29.11.04

Selamat Ulang Tahunku Untuknya

Ada yang pernah denger Lithuania? Tanpa bermaksud merendahkan ya, tapi sebagian besar bisa jadi belum pernah dengar. Aku malah bersyukur kalau kamu tahu itu tuh nama sebuah negara (aduh, pelecehan banget ya aku). Dulu, aku juga gak tau banyak tentang negara yang satu ini, kecuali bahwa Lithuania adalah sebuah negara kecil di Eropa Timur, "bekas" negara Uni Sovyet. Sudah. Segitu saja pengetahuanku.

Ternyata kemudian, aku tinggal bersama seorang dari Lithuania. Namanya Jolita Piliutyte *beneran deh, agak lama aku baru bisa nulis namanya dengan benar*. Aku harus berbagi unit apartemen dengannya selama beberapa bulan. Maunya sih 1,5 tahun, tapi Jolita harus berangkat ke Swedia untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya kami diwisuda bersama-sama. Dia adalah salah satu sahabat terbaikku. Sahabat pertama yang aku dapat di sebuah negara yang jauh dari rumah. Kami berbagi banyak hal, tawa dan airmata. Kepusingan dengan bahan bacaan kuliah yang bertumpuk, tapi juga pesta-pesta yang tampaknya selalu ada selama masa itu. Apa yang kami yakini tidak selalu sama, malah ada beberapa hal yang sangat berbeda, tetapi entah kenapa, kami bisa begitu kompak bersama.

Hari ini, dia berulang tahun. Keberapa, itu tidak penting. Letak geografis yang begitu jauh, ketidakpastian kapan bisa bertemu kembali tidak mengurangi nilai sebuah persahabatan kan? Teman itu datang dan pergi, sih. Ada teman sewaktu sekolah mulai dari sekolah dasar sampai lanjut, ada teman sepermainan di sekitar rumah, ada teman di kegiatan-kegiatan lain di luar itu, baik itu di tempat kursus, tempat kerja atau yah, ketemu tidak terduga, termasuk lewat blog misalnya. Seringkali, teman yang tinggal di kota yang berbeda dengan kita, justru lebih sering kita temui dibanding teman yang tinggal satu kota dengan kita. Masih mending kalau hanya beda kota, kalau beda negara? Dengan kondisi keuangan sekarang, rasanya komunikasi lewat e-mail atau sms terpaksa dicukupkan.

Mungkin, kamu punya teman pena *dulu tuh, biasanya didapat dari majalah anak-anak, saling kirim surat gitu*, mungkin juga punya teman dekat yang berada satu kota tapi tidak pernah lagi bertemu, atau teman dekat yang berbeda kota, dan saat ini ulang tahun. Coba deh, cek lagi, sebuah sapaan singkat pasti akan menyenangkan.

Sedangkan untuk Jolita (ya, saya tahu, dia tidak bisa bahasa Indonesia), saya hanya bisa bilang Selamat Ulang Tahun yaa..

"Ada yang bisa dibantu?"

Hidup kita ini memang penuh dengan orang-orang yang membantu kita, tanpa, seringnya, kita sadari. Di rumah, kita punya pembantu (setidaknya, sebagian besar dari kita deh). Di kantor, kita punya OB (Office Boy). Dimana-mana kita akan melihat orang-orang yang siap membantu untuk urusan "remeh-temeh-precelan". Sebetulnya kata remeh-temeh ini juga tidak tepat, karena pekerjaan yang tampak kecil, kemudian menjadi sangat penting ketika orang-orang tersebut tidak ada! Tidak usah dibahas bagaimana rasanya ditinggal pembantu mudik. Coba bayangkan jika OB anda tidak masuk hari ini. Apalagi untuk anda yang terbiasa dibuatkan minuman, dibelikan indomie, dibantu memperbanyak dokumen dan lain-lain. Cukup kelabakan, kan.

Di jalan, selalu ada tukang parkir yang membantu kita. Aku tahu, tidak sedikit diantara kita yang berupaya menghindari mereka, menghindari mengeluarkan 1000 rupiah tersebut! Aku juga seringkali kesal dengan ulah mereka yang seringkali bukannya membantu kita dalam parkir memarkir malah membuat kita nyaris tabrakan dengan kendaraan lain! Tapi entah kenapa, aku merasa begitu dekat dengan tukang parkir ini. Tukang parkir di SMPku, masih sering saling sapa kalau kebetulan aku dan keluarga melintasi sekolah lamaku itu. Tukang parkir SMA sering kali jadi tempat titip salam. Tukang parkir di kampus, adalah penolong terbesar, guru dalam urusan parkir yang rela membiarkan kakinya tergilas ban mobil yang kami setir, yang menyucikan mobil kami dikala kami tidak begitu perduli karena tugas yang bertumpuk, yang menjadi teman ngobrol menyenangkan dan menjaga mobil-mobil kami bahkan ketika kami lalai menutup pintu dan jendela!

Predikat “kakak tertua” membuat aku sering berbelanja di sebuah supermarket yang terkenal dengan parkir gratisnya itu. Saking seringnya aku berbelanja (aku tidak suka menyimpan makanan terlalu lama di kulkas), akhirnya aku cukup mengenal muka-muka pegawai yang menimbang sayuran, menimbang ayam dan juga berjaga di belakang mesin kasir. Senang rasanya untuk melempar senyum, dan berbasa-basi tentang apapun yang terjadi. Entah bagaimana aku merasa ada satu hubungan yang menyenangkan dan itu juga sih yang membuat aku betah kembali ke tempat itu.

