30.12.04

ei tu ze

Terus terang, buku ini aku beli karena Danni seseorang yang aku pernah liat, aku kenal dan karena itu ada rasa penasaran untuk melihat isi tulisan seorang Danni, mimpi seorang Danni.

Kesan pertama: buku ini sebuah film.

silahkan klik untuk berkunjung ke website ei tu ze

Entah kenapa, aku merasa seperti sedang menonton film ketimbang membaca buku. Sejak masih di halaman-halaman awal, aku langsung membayangan jika buku ini dibuat dalam versi layar lebar. Plot maju mundurnya, jelas jelas bukan plot yang lazim ditemui di sebuah buku, mengingatkanku pada plot banyak film. Tutur cerita yang kadang sebagai Dharma, tokoh utama buku ini, kadang sebagai Atari dan ada juga yang sebagai Rivan, lagi lagi sangat film buat aku. Soalnya kalau buku kan biasanya hanya punya satu tokoh utama, apalagi dengan cara bercerita orang pertama kecuali kalau diceritakan dengan gaya orang ketiga, atau kalau sebuah film. Tutur cerita yang singkat-singkat, lebih membuat aku merasa membaca skenario sebuah film. Biasanya, sebuah buku penuh dengan hal-hal yang ada di dalam otak tokoh-tokohnya: pikiran, khayalan, kenangan, apapun itu. Lain halnya dengan senario film yang biasanya lebih banyak berisi kalimat-kalimat yang diucapkan tokoh-tokohnya. Mirip kan dengan buku ini? Kalimatnya pendek-pendek dan saling berbalasan tanpa banyak memuat hal-hal yang lebih detail baik di pikiran tokohnya ataupun hal detail di sekitar tokohnya.

Dharma sendiri adalah seorang perempuan yang sangat beruntung. Dikaruniai banyak hal yang diinginkan banyak perempuan Indonesia, fisik dan non fisik, yang walaupun tidak berhasil menyelesaikan kuliah secara formal di sebuah institut yang konon terkenal itu, punya begitu banyak talenta yang aku yakin banyak diharapkan oleh perempuan lain, punya daya tarik kuat sehingga bisa saja menarik hati seorang laki-laki yang putih, tinggi, pintar, alim dan tajir pula! Aku pikir, menjadi seorang Dharma adalah karunia. Punya keluarga yang tidak terlalu mau ikut campur, punya teman-teman yang menyenangkan (walaupun tampaknya tidak ada yang betul-betul sahabat sejati yang senantiasa ada di saat duka maupun suka, karena Dharma cenderung menyelesaikan segala sesuatunya seorang diri), dan punya malaikat penolong!

Kalau kamu ingin baca sesuatu yang tidak bikin pusing kepala, membuat kamu merasa santai, bisa kamu bawa kemana-mana, mengerti bahasa Inggris dan suka dengan gaya bicara loncat-loncat (yang sangat aku banget), buku ini bisa jadi pilihan yang menyenangan. Tentu saja, kamu akan melihat sebagian dari dirimu di dalam buku ini, sebagian dari kisahmu didalam buku ini. Wajarlah, soalnya cerita Dharma tentu saja bukan hanya monopoli seorang Danni Junus, tapi juga cerita aku dan kamu.

29.12.04

Tsunami, Aku dan Kamu

Tsunami biasanya ditandai dengan air laut yang surut setelah gempa bumi. Beberapa menit setelah pantai surut terjadilah gelombang membalik yang sangat besar.

Beberapa waktu lalu, aku bisa jadi tampak meratapi nasibku. Aku merasa kenapa aku harus menghadapi ini dan itu, kondisi-kondisi yang membuat aku begitu marah dan sedih. Aku juga sempat kuatir dengan cetakan rekening tabungan yang terus menurun dan bukannya bertambah atau setidaknya tidak berkurang. Aku kuatir akan banyak hal sejak bangun pagi.

Bayangkanlah, hanya beberapa saat dan semua hilang. Bayangkanlah apapun yang kamu miliki dan rasakan hilang dalam sekejap. Semuanya. Kecuali pakaian yang menempel di badanmu (itupun kalau kamu cukup beruntung masih memakai pakaian yang cukup utuh, apalagi kalau kering).

Untuk aku, sangat sulit bisa membayangkan itu semua. Sulit untuk betul-betul bisa merasakan kesedihan, kegetiran yang dirasakan. Aku hanya bisa menegur diri sendiri karena apa yang aku rasakan tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang terjadi pada mereka yang harus merasakan itu semua. Segala masalah yang ada di depan mataku sama sekali tidak sebanding dengan itu semua.

Bayangkanlah semua itu, kawan. Mereka yang berhasil tetap hidup tidak lagi akan menjalani hidup yang sama. Mereka yang berhasil tetap hidup membutuhkan semua hal yang dapat mereka terima untuk tetap bisa bertahan hidup dan melanjutkan kehidupannya. Aku percaya tidak ada yang terlalu kecil dan terlalu remeh temeh selama itu datang dari hati yang tulus yang tergerak karena rasa.

Panik Berbelanja


Hari dan tanggal: Kamis, 23 Desember 2004
Lokasi: Jakarta, tepatnya di Plaza Senayan (untuk keseribu kali dalam satu hari ini).
Time: Afternoon
Teman Jalan: Mami dan Adi
Hasil:
  • Keributan di menit pertama kami menginjakan kaki di Plaza Senayan
  • Perang dingin antara mami dan aku selama 10 menit selanjutnya
  • Sebuah cat kuku cantik buat Ina
  • Sebuah anting buat diri sendiri (tadinya buat mami, tapi tiba-tiba mami datang entah dari mana, dan udah terlanjur aku bikin bonnya)
  • Sebuah cincin dengan mutiara imitasi buat mami
  • Sebuah paket perlengkapan perjalanan buat Kris
  • Sebuah perang lagi gara-gara tempat makan yang berakhir dengan Adi duduk di sebuah
  • kursi dan kami berdua tetap makan malam di Spicy Garden, dong.
  • Kaset Phil Collins buat Maurice
  • Gencatan senjata yang dilanjutkan dengan perdamaian dan muka gembira yang berlangsung sepanjang perjalanan ke Bandara

Hari dan tanggal: Kamis, 23 Desember 2004
Lokasi: Jakarta, masih di Plaza Senayan
Time: Evening
Teman Jalan: Papi, Mami, Kris dan Adi
Hasil:

  • Kekesalan yang muncul hanya di aku, yang lain sepertinya baik-baik saja, sejak berangkat dari rumah.
  • Kehebohan untuk memilih tempat makan, yang akhirnya jatuh ke Spicy Garden (!), lagi.
  • Mood masih jelek, antara kesal dan sedih yang menghasilkan perut lapar
  • Keributan (lagi) karena Adi salah ambil jalan dengan hasil pergantian supir dan perang dingin sampai tiba di rumah

Hari dan tanggal: Jumat, 24 Desember
Lokasi: masih Jakarta, dan…. still Plaza Senayan, tepatnya kemudian di Kafe Roti
Time: Early afternoon
Teman Jalan: Mami dan Papi dan Kris (kali ini Adi sudah menyerah!)
Hasil:

  • Sebuah kemeja putih untuk Papi
  • Lutut yang kambuh lagi sakitnya
  • Pusing kepala melihat terlalu banyak orang
  • Beberapa foto yang berhasil diambil sebagai hasil ketidakperdulian terhadap pandangan sinis tapi pengen dari orang-orang sekitar. Kampungan? Terus kenapa?

Hari dan tanggal: Jumat, 25 Desember
Lokasi: masih Jakarta, kali ini (akhirnya pindah tempat) di Taman Anggrek
Time: afternoon
Teman Jalan: Seluruh keluarga
Hasil:

  • Sejuta umpatan kepada pengemudi (banyak) kendaraan berplat B di tempat parkir dan juga umpatan kepada tukang parkir yang terus-menerus mengklakson dan meneriakkan kata-kata yang tidak perlu.
  • Pusing kepala, melihat lebih banyak lagi orang
  • Perut yang kenyang, walaupun nasi campur itu tidak selezat nasi campur Klenteng
  • Delapan buah celana pendek untuk para lelaki
  • Lensa kontak biru gelap dengan masa pakai satu tahun untuk Ina
  • Seribu juta celaan yang terutama ditujukan untuk Adi dan Mami yang tentu saja paling banyak dilontarkan oleh Maurice
  • Perut sakit dan muka pegal karena tertawa

Lihat deh, dari pertokoan ke pertokoan. Last minute shopping yang lebih banyak menghasilkan pertengkaran daripada kesenangan dan kepala pusing akibat melihat terlalu banyak orang tapi untungnya bisa bersenang-senang, kok.

Pemandangan kami sekeluarga bisa jadi aneh buat banyak orang. Bayangkan 7 orang jalan bareng di sebuah pusat perbelanjaan, dan kami bukan lagi anak-anak. Kami semua sudah sangat besar-besar. Tapi aku suka sekali pergi bersama keluargaku, lengkap dengan pertengkaran kecil dan sejumlah celaan dan tawa yang lepas. Barang yang dibeli bisa jadi tidak berarti tapi pergi ramai-ramai (asal jangan setiap hari saja) sangat menyenangkan.

klik disini untuk liat foto-foto lainnyaYakinlah, sebagian besar dari kita lebih memilih pergi melakukan hal tersebut seorang diri (apalagi kalau kamu bukan penggila belanja seperti aku) atau dengan teman-teman, kan? Tahukah kamu, ternyata sesekali berbelanja dengan keluarga bisa jadi hal menyenangkan sih, asal jangan dibawa berbelanja serius ya. Cukup bikin pusing. Jadi, kapan kamu terakhir pergi berbelanja (atau sekedar window shopping) dengan keluargamu?

ps: silahkan di-klik fotonya, ada bonus beberapa foto lainnya


23.12.04

Natal Euy

Tidak tahu kenapa, aku malah jadi teringat beberapa peristiwa sekitar Natal di tahun-tahun kebelakang.
Empat tahun lalu, di tahun 2000, hampir saja aku tidak akan merayakan Natal bersama keluarga. Tapi waktu itu ternyata adikku sakit keras, dan aku diminta untuk segera pulang ke tanah air. Blessing in disguise? Bisa jadi. Sedih kalau ingat betapa parahnya kondisi adikku saat itu (untunglah dia bisa pulih lagi walaupun memakan waktu hampir setahun). Aku sangat beruntung karena aku jadi bisa bernatal bersama. Masih ingat perjuangan untuk bisa dapet tiket, bayangin aja, peak season, dan aku masih nekat mau coba-coba cari tiket dalam waktu kurang dari seminggu! Udah gitu, NS, perusahaan kereta api Belanda sedang mogok kerja, persis pada hari aku harus berangkat, padahal aku berangkat dari Brussel dan bukan dari Schipol (lebih murah dan itu satu-satunya tiket yang bisa aku peroleh berkat bantuan Uli, temanku di Leuveun). Natal yang penuh perjuangan.

Tiga tahun lalu, di tahun 2001, aku akhirnya bisa kembali ke tanah air. Kali ini, betul-betul pulang. Lega juga bisa menyelesaikan sekolah, sekaligus sedih karena harus berpisah dengan sahabat-sahabat yang sekian lama sudah bersama dengan aku. Aku ingat, tiket pulang ke tanah air sudah aku pesan jauh jauh hari sebelumnya, sejak bukan Juli. Aku berangkat hanya 3 hari setelah hari wisuda. Perjalanan Amsterdam-Jakarta betul-betul melelahkan, karena aku harus packing dalam waktu singkat (aku sudah jarang bela beli barang, tapi tetap saja ada begitu banyak barang yang sebagian besar aku tinggal begitu saja), belum lagi urusan air mata tiap pamitan. Walhasil, badanku ambruk selama perjalanan. Untungnya, aku jadi tidak sadar selama 17 jam perjalanan tersebut. Tidur terus. Sampai di tanah air ternyata hampir seluruh keluarga menjemput. Memang permintaan aku sih, terdengar kekanak-kanakan, tapi aku betul betul kangen mereka semua. Aku datang di hari ulang tahun adikku, yang dengan rela membiarkan hari jadinya terpakai untuk menjemput aku dan bukan dirayakan.Dari jauh jauh hari, aku sudah memohon kepada ibuku, untuk tidak membuat acara besar-besaran selama natal kali ini. Aku ingin Natal kali ini hanya untuk keluarga inti saja, ayah, ibuku dan adik-adikku. Aku tahu, ibuku agak berkeberatan, dan sepupu-sepupuku juga bertanya-tanya. Tapi aku benar benar ingin Natal hanya bersama keluargaku. Aku ingat, Natal kali itu berdekatan dengan Lebaran, sampai-sampai terjadi krisis air minum mineral!

