7.11.04

Telepon di Minggu Pagi

Aku mengangkat telepon kamarku, memencet nomor 085216... eh, tiba-tiba kuurungkan niat. Aku ganti mengambil telepon selularku, mencari, eM...eM... dan ini dia, menemukan nama, pencet "call". Eits, batal deh, gak jadi, kembali mencari kontak, ketemu dan aku pencet "more" dan pilih "call and hide ID".

"Halo…"

"Halo…"

"Hi, apa kabar, kok gak pernah mau angkat telepon dari aku sih, De?"

"Haa? Ini siapa ya?"
gubrak? Is it for real? Is he really really can’t recognize my voice, after those years?

"Melly, De.. ini Melly"

"Ohhhh"
dwd banget deh gayanya

"De, kok gak pernah mau angkat dan bales teleponku, sih?"

"Haaa?"
aduh ini tuh ya, dari tadi asik huh hah mulu deh!

"Iya, kok telepon aku ditolak mulu"

"Oh itu, tadi malem aku udah tidur"
oh yeah, udah tidur, dan sampe entah berapa kali aku coba kontak asik ditolak, padahal, kenapa gak dimatiin aja sekalian itu telepon dong, kalo udah tidur

"Aku telepon gak cuman kemarin kan, beberapa kali, kok gak diangkat sih?"

"Kapan? Oh, *oh yeah, you remember it* aku lagi nyetir, lagi ribet banget, jadi dimatiin"

"Ya udahlah, eh, nomer telepon rumah el tuh sebenernya berapa sih?"

"Haaa...?!"
tuh kan haa lagiii

"Gak inget."
seriusssssssssssss, nomor telepon rumah sendiri?????????????

"Apa? Masak gak inget? Telepon rumah Singaraja? Brapa sih?"

"Oh, gue lagi di Denpasar nih"
dzigh! terus, dimana hubungannya!

"Ah, sutralah, ya udah deh, dadag!"
mode on: capek!

"Oh ya, ya udah"
Huaakwakwakwakkkk

Entah apa yang terjadi, antara pengembalian cincin dan saat ini, atau malah tepatnya, antara hubunganku yang baru dengan hubunganku yang lama, sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi yang aku lewatkan atau terlewatkan?

1 comment: