15.12.04

Efek Demam

Enggak lagi-lagi makan obat. Malah gak bisa tidur, dan malah ngoprek gambar yang hasilnya....aduh-aduh...aib banget. Biarinlah, nanti kan bisa diapus kalau diprotes.

Candu Obat

Pernah minum obat? Ada banyak macamnya. Ada obat pusing kepala yang bisa dibeli warung, sampai obat dari dokter spesialis yang harus pake resep dan harganya bikin pusing kepala. Rasanya hampir tidak mungkin kalau kita tidak pernah makan obat, ya?!

Aku tidak terlalu suka makan obat, apalagi antibiotik. Maklum, pemalas! Aku selalu lupa untuk makan obat antibiotik tersebut secara teratur. Untungnya, dokter keluargaku juga cukup anti obat, jadi biasanya dia lebih suka nyuruh istirahat, makan yang benar, palingan dikasih vitamin. Kalau belum sembuh juga, baru deh dikasih obat. Heran ya, masih ada dokter model kayak gini di jaman sekarang, padahal ijazahnya bisa bikin banyak orang terkagum-kagum, tapi dokter ini memang aneh, dia memilih berpraktek di tempat kumuh, dan resep dari dia itu biasanya ditebus dengan harga di bawah 20 ribu rupiah loh! Paling mahalpun masih dibawah 50 ribu rupiah.

Nah, terbiasa dengan dokter yang tidak suka membiarkan pasiennya bergantung pada obat, kami sekeluarga, kalau sakit, lebih suka ambil jalur istirahat-minum yang banyak-makan yang benar-makan buah. Sekali-kalinya ganti dokter dan dapat obat keras, aku malah tambah sakit, begitu juga adik-adikku dan orangtuaku.


ngobat yokSalah satu teman dekatku yang candu obat adalah Pawel. Berhubung istri orang Polandia satu ini (saat itu tunangannya) dokter, dia hapal sekali dengan segala macam obat-obatan, dan selalu punya "segudang" obat. Kalau butuh obat yang harus pakai resep, gampang, tinggal minta dari istrinya kan. Teman-temanku yang dari Cuba malah lebih canggih, hampir semuanya hapal obat melalui nama kimianya atau nama apanyalah, yang pasti bukan nama merek (biasanya kan aku ini lebih hapal nama merk daripada komposisi obat itu sendiri). Sebagian besar temanku yang anak dokter juga biasanya punya perlengkapan obat yang kumplit, dari obat pusing sampai obat pribadi.


Aku, biasanya paling banter selalu bawa norit dan decolgen (tuh kan, merk!) kemana-mana, plus vitamin. Sudah itu saja. Sebisa mungkin aku menghindari obat. Tapi sudah dari semalam, badanku hangat (padahal belum jadi hujan2an loh) dan tidak membaik. Sepanjang hari ini, badanku meriang dan tenggorokan aku tidak enak. Sepertinya, tidak ada jalan lain, aku harus minum obat dulu. Biasanya sih males, tapi ini juga salah satu warisan kebiasaan dengan abang, lebih baik ambil obat saja, mudah-mudahan besok terasa lebih segar.

Stiglitz


Globalization and Its DiscontentTernyata Selasa kemarin ada kuliah umum dari seorang Joseph E Stiglitz! Dia ini pemenang Nobel Ekonomi yang juga mengarang buku Globalization and Its Discontent (sayangnya, terbitan bahasa Indonesia yang diberi judul Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional, menurut aku, terburu-buru dilempar ke pasaran dengan kualitas terjemahan yang sangat buruk). Sebuah buku yang sangat menarik, dan yang pasti ditulis tidak dengan emosional tapi pakai analisis. Salah satu buku favoritku yang juga sudah hampir luluh lantak karena sering berpindah tangan dan tentu saja ditekan oleh mesin perbanyak dokumen. Kemarin itu antara lain dia bilang, lebih baik tidak punya sistem perdagangan global daripada memiliki sistem perdagangan yang tidak adil.

Seandainya saja aku punya kesempatan ikut kuliah umum itu! Sayang sekali ya, menurut Kompas, kursi di ruang seminar Hotel Hilton itu tidak terisi penuh, dan juga tidak dihadiri para pejabat yang seharusnya jadi target kuliah umumnya. Apa para pejabat itu terlalu sibuk atau memang sudah terlalu pintar untuk mendengar seorang Stiglitz ya?