24.11.04

Take It To The Limit

Heran, kenapa ya, judul tulisan-tulisan terakhir jadi berbahasa Inggris, padahal itu jatah halaman yang lain yang memang berbahasa Inggris (dan malahan yang berjudul bule itu belum aku terjemahkah, huh). Tapi, ya itulah yang langsung terketik waktu mulai nulis.

Kali ini, entah kenapa aku cuman ingin ngungkapin ini...

All alone at the end of the of the evening and the bright lights have faded to blue. I was thinking 'bout a (wo)man who might have loved me and I never knew. You know I've always been a dreamer (spent my life running 'round) and it's so hard to change (can't seem to settle down). But the dreams I've seen lately. Keep on turning out and burning out and turning out the same. So put me on a highway and show me a sign and take it to the limit one more time.You can spend all your time making money. You can spend all your love making time. If it all fell to pieces tomorrow. Would you still be mine? And when you're looking for your freedom (nobody seems to care) and you can't find the door(can't find it anywhere). When there's nothing to believe in. Still you're coming back, you're running back. You're coming back for more. So put me on a highway and show me a sign and take it to the limit one more time.

Copy Paste

‘Eh, kapan dong kita jalan, mencari skripsi yang judulnya sama tea.’

Ha?! Aku bengong. Apa sih yang baru dia bilang? Betulkah pendengaranku? Mencari skripsi dengan JUDUL SAMA? SAMA? Aku terhenyak, dan kuputuskan untuk menunda meneruskan buku yang tengah kubaca.

‘Yah, paling enggak, gue mau kopi bab 1-nya aja dulu.'

Uih, aku sama sekali tidak salah dengar. Beneran, aku kaget. Bagaimana bisa?

Dulu, aku justru main ke perpustakaan, melihat Tugas Akhir (TA) yang ada untuk memastikan bahwa TA aku tidak sama dengan mereka. Tapi, ini, malah mencari yang sama?!

Lebih gila lagi, dia memang sudah berniat untuk mengambil Bab 1 dari skripsi siapapun itu, supaya bisa memberikan judul. Duh, aku bener-bener gak bisa ngerti. Mereka betul-betul sedang membicarakan “membuat skripsi” kan, bukan sekedar tugas makalah kelas *wah, apakabar dengan “sekedar tugas makalah kelas” ya? Maaf deh, bawaan “berasa ada di kelas” aku mulai keluar *eh, draftnya salah satu mahasiswa aku belum dikoreksi, ugkh*. Apa dia tidak tahu apa itu Bab 1, apa artinya, kenapa harus ada dan seterusnya. Itu bukan sekedar hanya Bab 1, tapi justru menjadi landasan seluruh penelitian yang mau dilakukan. Berat memang, tapi seseorang yang mau meneliti jelas harus tahu pasti kenapa mau meneliti itu, untuk apa, bagaimana melakukannya dan seterusnya.

Jadi inget satu waktu, aku dan abang pernah tanpa sengaja membahas ini di salah satu masa-masa ngacapruk. Waktu itu, (rasanya) satu diantaranya kami membahas kebingungan kami berdua dengan kata kata’ Sudah sampai bab berapa’ yang sering ditanyakan kepada orang yang sedang skripsi *kayaknya dulu, aku gak bisa jawab deh kalau pertanyaannya ini, karena betul-betul tidak bisa dilakukan bab per bab seperti itu*. Betapa memang ya, pembuatan skripsi itu bagaikan momok, dan mimpi buruk. Ada apa sih dengan mahasiswa sekarang? Apa memang TA atau skripsi itu suatu beban berat dan dilihat hanya sebagai satu tiket untuk bisa diwisuda dan dengan demikian bisa sedikit pamer kiri pamer kanan? Apa memang tidak ada keinginan untuk mengetahui lebih lanjut suatu hal yang berhubungan dengan studi yang diambilnya? Sedih. Ada beberapa orang yang begitu bersemangat mengerjakan skripsi harus mengalami kendala finansial atau kendala akademik, misalnya saja karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang dianut pembimbingnya.

Bikin skripsi itu memang penuh luka liku. Seperti ikut ospek aja, penderitaan lahir batin, walau tidak mau diulang, tapi gak penah mati buat dibicarakan!

Tapi, hey, itulah yang membedakan kamu dengan anak SMA, dengan mereka yang mungkin tidak beruntung untuk bersekolah formal seperti kalian *walau pengalaman membuktikan bahwa banyak orang pintar yang tidak menempuh jalur formal tersebut*. Duh, seandainya saja dia sadar bahwa dia adalah orang yang beruntung bisa punya kesempatan ntuk mencoba mensitesis suatu hal dan mendapat bimbingan untuk itu, mudah-mudahan penelitian bukan milik "peneliti" semata, mudah-mudahan tidak lagi terpikir untuk copy paste skripsi.

Oops...I did it again

Aku pernah bikin pengakuan ke Lusi, kalau aku itu sanggup-sanggup aja mendengarkan omongan orang yang gak keru-keruan, yang bikin sakit hati, yang bikin muntah, karena aku bisa membagi otak aku ini ke beberapa bagian. Gak sulit untuk bisa mendengar seseorang mengomel di depan aku, sementara sebetulnya aku tengah memikirkan suatu yang lain. Tidak perlu takut kelihatan tidak memperhatikan, karena aku sanggup melakukan keduanya dengan baik. Orang yang sedang ngomel itu tidak akan tahu, kok, karena aku memang mendengarkan dia bahkan bisa memberi komentar (seperlunya), padahal saat itu aku tengah memikirkan hal lain, yang membuat aku jauh lebih bahagia daripada mendengarkan dia.

Beberapa waktu lalu, Lusi kuatir aku melakukan itu lagi. Waktu itu aku kaget, yak ampun, aku bahkan sudah tidak bisa ingat kapan aku melakukan hal itu. Hmm, senang sekali, berarti sekian lama aku menikmati setiap obrolan, atau berarti sekian lama gak ada orang ngomel, atau berarti sekian lama, aku berhasil menjaga diriku di dunia nyata.

Tapi, semalam, Oops…I did it again. Maaf Lus, tiba-tiba aku terlalu sedih untuk mendengar ucapannya, dan kembali, kebiasaan lama, refleks aku lakukan. Aku membayangkan hal lain, selama dia berbicara. Sedih.

Maafku untuknya. Aku denger semuanya, kok. Karena, untungnya, begitu aku melakukannya, aku sadar, aku tidak menghargai dia, padahal, sungguh, aku sangat menghargai dia.