9.12.04

Apa dan Siapa Sumber Inspirasimu?


Sampai ke rumah, belum sempat ganti baju, aku langsung menyalakan komputerku. Sambil berganti pakaian dan beberes, aku mencoba melakukan koneksi telepon untuk bisa cek surat-surat elektronik yang masuk. Agak lama kali ini, tapi aku sabar menunggu.

Eh, ada email dari dia. Wah, sudah lama aku tidak dapat kabar darinya, makanya aku mengirimkan sebuah pesan singkat melalui telepon genggam menanyakan kabar. Soalnya, harusnya sih dia sudah mau menikah, tapi entah kenapa kabar terakhir yang aku dengar lelaki yang akan dinikahinya itu memutuskan untuk pergi ke luar pulau, urusan pekerjaan. Aku waktu itu bertanya apa dia mau bertemu dengan aku, yang juga lagi cari-cari teman jalan-jalan, aku waktu itu bilang biar dia tidak kesepian. Sayangnya pesan aku tidak dibalas. Aku sih tidak protes, karena, siapa tahu sedang habis pulsa, kan?

Ternyata, dia memutuskan untuk membalas lewat surat. Ini balesan dia:

Orang-orang pikir gue kesepian semata. Semua sibuk mencarikan teman buat gue, semua mencoba menemani gue, setiap saat semua orang selalu berupaya untuk mengajak gue jalan. Tapi ini bukan cuman masalah kesepian, Mel. Dia itu sumber semangat dan inspirasi gue banget, ini yang jarang banget gue temuin. Dekat dia, inspirasi gue, kreatifitas gue, ide2 gue untuk banyak hal mengalir begitu aja. Beneran deh, gue jadi punya semangat 45 dan juga bisa ngeluarin segudang mimpi gue. Konon, dia juga begitu, dia juga ngerasa lebih asik mikir, lebih lancar kali ya kalo bareng gue. Kalo cuman temen ngobrol, walopun udah pada ngacir nih orang-orang, gue masih bisa ngobrol ama orang rumah, masih bisa ngobrol ama temen-temen gue kok, masih ada orang. Kalo untuk ngobrol serius, itu juga bisa aja dilakuin ama temen kerja gue yang lain. Tapi berbeda, gak kayak gini. Orang suka bilang, seniman bisa kerja waktu ada ide, waktu kreatifitas lagi asik, dan biasanya kan butuh segala sesuatu yang pas, buat gue, dia inilah yang membuat gue begitu ingin melakukan banyak hal, begitu ngerasa gue mampu melakukan banyak hal. Begitu dia pergi, gue bener bener drop, gak ada semangat buat ngewujudin semua itu. Jangankan yang baru, menjalani yang rutin aja ogah-ogahan gitu. Bukan cuman males, tapi otak gue mentok tok tok kejedok tembok yang ada benjol! Ide aja gak bisa, apalagi bener bener bertindak untuk mewujudkannya, gak ada semangat. Dulu, bisa jadi gak terlalu masalah ya, tapi susah ya, setelah kita mendapatkan satu suasana yang begitu mendukung kita, setelah kita bagaimana rasanya inspirasi dan kreatifitas muncul dengan lancar, begitu tidak lagi dapat itu semua, rasanya berat banget untuk mulai kesitu. Gitu deh. Ini juga sekalian ngejawab, kenapa gue sempat segitu ingin berjuang.

Waw, aku tidak tahu apa arti pasanganmu buat kamu. Tapi aku tiba tiba juga merasa kangen seseorang. Memang ya, ketika seseorang yang dekat dengan kita harus pergi dulu, sementara waktu atau selamanya, terkadang kita merasa kesepian, tapi bukan cuman semata-mata kesepian tapi karena arti kehadiran orang tersebut yang begitu besar. Kalau kamu masih punya kesempatan memiliki waktu bersama orang yang kamu sayangi, orang yang menjadi sumber inspirasi dan semangat, bersyukurlah ya. Jangan lupa untuk bilang itu semua ke mereka.

