melihat rumah baru Vera, setelah sekian tahun berumah tangga dan berdomisili di Bandung, akhirnya harus dengan dengan senang hati mengharuskan diri untuk pindah ke Jakarta. Memasuki rumah baru, memulai hidup baru, beradaptasi lagi. Tapi bener loh, Ver, Ale itu jauh lebih cerewet setelah di Kalimalang ketimbang waktu masih di Gerlong. Untung saja rumahnya dekat dari rumahku, untuk ukuran Jakarta, aku bisa sampai ke rumah Vera hanya dalam waktu kurang lebih 10 menit jelas bukti kedekatan dong.

Aku juga bisa ke Bakoel Koffie, yang ternyata baru direnovasi, jadi ada ruangan kecil untuk para penikmat asap bebas rokok, yang sayangnya dingin banget. Ngobrol di ruangan itu harus agak jaga diri, soalnya bergema bo! Obrolannya? Super duper seru ya Lus, dan juga sama serunya dengan obrolan tadi sore di Oh La La (kok bisa sepikiran gitu sih?).

Kembali menyetir Jakarta-Bandung. Tidak, aku tidak lewat Tol Cipularang, walaupun konon lewat tol yang satu itu, perjalanan Bandung - Jakarta jadi hanya 1,5 jam sajah, itu pun tidak perlu kekebutan, perjalanan biasa (tentu jangan dihitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari pintu tol, atau betul-betul tiba di Jakarta Pusat misalnya). Bukan apa-apa, konon tingkat kecelakaan di jalan tol baru itu masih tinggi, Ada beberapa penyebab, karena memang jalan mulus bikin orang lupa diri (sebagaimana hidup yang terlalu mulus dan lurus juga bisa bikin orang lupa diri) dan juga karena jalan tol itu sendiri memang belum sempurna, masih dalam tahap uji coba, jadi jangan heran dong kalau masih ada ruas ruas jalan yang masih dalam tahap pengerjaan.

Terus selama seminggu masa UTS, aku malah menikmati hal-hal yang sudah lama tidak aku lakukan, soalnya sudah ada abang nih, hehehe. Ngobrol dan nongkrong di Potluck lagi (eh, beberapa kali mendapati tempat itu dengan suasana kayak jaman dulu, duh, enak banget deh), kukurilingan gak jelas yang menyenangkan. Lihat-lihat buku baru, lihat-lihat baju baru, lihat-lihat tas baru. Sayangnya betul-betul lihat-lihat nih.

Sayangnya aku sudah di Jakarta lagi. Dalam perjalanan ke Medan dan terus mau ke Tarutung. Apa semingguan ini masih bisa curi-curi internet-an ya?

28.4.05

Gak Dijadwal Tuh

Di Bakoel Koepi Cikini, tempat favorit untuk nongkrong dengan tenang, aku dan Lusi sampai ke obrolan soal jadwal. Kami berdua sama-sama sulit mengontrol esmosi kalau sudah berhubungan dengan perubahan jadwal.

Aku musti mengakui, sikap seperti ini terkadang terlalu mengada-ada, cuman sulit sekali berubah. Jadwal yang berubah gara-gara suatu hal kecil, entah harus mengantar orang, entah karena menunggu orang tidak kunjung tiba, entah karena hambatan lain, bisa membuat aku uring-uringan, padahal bisa jadi kegiatan setelah itu "hanya" mau jalan-jalan ke toko buku *itu juga gak penting-penting amat, tidak ada yang mau dibeli secara khusus, hanya mau liat-liat dong*. Padahal memang sih, setelah itu aku masih bisa tetep ke toko buku, tapi biasanya malah gak jadi cuman gara-gara suasana hati, sudah berubah! Kesal sekali. Bahkan terkadang, perubahan itu hanya sekedar mundur 5 menit, apalagi kalau ternyata perubahan itu gara-gara diri sendiri. Misalnya mau bangun jam 6 tiba-tiba bangun jam 7, bukannya mempercepat persiapan, malah jadi kesel dan biasanya jadi lebih terlambat.

