22.12.04

Menjelang Pergi


Sudah jam 11, harus segera bergegas...

Kalau harus packing untuk bepergian kemanapun, urusan senang-senang atau urusan kerja, selalu aku lakukan di menit-menit terakhir. Biarpun itu hanya satu hari sampai tiga bulan, biar itu hanya pergi ke Jakarta atau bahkan ke Bangkok, tetap beberes paling pas itu di menit-menit terakhir.
  • Ambil baju yang baru disterika
  • Ambil koper kecil
  • Sortir pakaian, wah, ada tiga kali kebaktian nih. Lumayan ribet. Salah sendiri membawa semua baju dari rumah Jakarta.

Ting tong...ting tong...aduh, aduh, apa lagi nih...

"Selamat pagi, Mba, ini buat Bapak dan keluarga," ujar lelaki itu sambil menyerahkan bungkusan besar itu.
"Terimakasih ya, Pak," balas aku.

Kembali ke urusan yang tadi tertunda.

  • Sepatu. Ingat harus pergi ke gereja dan semua sepatu di Jakarta juga sudah dibawa ke Bandung
  • Charger. Handphone. Cek. PDA. Cek. Kamera. Cek. Hmm, apa lagi ya?

Ting tong...ting tong...aaaaarrgkkhh...siapa lagi nih...

"Selamat pagi, Bu, ini buat Bapak dan keluarga," lelaki yang lain tapi masih sambil menyerahkan bungkusan besar itu berkata.
"Terimakasih ya, Pak," balas aku sambil kesal, apa aku terlihat seperti ibu-ibu?


Aku letakkan bungkusan itu dan bergegas kembali ke kamarku.

  • Kabel data. Dimana sih? Oh, itu dia masih di PC.
  • Hair dryer. Perlu tidak ya? Ah, bawa saja.

Ting tong...ting tong...astaga...bel rumah ini betul-betul tidak mau memberi aku kesempatan beberes!

"Selamat pagi, De, ini buat Bapak dan keluarga," kata lelaki tersebut lagi-lagi dengan bungkusan yang sedikit lebih kecil.
"Terimakasih ya, Pak," balas aku sambil agak terengah-engah.


Aku membawa bungkusan itu, dan wah, aku harus membereskan meja kecil ini supaya semua bungkusan muat disana.

  • Bedak dan kawan-kawan. Cek. Tapi, dibawa nanti saja, di tas kecil deh.
  • Buku tebal sialan itu, kalau tidak, aku tidak bisa mempersiapkan bahan mengajar di hari Selasa. Cek.
  • Berkas ujian mahasiswa. Cek. Sedih, aku ini mau berlibur atau bekerja sih?

Ting tong...ting tong...nasib sendirian di rumah, berarti harus selalu siap membuka pintu.

"Selamat pagi, ini buat Oom dan keluarga," lelaki yang jauh lebih muda daripada lelaki yang sedari tadi membawa bungkusan tersebut berkata.
"Terimakasih ya, Mas," balas aku sambil tersenyum.


Sepertinya memang aku tidak bisa beberes dengan tenang. Tanpa pikir panjang, kumasukkan saja semua barang yang tampak dan terpikir oleh aku. Maaf ya buat para laki-laki yang tadi sudah mengantar ini itu, aku malah agak bersungut-sungut, padahal mereka begitu baik membawa ini itu untuk aku dan keluarga.

Begini ini suasana menjelang Natal. Kiriman kartu pos, makanan, dan beberapa barang lain datang silih berganti. Menemani (aku tidak tega bilang mengganggu) aku yang terbiasa dengan last minute packing. Aku sendiri kaget, masih ada banyak orang yang begitu perhatian kepada keluarga kami. Terimakasih, ya, hanya saja aku bingung, berhubung rumah akan ditunggui oleh teman gereja kami untuk beberapa waktu, siapa yang harus menghabiskannya? Hmm, berarti aku harus buru-buru menyerahkannya lagi nih pada orang lain, bukan tidak menghormati yang memberi, tapi daripada terbuang percuma kan lebih baik dinikmati. Soalnya, aku sendiri malas deh harus bawa-bawa semua barang tersebut ke rumah Jakarta.

Atau...ada yang mau main ke rumah?