19.11.04

Ultimus

Salah satu tujuan aku dan Lusi hari ini adalah Ultimus. Salah satu tempat di Bandung yang cukup rutin aku datangi, apalagi setelah kekecewaan ke Gramedia beberapa waktu lalu, Ultimus jadi salah satu tempat favoritku.


Di Bandung ini, kalau kamu kebetulan penggemar buku, kamu punya banyak pilihan, terutama beberapa waktu terakhir. Ada beragam toko buku yang katanya alternatif. Bacaan yang berbeda, yang tidak semata-mata buku yang, menurut aku, didiktekan oleh Gramedia, misalnya. Selain Ultimus, ada Tobucil (toko buku kecil) di Kyai Gede Utama, ada Rumah Buku di Hegarmanah, ada Ominum di Sultan Agung (aduh aku selalu aja sulit mengeja nama toko buku yang satu ini), ada Wabule di Imam Bonjol, ada Rumah Malka di Dago, ada beberapa toko lain deh. Suasana yang asik, dan tentu saja buku-buku yang menarik jadi sebab kenapa aku suka ke toko-toko buku ini.

Ceritanya, mau ngenalin Lusi ke toko-toko ini. Aku usaha keras untuk tidak liat banyak buku, tetep aja, jebol. Memilih dua buku ini, yang satu cukup tipis, tentang identitas, judulnya In The Name of Identity. Satu lagi adalah satu buku yang selama ini aku pikir tidak pernah ada, tentang gaya hidup khusus di Indonesia yang entah kenapa dikasih judul berbahasa Inggris: Lifestye Ectasy. Buku yang kedua sebetulnya berupa kumpulan tulisan dari berbagai penulis.

Sayang, Rumah Buku ternyata tutup, padahal buku yang aku pinjam sudah terlambat beberapa hari (jadinya aku dan Lusi malah mampir ke Teko di Ciumbuleuit). Mudah-mudahan lain waktu bisa jalan-jalan ke toko buku lainnya ya. Buat yang belum tahu, jalan jalan deh kesana, jadi sasaran jalan-jalan ke Bandung bukan hanya factory outlet yang kayaknya udah mau meledak (Kata Lusi, Rumah Mode dari jam 9 pagi, sejam sebelum waktu buka, udah diantri-in banyak orang! Mo muntah gak sih?), atau tempat jajanan yang juga udah kayak cendol, dan apalagi menyesaki distro-distro di Bandung yang biasanya terdiri dari sebuah ruangan mungil (hey, dulu itu ruangan yang menyenangkan dan nyaman untuk beli kaos kaos yang lutu-lutu). Ke Bandung untuk berburu buku? Kenapa tidak?

Kopi Aroma

Ketemu Lusi yang tengah liburan. Terimakasih ya, lebih memilih memperlambat pulang untuk bisa ketemuan. Seneng banget.
Tujuan pertama sih jelas makan. Pilihan jatuh ke lomie di Imam Bonjol. Aduh, penuh sesek busek banget. Padahal, awal-awal tukan lomie ini, sekitar tahun 1999-an gitu, sepi banget. Cuman ada satu jongko, cuman ada lomie, enak banget. Tapi itu gak lama, beberapa bulan dari awal buka, memesan semangkok lomie bisa jadi usaha lahir batin, aku dan Lusi pernah membuat rekor selama 1 jam menunggu pesanan datang! Untunglah, kali ini, walaupun penuh, kami gak perlu tunggu lama. Lomie nyam nyam plus semangkok mie baso kuah dan gak lupa teh botol itu, langsung habis dalam sekejap. Padahal sejam sebelumnya baru makan siang loh. Hahaha
Setelah itu, tujuan selanjutnya adalah Kopi Aroma. Ada yang tau? Pecinta kopi, apalagi yang tinggal di Bandung, kemungkinan besar tahu banget tempat ini. Musti niat untuk pergi kesana, karena letaknya di Jl. Banceuy, di tengah-tengah hiruk pikuk mobil. Kopi yang diolah dengan cara yang unik, berdiri dari tahun 1930 deh kalo gak salah.
Untunglah Oom Widya, pemilik tempat yang merupakan pabrik sekaligus toko itu, punya cukup waktu di menit-menit terakhir jam operasi toko. Kami diajak berjalan-jalan. Oom Widya cerita bahwa dia memegang prinsip yang sangat teguh soal produksi kopi ini. Kopi harus fresh! Bukan sistem panen langsung dibakar, loh. Kopi arabica-nya itu, ditunggu betul-betul sampai 8 tahun untuk akhirnya bisa dibakar, jadi, aku dan Lusi yang punya perut dan kepala sensitif sama kopi yang berkafein tinggi bisa minum kopi dengan tenang. Buat Oom Widya adalah cara pembuatan yang harus benar, bukan semata-mata mengejar keuntungan, tapi caranya tidak betul. Prinsip yang mengagumkan, dimana saat ini, kayaknya keuntungan adalah satu-satunya tujuan yang dicari oleh banyak pebisnis.
Kami diajak melihat berbagai mesin tua, mulai dari mesin pemanggang, mesin pemilah biji kopi dengan sistem sentrifugal, mesin pengiling, toples-toples tua, hingga bungkus kemasan kopi yang teksnya masih menggunakan ejaan lama, seakan membawa suasana kembali ke masa silam. Duh, Kopi Aroma seakan tak terpengaruh dengan perkembangan teknologi yang berlomba-lomba diterapkan dan diunggulkan oleh berbagai industri. Menurut Oom, semua masih bisa dipakai dengan baik, bahkan sempat dia bilang, ini buatan orang Indonesia di tahun 1930! Sayang sekali R&D yang baik sulit diperoleh disini, bisa dibayangkan kalau kita punya R&D yang baik...

Biji kopi yang didapatkan dari berbagai perkebunan di tanah air seperti Aceh, Medan, Toraja, Jember, dan Timor-Timur adalah betul-betul biji kopi yang merah dan tua. Kemudian disimpan dalam karung goni di gudang selama 5 sampai 7 tahun. Bila siap digiling, biji-biji tesebut dijemur dahulu di sinar matahari selama 7 jam. Baru ditumbuk, disangrai, lalu digiling.
Aku sendiri baru sekali itu diajak keliling di tokonya. Memang sih, beberapa temanku penggemar berat kopi aroma. Kami memutuskan membeli 1/4 arabica untuk dinikmati dan 1/4 robusta untuk yang lelah, gitu kata Oom Widya. Harga? Gak perlu kuatir, terjangkau banget. Belum berubah selama 5 tahun terakhir: Rp 3.000-Rp 3.800 per 100 gram.

Argkh!

Pengen NGAMUK!

Tiba-tiba tadi, pas bisa login, ada yang berhasil ngerubah tampilan dashboard aku. Emang sih tadi gak sempet logout udah keburu disconnect. Untunglah tidak terlalu panik, sambil coba klik beberapa link yang mau bekerja! Beneran deh, basi banget.