Setelah itu, di tahun 2002, Natal kembali dirayakan bersama-sama keluarga besar. Untungnya waktu itu aku berhasil mengambil jatah cuti cukup lama. Soalnya waktu libur lebaran yang jatuh di awal Desember, aku memutuskan untuk tetap bekerja seperti biasa dengan imbalan libur Natal aku lebih panjang. Untung permintaanku diluluskan oleh kantorku. Lagipula, semua laporan final proyek-proyek yang aku pegang sudah aku selesaikan pada tengah bulan Desember, persis beberapa hari sebelum masa cuti. Tidak ada hutang apa apa lagi. Aku menikmati masa-masa libur menjelang Natal tersebut sambil ikut beberes rumah. Sial sekali, di malam natal aku dan ayahku masih dalam perjalanan Jakarta-Bandung. Aku menemani ayahku yang harus menghadiri rapat yang diadakan tanggal 22-24 Desember. Saat itu rumah di Jakarta belum bisa ditempati, walhasil aku dan papi merasakan suasana natal di sebuah hotel di sekitar Cikini sambil berkutat dengan setumpuk pekerjaan papi yang harus aku bantu.

Taun kemarin, 2003, kami sekeluarga memutuskan untuk berlibur bersama. Semuanya. Tujuh orang. Karena ketidakbecusan biro travel, tiket kami tidak pernah jelas keberadaan dan statusnya, walhasil, kami harus pontang panting mencari 7 tiket ke Medan dalam waktu singkat. Untuk dibantu Oom Sony-nya Toko You, selamatlah kami sekelurga. Sebetulnya, aku sudah tidak punya kakek nenek. Ompung boru dari papi meninggal pada waktu aku di Belanda, aku adalah cucu pertamanya, panggoaran ompungku (itu berarti nenekku dikenal sebagai neneknya Melly dan bukan lagi anak pertamanya, dan tentu saja bukan namanya atau nama suaminya), dan sejak dia dimakamkan, aku belum pernah berziarah. Aku ingin sekali melihat makamnya, karena itu aku memutuskan untuk pergi ke kampung. Bukan, bukan di Medan, tapi di sebuah kampung kecil di sekitar Siantar, namanya Bandar Parmonangan. Kami memutuskan untuk tidak memberitahu sanak saudara, demi alasan kenyamanan. Serasa selebritis banget ya :)
Hari menjelang malam natal kami habiskan dengan berkeliling Pulau Samosir dan mengunjungi Pulau Tao. Cuaca cerah sekali. Kami melihat begitu banyak orang mudik. Konon, sebagian besar adalah mereka yang merantau ke Pulau Jawa. Aku bahkan melihat angkutan umum yang biasa aku lihat di kotaku! Pemandangan yang belum pernah aku lihat. Jauh berbeda dengan pemandangan di Pulau Jawa. Sayang, kami semua salah jadwal kebaktian, walhasil kami tiba di sebuah gereja di Prapat sekitar 15 menit sebelum kebaktian bubar, dalam bahasa Batak pula! Biar bagaimana, perjalanan tahun lalu adalah salah satu perjalanan paling berkesan seumur hidupku.

*uhh, aku tidak bawa foto-foto koleksiku ke dalam flashdisk, jadi foto-foto semua hal yang aku ceritakan tidak bisa aku upload. Rasanya sih sebagian besar ada di album yahoo-ku*

Tahun ini, orangtuaku memutuskan untuk merayakan Natal di Jakarta. Aku tidak terlalu suka, adik-adikku juga. Tapi ada beberapa alasan yang kemudian bisa kami terima. Hari ini, aku ada di Jakarta, menikmat masa bermalas-malasan dengan cuaca mendung. Aku tidak tahu akan seperti apa Natal kali ini. Aku tidak berharap muluk. Aku bukan anak kecil yang mengharapkan kado Natal istimewa. Aku juga tidak lagi muluk-muluk mengharapkan damai di bumi terjadi begitu saja pada hari Natal, sesuatu yang selalu dikumandangkan setiap Natal. Aku masih senang mendapat kesempatan merayakannya, karena hari Natal selalu mengingatkan aku untuk terus bersyukur atas hidupku. Aku berterimakasih pada Tuhan bisa ada bersama keluargaku, bisa berdoa bersama, bisa kebaktian bersama. Aku pikir, itu bahkan sudah lebih dari cukup.

Merayakan atau tidak, tulus aku ucapkan, Selamat Natal.

22.12.04

Menjelang Pergi


Sudah jam 11, harus segera bergegas...

Kalau harus packing untuk bepergian kemanapun, urusan senang-senang atau urusan kerja, selalu aku lakukan di menit-menit terakhir. Biarpun itu hanya satu hari sampai tiga bulan, biar itu hanya pergi ke Jakarta atau bahkan ke Bangkok, tetap beberes paling pas itu di menit-menit terakhir.
  • Ambil baju yang baru disterika
  • Ambil koper kecil
  • Sortir pakaian, wah, ada tiga kali kebaktian nih. Lumayan ribet. Salah sendiri membawa semua baju dari rumah Jakarta.

Ting tong...ting tong...aduh, aduh, apa lagi nih...

"Selamat pagi, Mba, ini buat Bapak dan keluarga," ujar lelaki itu sambil menyerahkan bungkusan besar itu.
"Terimakasih ya, Pak," balas aku.

Kembali ke urusan yang tadi tertunda.

  • Sepatu. Ingat harus pergi ke gereja dan semua sepatu di Jakarta juga sudah dibawa ke Bandung
  • Charger. Handphone. Cek. PDA. Cek. Kamera. Cek. Hmm, apa lagi ya?

Ting tong...ting tong...aaaaarrgkkhh...siapa lagi nih...

"Selamat pagi, Bu, ini buat Bapak dan keluarga," lelaki yang lain tapi masih sambil menyerahkan bungkusan besar itu berkata.
"Terimakasih ya, Pak," balas aku sambil kesal, apa aku terlihat seperti ibu-ibu?


Aku letakkan bungkusan itu dan bergegas kembali ke kamarku.

  • Kabel data. Dimana sih? Oh, itu dia masih di PC.
  • Hair dryer. Perlu tidak ya? Ah, bawa saja.

Ting tong...ting tong...astaga...bel rumah ini betul-betul tidak mau memberi aku kesempatan beberes!

"Selamat pagi, De, ini buat Bapak dan keluarga," kata lelaki tersebut lagi-lagi dengan bungkusan yang sedikit lebih kecil.
"Terimakasih ya, Pak," balas aku sambil agak terengah-engah.


Aku membawa bungkusan itu, dan wah, aku harus membereskan meja kecil ini supaya semua bungkusan muat disana.

  • Bedak dan kawan-kawan. Cek. Tapi, dibawa nanti saja, di tas kecil deh.
  • Buku tebal sialan itu, kalau tidak, aku tidak bisa mempersiapkan bahan mengajar di hari Selasa. Cek.
  • Berkas ujian mahasiswa. Cek. Sedih, aku ini mau berlibur atau bekerja sih?

Ting tong...ting tong...nasib sendirian di rumah, berarti harus selalu siap membuka pintu.

"Selamat pagi, ini buat Oom dan keluarga," lelaki yang jauh lebih muda daripada lelaki yang sedari tadi membawa bungkusan tersebut berkata.
"Terimakasih ya, Mas," balas aku sambil tersenyum.


Sepertinya memang aku tidak bisa beberes dengan tenang. Tanpa pikir panjang, kumasukkan saja semua barang yang tampak dan terpikir oleh aku. Maaf ya buat para laki-laki yang tadi sudah mengantar ini itu, aku malah agak bersungut-sungut, padahal mereka begitu baik membawa ini itu untuk aku dan keluarga.

Begini ini suasana menjelang Natal. Kiriman kartu pos, makanan, dan beberapa barang lain datang silih berganti. Menemani (aku tidak tega bilang mengganggu) aku yang terbiasa dengan last minute packing. Aku sendiri kaget, masih ada banyak orang yang begitu perhatian kepada keluarga kami. Terimakasih, ya, hanya saja aku bingung, berhubung rumah akan ditunggui oleh teman gereja kami untuk beberapa waktu, siapa yang harus menghabiskannya? Hmm, berarti aku harus buru-buru menyerahkannya lagi nih pada orang lain, bukan tidak menghormati yang memberi, tapi daripada terbuang percuma kan lebih baik dinikmati. Soalnya, aku sendiri malas deh harus bawa-bawa semua barang tersebut ke rumah Jakarta.

Atau...ada yang mau main ke rumah?

Dua Buku

Angel by Marian KeyesAku betul-betul tidak bisa mendapat ide, daripada Marian Keyes dapat inspirasi untuk memberi buku ini judul Angel. Buku ini bukan buku terbaru Marian Keyes, mungkin itu juga yang membuat aku tidak merasa menemukan banyak hal baru. Sebagian besar cerita-cerita di buku ini bisa ditemukan di bukunya yang berjudul Under the Duvet, khususnya di bagian yang bercerita tentang pengalamannya selama berjalan-jalan di Amerika (tepatnya di Los Angeles). Kamu bisa menemukan cerita calon-aktor-seumur-hidup, dan cerita operasi-plastik yang tidak ada habisnya. Tapi, serius deh, darimana ya kata Angel itu berasal? Memang malaikat (angel) itu tidak harus selalu digambarkan dalam bentuk sosok berbaju putih dengan sayap dan lingkaran putih di atas kepalanya. Aku sudah terlalu lama meninggalkan sosok seperti itu dalam hidupku. Hai, bukan berarti aku tidak percaya ada malaikat. Menurut aku, terkadang kamu dan aku bisa menemukan malaikat dalam kehidupan sehari-hari. Mirip seperti apa yang terjadi pada "Ada yang bisa dibantu?" itu.
Slim Chance by Jackie RoseLain halnya dengan Slim Chance-nya Jackie Rose. Ingin kurus demi sebuah baju pengantin Vera Wang yang sudah terlanjur dibeli dengan ukuran 8, padahal saat itu dia sendiri memakai baju ukuran 12! Segala upaya dilakukan untuk membuat dirinya kurus. Jadi, dia bukan mempersiapkan diri menghadapi perkawinannya, tapi justru terobsesi dengan keinginannya untuk kurus itu. Bagusnya, dia ambil jalur berolahraga (betul-betul contoh klise yang hampir selalu menjadi tema begitu banyak chiclit deh). Aku pikir, aku dan kamu memang seringkali terobsesi terhadap suatu hal, sampai melupakan hal yang terpenting dari hal tersebut. Buat aku sendiri nih, menjelang Natal, seringkali jadi lebih repot memilih kado buat adik-adik dan orang tua, sampai aku begitu lelah, capai, dan kesal. Akhirnya pas mau ke gereja di malam Natal, aku sudah terlalu lelah mencari kado di menit-menit terakhir dan tidak bisa menikmati kebaktian malam natal.
Aku berharap kamu bisa bertemu malaikat hari ini. Aku berharap kamu juga tidak lupa hal yang jauh lebih penting daripada sebuah obsesi yang lebih merupakan aksesoris daripada hal yang terpenting buat kamu sendiri. Ditunggu ceritanya.

Teori Relativitas


Entah kenapa teringat ini. Beberapa tahun lalu, pacarku (saat itu) pernah bilang gini ama aku,

sedetik saja kita memegang penggorengan panas
rasanya seperti setahun saja...
tapi, walaupun setahun gue memegang tangan elu
walaupun setahun gue memeluk elu....
rasanya hanya sedetik saja, say
walaupun sering kita ketemu
tapi kalo gak ketemu sehari aja..
tetep aja gue merasa seperti setahun gak ketemu...

Gombal banget? Ah, aku sih senang-senang saja tuh.

Memang benar ya, terlalu banyak hal yang sebetulnya relatif, seperti teori einstein yang digubah dia menjadi tulisan diatas. Semua tergantung hati dan cara melihat. Hari kemarin bisa menjadi hari menyebalkan atau hari yang menyenangkan. Hari ini juga bisa jadi hari yang menyebalkan atau menyenangkan.Kamu bisa merasa sehari itu terlalu lama, atau seminggu itu begitu cepat, atau setahun itu tidak terasa. Kamu bisa jadi malas melalui hari ini atau malah begitu bersemangat untuk memulai pagi. Semua tergantung bagaimana kita melihatnya.

Di luar mendung, matahari entah bersembunyi dimana. Untunglah beberapa saat sebelumnya aku masih berkesempatan melihat langit birunya. Mau semangat atau dibawa "mellow"? Aku memilih yang pertama. Aku mau bersemangat, karena hari ini aku akan ketemu sahabatku (mudah-mudahan bisa ketemu). Sepertinya perjalanan di kereta akan terasa lama, tapi aku yakin, seminggu ini akan terasa sangat cepat.

Selamat menikmati hari ini.

21.12.04

Email Pagi Ini


Duuh...susah ya bahas di email, emang kudu ketemu ni... pokoknya mel... gw selalu doain elu... abis sholat gw khusus nyebut nama elu di dlm doa gw... gw minta sama Tuhan agar membukakan pintu kebahagiaan selebar-lebarnya buat elu, memperlancar apapun harapan, keinginan, dan keputusan elu, senantiasa memberi yg terbaik buat elu... memantapkan apapun jalan yg ingin elu tempuh...amien...

