4.12.04

Mimpi


Heran, tadi pagi, aku gak bisa inget mimpi tadi malam, tapi tidurnya menyenangkan, enak banget, walaupun bangun jam 8 pagi (atau siang ya). Bisa jadi, kamu sih tidak begitu ambil pusing tentang mimpi semalam. Lain halnya dengan aku, soalnya setiap malam aku ini mimpi! Serius deh. Aneh juga sih, ada yang jarang mimpi dan bahkan ada yang belum pernah mimpi, tapi kalau aku setiap malam mimpi. Memang sih, tidak setiap hari aku ingat mimpiku. Jadi, setiap pagi, yang paling pertama aku lakukan adalah mengingat-ingat mimpi tadi malam. Pokoknya setiap bangun tidur pasti coba-coba ingat mimpi yang datang (wong tidur cuman 30 menit juga bisa mimpi!).

Mimpi orang yang kita sayang meninggal, udah pernah. Mimpi teman dekat menikah, juga sudah pernah. Mimpi bagus, mimpi buruk jelas pernah dialami deh. Untungnya kalau mimpi jelek, aku merasa selalu bisa mengontrol mimpiku. Gini nih, biasanya kalau mimpi buruk, aku selalu lari dengan cara...terbang! Hehehe, aku selalu bisa terbang dalam mimpiku, sampe ngelewatin atap rumah atau gedung tinggi. Gak masalahlah! Kalau sudah bosan, biasanya aku berpindah jadi orang ketiga. Misalnya tadinya yang dikejar itu aku, tapi nantinya biasanya aku melihat orang lain yang dikejar dan aku sedang menonton. Kalau sudah sampe gak tahan, biasanya aku sih bangun aja. Untungnya sampai sekarang, hampir selalu bisa bangun dari mimpi buruk. Soalnya aku cukup sadar kalau itu mimpi. Aneh ya?

Paling buruk sih, kalau pas bangun, suasana udah di kamar tidur, atau di tempat tidur, dan tiba-tiba aku langsung sadar, aku belum bangun. Duh, males deh kalau kejadiannya kayak gini, pasti otakku sibuk mikir, ayo, bangun bangun, ini sih masih mimpi, walaupun semua setting adalah setting tempat aku tidur.

Kalau mimpi menyenangkan, wuiih, seharian itu bisa kebawa enak loh. Bisa kebawa senang.

Sayangnya sering banget aku gak bisa inget mimpinya. Biasanya pas bangun aku harus langsung berusaha mengingat mimpi itu, baru deh, bisa aku ingat. Kalau sempet diingat sekedarnya, udah deh, sejam lagi juga sudah lupa sama mimpi itu, cuman, kalau itu mimpi menyenangkan efeknya sih belum hilang.

Hmmm, beberapa hari kebelakang mimpiku kayak adegan trailler film, itu tuh, kayak cuplikan adegan film yang dipotong sana sini, dan disajikan dalam waktu singkat. Jadi agak bingung mengingatnya.

Tapi tadi malam, jelas aku mimpi indah, wong aku bangun dengan perasaan senang. Hmm, mudah-mudahan malam ini mimpi menyenangkan lagi. Ada yang tau, apa ada trik dan tips biar mimpinya menyenangkan?

Catatan Tambahan:
Triesti bilang itu tuh Lucid Dreams, sadar kalau sedang mimpi, dan juga karena aku bisa loh ngeganti mimpi aku sesuai dengan keinginan...kekekek, kecuali kalo lagi males, ya udah bangun aja ah. Makanya, aku malah aneh kalo tidur gak mimpi, ada yang kurang.

Catatan Tambahan (lagi):
Beberapa tulisan bilang bahwa Lucid Dreams memang sesuatu yang diinginkan orang, dan untuk itu disarankan meditasilah, yogalah, segala sesuatu yang berbau seperti itu karena ini dianggap seni kuno. Walah walah. Aku tuh gak pernah belajar tentang itu, gak pernah tau, dan gak pernah mendalami itu semua, tiba-tiba aja seperti itu, rasanya dari kecil. Aneh deh! Aku pikir itu otomatis bisa dilakukan orang.

Coronado


Tertarik menonton karena ada kata "revolusi" di poster-poster maupun iklan film yang satu ini. Coronado. Hmm, revolusi di sebelah mana ya? Film ini hanya mengambil tema revolusi untuk memaparkan sebuah film petualangan biasa. Pemainnya tidak ada yang terlalu terkenal, walaupun juga bukan muka baru dan cukup sering bermain di beberapa film yang masuk ke Indonesia.

Seorang perempuan mencari tunangannya sampai ke Coronado. Itulah cerita yang ingin ditampilkan.


Sepertinya keinginan orang-orang dibelakangnya memang tercapai. Claudio Faeh bilang "We also spent some time browsing through 'Tintin' comic books from Europe, because they had the kind of true adventure flair we wanted to capture". Memang, dipikir-pikir film ini seperti komik. Petualangannya, walaupun ada hambatan ini itu, lebih seperti membaca komik. Banyak hal tidak dijelaskan, dan jelas bahwa revolusi hanya sebuah tempelan untuk film ini.

Sebetulnya film ini tidak terlalu mengecewakan sih, kalau untuk tontonan menghibur. Gambarnya asik-asik. Ada beberapa adegan menarik, dan bisa saja mengundang tawa, hmm, atau mungkin lebih tepatnya mengundang senyum. Di film ini juga, Amerika ditampilkan sebagai pihak yang punya banyak muka, dan doyannya mengobok-obok segala sesuatu yang bisa diobok-obok.
Melihat film ini, aku berharap bisa seperti perempuan di film itu, bisa dengan mudah memutuskan pergi ke Swiss, kemudian banting setir ke Colorado dengan mudah. Kebayang kalau aku, musti cari duit dulu dong! Apalagi, perempuan ini sangat santai loh, menurut aku, menghadapi banyak hal aneh dan baru dan mengagetkan buatnya. Tidak banyak bertanya ini itu, lebih banyak bertindak.
Walaupun pergi dengan mood sangat jelek, tokh aku bisa tersenyum sesudahnya. Ada kekecewaan sih, tapi buat aku sih menonton bioskop adalah menonton bioskop, ada kepuasan tersendiri, dan bisa membuat aku jauh lebih santai.

Makasih ya, buat yang udah repot-repot ngusahain anter jemput, ngebut-ngebut, dan mendahulukan aku, juga buat yang udah nemenin. Jangan kapok. Kekekek.

Pengen deh

Aduh, puyeng mo nulis, lagi sibuk ngoprekin blog-nya Abang. Huh! Belagu sih, sok sok an mbaca itu html. Lieur juga ternyata. Kadang jadi gitu ya, kalau banyak hal yang ingin dilakukan pada waktu yang sama, ujung-ujungnya malah tidak ada yang dikerjakan, deh!
Pengen ngoprek lay out, pengen ke Potluck, pengen ke Ultimus, pengen ke Tobucil, pengen nonton Coronado, musti ke Rumah Buku dan, astaga banyak kepengen nih, tapi kok, beranjak dari kursi ini aja males minta ampun ya?
Mmm, pengen makan dulu ah, baru kecebarkecebur...