17.12.04

Berkenalan


Berkenalan dengan orang baru selalu menyenangkan buat aku. Rasanya mendapat kesempatan mengenal orang baru selalu menarik. Makanya, aku selalu bersemangat masuk kelas baru di sekolah jaman SD sampai kuliah. Biasanya aku mencoba membayangkan orang-orang yang akan aku temui. Ketika harus sekolah di tempat baru, di negara baru, justru aku tidak ingin tahu siapa rekan senegaraku, dan aku juga menghindari informasi awal tentang orang-orang yang akan menjadi rekan serumahku. Untuk aku, unsur ketidaktahuan itu menarik sekali. Membuat aku mereka-reka wujud (cie cie) orang tersebut. Aku juga merasa, berkenalan dengan orang baru itu seperti diberi kesempatan untuk jadi kertas baru yang masih polos untuk ditulisi, digambari, dicoret-coret oleh aku dan orang baru itu bersama-sama. Apalagi untuk kasus terakhir yang aku tulis, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak mengenal orang-orang yang aku kenal di kampung halaman (lupakan dulu teori six degree deh), dan bahkan tidak mengenal Indonesia, negaraku. Asik tidak asik deh, soalnya kalau di Bandung nih, biasanya biarpun ketemu orang baru, biasanya ternyata temennya temanlah, adiknya temenlah, pokoknya semakin membuktikan teori six degree, dan dengan demikian aib-aibku jelas tidak bisa ditutupi dulu kan. Kekekek.

Terkadang, pada waktu kita berkenalan dengan orang lain, kita punya kesempatan untuk dapat "kisi-kisi" tentang orang itu. Pernah, kan, diterima di kantor baru, dan sibuk cari informasi tentang orang-orang di kantor itu, dan terutama informasi tentang calon bos baru? Contoh lain kalau kamu mau ambil kelas les bahasa biasanya suka cari tahu tentang guru yang bakal mengajar juga, kan. Apalagi kalau urusan "gebetan", ini sih gak ada duanya untuk mengorek informasi. Jaman kuliah tuh, kalau kebetulan beda kelas atau jurusan, pasti sibuk cari jadwal kuliahnya dia, kemudian disusul cari kesukaannya, ketidaksukaannya dan seterusnya dan seterusnya. Rasanya, tiba-tiba aku merasa, orang kalau lagi jatuh cinta punya bakat jadi intel nomor satu, deh.

Herannya, aku suka merasa, terkadang informasi yang diberikan itu kok tidak berhubungan dengan orang yang ingin kita cari informasinya (aduh, kalau ada editor, ini kalimat pasti sudah dibabat). Informasi yang gak perlu. Wah, ini nih, si jeprut, bapaknya itu bos perusahaan keren itu, si jeprutnya sendiri sekarang udah jadi manajer para orang, rumahnya itu di kompleks impian, ibunya itu orang yang sangat sosial saking seringnya bersosialisasi di tempat tempat yang gemerlap dan seterusnya dan seterusnya. Haaaa...terus apa hubungannya? Kalau aku, lebih ingin tahu, terus si jeprut sukanya apa, tidak sukanya apa, kalau lagi bosen suka ngapain, kalau makan suka makan dimana, kalau baca buku milih buku apa dan seterusnya. Aku lebih memilih apa yang ada di dalam otak atau hati si jeprut. Soalnya aku sungguh-sungguh tidak melihat hubungan antara seluruh informasi a la majalah dan koran gosip itu dengan sosok si jeprut, selain sebagai bonus tambahan. Maaf-maaf saja deh.

Heran juga ya, kalau aku mau dikenalkan orang, kira-kira seperti apa ya? Oh, si Melly ya? Orangnya itu.....cerewet banget. Hahahaha. Gak apa apa, itu kenyataan sih.