Terpisah jarak, di jaman sekarang ini sih bukan halangan untuk tetap berhubungan. Teman-teman yang bertebaran di beberapa kota dan negara, tetap juga bukan penghalang bagi aku dan mereka berhububungan. Teman-teman ini, tidak saja hanya bersahabat ketika kami ada di satu tempat bersama. Teman-teman ini, juga tidak saja hanya bersahabat waktu kami sedang bersenang-senang.

Beberapa minggu terakhir, bukanlah minggu-minggu yang mudah aku lewati, khususnya beberapa hari terakhir. Terkadang, aku lupa bahwa teman-temanku tetaplah teman-temanku. Terkadang, kalaupun ingat (kekekek), aku memilih untuk diam, soalnya kok ya kayaknya ceritaku tidak akan membuat mereka tersenyum, dan kadang aku pikir biarlah kalau pusing sih jangan menyeret-nyeret orang. Eh, pernah merasa seperti itu, kan? Di satu sisi, betapa ingin kamu bercerita kepada sahabat, tetapi sekaligus juga segan.

Ternyata, aku musti mengakui, aku salah. Teman-temanku adalah teman-teman terbaik. Bukan karena mereka selalu mengatakan hal-hal baik padaku, tapi juga hal-hal buruk.

Terimakasih buat email-nya ya, Lus!

20.12.04

Dag Ice


Ice terbaring lemah, tidak bergerak sama sekali. Matanya hanya diam melihat aku. Aku terus mengelus dia,"Ice, tahan ya, bentar lagi dokternya juga datang."
iceIce dibawa oleh salah seorang adikku sekitar 2 bulan lalu dalam kondisi sakit. Kaki belakangnya patah. Dua-duanya. Konon, pemilik lamanya menyiksa Ice sampai jadi seperti itu. Walaupun di rumah sudah ada 5 anjing, kami memutuskan memelihara (untuk sementara) Ice dan seorang anjing lain yang lehernya tergorok oleh pemilik lama tersebut. Kami bawa ke dokter, kami jaga. Sejak awal bulan Desember, Ice sudah bisa jalan! Kami semua sangat seneng. Yah, jalannya sih masih "mencong-mencong" karena kakinya belum kuat benar. Lucu deh, kadang, pas dia jalan tiba tiba dia langsung duduk, mungkin kecapekan. Aku sayang banget ama Ice.

Seminggu lalu, karena satu dan lain hal, kami terpaksa memindahkan Ice ke kandang, berdua dengan anjing yang sakit lehernya itu (lehernya sudah dijahit, dan dia juga sudah sembuh). Anjing kami yang lain dibiarkan bermain di halaman belakang, kecuali yang dua ini. Aneh, Jumat malam, kedua anjing ini ribut terus. Sabtu pagi, Ice sudah tergeletak. Sepertinya gara-gara ribut dengan anjing yang satunya itu. Kaki Ice belum sembuh sempurna, jadi dia belum kuat untuk melawan atau berdiri lama. Sepertinya dia luka dalam (kata abang sih kayak gitu).

Adikku mencoba cari dokter, tapi sedang tidak praktek. Hari Sabtu siang, aku temani dia. Setelah lama kuelus, dia mau juga berjalan-jalan. Tapi tetap, dia tidak mau makan, tidak mau minum, bahkan milo yang jadi kesukaannya. Dia terus menerus muntah yang bikin miris banget. Dia baik banget, tiap mau muntah, dia paksain jalan ke pojokan.

Tapi tadi pagi, sebelum berangkat ngajar, aku ingin sekali melihat Ice. Ternyata dia sudah tergeletak. Darah ada dimana-mana. Kuangkat, kupindahkan ke tempat yang kering dan bersih. Tapi dia sama sekali tidak bereaksi apapun. Kakinya yang sehat juga tidak bergerak sama sekali. Matanya tidak berkedip kedip jenaka seperti biasanya. Dia hanya diam. Sungguh, rasanya aku ingin memberikan apa saja untuk berbagi rasa sakit yang dia rasakan. Aku kesal aku tidak bisa berbuat apa apa

Aku tidak tahan,"Ya udah atuh, Ice, kalau mau pergi, cepetan ya. Cepat pergi, biar gak tersiksa."

Dia melihat aku, matanya semakin kecil. Tidak lama, kepalanya terangkat, sepertinya dia berusaha menarik napas yang begitu sulit dilakukan. Sekali, dua kali, tiga kali, lalu berhenti. Selamanya.

Air mata turuun. Aku ini memang cengeng. Walaupun ia baru beberapa saat di rumahku, aku sayang sekali sama semua peliharaanku.

Sore ini aku lebih tenang, aku senang, Ice tidak tersiksa lagi.

17.12.04

Berkenalan


Berkenalan dengan orang baru selalu menyenangkan buat aku. Rasanya mendapat kesempatan mengenal orang baru selalu menarik. Makanya, aku selalu bersemangat masuk kelas baru di sekolah jaman SD sampai kuliah. Biasanya aku mencoba membayangkan orang-orang yang akan aku temui. Ketika harus sekolah di tempat baru, di negara baru, justru aku tidak ingin tahu siapa rekan senegaraku, dan aku juga menghindari informasi awal tentang orang-orang yang akan menjadi rekan serumahku. Untuk aku, unsur ketidaktahuan itu menarik sekali. Membuat aku mereka-reka wujud (cie cie) orang tersebut. Aku juga merasa, berkenalan dengan orang baru itu seperti diberi kesempatan untuk jadi kertas baru yang masih polos untuk ditulisi, digambari, dicoret-coret oleh aku dan orang baru itu bersama-sama. Apalagi untuk kasus terakhir yang aku tulis, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak mengenal orang-orang yang aku kenal di kampung halaman (lupakan dulu teori six degree deh), dan bahkan tidak mengenal Indonesia, negaraku. Asik tidak asik deh, soalnya kalau di Bandung nih, biasanya biarpun ketemu orang baru, biasanya ternyata temennya temanlah, adiknya temenlah, pokoknya semakin membuktikan teori six degree, dan dengan demikian aib-aibku jelas tidak bisa ditutupi dulu kan. Kekekek.

Terkadang, pada waktu kita berkenalan dengan orang lain, kita punya kesempatan untuk dapat "kisi-kisi" tentang orang itu. Pernah, kan, diterima di kantor baru, dan sibuk cari informasi tentang orang-orang di kantor itu, dan terutama informasi tentang calon bos baru? Contoh lain kalau kamu mau ambil kelas les bahasa biasanya suka cari tahu tentang guru yang bakal mengajar juga, kan. Apalagi kalau urusan "gebetan", ini sih gak ada duanya untuk mengorek informasi. Jaman kuliah tuh, kalau kebetulan beda kelas atau jurusan, pasti sibuk cari jadwal kuliahnya dia, kemudian disusul cari kesukaannya, ketidaksukaannya dan seterusnya dan seterusnya. Rasanya, tiba-tiba aku merasa, orang kalau lagi jatuh cinta punya bakat jadi intel nomor satu, deh.

Herannya, aku suka merasa, terkadang informasi yang diberikan itu kok tidak berhubungan dengan orang yang ingin kita cari informasinya (aduh, kalau ada editor, ini kalimat pasti sudah dibabat). Informasi yang gak perlu. Wah, ini nih, si jeprut, bapaknya itu bos perusahaan keren itu, si jeprutnya sendiri sekarang udah jadi manajer para orang, rumahnya itu di kompleks impian, ibunya itu orang yang sangat sosial saking seringnya bersosialisasi di tempat tempat yang gemerlap dan seterusnya dan seterusnya. Haaaa...terus apa hubungannya? Kalau aku, lebih ingin tahu, terus si jeprut sukanya apa, tidak sukanya apa, kalau lagi bosen suka ngapain, kalau makan suka makan dimana, kalau baca buku milih buku apa dan seterusnya. Aku lebih memilih apa yang ada di dalam otak atau hati si jeprut. Soalnya aku sungguh-sungguh tidak melihat hubungan antara seluruh informasi a la majalah dan koran gosip itu dengan sosok si jeprut, selain sebagai bonus tambahan. Maaf-maaf saja deh.

Heran juga ya, kalau aku mau dikenalkan orang, kira-kira seperti apa ya? Oh, si Melly ya? Orangnya itu.....cerewet banget. Hahahaha. Gak apa apa, itu kenyataan sih.

Salon


salonSekarang, salon itu bukan hanya tempat yang dimonopoli perempuan. Bukan saja pegawainya yang tidak melulu perempuan (walaupun juga bukan berarti "laki-laki"), pengunjungnya pun tidak melulu perempuan. Katanya sih, sekarang itu sudah ada laki laki metroseksual. Duh, apa pula itu. Terserah deh, buat aku tidak masalah kok laki-laki pergi ke salon, entah buat potong rambut, creambath (walaupun, aku agak heran kalau rambut laki-laki itu cepak, duh, mendingan aku creambath-in deh, serius), dan bahkan pedicure, menicure. Khusus yang terakhir, rasanya aku saja tidak pernah melakukannya di salon, tapi kalau ada laki-laki yang suka melakukan itu di salon, ya terserah. Aku, senang saja mengurus kuku tangan dan kuku kakiku sendiri kalau sedang ada waktu senggang. Kegiatan yang rekreatif, soalnya.

Waktu kecil sih, pemotong rambut terbaikku adalah ibuku. Membuat aku juga bercita-cita nanti harus bisa motong rambut anakku sendiri, biar hemat juga sih. Kekekek. Kenal sih sama yang namanya salon sebagai tempat dimana ibuku pergi untuk sanggulan dan aku harus menunggu lama. Membosankan. Kemudian, aku mulai mengenal salon untuk di-creambath. Satu kegiatan yang sangat aku suka. Ada masa-masa aku rutin berkunjung ke salon untuk perawatan rambut. Dipikir-pikir, bisa juga aku nabung untuk creambath ya. Kemudian aku mulai suka mewarnai rambutku. Tidak sering, yah, sampai detik ini palingan baru 4 atau 5 kali-lah. Pernah warna yang cukup nge-jreng, tapi pernah juga warna yang cukup aman.

Untuk urusan potong rambut, ini yang lebih merepotkan. Creambath bisa dimana saja, walaupun ada tempat yang menyenangkan tapi mahal, ada tempat yang pijatannya bikin kepala malah tambah pusing. Mewarna rambut, tidak terlalu sering aku lakukan, sangat insidentil. Tapi potong rambut itu penting mencari tempat yang paling pas. Bisa gawat urusannya, kalau sampai ada cerita salah potong. Awalnya, tukang potong rambutku itu bekerja di sebuah salon murah meriah dekat rumahku. Sayangnya, dia kemudian keluar, setelah bertahun-tahun aku jadi pelanggannya. Sempat dia memberi alamat baru, tapi ternyata dia sudah terlanjur keluar dari alamat barunya itu. Akhirnya, aku ikut tukang potong rambut adik dan ibuku. Soalnya rambutku ini agak unik, jadi kalau tukang potong tidak ngerti bahwa rambutku yang tebal-tapi teksturnya tipis-dengan-gelombang-yang-mudah-dibikin-lurus ini butuh perhatian ekstra waktu dipotong. Untunglah sekarang ada Dadang dan Dindin yang aku percaya. Lucunya, kalau Dadang tidak suka aku memotong pendek rambutku, kalau Dindin sih, lebih fleksibel dengan keinginanku. Sekitar Juli lalu, aku mau potong rambut. Untung Dadang tidak ada, jadi aku dipegang oleh Dindin. Senang, karena Dindin tidak protes waktu aku mau memotong rambut panjangku yang tinggal sejengkal dari pinggang itu langsung sependek anak laki-laki! Kan jadi lebih segar (walaupun yang protes juga tidak sedikit). Satu hal yang aku suka, potongan rambut mereka ini, malah lebih bagus setelah sebulan dua bulan, setelah lama dipotong. Ada, kan tukang potong yang membuat rambut kita begitu bagus waktu di salon, tapi, pas harus cuci rambut sendiri modelnya malah berantakan. Atau, belum terlalu lama, kamu harus potong rambut lagi untuk dirapihkan. Huh.

Kemarin, aku dan Ratna potong rambut. Eh, sebetulnya sih cuman dirapihkan. Efeknya sih tidak banyak, tapi lumayan segarlah.

Karena mereka berdua yang punya salon, jadi gak mungkin tiba-tiba pindah kerja lagi, kan. Mudah-mudahan. Repot juga sih cari tukang potong rambut itu. Enak adik laki-lakiku, mereka udunan beli alat cukur rambut, dan kalau mau potong, tinggal saling tolong dicukurkan. Simpel. Mmm, tapi...enggak ah, aku senang bisa gonta genti model rambut!

15.12.04

Efek Demam

Enggak lagi-lagi makan obat. Malah gak bisa tidur, dan malah ngoprek gambar yang hasilnya....aduh-aduh...aib banget. Biarinlah, nanti kan bisa diapus kalau diprotes.

Candu Obat

Pernah minum obat? Ada banyak macamnya. Ada obat pusing kepala yang bisa dibeli warung, sampai obat dari dokter spesialis yang harus pake resep dan harganya bikin pusing kepala. Rasanya hampir tidak mungkin kalau kita tidak pernah makan obat, ya?!

