20.12.04

Dag Ice


Ice terbaring lemah, tidak bergerak sama sekali. Matanya hanya diam melihat aku. Aku terus mengelus dia,"Ice, tahan ya, bentar lagi dokternya juga datang."
iceIce dibawa oleh salah seorang adikku sekitar 2 bulan lalu dalam kondisi sakit. Kaki belakangnya patah. Dua-duanya. Konon, pemilik lamanya menyiksa Ice sampai jadi seperti itu. Walaupun di rumah sudah ada 5 anjing, kami memutuskan memelihara (untuk sementara) Ice dan seorang anjing lain yang lehernya tergorok oleh pemilik lama tersebut. Kami bawa ke dokter, kami jaga. Sejak awal bulan Desember, Ice sudah bisa jalan! Kami semua sangat seneng. Yah, jalannya sih masih "mencong-mencong" karena kakinya belum kuat benar. Lucu deh, kadang, pas dia jalan tiba tiba dia langsung duduk, mungkin kecapekan. Aku sayang banget ama Ice.

Seminggu lalu, karena satu dan lain hal, kami terpaksa memindahkan Ice ke kandang, berdua dengan anjing yang sakit lehernya itu (lehernya sudah dijahit, dan dia juga sudah sembuh). Anjing kami yang lain dibiarkan bermain di halaman belakang, kecuali yang dua ini. Aneh, Jumat malam, kedua anjing ini ribut terus. Sabtu pagi, Ice sudah tergeletak. Sepertinya gara-gara ribut dengan anjing yang satunya itu. Kaki Ice belum sembuh sempurna, jadi dia belum kuat untuk melawan atau berdiri lama. Sepertinya dia luka dalam (kata abang sih kayak gitu).

Adikku mencoba cari dokter, tapi sedang tidak praktek. Hari Sabtu siang, aku temani dia. Setelah lama kuelus, dia mau juga berjalan-jalan. Tapi tetap, dia tidak mau makan, tidak mau minum, bahkan milo yang jadi kesukaannya. Dia terus menerus muntah yang bikin miris banget. Dia baik banget, tiap mau muntah, dia paksain jalan ke pojokan.

Tapi tadi pagi, sebelum berangkat ngajar, aku ingin sekali melihat Ice. Ternyata dia sudah tergeletak. Darah ada dimana-mana. Kuangkat, kupindahkan ke tempat yang kering dan bersih. Tapi dia sama sekali tidak bereaksi apapun. Kakinya yang sehat juga tidak bergerak sama sekali. Matanya tidak berkedip kedip jenaka seperti biasanya. Dia hanya diam. Sungguh, rasanya aku ingin memberikan apa saja untuk berbagi rasa sakit yang dia rasakan. Aku kesal aku tidak bisa berbuat apa apa

Aku tidak tahan,"Ya udah atuh, Ice, kalau mau pergi, cepetan ya. Cepat pergi, biar gak tersiksa."

Dia melihat aku, matanya semakin kecil. Tidak lama, kepalanya terangkat, sepertinya dia berusaha menarik napas yang begitu sulit dilakukan. Sekali, dua kali, tiga kali, lalu berhenti. Selamanya.

Air mata turuun. Aku ini memang cengeng. Walaupun ia baru beberapa saat di rumahku, aku sayang sekali sama semua peliharaanku.

Sore ini aku lebih tenang, aku senang, Ice tidak tersiksa lagi.