Untungnya ternyata, menurut aku dan Lusi, itu berarti gak aneh-aneh banget. Karena setidaknya aku tidak sendiri, Lusi juga kan *pembenaran...pembenaran*. O ya, buat aku itu juga tidak terbatas pada waktu, perubahan ini juga perubahan pada alat bantu. Misalnya, aku sudah membayangkan bekerja di kamarku dengan komputerku, biasanya kalau ada gangguan, biarpun bisa kerja di tempat lain, pakai komputer/ laptop lain, aku sudah uring-uringan duluan. Aku sudah membayangkan pakai baju yang biru, tiba-tiba tercuci tidak sengaja, walaupun ada baju-baju lain, itu juga bisa bikin uring-uringan.

Dan, seminggu ini, begitu banyak hal yang membuat aku uring-uringan karena semua orang tampak bersengkongkol untuk membuat aku kesal.

Dipikir-pikir... kelakuanku cukup sakit juga ding. Jadi, ati-ati aja untuk bikin perubahan dengan aku, entar mengaum lagi...AUUUMMM...

Lihat saja tulisanku yang lain, yang berhubungan dengan jadwal

ps: listrik lancar, berkat omelan-omelan tiada henti ke PLN pusat di Bandung, jadi sekarang sudah bisa menikmati kamar di Bandung yang nyaman ini,

27.4.05

Jakarta

Sejak Sabtu aku harus ke Jakarta. Penyebabnya adalah ayahku yang tiba-tiba meminta aku ke Jakarta untuk membantu dia mengerjakan beberapa hal. Ya sudahlah, tokh perkuliahan sedang libur karena masa UTS.
Karena itu, jadi jarang cek email, jarang nulis blog atau kegiatan berhubungan dengan komputer dan internet. Ada sih laptop dan line telepon, tapi kalo sudah di Jakarta itu berarti tugas. Kalau tugas dari ayahku sudah beres, tugas lain mengantri. Sebagian besar bertitel supir. Mengantar orang-orang rumah khususnya ayah dan ibuku dengan jadwal yang bikin berdecak keherananan. Walhasil, aku selalu harus kesana kesini. Tapi tetep dong, harus berhasil ketemu temen-temen. Ngotot tetep ke rumah baru-mungil-fresh Vera dan juga sudah pasti ketemu Lusi dong! Hasil obrolan dan jalan-jalannya? Nanti dong...
Cuman, sebelnya di Jakarta, kantong tong pes gara-gara beli buku. Itu namanya resiko mampir ke Kinokuniya PS dan Gramedia Matraman. Selamat tinggal tiket Boys II Men yang semakin jauh dari pelupuk mata *hiks*.
ps: kata adik-adikku listrik di rumah masih "aliran" kekekekek

21.4.05

Byar Pet!

SEBEL!!!!

Listrik di rumah sudah seminggu ini byar pret. Tepatnya di lantai atas!

Sudah dibetulkan, bayar 100 ribu hanya untuk cek kabel, tapi setiap hari, baru dinyalain barang 20 menit-an langsung mati. Ada beberapa tulisan yang disimpan di komputer di kamar, belum sempet dipindah!

Kesal...

Mau protes ama PLN? Katanya sih itu sudah tanggungjawab yang punya rumah. Masa sih masih tanggung jawab, kalo katanya petugas PLN yang dibayar terlalu mahal itu sudah turun tangan tapi masih saja byar pret. Pas ditelepon balik, ada ada saja alasannya *tadi akhirnya datang, tapi lagi-lagi hanya memberi solusi sementara*. Mana besok hari libur pula, alamat baru Senin si dia sang petugas PLN kembali.

Kayaknya malam ini, boyongan sajalah. Komputer mau ta' pindah ke lantai bawah. Ribet sih, tapi gak tahan deh, sudah beberapa hari tidak bisa "menggauli" komputer. Kerjaan tertumpuk. Email bertumpuk. Huh. Inilah resiko manusia yang kecanduan komputer dan internet.

Arrgggkhhh...

Ada yang mau bantu gak menyelesaikan masalah listrik yang nyebelin ini? Sumpah deh, gak enak banget ngetik di warnet (maklum biasa hablay kalo ngetik di rumah, dan di kamar kan segala ada).