Aku tidak terlalu suka makan obat, apalagi antibiotik. Maklum, pemalas! Aku selalu lupa untuk makan obat antibiotik tersebut secara teratur. Untungnya, dokter keluargaku juga cukup anti obat, jadi biasanya dia lebih suka nyuruh istirahat, makan yang benar, palingan dikasih vitamin. Kalau belum sembuh juga, baru deh dikasih obat. Heran ya, masih ada dokter model kayak gini di jaman sekarang, padahal ijazahnya bisa bikin banyak orang terkagum-kagum, tapi dokter ini memang aneh, dia memilih berpraktek di tempat kumuh, dan resep dari dia itu biasanya ditebus dengan harga di bawah 20 ribu rupiah loh! Paling mahalpun masih dibawah 50 ribu rupiah.

Nah, terbiasa dengan dokter yang tidak suka membiarkan pasiennya bergantung pada obat, kami sekeluarga, kalau sakit, lebih suka ambil jalur istirahat-minum yang banyak-makan yang benar-makan buah. Sekali-kalinya ganti dokter dan dapat obat keras, aku malah tambah sakit, begitu juga adik-adikku dan orangtuaku.


ngobat yokSalah satu teman dekatku yang candu obat adalah Pawel. Berhubung istri orang Polandia satu ini (saat itu tunangannya) dokter, dia hapal sekali dengan segala macam obat-obatan, dan selalu punya "segudang" obat. Kalau butuh obat yang harus pakai resep, gampang, tinggal minta dari istrinya kan. Teman-temanku yang dari Cuba malah lebih canggih, hampir semuanya hapal obat melalui nama kimianya atau nama apanyalah, yang pasti bukan nama merek (biasanya kan aku ini lebih hapal nama merk daripada komposisi obat itu sendiri). Sebagian besar temanku yang anak dokter juga biasanya punya perlengkapan obat yang kumplit, dari obat pusing sampai obat pribadi.


Aku, biasanya paling banter selalu bawa norit dan decolgen (tuh kan, merk!) kemana-mana, plus vitamin. Sudah itu saja. Sebisa mungkin aku menghindari obat. Tapi sudah dari semalam, badanku hangat (padahal belum jadi hujan2an loh) dan tidak membaik. Sepanjang hari ini, badanku meriang dan tenggorokan aku tidak enak. Sepertinya, tidak ada jalan lain, aku harus minum obat dulu. Biasanya sih males, tapi ini juga salah satu warisan kebiasaan dengan abang, lebih baik ambil obat saja, mudah-mudahan besok terasa lebih segar.

Stiglitz


Globalization and Its DiscontentTernyata Selasa kemarin ada kuliah umum dari seorang Joseph E Stiglitz! Dia ini pemenang Nobel Ekonomi yang juga mengarang buku Globalization and Its Discontent (sayangnya, terbitan bahasa Indonesia yang diberi judul Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional, menurut aku, terburu-buru dilempar ke pasaran dengan kualitas terjemahan yang sangat buruk). Sebuah buku yang sangat menarik, dan yang pasti ditulis tidak dengan emosional tapi pakai analisis. Salah satu buku favoritku yang juga sudah hampir luluh lantak karena sering berpindah tangan dan tentu saja ditekan oleh mesin perbanyak dokumen. Kemarin itu antara lain dia bilang, lebih baik tidak punya sistem perdagangan global daripada memiliki sistem perdagangan yang tidak adil.

Seandainya saja aku punya kesempatan ikut kuliah umum itu! Sayang sekali ya, menurut Kompas, kursi di ruang seminar Hotel Hilton itu tidak terisi penuh, dan juga tidak dihadiri para pejabat yang seharusnya jadi target kuliah umumnya. Apa para pejabat itu terlalu sibuk atau memang sudah terlalu pintar untuk mendengar seorang Stiglitz ya?

14.12.04

Kabar Buruk Kabar Baik

Menurut aku sih, setiap kabar pasti punya dua sisi. Memang ada sebuah kabar yang akan disetujui sebagian besar bahwa itu kabar buruk atau kabar baik. Seperti perginya Mas Harry Roesli, itu adalah kabar buruk. Hampir semua orang setuju. Aku juga, sedih sekali waktu tahu Mas Harry sudah lebih dulu pergi. Ada juga kabar baik, misalnya saja kabar kemenangan Indonesia di Olimpiade Sains untuk Tingkat SMP.
Terkadang ada kabar baik yang menjadi kabar buruk buat orang lain, dan juga sebaliknya. Kabar kemenangan Dian Sastro di ajang FFI misalnya, bisa jadi kabar baik dong buat Dian, tapi mungkin ada orang yang melihatnya sebagai kabar buruk karena idolanya tidak menang. Ketika kamu bisa memperoleh proyek besar yang membuat kamu begadang dan dimarahi boss besar sampai-sampai rasanya kepala sudah mau pecah dan badan sudah luluh lantak, itu kabar baik, apalagi buat pasangan kamu yang ikut-ikutan kena semprot selama masa-masa persiapan (jelas dia juga akan kena semprot keuntungan dari proyek itu, dong). Apa semua orang setuju itu kabar baik, eits tunggu dulu, buat saingan kamu, itu adalah kabar buruk, apalagi pasti mereka juga mempersiapkan semua itu dengan dedikasi yang gak kalah habis-habisannya dengan kamu.
Hari ini aku dapet sms dari kakak sepupuku.
Ada kbr baik utk Melly. Kk pernah blog Tuhan bs kash ke Melly org yg tepat dlm 2/3 bln ini. Ada yg mau kenal Melly. Kpn kt bs ngobrol dulu?
Deg. Rasanya badanku tiba-tiba badanku kaku. Untung masih ingat untuk tarik nafas. Ini salah satu cerita ketika orang datang dengan muka gembira dan bilang, hey ada kabar baik, pada saat, sebetulnya, kabar itu bikin aku ingin marah, mengamuk atau menangis.
Aku tidak yakin bahwa ini kabar baik untuk aku. Sangat tidak yakin, karena kalau ini kabar baik, aku tidak akan meneteskan air mataku, kan?

Hujanhujanan

Betapa ingin sekali aku bisa hujan-hujanan sore ini. Waktu harus masuk ke rumah, seluruh perasaanku kayaknya nolak. Ingin ada di tengah hujan, bermain, kena basah dan berharap air hujan yang turun ke bawah juga membawa pergi semua hal yang ada di otakku. Berharap air hujan itu juga bisa membersihkan pikiranku. Tidak perlu berpikir akan sakit, tidak perlu berpikir dimarahi, tidak perlu berpikir apa-apa. Langsung saja ada di tengah-tengah hujan, bermain air, kena tanah basah, dan merasakan tiap tetesannya di setiap pori-poriku.


13.12.04

Soundtrack of My Life

Aku ini suka sekali dengan soundtrack, musik yang menjadi latar sebuah film *betul gak sih, musik itu sebagai latar? Soalnya, menurut aku terkadang musiknya malah jauh lebih punya kesan kuat daripada si film itu sendiri*. Aku juga tidak tahu pasti sejak kapan aku menyukai soundtrack. Bisa jadi karena aku suka film, maka aku suka soundtrack *tidak selalu harus seperti itu sih*. Tapi setiap nonton film, lagu-lagu yang muncul juga terekam kuat di ingatan. Buat aku lagunya akan sangat mendukung film itu, dan tiap denger lagunya aku juga makin inget film itu. Lagunya, untuk aku menggambarkan film itu. Tidak selalu harus film musikal ya...

Erwin GutawaKemarin dulu, aku diberi album Erwin Gutawa yang Tribute to Koes Ploes (suka sekali dengan album keren itu, terimakasih, Bang). Nah, kalo kamu punya, coba deh dengar lagu pertama di side kedua atau side B. Aku suka sekali lagu itu. Begitu aku dengar lagu itu, yang terbayang adalah film. Seandainya saja ada film tentang Koes Ploes, lagu itu jelas akan menjadi soundtrack-nya, terutama di opening title-nya. Wuih, keren banget (info untuk kamu, menurut aku album ini cocok buat kamu yang suka soundtrack atau yang tidak fanatik hanya dengan satu atau dua jenis musik, karena ada berbagai macam jenis lagu, juga cocok untuk menemani menyetir Bandung-Jakarta. Ini lagu-lagu Koes Ploes gitu loh).

Membuat aku juga berpikir, apa ya soundtrack sekian tahun hidup aku ini? Aku memang sangat menyukai musik. Sejak aku bisa mengingat hidupku memang dipenuhi musik. Aku jatuh cinta pada musik. Aku ingat waktu aku SMP, menurut supirku aku sedang sakit kalau aku tidak bernyanyi! Musik membuat aku merasa lebih hidup. Musik buat aku berperan seperti soundtrack, ada lagu yang ceria yang menemani aku waktu bahagia, lagu cinta, waktu aku jatuh cinta, dan lagu-lagu sedih yang menemani aku waktu sedang patah hati, ada lagu-lagu yang selalu menemani aku waktu aku butuh ketenangan. Ada beberapa lagu yang selalu menemani aku, ada beberapa lagu datang dan pergi sesuai waktu. (Mungkin itu sebabnya aku bisa bertahan siaran di sebuah radio yang sangat tidak layak dijadikan tempat bekerja, karena disitu aku tidak merasa bekerja, tapi bersenang-senang!)

Aku tidak tahu dengan kamu, buat aku, sulit untuk menetapkan satu jenis musik tertentu yang menjadi favorit aku. Terlalu sulit. Aku suka hampir semua jenis musik, semua jenis lagu. Apapun itu, selama aku masih bisa mendengarkan musik dan lagu dalam hari-hariku, itu cukup.

Setidaknya saat ini, aku sedang suka bangun pagi dengan lagu-lagu klasik, dilanjutkan lagu-lagu up-beat, siang hariku akan diisi lagu yang sesuai dengan apa yang tengah aku kerjakan, sore hari dengan lagu-lagu dari drive and jive, dan malam biasanya dengan lagu-lagu rohani. Di mobilku saat ini, album Erwin Gutawa tengah berkuasa.

Kalau aku harus buat soundtrack hidupku, lagu apa yang akan masuk ya? Rasanya, halaman di pojok ini tidak akan mampu memuatnya.

12.12.04

Gajah Bernyanyi

Senang! Tiba-tiba terundang Sanggy buat datang ke acara syukuran kemenangannya ILE. ILE? IL ELEFANTE Organization (Chorale - Evento - Tournee). Ini kalau aku catut dari profile Sanggy di Friendster. Kaget juga pas tahu kompetisi yang mereka ikuti, soalnya, aku nyaris saja ikut dalam kompetisi yang sama tapi sebagai saingan mereka. Untunglah waktu itu aku terpaksa menolak tawaran temanku karena satu dan lain hal. Kalau saja sempat bertanding, walah, bisa-bisa ada perang besar.

Waktu acara makan siang, jelas saja aku tidak mengenal sebagian besar dari mereka. Aduh, sudah terlalu lama deh aku meninggalkan dunia nyanyi bernyanyi, apalagi yang chorale seperti ini. Acaranya santai, menyenangkan dan membuat aku tiba-tiba merasa kembali ke masa-masa sibuk bernyanyi dan berorganisasi (sampai mampus) di masa kuliah. Muka-muka teman-temanku juga belum banyak berubah kok.

Dari kantin barat laut matematika, kami berpindah ke Potluck. Ternyata, biarpun sudah lama tidak bertemu, kami punya tempat nongkrong yang sama. Heran juga kami tidak pernah bertemu di tempat itu. Biasa datang sendiri atau berdua, kali ini aku datang bergerombol dan langsung saja duduk di ruang dalam. Ada Wenk, Sanggy, Benar (tidak ada di foto, datangnya agak sore soalnya), Fufu, Yudoi, Rino, Christine, Kia, Jodi dan Eldi (pphhffff, gue diingetin banyak orang, sorry, Eldi, gak lagi-lagi!)

Seru sih, sebagai orang baru, yang sebetulnya tidak tahu apa-apa, aku harus mengejar cerita-cerita mereka di Bremen, terus waktu ikut FPS kemarin dan juga kompetisi terakhir itu, yang tentu saja mengambil porsi terbesar. Mendengar beberapa kisah klasik, kisah menyebalkan, kisah lucu, dan 1001 kisah lainnya.

Mereka ini, teman-teman yang pernah begitu dekat dengan aku. Selama sekian tahun, kami terpisah oleh jarak dan kesibukan (karena aku dan Sanggy sempat terpisah hanya beberapa ratus meter, karena kantor kami begitu berdekatan, tapi tetap saja tidak pernah bertemu satu sama lain). Aku yakin, kamu juga seperti itu. Ada teman-teman yang begitu dekat, tapi karena satu dan lain hal tidak pernah bertemu atau bahkan bertelepon, sms atau email. Bisa jadi teman-teman ini memang kamu temukan di satu kegiatan tertentu yang cukup intens (beberapa proyek yang (hampir) tidak mungkin dilakukan membuat aku akrab dengan mereka ini, loh), dan setelah kegiatan berakhir, seringkali, berakhir juga hubungan dengan teman-teman tersebut. Ternyata, saat ada kesempatan bertemu, waktu yang panjang tidak merubah persahabatan yang ada. Menyenangkan!

