26.11.04

Jangan Jenuh, Say...

Temanku menuliskan satu kalimat yang bukan sekali dua kali kulontarkan:
knapa ya, gw lg mengalami kejenuhan yg luar biasa dlm bekerja, awalnya gw pikir itu efek baru libur seminggu, tp masak sih efeknya sampe hari ini..:( enaknya ngerjain apa yaa...
Jenuh, bosan, malas, loyo. Aduh, itu semua sepertinya yang juga tengah aku rasakan, dan sebagaimana kejenuhan sebelumnya, seringkali aku tidak tahu kenapa aku jenuh, kenapa aku bosan, kenapa aku malas dan kenapa aku loyo.
Temanku ini juga jenuh dan tidak begitu pasti kenapa dia merasa jenuh.
Rasanya tidak mengenakan. Sangat. Dari bangun pagi sudah tidak bersemangat, pergi ke kantor atau pergi ke tempat kerja apapun itu juga tidak bersemangat, melakukan segala sesuatu hanya karena itu harus dilakukan *masih mending kalau dilakukan, nah kalo ternyata malah bengong, gimana dong*. Begini salah, begitu salah.
Hari ini, aku seperti disadarkan *pencerahan gitu? kwakakak*, daripada aku pusing mikirin kenapa gini dan kenapa gitu, lebih baik aku coba mencari sesuatu yang membuat aku bersemangat. Biasanya, bertemu abang adalah salah satu obat terbaik, tapi saat ini bukan pilihan terbaik. Jadi apa dong? Nongkrong di Potluck, nonton ke bioskop *aku gila bioskop dan gak gitu suka nonton di rumah*, baca buku? Satu hal yang selalu bisa membuat aku tidak lagi jenuh adalah perubahan, apalagi kalau itu dilakukan bersama teman-teman tersayangku. Aku selalu bisa merasa bahagia, merasa lebih baik, dan tidak jenuh *setidaknya selama beberapa saat, itu bagus kan*.
Karena itu, aku pingin bilang makasih ya, teman-temanku, tanpa ada maksud mengurangi peran teman-teman yang lain yaaa, khususnya untuk kalian berempat (kayaknya kelompok ini kurang satu, maaf ya Jus, gak ada fotonya).


Mengajar atau Menghajar?

Sebetulnya malas sekali untuk masuk kelas hari ini. Untunglah sebetulnya hari ini bukan aku yang memberikan materi di kelas, tapi pak Prof. Tapi ini bukan berarti aku bisa bersenang-seneng! Aku tetap harus masuk ke kelas, walaupun diberi kelonggaran oleh Pak Prof untuk bisa datang sejam lebih terlambat. Tetap saja, aku memilih datang tepat waktu.

Uh, sepertinya suasana masih suasana liburan ya. Ribut banget kelas hari ini. Waktu akhirnya aku yang harus berdiri di depan kelas untuk membahas tugas besar yang mereka lakukan, aku merasa harus teriak-teriak untuk bisa berbicara! Huh. Padahal badan lagi demam banget. Tapi, rasa kangen sama kelas membuat aku bersemangat dan coba terus berdiri di depan kelas.

Senang, ada beberapa yang begitu antusias, tapi lebih banyak lagi yang tidak peduli. Sedih deh. Lebih baik, rasanya, hanya ada beberapa mahasiswa di dalam kelas tapi semangat mengikuti kuliah, daripada keseluruh 83 mahasiswa tersebut ada di depanku, tapi asyik ngobrol satu sama lain! Soalnya bawaannya bukan ingin mengajar, tapi jadi pengen menghajar.

Jalan Lagi, Gosip Lagi

Sikk asik, ketemu Ratna.

Ini adalah salah satu penerapan aku, upaya nyata aku untuk keluar dari persembunyian, keluar dari kenyamanan tempat tidur dan kamarku, untuk kembali ke kehidupan normal, kembali bertemu orang-orang *cie*. Aku harus keluar dan kembali bersosialisasi, kan. Untung Ratna punya waktu untuk ketemu.

Memutuskan ke BSM, karena lagi semangat berbelanja. Ratna sih ingin mempergunakan THR yang menganggur selama ini kan. Kekekekek, coba aku juga punya THR ya? Sayangnya tidak ada euy.

Makan siang dulu dong, dan, wakkks, Ratna lagi program penggemukan di kala aku lagi tidak semangat untuk makan apapun. Duh, bersyukur banget dia lagi semangat makan dan beli ini itu, aku jadi bersemangat makan loh! Malah sempat berpikir, kayaknya ini blueberry cheese cake-nya kurang deh.

Metro sedang sale. Plarak kiri kanan, duh, ada tas lucu, aduh ini baju keren deh, aduh ini dompet mau deh, aduh dan aduh deh. Sayang, aku sendiri lagi harus hemat-hemat, sudah mau akhir tahun dan pekerjaanku tidak menjamin ada pemasukan berarti untuk akhir tahun ini. Jadilah aku cuman nemenin Ratna yang, akhirnya, mengembat tas biru itu *hiks, pengen deh, Na!* dan beberapa barang lain ya.

Makasih ya, udah mo nemenin, beneran deh, lega juga, dan terutama karena suasana tempat belanja tidak seramai suasana sebelum lebaran, aku bisa jalan-jalan dengan nyaman.

Senangnya berjalan-jalan lagi, bergosip-gosip lagi. Sering-sering ahhh...

High Fidelity

Buku ini aku pinjam karena masuk kategori buku “tidak mikir”, alias bisa dibaca santai-santai saja. Bayangan aku: chicklit. Bisa jadi tidak tepat karena tokh pengarangnya laki-laki dan ceritanya juga bukan tentang perempuan umur 20-an atau 30-an.

Buku ini tentang laki-laki di pertengahan 30 tahun, tentang laki-laki yang memiliki sejarah dengan beberapa perempuan di belakangnya, tentang laki-laki yang pernah jatuh cinta dan putus cinta, dan tentu saja sebagaimana chicklit, tentang laki-laki yang bergulat juga dengan pekerjaan yang dia lakukan (walaupun porsi terbesar sudah pasti diambil oleh urusan asmara).

Capek! Itu yang aku rasakan waktu baca buku ini. Cape dengan kesinisan Rob melihat hidup, capek dengan pesimistis dia, capek dengan ketidakbisaan dia menerima kenyataan. Kamu mencari yang namanya pecundang berat? Itu dia, Rob! Tapi, hey, aku capek karena aku juga seringkali sangat sinis melihat hidup, sangat pesimistik dan juga sering tidak bisa menerima kenyataan.

Sulit sekali menamatkan buku ini, entah kenapa. Bisa jadi karena begitu banyak hal yang berbeda. Bukan tentang perempuan dan bukan oleh perempuan. Mirip dengan buku John O’Farell yang berjudul The Best A Man Can Get. Tentang laki-laki. Apa ini juga yang dirasakan laki-laki kalau harus baca chicklit ya?

Akhirnya buku ini bisa diselesaikan dalam sehari. Phhff. Gak begitu besar keinginan untuk membaca ulang buku ini.

Satu hal, duh, ternyata laki atau perempuan, sama aja ya, hancur hati kalau putus cinta. Kekekekekek…pembenaran….cari balad yeuh!