Soal betah ke satu tempat, perasaan mengenal juga yang membuat aku selalu membeli pulsa di satu tempat, tidak jauh dari supermarket tersebut. Sebagai orang yang setia dengan sistem pra bayar, aku sering datang ke XL center di Dago untuk membeli pulsa. Aku sampai sadar muka-muka yang datang dan pergi. Aku tahu perkembangan salah satu pegawainya mulai dari hamil hingga akhirnya melahirkan (sayangnya sepertinya dia sudah keluar dari tempat tersebut). Aku juga mendapat senyum dan kemudahan kalau kebetulan ada masalah dengan pengisian pulsa, aku percaya dengan mereka, dan mereka juga tahu, aku bukan pelanggan yang rewel

Satu tempat lagi yang membuat aku merasa punya ikatan khusus dengan mereka yang punya label pelayan adalah di potluck. Aku sampai hapal muka-muka kru-nya dan bahkan kemudian hapal nama-nama mereka. Terkadang, melihat dan mendengar mereka membuat aku tersenyum! Bahkan tak jarang, kami terlibat percakapan menyenangkan. Datang sendiri kesana? Sama sekali bukan masalah!

Pasti banyak orang-orang seperti ini di lingkungan kita, seringkali tidak kita kenal. Mereka, menurut aku, sangat membantu, dan sesungguhnya, punya satu ikatan khusus dengan kita. Sebuah senyum, bukanlah sebuah hal yang terlalu sulit yang bisa kita lakukan untuk mereka.

Dulu, sekarang, dan nanti

Teringat satu tulisan yang berhubungan dengan masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang di friendster. Ini nih tulisannya

10 tahun lalu, aku
-- baru aja jadi "maha siswa", ketemu teman-teman baru, ketemu jenis kehidupan baru, gaya belajar baru dan banyak hal baru lainnya

5 tahun lalu, aku
-- lulus, baru aja mulai bekerja di sebuah lembaga penelitian, menikmati waktu-waktu diluar bekerja dengan bermain dengan teman-teman kuliah, teman-teman SMA, pergi pagi pulang pagi...kakakakak

3 tahun lalu, aku
-- baru lulus (lagi), meninggalkan Rotterdam dengan berat hati, meninggalkan teman-teman dan kehidupannya, kembali ke kehidupan "nyata", kembali tinggal di rumah dengan berbagai aturan dan norma yang kembali harus aku ikut, berupaya dan berjuang untuk menemukan tempat berkarya yang pas

Setahun lalu, aku
-- mulai kehidupan bolak-balik Jakarta-Bandung, mahir menyetir Bandung-Jakarta pp, mulai bekerja dengan bule2 itu, dan mulai bega' dengan ketidakadilan yang ada!

Tahun ini, aku
-- melepas dua orang yang sangat aku sayangi, satu yang sekian tahun telah menjalani hari-hari bersama melewati batas negara, dan yang kedua adalah orang yang dalam masa yang cukup singkat mengisi hari-hariku, memberiku inspirasi dan cinta, mengajarku banyak hal.

Kemarin, aku
-- belajar untuk menerapkan satu prinsip penting yang seringkali dianggap klise yaitu "komunikasi" dalam keluarga, belajar menerima kelebihan dan kekurangan didalam keluarga, belajar untuk lebih menerima dan juga mulai lebih berani untuk berbicara tentang cinta yang aku rasakan

Hari ini, aku
-- untuk pertama kali bisa bangun tanpa harus sembab-sembab...yippeeee

Besok, aku
-- harus kembali memulai mencoba kembali mewujudkan mimpi-mimpi yang aku bangun....walaupun harus seorang diri

Bulan depan, aku
-- menikmati bulan yang menyenangkan dan santai, mempersiapkan natal dan akhir tahun dan liburan keluarga lagi...asikkk

Tahun depan, aku
-- tidak ingin membayangkan apapun yang muluk-muluk, hanya berharap bahwa aku bisa terus membantu mewujudkan mimpi orang yang aku sayangi dan juga mimpiku sendiri, berharap pintu-pintu mulai terbuka....

Semua hal berubah, ada hal yang berjalan seperti yang kita harapkan,ada yang tidak, tapi itu tidak pernah membuat aku berhenti berharap dan membayangkan suatu hal di masa akan datang. Berharap, yang akan datang aku berhasil mewujudkan banyak hal lain. Perubahan? Itu hal biasa. Bukan hanya lingkungan yang berubah, bukan hanya teman-teman yang berubah (sebagian datang dan pergi, sebagian tetap bersama), tapi juga diri kita sendiri berubah! Cara pikir, cara pandang, dan banyak hal lain. Tentu saja, fisik adalah satu hal yang paling nyata perubahannya ya? Hmmm, jadi inget salah satu foto lama yang dibuat hampir 20 tahun lalu nih. Apapun itu, perubahan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, itu menurut aku. Perlu diterima dengan lapang dada dan penuh syukur!

Lihatlah, perubahan tidak selalu perlu dihindari kan. Aku tidak merasa perubahan fisik aku dari hampir 20 tahun lalu dengan sekarang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Hmm, rasanya aku tidak jauh berbeda kan :))