Buat aku, senang sekali mendapat tempat untuk bernyanyi-nyanyi lagi, nih. Untuk bersenang-senang saja, karena memang aku senang bernyanyi bukan karena aku ini jagoan bernyanyi. Mudah-mudahan semua berjalan lancar.

Alexander

alexander the movie
Sebuah film kolosal yang bercerita tentang Alexander. Keren. Tidak menyesal menemani mami dan papi yang tiba-tiba tadi malam minta ditemanin menonton midnight show. Tidak menyesal harus mengantri lebih dari 1 jam, dan itupun harus duduk di jajaran paling depan. Tidak menyesal harus duduk tenang di bioskop selama 3 jam (!).

prajurit alexanderPlot cerita memang maju mundur dengan cara yang tidak biasa. Adegan peperangan yang beragam, dari yang dilakukan di padang gurun sampai hutan tropis. Angelina Jolie yang tetap sexy. Anthony Hopkins yang tidak lagi pemakan manusia, dan terutama Colin Farell yang keren (!) itu *walopun rambutnya yang berwarna gelap itu harus dicat, huh*, serta sebuah kisah percintaan yang “beragam”.

alexanderAleksander jelas lebih memilih mati muda tetapi dikenang karena melakukan perbuatan-perbuatan besar daripada mati tua tapi sebagai manusia biasa! Pas aku lihat film ini, aku tercenung juga. Memang ya, orang bisa jadi “besar” karena mimpi yang juga “besar”, tapi untuk itu, orang yang bersama dengan pemimpi tersebut harus mampu mengimbangi, kalau tidak entah si pemimpi yang akan mati karena tidak mampu mencapai mimpinya (atau dia terpaksa harus menguburkan mimpinya), atau orang yang disekitarnya yang akan mati karena tidak sanggup mengimbangi si pemimpi. Bagaimana jadinya ya, kalau Aleksander tidak harus mati di usia muda, di 33 tahunnya? Apakah pasukan dan rakyatnya siap bertempur bersama?

11.12.04

Presentasi Kelas


Setelah dua pertemuan berturut-turut yang melelahkan (lewat sekian puluh menit dari jadwal yang seharusnya), akhirnya presentasi salah satu kelasku selesai juga. Memang sulit membuat 83 mahasiswa bekerja berkelompok dan kemudian mempresentasikan pekerjaannya. Membagi kelompok saja sudah repot, soalnya kalau terlalu banyak kelompoknya, tentu sulit untuk mengatur jadwal presentasi, sedangkan kalau kelompok terlalu sedikit berarti anggota kelompoknya terlalu banyak, sudah jelas bakal banyak "penggembira" daripada pekerjanya, kan. Apalagi jadwal presentasi terakhir, entah kenapa, melelahkan sekali. Tapi aku senang, melihat semangat (dan juga kegilaan dan keisengan) mereka.

Senang memang waktu masih harus presentasi di depan kelas, memaparkan tugas kelas. Bebannya hanyalah nilai, yang bertanya juga sebagian besar teman-teman sendiri yang pengetahuannya, walaupun tidak sama rata, bisa kita tebak *lah palingan yang nanya juga dia lagi dia lagi, pertanyaannya juga itu lagi itu lagi, kebaca deh, kecil-lah*. Tapi, lain halnya waktu sudah bekerja, presentasi di depan orang-orang yang punya beragam latar belakan dan juga beragam ekspetasi terhadap pekerjaan kita. Kadang muncul pertanyaan yang membuat kita mengangguk-angguk *oh, iya, si Bapak betul, aku harusnya melihat hal tersebut lebih dalam lagi*, atau membuat kita menggeleng-geleng *apa sih yang dia tanya, dia betul-betul tidak mengerti apa yang aku sampaikan, nih. Huh, menyebalkan*. Sudah itu, resikonya juga bukan sekedar nilai, yang kalau kecil masih bisa remedial, tetapi sesuatu yang terkadang menyangkut hajat hidup orang banyak setidaknya sebanyak pegawai di kantormu.

Jadi, buat kamu yang masih harus ngantor Sabtu ini untuk presentasi hari Senin besok, selamat bekerja ya. Pasti setimpal deh, hasil yang bakal diraih.

9.12.04

Apa dan Siapa Sumber Inspirasimu?


Sampai ke rumah, belum sempat ganti baju, aku langsung menyalakan komputerku. Sambil berganti pakaian dan beberes, aku mencoba melakukan koneksi telepon untuk bisa cek surat-surat elektronik yang masuk. Agak lama kali ini, tapi aku sabar menunggu.

Eh, ada email dari dia. Wah, sudah lama aku tidak dapat kabar darinya, makanya aku mengirimkan sebuah pesan singkat melalui telepon genggam menanyakan kabar. Soalnya, harusnya sih dia sudah mau menikah, tapi entah kenapa kabar terakhir yang aku dengar lelaki yang akan dinikahinya itu memutuskan untuk pergi ke luar pulau, urusan pekerjaan. Aku waktu itu bertanya apa dia mau bertemu dengan aku, yang juga lagi cari-cari teman jalan-jalan, aku waktu itu bilang biar dia tidak kesepian. Sayangnya pesan aku tidak dibalas. Aku sih tidak protes, karena, siapa tahu sedang habis pulsa, kan?

Ternyata, dia memutuskan untuk membalas lewat surat. Ini balesan dia:

Orang-orang pikir gue kesepian semata. Semua sibuk mencarikan teman buat gue, semua mencoba menemani gue, setiap saat semua orang selalu berupaya untuk mengajak gue jalan. Tapi ini bukan cuman masalah kesepian, Mel. Dia itu sumber semangat dan inspirasi gue banget, ini yang jarang banget gue temuin. Dekat dia, inspirasi gue, kreatifitas gue, ide2 gue untuk banyak hal mengalir begitu aja. Beneran deh, gue jadi punya semangat 45 dan juga bisa ngeluarin segudang mimpi gue. Konon, dia juga begitu, dia juga ngerasa lebih asik mikir, lebih lancar kali ya kalo bareng gue. Kalo cuman temen ngobrol, walopun udah pada ngacir nih orang-orang, gue masih bisa ngobrol ama orang rumah, masih bisa ngobrol ama temen-temen gue kok, masih ada orang. Kalo untuk ngobrol serius, itu juga bisa aja dilakuin ama temen kerja gue yang lain. Tapi berbeda, gak kayak gini. Orang suka bilang, seniman bisa kerja waktu ada ide, waktu kreatifitas lagi asik, dan biasanya kan butuh segala sesuatu yang pas, buat gue, dia inilah yang membuat gue begitu ingin melakukan banyak hal, begitu ngerasa gue mampu melakukan banyak hal. Begitu dia pergi, gue bener bener drop, gak ada semangat buat ngewujudin semua itu. Jangankan yang baru, menjalani yang rutin aja ogah-ogahan gitu. Bukan cuman males, tapi otak gue mentok tok tok kejedok tembok yang ada benjol! Ide aja gak bisa, apalagi bener bener bertindak untuk mewujudkannya, gak ada semangat. Dulu, bisa jadi gak terlalu masalah ya, tapi susah ya, setelah kita mendapatkan satu suasana yang begitu mendukung kita, setelah kita bagaimana rasanya inspirasi dan kreatifitas muncul dengan lancar, begitu tidak lagi dapat itu semua, rasanya berat banget untuk mulai kesitu. Gitu deh. Ini juga sekalian ngejawab, kenapa gue sempat segitu ingin berjuang.

Waw, aku tidak tahu apa arti pasanganmu buat kamu. Tapi aku tiba tiba juga merasa kangen seseorang. Memang ya, ketika seseorang yang dekat dengan kita harus pergi dulu, sementara waktu atau selamanya, terkadang kita merasa kesepian, tapi bukan cuman semata-mata kesepian tapi karena arti kehadiran orang tersebut yang begitu besar. Kalau kamu masih punya kesempatan memiliki waktu bersama orang yang kamu sayangi, orang yang menjadi sumber inspirasi dan semangat, bersyukurlah ya. Jangan lupa untuk bilang itu semua ke mereka.

Buat temanku, aku sih cuman bisa berharap kalian bisa segera bertemu, atau kita ketemuan yok, mudah2an bisa saling memberi semangat nih!

Jingle Bells


Senang, diundang HardRock lagi. Seharusnya aku menghadiri acara Jingle Bells itu minggu lalu, tapi karena satu dan lain hal aku baru datang yang hari ini. Acaranya masih di Papandayan, dimulai jam 6 sore tadi dengan bintang tamu Tfive dan penyiar Chandra (yang kayaknya kok makin kurus ya?). Terkejut, karena bertemu teman lamaku di kantor lama, Kiki. Dia bekerja jadi PR Hotel Papandayan! Kok malah nyasar kesitu ya? Tapi gak apa-apa, aku senang bisa ketemu Kiki lagi.

Alasan kenapa aku ingin tulis acara itu disini, karena acara tersebut berjasa membuat aku begitu berbahagia malam ini! Tadi sore, aku sampai di Papandayan sekitar jam 17.30, tapi tertahan di tempat parkir, karena ada sedikit "huruhara" di tempat parkir. Kondisi yang membuat aku begitu sedih. Sedih banget. Aku pergi dari tempat parkir dengan perasan kesal dan kesedihan yang udah tinggal pake api dikit aja udah meledak dan bikin kehancuran tingkat tinggi, deh. Herannya begitu sampai di ruangan tempat acara itu berlangsung, aku langsung (!) merasa santai, bisa jadi karena teman-teman dari HardRock juga bersahabat dan akrab. Enak banget. Membuat aku merasa nyaman dan tidak canggung, asik. Mungkin juga karena aku sudah cukup akrab dengan beberapa muka disitu, jadi enak aja untuk ngobrol (atau aku yang terlalu SKSD ya?).

Terutama pas Iwan Zein nyanyiin lagu I'll be home for Christmas, entah kenapa, aku betul-betul tersadar bahwa ini sudah hampir Natal. Memang sih pohon natal sudah dipasang, lagu natal sudah mulai dipasang, pembicaraan tentang mau natalan dimana sudah dilakukan, tapi kok baru tadi tuh, kerasa banget kalau waktunya sudah hampir dekat. Aku sampai terharu *cie cie*. Terimakasih deh buat Iwan dan juga T-Five yang udah nyanyiin Silent Night-nya. Keren.

*harus inget menelpon Kiki untuk minta foto-foto yang dia ambil, salah sendiri kemakan emosi dan jadinya memutuskan meninggalkan tas berikut kameraku di mobil*

Aku bersyukur tetap memutuskan datang walaupun kekalapan di awal acara sudah membuat aku untuk tidak jadi datang, aku benar-benar merasa bersenang-senang (bukan hanya senang karena dapat voucher), dan suasana hati yang terbangun membuat aku lebih tenang. Akhirnya sih, "huruhara" itu bisa terselesaikan dengan baik, karena teman berhuruhara-nya juga berbesar hati dan berlembut hati sih, jadi aku pulang dengan hati gembira. Betul kan, hati yang gembira adalah obat yang manjur, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Setengah Jomblo


Pernah gak kamu punya pacar tapi kok kayaknya gak punya pacar? Bingung? Misalnya pacar kamu kebetulan saja memang tidak suka ketemu teman-teman kamu yang kebetulan cerewet-ribut-ramai-hingar-bingar itu jadi kamu harus pergi sendiri (tanpa pacar) kalau kamu mau pergi bersama teman-temanmu, tidak perduli apapun tujuan pertemuan itu. Atau, bisa jadi kamu harus ke undangan perkawinan/ ulang tahun seorang diri, karena si dia (merasa) tidak mengenal teman kamu tersebut (walaupun sudah dikenalkan), tidak diundang secara personal, atau karena memang tidak suka acara ramai-ramai. Kebayang dong, di acara yang melihat-kamu-dari-apa-yang-kamu-pakai-dan-siapa-yang-kamu-gandeng itu kamu bakal disangka masih sendiri aja, sorangan wae, jomblo. Apalagi kalau kamu ternyata harus sembunyi-sembunyi untuk bisa pacaran, entah dari orang tua dan keluarga, atau dari teman sekantor (karena aturannya tidak mengijinkan) atau dari pacar lain kamu (!), pasti ada kesempatan yang membuat kamu seakan-akan juga tidak punya pacar.

slightly singleYah, itu sih cuman beberapa hal yang mungkin membuat kamu layak disebut "setengah jomblo" atau kalau buku ini sih menyebutnya "slightly single". Setting masih di New York (kayaknya orang itu doyan sekali ambil setting NY, buku-buku ciklit bahkan karangan pengaran Inggris suka ambil setting NY, tidak terhitung jumlah sitkom yang juga ambil setting dari The City ini). Tracey itu perempuan yang punya pacar tapi seperti tidak punya pacar, maklum Will, sang kekasih itu tidak pernah memperkenalkan Tracy sebagai kekasih Will dan juga Will selalu saja butuh cukup "ruang" untuk mengerjakan hal-hal yang harus dia kerjakan. Tracy, tiga tahun bersama Will dengan kondisi seperti itu, membuatnya melihat banyak hal yang tidak wajar terjadi dalam hubungan pacaran menjadi hal yang wajar, sekali lagi atas nama cinta dan karena Tracy menghargai kebutuhan Will dan pertimbangan-pertimbangan Will. Will bisa loh memperkenalkan Tracy sebagai pacar ke teman laki-laki tetapi hanya Tracy tanpa embel-embel ini-Tracy-kekasihku kepada teman perempuan.

