14.12.04

Kabar Buruk Kabar Baik

Menurut aku sih, setiap kabar pasti punya dua sisi. Memang ada sebuah kabar yang akan disetujui sebagian besar bahwa itu kabar buruk atau kabar baik. Seperti perginya Mas Harry Roesli, itu adalah kabar buruk. Hampir semua orang setuju. Aku juga, sedih sekali waktu tahu Mas Harry sudah lebih dulu pergi. Ada juga kabar baik, misalnya saja kabar kemenangan Indonesia di Olimpiade Sains untuk Tingkat SMP.
Terkadang ada kabar baik yang menjadi kabar buruk buat orang lain, dan juga sebaliknya. Kabar kemenangan Dian Sastro di ajang FFI misalnya, bisa jadi kabar baik dong buat Dian, tapi mungkin ada orang yang melihatnya sebagai kabar buruk karena idolanya tidak menang. Ketika kamu bisa memperoleh proyek besar yang membuat kamu begadang dan dimarahi boss besar sampai-sampai rasanya kepala sudah mau pecah dan badan sudah luluh lantak, itu kabar baik, apalagi buat pasangan kamu yang ikut-ikutan kena semprot selama masa-masa persiapan (jelas dia juga akan kena semprot keuntungan dari proyek itu, dong). Apa semua orang setuju itu kabar baik, eits tunggu dulu, buat saingan kamu, itu adalah kabar buruk, apalagi pasti mereka juga mempersiapkan semua itu dengan dedikasi yang gak kalah habis-habisannya dengan kamu.
Hari ini aku dapet sms dari kakak sepupuku.
Ada kbr baik utk Melly. Kk pernah blog Tuhan bs kash ke Melly org yg tepat dlm 2/3 bln ini. Ada yg mau kenal Melly. Kpn kt bs ngobrol dulu?
Deg. Rasanya badanku tiba-tiba badanku kaku. Untung masih ingat untuk tarik nafas. Ini salah satu cerita ketika orang datang dengan muka gembira dan bilang, hey ada kabar baik, pada saat, sebetulnya, kabar itu bikin aku ingin marah, mengamuk atau menangis.
Aku tidak yakin bahwa ini kabar baik untuk aku. Sangat tidak yakin, karena kalau ini kabar baik, aku tidak akan meneteskan air mataku, kan?