*maaf ya buat semua, pengen banget blogwalking, tapi yak ampun, gak bisa!*

16.4.05

Niat Pisan!

Niat tinggal niat. Memang susah ya kalo punya niat. Ada-ada saja godaannya. Inget jaman bikin skripsi/ TA atau tugas apapun. Begitu ada niat mau dikerjakan, tiba-tiba saja seluruh acara tivi yang katanya garing-tidak-jelas-sarupaning-sisinetronan itu menjadi sangat menarik. Begitu di depan komputer untuk ngetik, tiba-tiba saja permainan standar yang biasanya membosankan tampak menarik perhatian dan mampu menghabiskan waktu berjam-jam di bermain.

Duh, niat oh niat!iya, janji deh...janji...

Niat mau lebih hemat. Niat mau lebih sabar menyetir. Niat mau bangun pagi *wah yang ini apalagi, betul-betul niat seribu niat deh*. Wah, yang namanya niat, semua orang pasti punya niat ini dan itu deh.

Aku, niat untuk ngurangin ngemil. Enggak, gak muluk-muluk untuk niat nguranin makan, cuman ngurangin ngemil *gak tau kenapa, keinginan makan yang manis-manis lagi kenceng banget*. Gilanya, dari yang tadinya paling ngemil coklat setelah makan *biasa nih, kalau habis makan, pasti cari yang manis-manis, walopun hanya segigit coklat, rasanya pas banget deh* setelah punya niat mau ngurangin ngemil, malahan jadi terus menerus pengen ngemil. Aduh, ampun deh. Niatnya sih mau banyakin makan buah. Eh, ada-ada aja pembenarannya. Biarpun sudah dibeliin jeruk *duh, enakan di peras daripada dimakan*, dibeliin belimbing *itu kan punya mami-padahal biasanya aku embat loh!*, dibeliin pisang *pisang-pisang impor itu manisnya emang basa basi, gak enak*, sampe pir *hih, bukan yang jenis ini yang aku suka*, aku malah merajuk karena gak dibeliin plum *lagi suka banget, tapi mahal ya bo!*. Walhasil, aku malah bikin kue sendiri, demi memenuhi keinginan ngemil.buah yummie

Setidaknya ada dua niat yang berhasil aku lakuin minggu ini. Satu, niat yang belum ingin aku sebarluaskan, nanti deh ya. Niat lain itu, niat untuk fitnes yang sudah ada sejak setahun lalu, akhirnya (iya akhirnya!!!) bisa dilakuin.

Serius, aneh banget, kalau udah niat, justru godaan yang tadinya tidak tampak (atau tidak jadi godaan), malah kayaknya jadi tambah banyak dan tambah kuat ya.

Kayak sekarang lagi kangen banget, tapi udah niat, jangan terlalu banyak telepon, nanti kalau tagihan Xplore-nya datang kan panik...tapi susah banget...kangen oh kangen....eh, salah ya, niat oh niat...

11.4.05

lagu manis untuk nona manis

Judulnya gak kuku banget ya? Maaf maaf saja ya, soalnya gak tau kenapa aku tiba-tiba tertohok banget dengan satu lagu ini, lagu lama yang dulu dinyanyikan Utha Likumahua, terus dinyanyikan ulang oleh Glenn. Kayaknya, kalau lagi mellow, pas banget deh dikasih lagu ini. Mau minta ah di drive and jive...diputerin gak Nik?

Wajahmu kupandang dengan gemas
Mengapa air mata selalu ada dipipimu
Hai nona manis biarkanlah bumi berputar
Menurut kehendak yang Kuasa

Apalah artinya sebuah derita
Bila kau yakin itu pasti akan berlalu
Hai nona manis biarkanlah bumi berputar
Menurut kehendak yang Kuasa

Chorus:
Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat
Tapi takdir kan tidak selalu sama
Coba dan cobalah tinggalkan sejenak anganmu
Esok kan masih ada, esok kan masih ada

Sebelnya, aku lupa gimana menyanyikan bagian dua baris pertama-nya. Sama ya dengan dua baris terakhir? Tolongin dong, biar gak penasaran nih.