Sulit memang berada di kondisi setengah jomblo. Bukan karena baru baca buku ini aku bisa bilang seperti itu tetapi karena ada beberapa situasi yang membuat aku (dahulu) merasa setengah jomblo. Bukan, bukan karena HTS, HTI atau apapun namanya, tapi karena kondisiku, kondisi (mantan) pacarku, dan karena hal-hal lainnya. Aku dan kamu memang harus mencoba memahami, mengerti dan menghargai keinginan pasangan aku dan pasanganmu itu, tetapi tentu saja tidak bisa hanya satu sisi kan? Ada kebutuhan, keinginan dari sisi kita yang juga butuh dipahami dan dipenuhi. Jadi, kalau kebetulan kamu bersama dengan pasangan yang memang tidak suka acara ramai-ramai atau acara yang penuh dengan lirikan ini-pacarku-dan-mana-pacarmu, yah pahami sajalah, kamu bisa pergi seorang diri atau pergi bersama teman-teman lain, tokh apakah kamu punya pacar atau tidak kan bukan ditentukan apakah kamu selalu bersama berdua seperti kembar siam, kan? Kalau pacar kamu tidak mau kamu mengenal teman-temannya, berpikir positif saja bahwa dia memang ingin punya "ruang" sendiri. Dan, kalau pacar kamu begitu hangat ketika hanya berdua, dan dingin ketika ada orang lain bersama-sama dengan kalian, aku juga masih mencoba berpikir positif (walaupun makin berat) bahwa dia hanya merasa canggung saja di tengah keramaian. Tapi kalau dia mulai selalu lupa bilang bahwa kamu adalah pacarnya ke teman-teman terdekat dia dan ke keluarga dia, dan mulai butuh ruang yang lebih banyak lagi sehingga kamu tidak bakal mendapat jawaban atas saat-saat dia menghilang-entah-kemana-tanpa-penjelasan-apapun, aku kok agak susah untuk tetap berpikir positif. Kayaknya daripada setengah jomblo gak jelas mendingan jomblo sekalian deh, kan jelas, bisa cari cem-cem-an baru, gitu!

8.12.04

Astaga, salah kirim!


Di kala teknologi makin canggih, kesalahan kecilpun bisa membuat dampak yang semakin canggih juga.

Waktu belum ada telepon apalagi telepon genggam, kita harus bertemu untuk berbicara, atau setidaknya lewat surat melalui kantor pos. Enaknya, ada waktu untuk baca ulang lagi semua tulisan, terus, ada waktu beberapa hari dari surat dikirim hingga akhirnya sampai ke tujuan, jadi kalau yang lagi marahan, mudah-mudahan emosi waktu itu sudah turun, kan sudah lewat beberapa hari. Sekarang semuanya serba cepat ada email, ada telepon, malah bisa juga tele-conference (dan sekarang ternyata akad nikah pun bisa dilakukan melalui tele-conference ini loh).

Email, hanya butuh beberapa detik untuk sampai ke tujuan. Beberapa detik untuk bisa memberi tahu kabar, tapi juga beberapa detik untuk membuat satu kesalahan yang terjadi karena ketidakhati-hatian.Dulu, temanku pernah salah mengirimkan email yang sangat personal ke sebuah mailing list! Panik jangan dikira, dia sadar sesaat setelah tombol sent dikirim, tapi, sudah tidak bisa lagi diulang kan.

Kalau soal sms, jangan tanya deh. Beberapa tulisan di pojok ini sudah bisa bercerita tentang kekesalan atau kegembiraan gara-gara sms. Mulai dari salah terima sms ataupun sms iseng berhadiah menyenangkan.

Entah kenapa, setiap aku mau mengirimkan sms ke seseorang tentang abang, selalu terkirim ke abang, dan bukannya ke orang itu. Kacau kan. Cuman dua kali, dua-duanya fatal pula. Aku gak bisa inget, apa sebelumnya udah pernah kejadian juga atau enggak. Dua ini yang bisa aku ingat, karena dua-duanya terjadi dalam dua minggu terakhir, berdekatan pula.

Salah kirim yang pertama, harusnya meluncur ke adik perempuanku. Efek dari kesalahan itu, selain malu dan kaget, adalah beberapa sms datang dari abang. Tapi, untungnya, waktu itu tidak ada kerusakan berarti, karena abang masih dengan sabar mendengarkan penjelasan aku, dan aku juga jadi lebih mengerti gimana perasaan abang. Tapi kesalahan yang kedua, duh, ancur-ancuran banget. Hanya saja, lagi-lagi aku beruntung, karena akhirnya abang juga masih bersabar hati untuk menerima (kembali) telepon aku. Makasih ya, Bang. Padahal katanya dia ini orangnya keras banget, tapi ternyata masih mau berbaik hati mendengarkan omonganku.

Jangan kapok ya, Bang, kekekekek.

Mudah-mudahan aku dapat sms menyenangkan hari ini, jangan yang bikin kesal hati atau jangan dari orang tidak dikenal yang salah kirim sms.

7.12.04

Waiting

Waiting oleh Ha Jin
Siapa sih yang suka menunggu? Rasanya, banyak orang mencantumkan kata "menunggu" di kolom "hal yang paling tidak disukai/ dibenci. Menunggu, mau hanya 5 menit, atau bahkan 1 menit membuat orang tersiksa, kesal dan marah. Mau menunggu orang ngasih amplop gaji atau orang nagih hutang, tetap saja kesal. Jadi, coba deh bayangkan kalau harus menunggu selama hampir 20 tahun! Seorang lelaki: Lin, berjanji pada pacarnya: Manna untuk meninggalkan istrinya: Shuyu. Itulah Waiting yang dibuat oleh Ha Jin.
Bisa jadi, aku seperti beberapa tokoh di buku ini, doyan menunggu. Jangan kaget, bener kok, aku ini aneh, kalau harus menunggu, aku bisa dengan tenang menunggu orang atau sesuatu apapun, loh. Biasanya, aku hanya akan membaca buku (yang memang biasanya selalu aku bawa kemana-mana) atau kemudian asik berimaginasi tentang apapun yang ada disekitarku. Bukan berarti aku tidak akan marah, ya, tapi, proses menunggunya sendiri sih tidak terlalu bermasalah. Mungkin, ini nasib jadi orang tepat waktu di lingkungan yang terkenal dengan jam karetnya?
Adalah hal yang buruk, menurutku, terbiasa menunggu. Aku, menunggu sekian tahun untuk apa yang aku pikir cinta. Yah, penantian itu sudah berakhir *bukan berarti aku menyesalinya, soalnya tetep saja, tidak ada satu detikpun yang aku sesali dari kebersamaanku dengannya selama penantian itu*. Jangan-jangan, seperti yang buku itu bilang, I waited so many years just for the sake of waiting. Aduh, tidak! Apa jangan-jangan aku berharap banyak justru dari "menunggu" itu, bukan dari apa yang akan ada dari penantian itu, apa yang aku harapkan setelah tiba waktu yang ditunggu. Gawat.

Kebiasaan lain, aku suka mencocok-cocokan karakter atau situasi dari apapun yang aku baca dengan kondisi aku. Disini, banyak hal mirip yang aku temukan. Bukan fakta yang terlalu menyenangkan sih, tapi aku senang menemukannya. Satu hal yang aku temukan, aku merasakan menemukan seseorang yang aku sayang juga di buku ini. Satu kalimat yang ditujukan untuk Shuyu dilontarkan oleh Lin,"Will you help me." Entah kenapa, aku langsung teringat beberapa momen serupa. Begitu ringkih, tapi justru dalam kelemahan itu, butuh kekuatan untuk bisa mengatakan kalimat itu. Shuyu, juga seperti aku, menjawab,"All right, I'll help you, I promise. Don't be so upset." Mudah-mudahan, aku tidak salah menjanjikan hal tersebut, dan terutama sih, mudah-mudahan ketulusan hati aku saat menjawab itu betul-betul dipahami.
Kalau kamu sekarang sedang dalam posisi menunggu, entah menunggu jemputan untuk pulang kantor (hey udah jam 6 sore loh!), menunggu makanan yang kamu masak matang, atau menunggu hal yang lebih besar seperti pekerjaan, pasangan hidup atau apapun, well, mungkin bisa coba nunggu sambil baca buku (kalau kebetulan suka baca), misalnya buku yang satu ini.

Komentar Gila

Kesel banget nih, ngoprekin komentar supaya cuman satu tapi komentar lama juga gak ilang. gimana neh. kesalahan sudah terlanjur dibuat.

Mudah-mudahan yang satu ini berhasil.

6.12.04

Identitas


Pernah isi identitas diri? Pasti sering. Untuk membuat blog ini, pasti diminta identitasnya, kan? Mau benar atau palsu, itu sih pilihan kamu. Kalau aku, lebih suka memberi identitas asli saja. Nama, jenis kelamin, tanggal lahir, biasanya dengan alamat dan kode pos adalah beberapa hal yang musti diisi untuk menentukan identitas kamu.

Tapi kadang identitas tidak sesimpel nama, alamat dan tempat tanggal lahir. Apalagi kalau berkesempatan baca buku Malouf tuh. Ada banyak hal yang membentuk identitas kita. Itu katanya.

Aku pikir-pikir, memang ada banyak hal yang membentuk identitas aku.

Coba deh, pernah gak kamu dikenal sebagai siapanya siapa. Misalnya nih, aku, dikenal sebagai anaknya Bapakku (jelaslah ya). Papi itu terkait banget dengan aku, pernah, sering malah, dan malah karena itu banyak keputusan aku buat berhubungan dengan itu, Bukan bukan untuk memanfaatkan justru untuk menghindari bayang-bayang dia. Dikaitkan dengan adik-adikku sih jarang, yang lebih sering adikku yang dikaitkan dengan aku. Malah sampai sampai salah satu adikku pernah mengambil jalur sangat ekstrim untuk melepas kaitan itu dari aku, soalnya dia lebih dikenal sebagai adiknya Melly. Emang enak! Tapi di beberapa komunitas aku dikenal sebagai kakaknya adik adikku kok. Seperti semalam, teman-teman adikku bilang makasih Kak Maurice *maksudnya kakaknya Maurice*.

Aku juga pernah punya sahabat di Rotterdam, dimana aku juga merupakan bagian dari identitas dia. Begitu dia datang sendiri ke kampus, orang mempertanyakan ketidakhadiranku, padahal saat itu dia bersama tunangannya yang kebetulan tinggal di negara yang berbeda. Nah loh! Terbayang kalau saja sang tunangan tidak mengenal baik aku atau mengetahui bagaimana hubungan aku dengan dia bisa-bisa mereka tidak akan punya (calon) anak seperti sekarang.

Tapi satu jenis hubungan lain yang juga menurut aku membentuk identitas seseorang itu adalah pacar (atau istri atau suami atau tunangan). Pasti akrab kan dengan kata-kata eh, kenal dengan Rini gak, itu loh Rini-nya Anton *satu konsep yang aneh, kesannya dimiliki sebagai benda gitu loh*. Tidak jarang, ini juga menjadi sumber gosip, kalau aku tidak muncul sebagai identitas yang “utuh” menurut pengertian orang-orang tertentu.

Semalam, di Potluck aku mendapat pertanyaan yang sama,’Eh, mana si abang?’ Ugh, senyam senyum masem saja. Dalam hati, tercenung juga, gila juga ya dalam waktu yang sangat singkat, abang sudah menjadi bagian dari identitas aku. Di beberapa tempat bisa jadi orang akan melihat aku tidak sebagai aku yang “seutuhnya” (aduh bahasanya, bahasa P4 banget), ada yang kurang, tapi bisa jadi bukan abang yang dimaksud tapi seseorang yang lain, yang sebetulnya menjadi identitas gue dalam kurun waktu yang jauh lebih lama dari abang (yang sampai saat inipun ada beberapa yang belum pernah aku datangi lagi!).

Well, menurut Malouf memang identitas kita dibentuk oleh banyak hal, dan menurut aku bukan hanya lingkungan tempat tinggal, keluarga, kebiasaan tapi juga orang-orang yang dekat dengan kita. Aku sih tidak masalah dengan hal itu. Memang, mereka yang dekat dengan aku membentuk aku, langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar, sedikit atau banyak,. Ganti identitas? Uh, jangan deh. Memang ada saatnya aku lebih suka tidak mengumbar identitasku, malah cenderung menutupinya, tapi rasanya tidak akan aku mengganti identitasku. Apalagi yang satu ini, yang biasa aku lakukan beberapa waktu lalu untuk mengemukakan identitas aku. Hi, I’m Mellyana, I’m Indonesian. Aku senang bisa menunjukkan identitasku di pojok ini.

