9.12.04

Jingle Bells


Senang, diundang HardRock lagi. Seharusnya aku menghadiri acara Jingle Bells itu minggu lalu, tapi karena satu dan lain hal aku baru datang yang hari ini. Acaranya masih di Papandayan, dimulai jam 6 sore tadi dengan bintang tamu Tfive dan penyiar Chandra (yang kayaknya kok makin kurus ya?). Terkejut, karena bertemu teman lamaku di kantor lama, Kiki. Dia bekerja jadi PR Hotel Papandayan! Kok malah nyasar kesitu ya? Tapi gak apa-apa, aku senang bisa ketemu Kiki lagi.

Alasan kenapa aku ingin tulis acara itu disini, karena acara tersebut berjasa membuat aku begitu berbahagia malam ini! Tadi sore, aku sampai di Papandayan sekitar jam 17.30, tapi tertahan di tempat parkir, karena ada sedikit "huruhara" di tempat parkir. Kondisi yang membuat aku begitu sedih. Sedih banget. Aku pergi dari tempat parkir dengan perasan kesal dan kesedihan yang udah tinggal pake api dikit aja udah meledak dan bikin kehancuran tingkat tinggi, deh. Herannya begitu sampai di ruangan tempat acara itu berlangsung, aku langsung (!) merasa santai, bisa jadi karena teman-teman dari HardRock juga bersahabat dan akrab. Enak banget. Membuat aku merasa nyaman dan tidak canggung, asik. Mungkin juga karena aku sudah cukup akrab dengan beberapa muka disitu, jadi enak aja untuk ngobrol (atau aku yang terlalu SKSD ya?).

Terutama pas Iwan Zein nyanyiin lagu I'll be home for Christmas, entah kenapa, aku betul-betul tersadar bahwa ini sudah hampir Natal. Memang sih pohon natal sudah dipasang, lagu natal sudah mulai dipasang, pembicaraan tentang mau natalan dimana sudah dilakukan, tapi kok baru tadi tuh, kerasa banget kalau waktunya sudah hampir dekat. Aku sampai terharu *cie cie*. Terimakasih deh buat Iwan dan juga T-Five yang udah nyanyiin Silent Night-nya. Keren.

*harus inget menelpon Kiki untuk minta foto-foto yang dia ambil, salah sendiri kemakan emosi dan jadinya memutuskan meninggalkan tas berikut kameraku di mobil*

Aku bersyukur tetap memutuskan datang walaupun kekalapan di awal acara sudah membuat aku untuk tidak jadi datang, aku benar-benar merasa bersenang-senang (bukan hanya senang karena dapat voucher), dan suasana hati yang terbangun membuat aku lebih tenang. Akhirnya sih, "huruhara" itu bisa terselesaikan dengan baik, karena teman berhuruhara-nya juga berbesar hati dan berlembut hati sih, jadi aku pulang dengan hati gembira. Betul kan, hati yang gembira adalah obat yang manjur, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang.