6.12.04

Identitas


Pernah isi identitas diri? Pasti sering. Untuk membuat blog ini, pasti diminta identitasnya, kan? Mau benar atau palsu, itu sih pilihan kamu. Kalau aku, lebih suka memberi identitas asli saja. Nama, jenis kelamin, tanggal lahir, biasanya dengan alamat dan kode pos adalah beberapa hal yang musti diisi untuk menentukan identitas kamu.

Tapi kadang identitas tidak sesimpel nama, alamat dan tempat tanggal lahir. Apalagi kalau berkesempatan baca buku Malouf tuh. Ada banyak hal yang membentuk identitas kita. Itu katanya.

Aku pikir-pikir, memang ada banyak hal yang membentuk identitas aku.

Coba deh, pernah gak kamu dikenal sebagai siapanya siapa. Misalnya nih, aku, dikenal sebagai anaknya Bapakku (jelaslah ya). Papi itu terkait banget dengan aku, pernah, sering malah, dan malah karena itu banyak keputusan aku buat berhubungan dengan itu, Bukan bukan untuk memanfaatkan justru untuk menghindari bayang-bayang dia. Dikaitkan dengan adik-adikku sih jarang, yang lebih sering adikku yang dikaitkan dengan aku. Malah sampai sampai salah satu adikku pernah mengambil jalur sangat ekstrim untuk melepas kaitan itu dari aku, soalnya dia lebih dikenal sebagai adiknya Melly. Emang enak! Tapi di beberapa komunitas aku dikenal sebagai kakaknya adik adikku kok. Seperti semalam, teman-teman adikku bilang makasih Kak Maurice *maksudnya kakaknya Maurice*.

Aku juga pernah punya sahabat di Rotterdam, dimana aku juga merupakan bagian dari identitas dia. Begitu dia datang sendiri ke kampus, orang mempertanyakan ketidakhadiranku, padahal saat itu dia bersama tunangannya yang kebetulan tinggal di negara yang berbeda. Nah loh! Terbayang kalau saja sang tunangan tidak mengenal baik aku atau mengetahui bagaimana hubungan aku dengan dia bisa-bisa mereka tidak akan punya (calon) anak seperti sekarang.

Tapi satu jenis hubungan lain yang juga menurut aku membentuk identitas seseorang itu adalah pacar (atau istri atau suami atau tunangan). Pasti akrab kan dengan kata-kata eh, kenal dengan Rini gak, itu loh Rini-nya Anton *satu konsep yang aneh, kesannya dimiliki sebagai benda gitu loh*. Tidak jarang, ini juga menjadi sumber gosip, kalau aku tidak muncul sebagai identitas yang “utuh” menurut pengertian orang-orang tertentu.

Semalam, di Potluck aku mendapat pertanyaan yang sama,’Eh, mana si abang?’ Ugh, senyam senyum masem saja. Dalam hati, tercenung juga, gila juga ya dalam waktu yang sangat singkat, abang sudah menjadi bagian dari identitas aku. Di beberapa tempat bisa jadi orang akan melihat aku tidak sebagai aku yang “seutuhnya” (aduh bahasanya, bahasa P4 banget), ada yang kurang, tapi bisa jadi bukan abang yang dimaksud tapi seseorang yang lain, yang sebetulnya menjadi identitas gue dalam kurun waktu yang jauh lebih lama dari abang (yang sampai saat inipun ada beberapa yang belum pernah aku datangi lagi!).

Well, menurut Malouf memang identitas kita dibentuk oleh banyak hal, dan menurut aku bukan hanya lingkungan tempat tinggal, keluarga, kebiasaan tapi juga orang-orang yang dekat dengan kita. Aku sih tidak masalah dengan hal itu. Memang, mereka yang dekat dengan aku membentuk aku, langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar, sedikit atau banyak,. Ganti identitas? Uh, jangan deh. Memang ada saatnya aku lebih suka tidak mengumbar identitasku, malah cenderung menutupinya, tapi rasanya tidak akan aku mengganti identitasku. Apalagi yang satu ini, yang biasa aku lakukan beberapa waktu lalu untuk mengemukakan identitas aku. Hi, I’m Mellyana, I’m Indonesian. Aku senang bisa menunjukkan identitasku di pojok ini.

3 comments:

  1. wah, koment system nya sampe dua segala :o :)

    ReplyDelete
  2. identitas diri, yang mandiri, memang kudu dibangun. atau kita bisa juga melenggang sepenuhnya dengan cuek, tak peduli kata orang, tak hirau pengaitan ini-itu. saya pernah mengalami, lama sekali. rasanya beban itu berat. waktu sma, saya suka banget lirik ini: i decided long ago never to walk to anyones's shadow, if i failed if i succeed... etc. tapi setelah tua, ya saya biarkan semua apa adanya. mungkin karena identitas saya kadung kebentuk ya? :) lagi pula, suka tak suka, ada garis sejarah di belakang punggung kita yang tak sepenuhnya merupakan jejak kita... andaikan setiap jembatan yang saya lalui itu saya rubuhkan, tetap saja ada yang ingat bahwa di beberapa titik perjalanan pernah ada yang namanya jembatan. dan pengaitan akan datang lagi: "oh, itu dia yang menghancurkan jembatan ya?" :)

    ReplyDelete
  3. Wah.. sekarang sih biasanya kita di"identifikasi" dg nomer tertentu...nomer rekening bank, nomer social security, nomer tgl lair, nomer passport.. Dan mulai 1 januari besok, dibelanda, semua orang wajib bawa kartu identitas. Wah, jadi mau tau, siapa sih aku... aku liat-liat kartu id ku...ada nomernya (tuh kan!!!), tgl lair, keterangan kalo aku perempuan, keterangan aku istrinya siapa, dan keterangan kalo aku orang indonesia. Eh, tapi enggak ada tuh titel ku (padahal sekolahnya susah-susah!), cuman ditulis perempuan aja (padahal aku kan perempuan mandiri, hehe!), enggak ditulis kalo aku bangga jadi orang indonesia, trus enggak ada keterangan kalo aku arsitek, apalagi keterangan kalo aku care sama environmental (urban) planning.. padahal kan itu kan identitas ku?? ..eehh, hal2 yg penting buat aku ternyata nggak penting buat pemerintah..ya sudah .. masih untung ada foto ku ...jadi kalo dicheck, aku musti bersuka cita nunjukin ID card itu (syukur2 apal nomernya), sambil ngaku: ini identitasku.. yah kasian gue ya mel...:)

    ReplyDelete