Kejutan Senin Pagi


Udah mah bangun subuh, jam 7 udah di jalan, nyampe kampus, kok mahasiswanya cule ya? Kok sepi ya?

Masuk TU, orang TU bilang,"Kok udah dateng, Bu?"

Ah, becanda nih?

"Loh, saya ditelepon Jumat kemarin, katanya Senin pagi,"aku membalas.

"Wah, kata siapa, Bu? Itu mah salah, Ibu kalau mau hari Senin, nanti jam 15.30 sore, kalau pagi itu tuh hari Jumat," sanggah si Bapak dengan santai

GUBRAKSSSSSSS

Memang deh, si ibu TU satu itu rada ajaib. Ngapain sih dia mengkonfirmasi kalau mau menjebak?Ah, aku juga salah, kenapa gak coba cek jadwal yang ada di tanganku?Sudahlah, pulang saja, tidur dulu!

Catatan selanjutnya:
Ternyata tidurnya terbangun sama hujan besar. Duh, enak banget loh denger suara hujan! Sudah ah, musti berangkat lagi nih.

Senin Semangat


Senang banget!
Pagi ini tiba tiba terasa, semua itu indah.

Entah apa sebetulnya yang membuat aku begitu semangat dan senang pagi ini, sebuah kebiasaan atau sebuah perubahan ?

Aku bilang kebiasaan, karena tadi malam, aku akhirnya berhasil memaksakan diriku untuk bekerja (lagi) di Potluck. Main Kartu di PotluckMempersiapkan bahan untuk Senin pagi, sambil ditemani Maurice dan teman-temannya yang janjian ketemu untuk main kartu. Aku duduk di meja dekat mereka, sambil membaca dan menulis, aku mengintip permainan mereka, sambil tersenyum-senyum melihat yang kalah ngamuk-ngamuk, dan yang menang senyum-senyum penuh kesombongan. Eh, gak usah berpikir buruk, mereka main kartu untuk bersenang-senang, dan mereka memang bersenang-senang. Kalah atau menang itu tidak dipersoalkan, selain jadi bahan untuk cela mencela. Kembali lagi ke kalimat awal, ini adalah kebiasaan lama yang sudah beberapa waktu tidak aku lakukan, karena aku terlalu malas untuk keluar rumah. Mau tahu rasanya? Menyenangkan. Otak lancar, persiapan bahan juga selesai dalam waktu cukup singkat, bahkan aku masih sempat baca-baca majalah.

Aku bilang sebuah perubahan, karena tadi pagi, aku bangun sangat pagi. Aneh, aku bangun pagi justru di saat waktu tidurku sebetulnya tidak terlalu "baik", soalnya aku baru tidur larut malam, itupun beberapa kali terganggu adikku yang tengah mengerjakan tugas dan minta dibantu mengedit makalah yang dia buat. Suara komputer *beneran deh, CPU itu kan bersuara cukup mengganggu* dan juga suara printer terus terdengar sampai pagi hari, waktu aku bangun. Tapi ini perubahan, dari yang terbiasa bangun jam 7 sampai jam 8 (dua minggu terakhir) sekarang bangun jam 5.30 pagi. Sambil menyetir, aku merasa sukacita yang luar biasa.

Jangan-jangan, aku ini memang orang aneh. Di kala pekerjaan bertumpuk, aku malah merasa begitu hidup, tapi di kala pekerjaan sangat sedikit, malah bisa dibilang tidak ada, dan aku bersantai-santai saja, aku malah seperti orang sakit *malah pernah, waktu aku betul-betul kosong kerjaan, aku sakit sampai turun 6 kilo*. Begitu harus mulai melakukan ritual persiapan bahan dan kembali sibuk mengajar, aku merasa begitu bersemangat. Senang, aku sudah muak dengan hari-hariku di 14 hari kebelakang. Menyesakkan. Tapi pagi ini, aku merasa bahagia.

Mudah-mudahan teman-temanku yang sedang malas dan juga jenuh juga bisa semangat lagi ya. Terkadang, sebuah perubahan dari rutinitas bisa membuat kita jadi bersemangat, atau sebetulnya kembalinya kebiasaan-kebiasaan tertentu membuat kita merasa berada di jalur yang tepat lagi. Aku sih, hanya bisa mengucap syukur, duh, makasih ya Tuhan, hari ini aku boleh dikasih sukacita yang tidak aku sangka.

Jadi, tidak ada "I hate Monday" ya, selamat beraktivitas!

4.12.04

Mimpi


Heran, tadi pagi, aku gak bisa inget mimpi tadi malam, tapi tidurnya menyenangkan, enak banget, walaupun bangun jam 8 pagi (atau siang ya). Bisa jadi, kamu sih tidak begitu ambil pusing tentang mimpi semalam. Lain halnya dengan aku, soalnya setiap malam aku ini mimpi! Serius deh. Aneh juga sih, ada yang jarang mimpi dan bahkan ada yang belum pernah mimpi, tapi kalau aku setiap malam mimpi. Memang sih, tidak setiap hari aku ingat mimpiku. Jadi, setiap pagi, yang paling pertama aku lakukan adalah mengingat-ingat mimpi tadi malam. Pokoknya setiap bangun tidur pasti coba-coba ingat mimpi yang datang (wong tidur cuman 30 menit juga bisa mimpi!).

Mimpi orang yang kita sayang meninggal, udah pernah. Mimpi teman dekat menikah, juga sudah pernah. Mimpi bagus, mimpi buruk jelas pernah dialami deh. Untungnya kalau mimpi jelek, aku merasa selalu bisa mengontrol mimpiku. Gini nih, biasanya kalau mimpi buruk, aku selalu lari dengan cara...terbang! Hehehe, aku selalu bisa terbang dalam mimpiku, sampe ngelewatin atap rumah atau gedung tinggi. Gak masalahlah! Kalau sudah bosan, biasanya aku berpindah jadi orang ketiga. Misalnya tadinya yang dikejar itu aku, tapi nantinya biasanya aku melihat orang lain yang dikejar dan aku sedang menonton. Kalau sudah sampe gak tahan, biasanya aku sih bangun aja. Untungnya sampai sekarang, hampir selalu bisa bangun dari mimpi buruk. Soalnya aku cukup sadar kalau itu mimpi. Aneh ya?

Paling buruk sih, kalau pas bangun, suasana udah di kamar tidur, atau di tempat tidur, dan tiba-tiba aku langsung sadar, aku belum bangun. Duh, males deh kalau kejadiannya kayak gini, pasti otakku sibuk mikir, ayo, bangun bangun, ini sih masih mimpi, walaupun semua setting adalah setting tempat aku tidur.

Kalau mimpi menyenangkan, wuiih, seharian itu bisa kebawa enak loh. Bisa kebawa senang.

Sayangnya sering banget aku gak bisa inget mimpinya. Biasanya pas bangun aku harus langsung berusaha mengingat mimpi itu, baru deh, bisa aku ingat. Kalau sempet diingat sekedarnya, udah deh, sejam lagi juga sudah lupa sama mimpi itu, cuman, kalau itu mimpi menyenangkan efeknya sih belum hilang.

Hmmm, beberapa hari kebelakang mimpiku kayak adegan trailler film, itu tuh, kayak cuplikan adegan film yang dipotong sana sini, dan disajikan dalam waktu singkat. Jadi agak bingung mengingatnya.

Tapi tadi malam, jelas aku mimpi indah, wong aku bangun dengan perasaan senang. Hmm, mudah-mudahan malam ini mimpi menyenangkan lagi. Ada yang tau, apa ada trik dan tips biar mimpinya menyenangkan?

Catatan Tambahan:
Triesti bilang itu tuh Lucid Dreams, sadar kalau sedang mimpi, dan juga karena aku bisa loh ngeganti mimpi aku sesuai dengan keinginan...kekekek, kecuali kalo lagi males, ya udah bangun aja ah. Makanya, aku malah aneh kalo tidur gak mimpi, ada yang kurang.

Catatan Tambahan (lagi):
Beberapa tulisan bilang bahwa Lucid Dreams memang sesuatu yang diinginkan orang, dan untuk itu disarankan meditasilah, yogalah, segala sesuatu yang berbau seperti itu karena ini dianggap seni kuno. Walah walah. Aku tuh gak pernah belajar tentang itu, gak pernah tau, dan gak pernah mendalami itu semua, tiba-tiba aja seperti itu, rasanya dari kecil. Aneh deh! Aku pikir itu otomatis bisa dilakukan orang.

Coronado


Tertarik menonton karena ada kata "revolusi" di poster-poster maupun iklan film yang satu ini. Coronado. Hmm, revolusi di sebelah mana ya? Film ini hanya mengambil tema revolusi untuk memaparkan sebuah film petualangan biasa. Pemainnya tidak ada yang terlalu terkenal, walaupun juga bukan muka baru dan cukup sering bermain di beberapa film yang masuk ke Indonesia.

Seorang perempuan mencari tunangannya sampai ke Coronado. Itulah cerita yang ingin ditampilkan.


Sepertinya keinginan orang-orang dibelakangnya memang tercapai. Claudio Faeh bilang "We also spent some time browsing through 'Tintin' comic books from Europe, because they had the kind of true adventure flair we wanted to capture". Memang, dipikir-pikir film ini seperti komik. Petualangannya, walaupun ada hambatan ini itu, lebih seperti membaca komik. Banyak hal tidak dijelaskan, dan jelas bahwa revolusi hanya sebuah tempelan untuk film ini.

Sebetulnya film ini tidak terlalu mengecewakan sih, kalau untuk tontonan menghibur. Gambarnya asik-asik. Ada beberapa adegan menarik, dan bisa saja mengundang tawa, hmm, atau mungkin lebih tepatnya mengundang senyum. Di film ini juga, Amerika ditampilkan sebagai pihak yang punya banyak muka, dan doyannya mengobok-obok segala sesuatu yang bisa diobok-obok.
Melihat film ini, aku berharap bisa seperti perempuan di film itu, bisa dengan mudah memutuskan pergi ke Swiss, kemudian banting setir ke Colorado dengan mudah. Kebayang kalau aku, musti cari duit dulu dong! Apalagi, perempuan ini sangat santai loh, menurut aku, menghadapi banyak hal aneh dan baru dan mengagetkan buatnya. Tidak banyak bertanya ini itu, lebih banyak bertindak.
Walaupun pergi dengan mood sangat jelek, tokh aku bisa tersenyum sesudahnya. Ada kekecewaan sih, tapi buat aku sih menonton bioskop adalah menonton bioskop, ada kepuasan tersendiri, dan bisa membuat aku jauh lebih santai.

Makasih ya, buat yang udah repot-repot ngusahain anter jemput, ngebut-ngebut, dan mendahulukan aku, juga buat yang udah nemenin. Jangan kapok. Kekekek.

Pengen deh

Aduh, puyeng mo nulis, lagi sibuk ngoprekin blog-nya Abang. Huh! Belagu sih, sok sok an mbaca itu html. Lieur juga ternyata. Kadang jadi gitu ya, kalau banyak hal yang ingin dilakukan pada waktu yang sama, ujung-ujungnya malah tidak ada yang dikerjakan, deh!
Pengen ngoprek lay out, pengen ke Potluck, pengen ke Ultimus, pengen ke Tobucil, pengen nonton Coronado, musti ke Rumah Buku dan, astaga banyak kepengen nih, tapi kok, beranjak dari kursi ini aja males minta ampun ya?
Mmm, pengen makan dulu ah, baru kecebarkecebur...

3.12.04

Teman Malang


Hari ini aku dapet email lebih dari satu dari Mba Jidah. Huhuy, seneng banget loh. Ini nih temanku dari Malang. Aku bisa bertemu dia karena satu pekerjaan yang betul-betul bikin muntah, kurus, dan membuat 1001 sumpah serapah harus keluar tapi memberikan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku deh *siapa bilang bekerja dengan badan nasional yang katanya elit, dan juga lembaga donor internasional yang keliatan mentereng itu menyenangkan?*

Kita "dipaksa" kenal dan akrab dalam waktu singkat. Sangat singkat. Kurang dari 3 hari, kami sudah berhubungan intens mulai dari urusan keuangan, logistik sampai banyak urusan precelan. Dalam seminggu, aku merasa sudah kenal sama mba yang satu ini dalam setahun bahkan lebih. Kami jatuh bangun, pusing kepala, kurang tidur, stress dan tentu saja ketawa ketiwi. Kita tidak terlalu "sama" wong umur berbeda, latar belakang pendidikan berbeda, latar belakang sosial budaya juga berbeda *aduh mba ini Jawa banget loh* tapi entah kenapa, rasanya langsung cocok aja, bisa kerja bareng, bisa langsung mengerti satu sama lain, tanpa harus susah payah menjelaskan panjang lebar. Sampai saat ini, kami masih saling sms atau telepon.