Buat temanku, aku sih cuman bisa berharap kalian bisa segera bertemu, atau kita ketemuan yok, mudah2an bisa saling memberi semangat nih!

Jingle Bells


Senang, diundang HardRock lagi. Seharusnya aku menghadiri acara Jingle Bells itu minggu lalu, tapi karena satu dan lain hal aku baru datang yang hari ini. Acaranya masih di Papandayan, dimulai jam 6 sore tadi dengan bintang tamu Tfive dan penyiar Chandra (yang kayaknya kok makin kurus ya?). Terkejut, karena bertemu teman lamaku di kantor lama, Kiki. Dia bekerja jadi PR Hotel Papandayan! Kok malah nyasar kesitu ya? Tapi gak apa-apa, aku senang bisa ketemu Kiki lagi.

Alasan kenapa aku ingin tulis acara itu disini, karena acara tersebut berjasa membuat aku begitu berbahagia malam ini! Tadi sore, aku sampai di Papandayan sekitar jam 17.30, tapi tertahan di tempat parkir, karena ada sedikit "huruhara" di tempat parkir. Kondisi yang membuat aku begitu sedih. Sedih banget. Aku pergi dari tempat parkir dengan perasan kesal dan kesedihan yang udah tinggal pake api dikit aja udah meledak dan bikin kehancuran tingkat tinggi, deh. Herannya begitu sampai di ruangan tempat acara itu berlangsung, aku langsung (!) merasa santai, bisa jadi karena teman-teman dari HardRock juga bersahabat dan akrab. Enak banget. Membuat aku merasa nyaman dan tidak canggung, asik. Mungkin juga karena aku sudah cukup akrab dengan beberapa muka disitu, jadi enak aja untuk ngobrol (atau aku yang terlalu SKSD ya?).

Terutama pas Iwan Zein nyanyiin lagu I'll be home for Christmas, entah kenapa, aku betul-betul tersadar bahwa ini sudah hampir Natal. Memang sih pohon natal sudah dipasang, lagu natal sudah mulai dipasang, pembicaraan tentang mau natalan dimana sudah dilakukan, tapi kok baru tadi tuh, kerasa banget kalau waktunya sudah hampir dekat. Aku sampai terharu *cie cie*. Terimakasih deh buat Iwan dan juga T-Five yang udah nyanyiin Silent Night-nya. Keren.

*harus inget menelpon Kiki untuk minta foto-foto yang dia ambil, salah sendiri kemakan emosi dan jadinya memutuskan meninggalkan tas berikut kameraku di mobil*

Aku bersyukur tetap memutuskan datang walaupun kekalapan di awal acara sudah membuat aku untuk tidak jadi datang, aku benar-benar merasa bersenang-senang (bukan hanya senang karena dapat voucher), dan suasana hati yang terbangun membuat aku lebih tenang. Akhirnya sih, "huruhara" itu bisa terselesaikan dengan baik, karena teman berhuruhara-nya juga berbesar hati dan berlembut hati sih, jadi aku pulang dengan hati gembira. Betul kan, hati yang gembira adalah obat yang manjur, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Setengah Jomblo


Pernah gak kamu punya pacar tapi kok kayaknya gak punya pacar? Bingung? Misalnya pacar kamu kebetulan saja memang tidak suka ketemu teman-teman kamu yang kebetulan cerewet-ribut-ramai-hingar-bingar itu jadi kamu harus pergi sendiri (tanpa pacar) kalau kamu mau pergi bersama teman-temanmu, tidak perduli apapun tujuan pertemuan itu. Atau, bisa jadi kamu harus ke undangan perkawinan/ ulang tahun seorang diri, karena si dia (merasa) tidak mengenal teman kamu tersebut (walaupun sudah dikenalkan), tidak diundang secara personal, atau karena memang tidak suka acara ramai-ramai. Kebayang dong, di acara yang melihat-kamu-dari-apa-yang-kamu-pakai-dan-siapa-yang-kamu-gandeng itu kamu bakal disangka masih sendiri aja, sorangan wae, jomblo. Apalagi kalau kamu ternyata harus sembunyi-sembunyi untuk bisa pacaran, entah dari orang tua dan keluarga, atau dari teman sekantor (karena aturannya tidak mengijinkan) atau dari pacar lain kamu (!), pasti ada kesempatan yang membuat kamu seakan-akan juga tidak punya pacar.

