30.11.04

Tik Tik Tik Bunyi Hujan di Atas Genting...

Waktu kecil, aku senang sekali kalau hujan. Kalau kesempatan memungkinkan, aku bisa curi-curi hujan-hujanan. Entah di pekarangan rumah, atau di lapangan kosong di depan rumahku. Takut? Enggak deh, yang ada justru semangat. Basah? Justru itu yang dicari. Tidak terpikir baju yang harus dicuci, rumah yang kotor akibat jejak kakiku, yang penting hati senang. Diomelin? Ah, rasanya setimpal dengan kesenangannya, kok.

Waktu smp, aku teringat keacuhan aku sama dingin yang datang berbarengan dengan hujan. Mau tau bagaimana? Di dekat GOR sekolahku, ada tukang es yang setia berdagang. Biarpun hujan, aku tetap membeli es krim tersebut. Murah meriah dan enak. Buat aku sih, rasanya tetap saja pas, makan es krim walaupun sedang hujan deras.

Waktu sma, kenangan berhubungan dengan hujan yang paling aku ingat itu, waktu aku kelas 1 SMA. Sekolah siang. Entah kenapa, hujan hampir selalu datang beberapa saat menjelang jam masuk sekolah. Aku memilih datang terlalu pagi, karena kalau terlambat sedikit, hujan deras keburu datang. Pemandangan yang sering kulihat adalah teman-teman yang basah kuyup dan jemuran kaos kaki. Aduh. Barangkali yang terakhir itu yang membuat aku tidak bisa melupakan musim hujan pada masa-masa itu, ya?

Masuk kuliah, hujan membuat aku mengenal dengan baik jalur kampus yang berkoridor dengan atap *terakhir aku perhatikan sih, bisa dibilang bisa berjalan dari ujung utara ke selatan tanpa terkena hujan, ya*. Pengalaman yang paling tidak menyenangkan adalah mengingat masa-masa plonco yang dilakukan di Rancaupas. Selama itu, hujan selalu turun setiap harinya, walhasil kulit dan baju yang kupakai seakan-akan satu bagian! Masa kuliah juga masa dimana Lusi dan aku berada di kendaraan, Lusi menyetir, bergerak dari Sukabumi ke Bandung, di pagi buta, di tengah hujan dan angin yang membuat perjalanan tidak mudah kulupakan. Tentu saja, aku punya pengalaman menyenangkan. Tidak terjadi betul-betul di kampus, tapi terjadi dengan orang-orang di kampus. Pengalaman yang mengokohkan pandangan bahwa hujan itu romantis. Berjalan di bawah payung, dipeluk oleh orang yang aku sayangi. Hmmmm.

Selama tinggal di Rotterdam, hujan adalah sesuatu yang terlalu biasa. Lebih tidak biasa adalah hari-hari tanpa hujan. Awalnya payung menjadi sahabat, tapi terbukti tidak berguna menghadapi hujan angin yang sangat tidak bersahabat itu. Lama-lama, jas hujanlah menjadi teman terbaik. Hujan tidak lagi jadi penghalang kegiatan. Hujan atau tidak hujan, tidak ada bedanya. Aku tetap berjalan kaki seperti biasa, tidak berupaya berhenti mencari tempat berteduh, aku tetap bersepeda seperti biasa, palingan hanya harus sedikit hati-hati karena jalan agak licin, aku bahkan masih bisa tetap duduk-duduk di pusat kota, menikmati orang lalu lalang!

Di Jakarta, pengalaman hujan yang sempat membuat sebagian besar Jakarta dan sekitarnya macet total pun pernah aku alami. Wuih, gak akan pernah aku lupakan. Untunglah aku memutuskan untuk tetap berada di dalam kantor dan bisa berada di rumah tidak terlalu larut, tidak perlu mendapat pengalaman membayar taksi yang ditunggu sekian lama sebanyak sekian puluh ribu rupiah hanya untuk bergerak beberapa ratus meter! Mengalami hujan, di dalam kendaraan di Jakarta, jelaslah bukan pengalaman yang ingin kuulang.

Saat ini, Bandung hujan setiap hari. Sayang sekali, sekarang sih waktu hujan aku tidak bisa lagi memilih hujan-hujanan, tidak bisa lagi membeli es krim yang dijual di sekolahku, juga tidak perlu melihat kaos kaki dijemur, tidak lagi harus menahan dingin karena baju basah seperti waktu jaman ospek, tetapi juga tidak lagi bisa mengulang masa masa indah dipeluk orang yang aku sayangi dibawah payung.