Berteman memang tidak ada rumusnya. Ini menurut aku. Pertemanan bukanlah suatu formula yang ditentukan seberapa sama, seberapa beda dan seberapa lama kita saling kenal. Pertemanan juga tidak bisa diukur dengan variabel-variabel dan ukuran-ukuran yang metrik, yang bisa diukur. Aku bersyukur, dalam hidupku, aku bisa bertemu orang-orang, yang dalam masa perkenalan yang singkat, ternyata menjadi teman tidak dalam waktu singkat bahkan lama.

Mba Jidah, kangen deh, mudah-mudahan aku bisa ke Malang lagi. Udah kangen Malang juga nih.

Bertanyalah!


Entah kenapa, aku merasa, kita memang tidak terbiasa untuk bertanya di kelas, atau bahkan dimanapun, di tempat kerja, di tempat pertemuan, di kesempatan-kesempatan lain. Kelasku yang satu ini juga begitu. Apalagi kalo Pak Prof yang ngajar, biasanya harus ditunjuk dulu baru deh ada yang menjawab pertanyaan. Padahal, kalau dilihat dari jawaban ujian, jelas banyak yang lebih menebak-nebak kuliah yang diberikan daripada berhasil mencapai apa yang diinginkan dari kelas, dengan kata lain, seharusnya banyak yang mereka belum tahu dan bisa ditanyakan di kelas.

Lain halnya hari ini, begitu tiba giliran teman-teman mereka yang presentasi, ternyata pertanyaannya banyak, loh. Mudah-mudahan bukan karena ingin menjatuhkan teman yang sedang presentasi, ya. Suasana kelas hidup dan ribut. Ribut yang diskusi dan ribut yang ngobrol sendiri, sih. Buat aku, bukan yang terpenting untuk membuat makalah yang sempurna, dengan 1001 teori, dan presentasi yang "mentereng". Justru proses mereka berdiskusi, bertanya dan mencoba menjawab sesuai konteks dan tentu saja secara akademis, itu sangat menyenangkan.

Karena itu, aku senang sekali setiap seorang mahasiswa bertanya, menjawab, menyanggah atau sekedar mengeluarkan ungkapan apapun itu. Itu sangat membantu aku juga untuk lebih belajar, baik tentang materi, maupun tentang mereka sendiri.

Presentasi

Hari ini sih bukan aku yang presentasi, tapi murid-muridku. Sialnya, Pak Prof bilang dia gak bisa datang. Duh, gimana sih? Masak cuman aku yang di kelas? Mana badan meriang gini (padahal harusnya habis dipijat kan enak, tapi mendadak perut agak mual-mual nih...nah loh!).

Kalau aku yang mau presentasi, aku sih mengharapkan komentar sebanyak mungkin, terutama dari orang-orang yang aku anggap lebih tahu tentang apa yang aku presentasikan.

Pijatan Enak


Aku suka banget dipijat. Untung punya ibu yang, kalau mood lagi baik, bisa mijat. Kalau tidak, sengaja lari ke salon untuk creambath, yang dicari sebetulnya lebih ke pijatan di kepala dan bahu waktu lagi capek. Enak banget! Sekarang sih, untungnya ada tukang pijat langganan yang dipanggil ke rumah. Harga gak beda jauh dengan creambath di salon, malah bisa lebih murah untuk pinjatan selama satu jam setengah.

Kemarin pagi, aku dipijat lagi ama Teh Rini. Alasannya, hari sebelumnya aku mencoba membuka pagar rumah yang berat gak kira-kira, dan akibatnya bahu kananku agak terkilir. Alasan sebenernya, emang pengen dipijat aja. Ternyata, pas dipijat ketauan usus aku lagi gak beres. Hmm, emang iya sih, ada masalah pencernaan yang menyebalkan, masalah klasik sih. Ya udah, hari ini aku merasa pencernaan aku sedikit lebih baik. Kalau soal bahu kanan, jelas sudah beres, tapi itu juga masalah klasik kalau terlalu lama di belakang komputer, terlalu lama pegang mouse. Satu lagi, aku ini gampang banget dapet biru-biru di kakiku, kayak memar kalo kejeduk sesuatu, tapi sebetulnya gak kejeduk apa apa loh. Jadi pas mijit di daerah-daerah itu, Teh Rini memberi perhatian lebih . 'Aduh, mel, ini teh kenapa lagi,' gitu tuh reaksi teteh.

Beda kan dipijat sama mijat orang. Kalau yang terakhir, aku sih sebetulnya gak merasa terlalu bisa ya, feeling aja. Ibuku memang jagoan urusan mijat memijat, tapi aku sendiri agak milih-milih untuk mijat orang. Kalau orangnya gila fitness kayak Made tuh, aduh mijetnya musti mantep banget, soalnya liat banget kan. Kalau gak kena di hati, pasti males deh mijat orang, gak tau kenapa. Yah, ada juga sih, orang yang gak pernah bosen aku pijat atau dipijat aku. Gak tau kenapa.

Ah yang pasti badanku agak enak nih, soalnya baru dipijat.

2.12.04

500 perak

Sekarang, dapat apa sih dengan 500 rupiah?

Waktu belum sekolah, bahkan dengan 5 rupiah, aku sudah bisa beli permen, jadi uang 500 rupiah betul-betul tidak terbayangkan rasanya. Pas sekolah, uang 500 rupiah adalah penghasilanku dari menyewakan buku-buku koleksi perpustakaan pribadi selama beberapa hari. Itu bisa dapat 3 atau 4 nasi bungkus yang enak. Makin kesini nilai 500 rupiah semakin tidak berharga saja! Beberapa tahun lalu, aku mengkoleksi 500 rupiah untuk bayar parkir. Sekarang, memberi 500 rupiah bisa diamuk-amuk sama tukan parkir, malah di beberapa tempat makan di Jakarta dikasih dua kali lipat dari 500 rupiah juga masih ngomel-ngomel. Duh.

Uang sebesar 500 rupiah itu seakan tidak berharga. Kita melihatnya sebagai recehan, sebagaimana uang 50 rupiah atau 100 rupiah yang juga sudah semakin jarang, dan lebih sering digantikan dengan permen di beberapa supermarket. Dan, sebagaimana nasib recehan yang seakan tidak berarti, punya uang 500 rupiah itu sama saja dengan tidak punya uang. Mau naik angkot tidak bisa, mau bayar parkir tidak bisa, mau beli makan, itu namanya mimpi, mau beli sebotol minuman mineral juga kurang.

Tapi coba deh kalau 500 rupiah itu diberikan ke orang yang suka ngamen dan ngemis di perempatan...eits...nanti dulu dong ya! Biarpun uang 500 rupiah itu suka jatuh di tas atau di mobil dan tidak kita perdulikan, untuk memberi kepada yang ngamen, kita masih mau bercapek-capek mencari recehan yang lebih kecil nilainya. Mudah-mudahan kamu sih enggak. Kalau aku, iya euy, masih sangat suka seperti itu tuh.

Uang adalah uang, loh. Aku pernah mengalami masa sulit *cie cie* dan uang 500 rupiah itu ternyata sangat membantu. Kalau dipegang baik-baik, kalau betul-betul disadari 500 rupiah itu bernilai ternyata berharga juga loh. Tidak sadar, kita bisa 500 rupiah sampai sekian banyak, terkadang dijumlah bisa sampai 5000 rupiah atau bahkan 10 ribu rupiah. Hilang tidak terasa, tapi kalau disimpan, uih, lumayan banget.

Memang sih, agak berat juga bawa 30 ribu rupiah yang semuanya adalah koin 500 perak. Tapi aku sih tidak malu, cuek saja ke tempat makan atau tempat belanja dan memberi uang 500 perak-an tersebut sesuai jumlah yang aku bayarkan. Buat apa malu, 500 rupiah itu uang juga, dan punya nilai beli, dan terutama, uang itu bukan aku ambil tanpa ijin dari orang kok!

Komentar

Orang sih biasanya memang lebih suka berkomentar ya, mungkin, kalau melihat suasana pertandingan bola, misalnya, kita ini memang komentator paling jagoan deh.

Aku juga suka diberi komentar apapun di blog ini, kadang ada yang menulis di tempat "comment", kadang ada yang menulis di tagboard, dan ada juga yang langsung mengirim email ke aku *ini sih pastinya orang yang sudah kenal aku, soalnya aku gak tulis alamat email dimana-mana deh rasanya*. Kelompok terakhir ini menulis komentar langsung lewat email karena malas login ke blogger.

Jadi aku memutuskan pakai fasilitas penulisan komentar yang lain. Tapi cukup lieur, karena aku gak ingin menghilangkan komentar-komentar yang pernah dikasih sebelumnya. Narsis? Hehe. Mungkin juga. Jadi posting ini dibuat untuk menguji, apakah fasilitas komentar yang baru sudah berfungsi tanpa menghilangkan yang lama. Duh, mudah-mudahan sukses, tapi terutama sih mudah-mudahan yang mau berkomentar tidak usah ragu lagi. Ayo, beri saja komentar anda.

Catatan sekitar 4 jam kemudian:
Uahh, masih comment a la blogger belum komentar. Urgkh! Gimana neh?

1.12.04

Ssssttt.. ada gossip nih...


Beberapa tahun lalu, aku sempet belajar sebuah lagu, yang kata-katanya kayak gini: Gossip gossip evil thing, much unhappines it brings!*jadi teringat masa-masa konser nih*

Jadi pengacara, pengangguran banyak acara, paling asik ya nonton acara gosip. Aku gak gitu suka nonton tivi, kecuali untuk film-film sitkom setengah jam yang udah jarang ada di tivi. Program tivi yang akhirnya aku tonton ya, acara gosip itu loh. Infotaintment. Itu istilahnya sekarang. Entah darimana istilah itu, information dan entertainment-kah? Informasi seperti apa? Gosip yang diberi label informasi supaya berkesan penting untuk diketahui itulah infotainment.

Aku suka nonton acara gosip, tapi terutama kalau sudah lama tidak menonton tivi. Kalau kayak sekarang, wah, dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, berpindah-pindah saluran televisi, semua beritanya sama: percintaan, perkawinan, perceraian, persengketaan. Muter disitu. Proses perceraian Reza dan Adjie adalah salah satu yang terus menerus muncul. Sampai, konon, Reza sendiri cape melihat muka dia di televisi. Yah, ada orang yang terus menerus muncul dengan berita miring *kok disebut miring ya*, dan ada orang yang tidak pernah tersentuh acara gosip itu. Misalnya, katanya Cut Mini sampe bercita-cita jadi artis infotainment, yaitu artis yang digosipin di infotainment saking gak pernah diberitakan!

Mungkin, memang pada dasarnya senang bergosip, senang membicarakan orang, biasanya dilakukan dengan satu perasaan bahwa dia lebih baik dari orang yang dibicarakannya itu. Huh! Soalnya apa coba gunanya menonton acara yang katanya "informasi" itu? Tapi lihatlah, hampir di setiap jam ada acara yang konon memberi informasi mengenai dunia hiburan.

Iya, iya, aku tahu, aku juga sebaiknya tidak usah nonton dong. Tapi, ya gitu deh, selalu ada rasa penasaran, apa lagi sih yang dibuat oleh orang-orang itu, dan tentu saja aku sering berkata kok bisa ya kelakuan seperti itu. Tuh, kan, sok tahu dan sok benar sekali tokh! *oh ya, aku dan beberapa teman juga jadi tahu tentang perselingkuhan pacar salah satu sahabatku dari acara gosip itu loh, kalau enggak nonton acara gosip, kami gak tahu kalo itu laki-laki sudah dengan enak menduakan temanku dan bahkan sudah dipamerkan kemana-mana tuh pacar lainnya itu. Huh*

Hanya saja, aku tidak sanggup nonton acara itu terus menerus. Muak, enek dan juga kehilangan suasana "nonton iseng gak jelas"nya. Cukup sekali dua kali, untuk membuat diri ini ada di ruang keluarga berinteraksi dengan anggota keluarga lain sambil melihat acara-gak-mutu-tapi-tetep-ditonton itu.

Kalau saja kamu yang terkena gosip, duh, santai aja. Biar kata orang tak ada asap kalau tidak ada api, cuek saja. Itu cara terbaik menanggapi gosip. Apakah aku artis sampai bisa ngomong kayak gitu? Bukan...bukan. Hanya saja, dalam kehidupan nyata, di bangku kuliah atau tempat kerja, gosip itu selalu ada, walaupun tidak masuk layar kaca, dan selalu saja menyakitkan buat yang digosipin tapi menyenangkan buat yang menggosipkan! Betul deh, cuek aja, senyum aja, biarin mereka capek. Ini taktik jitu, dan jagalah lidah kita yang memang lebih tajam daripada pisau dan kadang mengucapkan kata yang tidak ingin kita ucapkan. Lidah tidak bertulang tapi kekuatannya, aduh, mak!

Apapun itu, betul kata sebuah lagu klasik itu....
Gossip gossip evil thing, much unhappines it brings!