25.10.04

evj'ers

Kafe Halaman. Minggu, 24 Oktober 2004.

Anak-anak EVJ harusnya pada ngumpul hari ini. Herannya sejarah kembali terulang, teteup aja, pas udah jam yang ditentukan, tidak ada siapa siapa disitu. Untung Iya udah reservasi, jadi udah ada meja menunggu kami bertujuh disana (sayang Ty’e gak ada di Bandung ya).

Ada sedikit perubahan urutan kedatangan. Iya ternyata kali ini juga terlambat karena beberapa hal. Elise dan Winsley bisa dateng berbarengan dan menyampaikan salam Diana karena tidak bisa dateng. Katanya sih Diana nawarin silahturahmi setelah Lebaran nanti, halal bihalal gitu deh. Well… kita lihatlah. Dan Puche datang di urutan terakhir yang biasanya ditempati Tinong. Cerita bagaimana Tinong tidak hadir, sudah sangat khas Tinong.

Yang pasti, belum jam buka, aku udah ambil tajil plus teh manis hangat dan langsung menyeruputnya. Nikmat banget. Baru kemudian sadar, kalo orang-orang ngeliatin. Duh, mudah-mudahan gak ada yang salah duga melihat aku dan Abang (yang dengan begitu baiknya mau nungguin aku sampe temen-temen dateng). Tapi kalau ternyata ada yang berpikir sudah jam buka karena melihat kami, nasib aja kali ya. Maaf seribu maaf deh. Tidak ada maksud apa apa kok.

Tapi, ternyata, mendapat pelayanan di waktu berbuka puasa itu memang betul betul butuh kesabaran tingkat tinggi. Sudah hampir sejam aku disana, baru bisa memesan makanan! Huh. Ngeselin juga sih. Sempet juga sih, aku ama elise berpikir, kita bisa kabur sajalah, tokh sudah dapat tajil gratisan. Siapa suruh juga lama-lama, gitu. Untunglah, kami ini masih perempuan-perempuan cantik dan baik hati *hah*.

Sop buntut rupanya jadi menu favorit semua orang, juga juice strawberry. Tapi aku sendiri tetep dengan mie tasik yang memang sudah terbayang-bayang selama beberapa waktu. Maklum, sudah lama banget gak ke kafe halaman, dan mie tasik adalah salah satu menu yang aku suka disana.

Ngobrol ngalor ngidul. Update kisah-kisah cinta (seperti biasa, yang selalu jadi menu utama), update kisah keluarga, dan sedikit kisah kerjaan. Rencana-rencana menikah, dan tetap gak ketinggalan, rencana cari pacar baru. Hahahaha. Sambil diselingin penjualan baju dalam yang huhuy dan seru itu.

Asik banget sih, bisa tau lagi kabar orang-orang. Walaupun ngobrol kemarin lebih ke ngobrol ngalor ngidul aja sih. Gak terlalu dalam. Tapi aku enjoy banget. Walaupun juga, semakin kerasa beberapa hal tampak begitu jauh dari duniaku selama ini. It’s OK.

Tapi, seperti kata Remy bahwa Tinong selalu harus jadi pusat cerita, penceria kami semua, dengan atau tanpa kehadirannya (walopun Iya menyanggah dan bilang Tinong itu tepatnya lebih sering jadi obyek penderita kami kami ini). Di menit-menit terakhir keberadaan kami disana, Tinong sms: eh, kpn bukber teh say.

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Itu sms yang dikirim tiap hari kemana, Non?

lift-ologi

Lift, memang cuman ada di bangunan yang tingginya setidaknya lebih dari 4 lantai. Rasanya itu aturan yang sempat aku ketahui waktu masih sekolah dulu. Jadi, wajar dong, kalau aku bilang, sebagian besar orang yang berada di sekitar aku, pasti pernah naik lift.


Herannya, dan tidak wajarnya, tetap saja terlalu banyak orang yang bego banget soal urusan masuk keluar lift. Huh! Serius deh, aku tuh gak tahan banget dengan orang-orang yang gak ngerti etika (wuih, etika ya?) naik lift.


Coba deh diperhatikan!

  1. Tanda panah ke atas dan ke bawah itu punya makna. Pencetlah tombol tersebut sesuai ARAH yang hendak DITUJU. Kalau mau ke atas, pencet tombol ke atas, dan sebaliknya. Jadi tombol itu bukan ditujukan untuk menarik sang lift ke tujuan dimana anda berada. Itu sebabnya di lantai paling bawah tidak ada tombol ke bawah, dan di paling atas tidak ada tombol ke atas. Kecuali kalau anda berpikir, harusnya ada, karena waktu di lantai paling bawah, anda perlu “memanggil” lift ke bawah.
  2. Jangan pernah memencet kedua tombol bersamaan. Anda kan tidak mungkin mau ke atas sekaligus ke bawah. Gimana, sih? Kalau memang itu terjadi, kedua tombol ditekan, coba perhatikan, pada waktu pintu lift terbuka, tombol mana yang tidak menyala, berarti itu adalah tujuan lift. Kalau tombol yang mati tombol ke atas, dan tombol ke bawah masih menyala, tunggulah giliran anda.
  3. Kalau keukeuh mau masuk, jangan terus berlaga heran, kok ini lift ke atas ya, saya kan mau ke bawah dan kok nomor lantai tujuan anda, yang tentu saja ada di bawah itu, tidak bisa ditekan. Pikirkanlah baik baik, kenapanya itu!
  4. Lampu pada tombol naik dan turun itu punya makna. Kalau menyala, itu sudah cukup. Menekan tombol terus berulang kali TIDAK AKAN MEMPERCEPAT kedatangan lift dan mempercepat pintu lift terbuka. Percayalah. Jadi, sabar sajalah.
  5. Kalau cuman naik atau turun satu atau dua lantai, kecuali fisik anda memang payah atau bawaan anda setara dengan belanja rumah tangga dalam sebulan, coba deh pakai saja tangga atau tangga berjalan yang pasti selalu ada di sekitarnya.
  6. Kalau ternyata lift tidak mau naik atau turun karena keberatan atau kepenuhan, gak usah belaga bego dan pura pura tidak tahu, apalagi kalau anda berada sangat dekat dengan pintu lift, keluarlah!
  7. Dan yang paling gak tahan nih, kalau keisengan anda memuncak dan memencet semua lantai di dalam lift. Aduh, heran deh, lift itu dibuat untuk mempercepat, tapi tampaknya, menurut aku sih, lebih sering memperlambat. Jadi kalau bawa anak kecil, tolonglah diberi pelajaran yang bisa membuat anak tersebut lebih mengerti, bahwa itu tombol-tombol di dalam lift bermakna dan punya fungsi!

btw, gue sebut ini lift-ologi, terinspirasi oke, lagian bukankah logi itu adalah ilmu?