30.10.04

Gramedia

Pernah kesel ama Gramedia?
Aku sering banget, dan gobloknya tetep belanja kesana.

Beberapa hari lalu, aku beli Da Vinci Code, barusan dengan semangat, aku coba menghabiskannya, dan ternyata persis di halaman 560 ternyata kekacauan, dimana halaman berikutnya hilang dari buku tersebut, dan langsung aku dihadapkan pada halaman 577. Bayangkanlah, dari pagi aku hanya menghabiskan waktu untuk membaca buku tersebut, kurang dari 100 halaman lagi, justru di saat saat akhir, aku musti dikecewakan.

Sialnya lagi, aku tidak memegang struk pembayaran, dan harga buku tersebut ada di plastik pembungkus buku. Sebagaimana diketahui, sebagian besar buku di Gramedia itu kan selalu dibungkus plastik

Aku coba kontak Gramedia, dan tentu saja sebagaimana diperkirakan, permohonan untuk mengganti buku tersebut ditolak. Yah, wajarlah, karena bisa jadi aku dapat buku itu dari tempat lain. HUH!!!!

Ini memang bukan kali pertama, dan aku gak ngerti gimana cara Gramedia melakukan kontrol terhadap kualitas barang barang yang dijajakannya. Atau memang tidak ada yang namanya “Quality Control” itu? Mungkin, memang sebagai sebuah perusahaan besar, yang selalu mengambil keuntungan besar dalam setiap penjualan bukunya, yang tidak percaya konsinyasi, Gramedia tidak berminat untuk repot-repot memastikan bahwa buku buku yang dia jual memang dalam kondisi prima! Buat apa. Itu adalah resiko pembeli yang ceroboh dan tidak hati-hati seperti aku, yang akhirnya harus kehilangan kurang lebih 60,ooo ribu rupiah, harga buku tersebut. Entahlah, rasanya memang sudah waktunya muncul sekian banyak toko buku lain yang cukup mampu mengawasi buku-buku yang ada di tokonya.

Aku sendiri, saat ini, malas membayangkan pergi ke Gramedia, tapi, buat Gramedia, apalah arti satu orang pembeli seperti aku yang kemudian memutuskan lebih baik pergi ke tempat lain.