slightly singleYah, itu sih cuman beberapa hal yang mungkin membuat kamu layak disebut "setengah jomblo" atau kalau buku ini sih menyebutnya "slightly single". Setting masih di New York (kayaknya orang itu doyan sekali ambil setting NY, buku-buku ciklit bahkan karangan pengaran Inggris suka ambil setting NY, tidak terhitung jumlah sitkom yang juga ambil setting dari The City ini). Tracey itu perempuan yang punya pacar tapi seperti tidak punya pacar, maklum Will, sang kekasih itu tidak pernah memperkenalkan Tracy sebagai kekasih Will dan juga Will selalu saja butuh cukup "ruang" untuk mengerjakan hal-hal yang harus dia kerjakan. Tracy, tiga tahun bersama Will dengan kondisi seperti itu, membuatnya melihat banyak hal yang tidak wajar terjadi dalam hubungan pacaran menjadi hal yang wajar, sekali lagi atas nama cinta dan karena Tracy menghargai kebutuhan Will dan pertimbangan-pertimbangan Will. Will bisa loh memperkenalkan Tracy sebagai pacar ke teman laki-laki tetapi hanya Tracy tanpa embel-embel ini-Tracy-kekasihku kepada teman perempuan.

Sulit memang berada di kondisi setengah jomblo. Bukan karena baru baca buku ini aku bisa bilang seperti itu tetapi karena ada beberapa situasi yang membuat aku (dahulu) merasa setengah jomblo. Bukan, bukan karena HTS, HTI atau apapun namanya, tapi karena kondisiku, kondisi (mantan) pacarku, dan karena hal-hal lainnya. Aku dan kamu memang harus mencoba memahami, mengerti dan menghargai keinginan pasangan aku dan pasanganmu itu, tetapi tentu saja tidak bisa hanya satu sisi kan? Ada kebutuhan, keinginan dari sisi kita yang juga butuh dipahami dan dipenuhi. Jadi, kalau kebetulan kamu bersama dengan pasangan yang memang tidak suka acara ramai-ramai atau acara yang penuh dengan lirikan ini-pacarku-dan-mana-pacarmu, yah pahami sajalah, kamu bisa pergi seorang diri atau pergi bersama teman-teman lain, tokh apakah kamu punya pacar atau tidak kan bukan ditentukan apakah kamu selalu bersama berdua seperti kembar siam, kan? Kalau pacar kamu tidak mau kamu mengenal teman-temannya, berpikir positif saja bahwa dia memang ingin punya "ruang" sendiri. Dan, kalau pacar kamu begitu hangat ketika hanya berdua, dan dingin ketika ada orang lain bersama-sama dengan kalian, aku juga masih mencoba berpikir positif (walaupun makin berat) bahwa dia hanya merasa canggung saja di tengah keramaian. Tapi kalau dia mulai selalu lupa bilang bahwa kamu adalah pacarnya ke teman-teman terdekat dia dan ke keluarga dia, dan mulai butuh ruang yang lebih banyak lagi sehingga kamu tidak bakal mendapat jawaban atas saat-saat dia menghilang-entah-kemana-tanpa-penjelasan-apapun, aku kok agak susah untuk tetap berpikir positif. Kayaknya daripada setengah jomblo gak jelas mendingan jomblo sekalian deh, kan jelas, bisa cari cem-cem-an baru, gitu!