Salon


salonSekarang, salon itu bukan hanya tempat yang dimonopoli perempuan. Bukan saja pegawainya yang tidak melulu perempuan (walaupun juga bukan berarti "laki-laki"), pengunjungnya pun tidak melulu perempuan. Katanya sih, sekarang itu sudah ada laki laki metroseksual. Duh, apa pula itu. Terserah deh, buat aku tidak masalah kok laki-laki pergi ke salon, entah buat potong rambut, creambath (walaupun, aku agak heran kalau rambut laki-laki itu cepak, duh, mendingan aku creambath-in deh, serius), dan bahkan pedicure, menicure. Khusus yang terakhir, rasanya aku saja tidak pernah melakukannya di salon, tapi kalau ada laki-laki yang suka melakukan itu di salon, ya terserah. Aku, senang saja mengurus kuku tangan dan kuku kakiku sendiri kalau sedang ada waktu senggang. Kegiatan yang rekreatif, soalnya.

Waktu kecil sih, pemotong rambut terbaikku adalah ibuku. Membuat aku juga bercita-cita nanti harus bisa motong rambut anakku sendiri, biar hemat juga sih. Kekekek. Kenal sih sama yang namanya salon sebagai tempat dimana ibuku pergi untuk sanggulan dan aku harus menunggu lama. Membosankan. Kemudian, aku mulai mengenal salon untuk di-creambath. Satu kegiatan yang sangat aku suka. Ada masa-masa aku rutin berkunjung ke salon untuk perawatan rambut. Dipikir-pikir, bisa juga aku nabung untuk creambath ya. Kemudian aku mulai suka mewarnai rambutku. Tidak sering, yah, sampai detik ini palingan baru 4 atau 5 kali-lah. Pernah warna yang cukup nge-jreng, tapi pernah juga warna yang cukup aman.

Untuk urusan potong rambut, ini yang lebih merepotkan. Creambath bisa dimana saja, walaupun ada tempat yang menyenangkan tapi mahal, ada tempat yang pijatannya bikin kepala malah tambah pusing. Mewarna rambut, tidak terlalu sering aku lakukan, sangat insidentil. Tapi potong rambut itu penting mencari tempat yang paling pas. Bisa gawat urusannya, kalau sampai ada cerita salah potong. Awalnya, tukang potong rambutku itu bekerja di sebuah salon murah meriah dekat rumahku. Sayangnya, dia kemudian keluar, setelah bertahun-tahun aku jadi pelanggannya. Sempat dia memberi alamat baru, tapi ternyata dia sudah terlanjur keluar dari alamat barunya itu. Akhirnya, aku ikut tukang potong rambut adik dan ibuku. Soalnya rambutku ini agak unik, jadi kalau tukang potong tidak ngerti bahwa rambutku yang tebal-tapi teksturnya tipis-dengan-gelombang-yang-mudah-dibikin-lurus ini butuh perhatian ekstra waktu dipotong. Untunglah sekarang ada Dadang dan Dindin yang aku percaya. Lucunya, kalau Dadang tidak suka aku memotong pendek rambutku, kalau Dindin sih, lebih fleksibel dengan keinginanku. Sekitar Juli lalu, aku mau potong rambut. Untung Dadang tidak ada, jadi aku dipegang oleh Dindin. Senang, karena Dindin tidak protes waktu aku mau memotong rambut panjangku yang tinggal sejengkal dari pinggang itu langsung sependek anak laki-laki! Kan jadi lebih segar (walaupun yang protes juga tidak sedikit). Satu hal yang aku suka, potongan rambut mereka ini, malah lebih bagus setelah sebulan dua bulan, setelah lama dipotong. Ada, kan tukang potong yang membuat rambut kita begitu bagus waktu di salon, tapi, pas harus cuci rambut sendiri modelnya malah berantakan. Atau, belum terlalu lama, kamu harus potong rambut lagi untuk dirapihkan. Huh.

Kemarin, aku dan Ratna potong rambut. Eh, sebetulnya sih cuman dirapihkan. Efeknya sih tidak banyak, tapi lumayan segarlah.

Karena mereka berdua yang punya salon, jadi gak mungkin tiba-tiba pindah kerja lagi, kan. Mudah-mudahan. Repot juga sih cari tukang potong rambut itu. Enak adik laki-lakiku, mereka udunan beli alat cukur rambut, dan kalau mau potong, tinggal saling tolong dicukurkan. Simpel. Mmm, tapi...enggak ah, aku senang bisa gonta genti model rambut!