23.12.04

Natal Euy

Tidak tahu kenapa, aku malah jadi teringat beberapa peristiwa sekitar Natal di tahun-tahun kebelakang.
Empat tahun lalu, di tahun 2000, hampir saja aku tidak akan merayakan Natal bersama keluarga. Tapi waktu itu ternyata adikku sakit keras, dan aku diminta untuk segera pulang ke tanah air. Blessing in disguise? Bisa jadi. Sedih kalau ingat betapa parahnya kondisi adikku saat itu (untunglah dia bisa pulih lagi walaupun memakan waktu hampir setahun). Aku sangat beruntung karena aku jadi bisa bernatal bersama. Masih ingat perjuangan untuk bisa dapet tiket, bayangin aja, peak season, dan aku masih nekat mau coba-coba cari tiket dalam waktu kurang dari seminggu! Udah gitu, NS, perusahaan kereta api Belanda sedang mogok kerja, persis pada hari aku harus berangkat, padahal aku berangkat dari Brussel dan bukan dari Schipol (lebih murah dan itu satu-satunya tiket yang bisa aku peroleh berkat bantuan Uli, temanku di Leuveun). Natal yang penuh perjuangan.

Tiga tahun lalu, di tahun 2001, aku akhirnya bisa kembali ke tanah air. Kali ini, betul-betul pulang. Lega juga bisa menyelesaikan sekolah, sekaligus sedih karena harus berpisah dengan sahabat-sahabat yang sekian lama sudah bersama dengan aku. Aku ingat, tiket pulang ke tanah air sudah aku pesan jauh jauh hari sebelumnya, sejak bukan Juli. Aku berangkat hanya 3 hari setelah hari wisuda. Perjalanan Amsterdam-Jakarta betul-betul melelahkan, karena aku harus packing dalam waktu singkat (aku sudah jarang bela beli barang, tapi tetap saja ada begitu banyak barang yang sebagian besar aku tinggal begitu saja), belum lagi urusan air mata tiap pamitan. Walhasil, badanku ambruk selama perjalanan. Untungnya, aku jadi tidak sadar selama 17 jam perjalanan tersebut. Tidur terus. Sampai di tanah air ternyata hampir seluruh keluarga menjemput. Memang permintaan aku sih, terdengar kekanak-kanakan, tapi aku betul betul kangen mereka semua. Aku datang di hari ulang tahun adikku, yang dengan rela membiarkan hari jadinya terpakai untuk menjemput aku dan bukan dirayakan.Dari jauh jauh hari, aku sudah memohon kepada ibuku, untuk tidak membuat acara besar-besaran selama natal kali ini. Aku ingin Natal kali ini hanya untuk keluarga inti saja, ayah, ibuku dan adik-adikku. Aku tahu, ibuku agak berkeberatan, dan sepupu-sepupuku juga bertanya-tanya. Tapi aku benar benar ingin Natal hanya bersama keluargaku. Aku ingat, Natal kali itu berdekatan dengan Lebaran, sampai-sampai terjadi krisis air minum mineral!

Setelah itu, di tahun 2002, Natal kembali dirayakan bersama-sama keluarga besar. Untungnya waktu itu aku berhasil mengambil jatah cuti cukup lama. Soalnya waktu libur lebaran yang jatuh di awal Desember, aku memutuskan untuk tetap bekerja seperti biasa dengan imbalan libur Natal aku lebih panjang. Untung permintaanku diluluskan oleh kantorku. Lagipula, semua laporan final proyek-proyek yang aku pegang sudah aku selesaikan pada tengah bulan Desember, persis beberapa hari sebelum masa cuti. Tidak ada hutang apa apa lagi. Aku menikmati masa-masa libur menjelang Natal tersebut sambil ikut beberes rumah. Sial sekali, di malam natal aku dan ayahku masih dalam perjalanan Jakarta-Bandung. Aku menemani ayahku yang harus menghadiri rapat yang diadakan tanggal 22-24 Desember. Saat itu rumah di Jakarta belum bisa ditempati, walhasil aku dan papi merasakan suasana natal di sebuah hotel di sekitar Cikini sambil berkutat dengan setumpuk pekerjaan papi yang harus aku bantu.

Taun kemarin, 2003, kami sekeluarga memutuskan untuk berlibur bersama. Semuanya. Tujuh orang. Karena ketidakbecusan biro travel, tiket kami tidak pernah jelas keberadaan dan statusnya, walhasil, kami harus pontang panting mencari 7 tiket ke Medan dalam waktu singkat. Untuk dibantu Oom Sony-nya Toko You, selamatlah kami sekelurga. Sebetulnya, aku sudah tidak punya kakek nenek. Ompung boru dari papi meninggal pada waktu aku di Belanda, aku adalah cucu pertamanya, panggoaran ompungku (itu berarti nenekku dikenal sebagai neneknya Melly dan bukan lagi anak pertamanya, dan tentu saja bukan namanya atau nama suaminya), dan sejak dia dimakamkan, aku belum pernah berziarah. Aku ingin sekali melihat makamnya, karena itu aku memutuskan untuk pergi ke kampung. Bukan, bukan di Medan, tapi di sebuah kampung kecil di sekitar Siantar, namanya Bandar Parmonangan. Kami memutuskan untuk tidak memberitahu sanak saudara, demi alasan kenyamanan. Serasa selebritis banget ya :)
Hari menjelang malam natal kami habiskan dengan berkeliling Pulau Samosir dan mengunjungi Pulau Tao. Cuaca cerah sekali. Kami melihat begitu banyak orang mudik. Konon, sebagian besar adalah mereka yang merantau ke Pulau Jawa. Aku bahkan melihat angkutan umum yang biasa aku lihat di kotaku! Pemandangan yang belum pernah aku lihat. Jauh berbeda dengan pemandangan di Pulau Jawa. Sayang, kami semua salah jadwal kebaktian, walhasil kami tiba di sebuah gereja di Prapat sekitar 15 menit sebelum kebaktian bubar, dalam bahasa Batak pula! Biar bagaimana, perjalanan tahun lalu adalah salah satu perjalanan paling berkesan seumur hidupku.

*uhh, aku tidak bawa foto-foto koleksiku ke dalam flashdisk, jadi foto-foto semua hal yang aku ceritakan tidak bisa aku upload. Rasanya sih sebagian besar ada di album yahoo-ku*

Tahun ini, orangtuaku memutuskan untuk merayakan Natal di Jakarta. Aku tidak terlalu suka, adik-adikku juga. Tapi ada beberapa alasan yang kemudian bisa kami terima. Hari ini, aku ada di Jakarta, menikmat masa bermalas-malasan dengan cuaca mendung. Aku tidak tahu akan seperti apa Natal kali ini. Aku tidak berharap muluk. Aku bukan anak kecil yang mengharapkan kado Natal istimewa. Aku juga tidak lagi muluk-muluk mengharapkan damai di bumi terjadi begitu saja pada hari Natal, sesuatu yang selalu dikumandangkan setiap Natal. Aku masih senang mendapat kesempatan merayakannya, karena hari Natal selalu mengingatkan aku untuk terus bersyukur atas hidupku. Aku berterimakasih pada Tuhan bisa ada bersama keluargaku, bisa berdoa bersama, bisa kebaktian bersama. Aku pikir, itu bahkan sudah lebih dari cukup.

Merayakan atau tidak, tulus aku ucapkan, Selamat Natal.