12.12.04

Gajah Bernyanyi

Senang! Tiba-tiba terundang Sanggy buat datang ke acara syukuran kemenangannya ILE. ILE? IL ELEFANTE Organization (Chorale - Evento - Tournee). Ini kalau aku catut dari profile Sanggy di Friendster. Kaget juga pas tahu kompetisi yang mereka ikuti, soalnya, aku nyaris saja ikut dalam kompetisi yang sama tapi sebagai saingan mereka. Untunglah waktu itu aku terpaksa menolak tawaran temanku karena satu dan lain hal. Kalau saja sempat bertanding, walah, bisa-bisa ada perang besar.

Waktu acara makan siang, jelas saja aku tidak mengenal sebagian besar dari mereka. Aduh, sudah terlalu lama deh aku meninggalkan dunia nyanyi bernyanyi, apalagi yang chorale seperti ini. Acaranya santai, menyenangkan dan membuat aku tiba-tiba merasa kembali ke masa-masa sibuk bernyanyi dan berorganisasi (sampai mampus) di masa kuliah. Muka-muka teman-temanku juga belum banyak berubah kok.

Dari kantin barat laut matematika, kami berpindah ke Potluck. Ternyata, biarpun sudah lama tidak bertemu, kami punya tempat nongkrong yang sama. Heran juga kami tidak pernah bertemu di tempat itu. Biasa datang sendiri atau berdua, kali ini aku datang bergerombol dan langsung saja duduk di ruang dalam. Ada Wenk, Sanggy, Benar (tidak ada di foto, datangnya agak sore soalnya), Fufu, Yudoi, Rino, Christine, Kia, Jodi dan Eldi (pphhffff, gue diingetin banyak orang, sorry, Eldi, gak lagi-lagi!)

Seru sih, sebagai orang baru, yang sebetulnya tidak tahu apa-apa, aku harus mengejar cerita-cerita mereka di Bremen, terus waktu ikut FPS kemarin dan juga kompetisi terakhir itu, yang tentu saja mengambil porsi terbesar. Mendengar beberapa kisah klasik, kisah menyebalkan, kisah lucu, dan 1001 kisah lainnya.

Mereka ini, teman-teman yang pernah begitu dekat dengan aku. Selama sekian tahun, kami terpisah oleh jarak dan kesibukan (karena aku dan Sanggy sempat terpisah hanya beberapa ratus meter, karena kantor kami begitu berdekatan, tapi tetap saja tidak pernah bertemu satu sama lain). Aku yakin, kamu juga seperti itu. Ada teman-teman yang begitu dekat, tapi karena satu dan lain hal tidak pernah bertemu atau bahkan bertelepon, sms atau email. Bisa jadi teman-teman ini memang kamu temukan di satu kegiatan tertentu yang cukup intens (beberapa proyek yang (hampir) tidak mungkin dilakukan membuat aku akrab dengan mereka ini, loh), dan setelah kegiatan berakhir, seringkali, berakhir juga hubungan dengan teman-teman tersebut. Ternyata, saat ada kesempatan bertemu, waktu yang panjang tidak merubah persahabatan yang ada. Menyenangkan!

Buat aku, senang sekali mendapat tempat untuk bernyanyi-nyanyi lagi, nih. Untuk bersenang-senang saja, karena memang aku senang bernyanyi bukan karena aku ini jagoan bernyanyi. Mudah-mudahan semua berjalan lancar.

Alexander

alexander the movie
Sebuah film kolosal yang bercerita tentang Alexander. Keren. Tidak menyesal menemani mami dan papi yang tiba-tiba tadi malam minta ditemanin menonton midnight show. Tidak menyesal harus mengantri lebih dari 1 jam, dan itupun harus duduk di jajaran paling depan. Tidak menyesal harus duduk tenang di bioskop selama 3 jam (!).

prajurit alexanderPlot cerita memang maju mundur dengan cara yang tidak biasa. Adegan peperangan yang beragam, dari yang dilakukan di padang gurun sampai hutan tropis. Angelina Jolie yang tetap sexy. Anthony Hopkins yang tidak lagi pemakan manusia, dan terutama Colin Farell yang keren (!) itu *walopun rambutnya yang berwarna gelap itu harus dicat, huh*, serta sebuah kisah percintaan yang “beragam”.

alexanderAleksander jelas lebih memilih mati muda tetapi dikenang karena melakukan perbuatan-perbuatan besar daripada mati tua tapi sebagai manusia biasa! Pas aku lihat film ini, aku tercenung juga. Memang ya, orang bisa jadi “besar” karena mimpi yang juga “besar”, tapi untuk itu, orang yang bersama dengan pemimpi tersebut harus mampu mengimbangi, kalau tidak entah si pemimpi yang akan mati karena tidak mampu mencapai mimpinya (atau dia terpaksa harus menguburkan mimpinya), atau orang yang disekitarnya yang akan mati karena tidak sanggup mengimbangi si pemimpi. Bagaimana jadinya ya, kalau Aleksander tidak harus mati di usia muda, di 33 tahunnya? Apakah pasukan dan rakyatnya siap bertempur bersama?