29.12.04

Tsunami, Aku dan Kamu

Tsunami biasanya ditandai dengan air laut yang surut setelah gempa bumi. Beberapa menit setelah pantai surut terjadilah gelombang membalik yang sangat besar.

Beberapa waktu lalu, aku bisa jadi tampak meratapi nasibku. Aku merasa kenapa aku harus menghadapi ini dan itu, kondisi-kondisi yang membuat aku begitu marah dan sedih. Aku juga sempat kuatir dengan cetakan rekening tabungan yang terus menurun dan bukannya bertambah atau setidaknya tidak berkurang. Aku kuatir akan banyak hal sejak bangun pagi.

Bayangkanlah, hanya beberapa saat dan semua hilang. Bayangkanlah apapun yang kamu miliki dan rasakan hilang dalam sekejap. Semuanya. Kecuali pakaian yang menempel di badanmu (itupun kalau kamu cukup beruntung masih memakai pakaian yang cukup utuh, apalagi kalau kering).

Untuk aku, sangat sulit bisa membayangkan itu semua. Sulit untuk betul-betul bisa merasakan kesedihan, kegetiran yang dirasakan. Aku hanya bisa menegur diri sendiri karena apa yang aku rasakan tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang terjadi pada mereka yang harus merasakan itu semua. Segala masalah yang ada di depan mataku sama sekali tidak sebanding dengan itu semua.

Bayangkanlah semua itu, kawan. Mereka yang berhasil tetap hidup tidak lagi akan menjalani hidup yang sama. Mereka yang berhasil tetap hidup membutuhkan semua hal yang dapat mereka terima untuk tetap bisa bertahan hidup dan melanjutkan kehidupannya. Aku percaya tidak ada yang terlalu kecil dan terlalu remeh temeh selama itu datang dari hati yang tulus yang tergerak karena rasa.