8.12.04

Astaga, salah kirim!


Di kala teknologi makin canggih, kesalahan kecilpun bisa membuat dampak yang semakin canggih juga.

Waktu belum ada telepon apalagi telepon genggam, kita harus bertemu untuk berbicara, atau setidaknya lewat surat melalui kantor pos. Enaknya, ada waktu untuk baca ulang lagi semua tulisan, terus, ada waktu beberapa hari dari surat dikirim hingga akhirnya sampai ke tujuan, jadi kalau yang lagi marahan, mudah-mudahan emosi waktu itu sudah turun, kan sudah lewat beberapa hari. Sekarang semuanya serba cepat ada email, ada telepon, malah bisa juga tele-conference (dan sekarang ternyata akad nikah pun bisa dilakukan melalui tele-conference ini loh).

Email, hanya butuh beberapa detik untuk sampai ke tujuan. Beberapa detik untuk bisa memberi tahu kabar, tapi juga beberapa detik untuk membuat satu kesalahan yang terjadi karena ketidakhati-hatian.Dulu, temanku pernah salah mengirimkan email yang sangat personal ke sebuah mailing list! Panik jangan dikira, dia sadar sesaat setelah tombol sent dikirim, tapi, sudah tidak bisa lagi diulang kan.

Kalau soal sms, jangan tanya deh. Beberapa tulisan di pojok ini sudah bisa bercerita tentang kekesalan atau kegembiraan gara-gara sms. Mulai dari salah terima sms ataupun sms iseng berhadiah menyenangkan.

Entah kenapa, setiap aku mau mengirimkan sms ke seseorang tentang abang, selalu terkirim ke abang, dan bukannya ke orang itu. Kacau kan. Cuman dua kali, dua-duanya fatal pula. Aku gak bisa inget, apa sebelumnya udah pernah kejadian juga atau enggak. Dua ini yang bisa aku ingat, karena dua-duanya terjadi dalam dua minggu terakhir, berdekatan pula.

Salah kirim yang pertama, harusnya meluncur ke adik perempuanku. Efek dari kesalahan itu, selain malu dan kaget, adalah beberapa sms datang dari abang. Tapi, untungnya, waktu itu tidak ada kerusakan berarti, karena abang masih dengan sabar mendengarkan penjelasan aku, dan aku juga jadi lebih mengerti gimana perasaan abang. Tapi kesalahan yang kedua, duh, ancur-ancuran banget. Hanya saja, lagi-lagi aku beruntung, karena akhirnya abang juga masih bersabar hati untuk menerima (kembali) telepon aku. Makasih ya, Bang. Padahal katanya dia ini orangnya keras banget, tapi ternyata masih mau berbaik hati mendengarkan omonganku.

Jangan kapok ya, Bang, kekekekek.

Mudah-mudahan aku dapat sms menyenangkan hari ini, jangan yang bikin kesal hati atau jangan dari orang tidak dikenal yang salah kirim sms.