Buat aku sih, hujan saat ini memang membuat aku sedikit malas untuk keluar rumah, malas keluar dari kehangatan kamar. Tapi yang pasti, entah kenapa, aku lebih memilih satu hari yang hujan daripada satu hari yang panas kerontang membuat otakku leleh dan tidak bisa dipakai berpikir. Mungkin, terlalu lama berada di negara yang terkenal dengan hujannya itu?
Yang pasti hujan membuat orang mengomel atau malah berbahagia. Ada yang menarik napas lega, tidak sedikit yang mulai kuatir dengan masalah ikutan dari hujan yang terus menerus. Jadi, ya sudah dinikmati sajalah hujan yang turun ini. Iya kan?

Prahara

...kulihat matamu berkaca, mengingat berat beban kita

Hari Minggu kemarin, dia bertemu dengan lelaki itu. Bukan suatu pertemuan yang mudah dilakukan, tapi dia harus melakukannya. Setelah melewati sekian hari dalam kebingungan, dalam kegundahan, akhirnya dia punya cukup kekuatan untuk bertemu lelaki itu...

...dan mendung selimuti paras batinku dirundung ragu dan cemas

Sore itu, hujan deras mengguyur kotanya. Tapi itu tidak membuat dia patah semangat untuk keluar rumah. Segera dia ambil payung dan jaket hujannya. Duh, ini kan payung dari lelaki itu, dan ini juga jaket hujan dari lelaki itu, batinnya mendesah. Berat sekali rasanya kaki hendak melangkah.

...cerita dua manusia diterjang prahara, mencoba upaya

'Dimanakah kamu?' batinnya bertanya-tanya. Kembali melihat jam tangannya. Sudah lewat 5 menit dari waktu yang dijadwalkan. Dia kembali menyeruput kopi panas di depannya, sambil mengingat percakapan-percakapan terakhirnya dengan lelaki itu. Percakapan panjang yang melelahkan, percakapan yang begitu berat, yang selalu berakhir dengan air mata.

...mungkin dulu kita tergesa menyatukan langkah

Dia kembali teringat pada masa-masa awal perkenalannya dengan lelaki itu. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Perjalanan waktu yang membuat dia melihat lelaki itu menjadi sosok yang sangat istimewa. Dia kembali teringat pada saat mereka memutuskan untuk berjalan bersama, mencoba melalui hari-hari bersama, mencoba mewujudkan mimpi-mimpi bersama. Indah sekali,

...tak sadar langkah berbeda dalam tentukan arah

Kembali dia menarik napas. Buku yang dipegangnya tidak mampu menarik perhatiannya yang memang hanya ada pada lelaki itu. Teringat pada rasa senang dan juga rasa sakit yang dia rasakan. Kesedihan yang keluar saat dia melihat kegalauan dan kekesalan lelaki itu terhadap banyak hal. Sesak rasanya harus melihat dia memendam amarah yang sedemikian kuat. 'Ah, kami memang bergerak ke satu titik yang sama dengan alasan yang berbeda,' pikirannya berkata.

...harapku, jangan dulu berpisah, kenanglah saat cinta merekah

'Sayangku, aku sudah membuat keputusan, ini keputusanku sendiri, kita harus putus," demikian kata-kata yang diucapkannya kepada laki-laki itu beberapa waktu lalu. Laki-laki itu, saat itu, hanya terdiam.

...pintaku, jangan dulu menyerah, sebelum sesal nanti terlambat sudah

Akhirnya, lelaki itu datang. 'Dia kehujanan, batinnya berbisik, kasian'.
'Maaf terlambat,' kata lelaki itu.
'Tidak apa,' balasnya. Dia hanya menatap lelaki itu dengan hasrat cinta yang masih dia rasakan, dengan kasih yang begitu tulus. Lelaki itu melihatnya, menggengam tangannya yang dingin itu, dan kemudian memeluknya. Sebuah tindakan yang menunjukkan perasaan yang terdalam, lebih dari 1001 kata yang bisa dikatakan. Begitu dalam. Dia tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum. Yah, memang, hanya sampai disini. Inilah akhirnya.

Ya Tuhan, kuatkan dia dan lelaki itu.