22.11.04

Putus

Apa sih putus itu?
Aku tidak berhasil menemukan Kamus Besar Bahasa Indonesiaku, tapi gak apa apa.

Tali bisa putus. Biasanya memang pada putus lebih pas buat tali yang putus. Tali layangan, tali jemuran, tali pengikat suatu kotak. Tali apapun. Tali itu awalnya hanya terdiri dari satu potong, satu bagian, yang kemudian jadi dua atau lebih. Bisa putus karena memang dipotong pakai pisau atau karena kualitas tali yang tidak begitu baik dan dipaksa untuk menopang sesuatu yang berat, misalnya tali jemuran tadi.

Tapi ternyata kata putus itu gak cuman untuk benda mati seperti itu. Manusia juga mengenal satu bentuk hubungan yang kemudian dikategorikan sebagai putus. Putus pacaran, adalah salah satu yang kata aku paling populer.

Kadang aku pikir, kalau dikaitkan dengan tali yang memang merupakan satu bagian sebelum putus, bagaimana dengan putus pacaran ya? Berarti sebelum putus, hubungan itu adalah satu. Iya gak sih? Soalnya kalau pacaran, dua kepala, gak kebayang juga hubungan itu bener bener merupakan satu hubungan, yang pasti hubungan pacaran bukannya menggabungkan dua orang jadi satu, kan.

Berarti, kalau tidak pernah jadi satu, gimana bisa putus ya? Mungkin untuk pacaran, penyebab putus bisa jadi karena yang membuatnya menjadi satu itu tidak begitu kuat. Kalau pacaran, berarti putus bisa karena ada alat tajam yang memotongnya, atau kualitas yang tidak begitu baik sehingga tidak sanggup untuk dipergunakan menopang atau mengikat sesuatu yang terlalu kuat.

Jadi, pada kalau kamu pernah putus pacaran, kira kira penyebabnya adalah adanya alat tajam yang memotongnya atau kualitasnya? Apakah ada pisau yang membuat harus putus atau memang hubungannya tidak cukup kuat?

Apapun itu, putus itu menyakitkan!

*Terimakasih untuk semuanya, untuk ngacapruknya, untuk waktu-waktu Abang buat aku, buat kita… *

5 comments:

  1. Emangs, putus menyakitkan. Tapi biasanya seabis putus gue ngelakuin self-therapy; menjadi seproduktif mungkin, jadi mroyeeek mulu, gitu. (eh, itu pelarian atau therapy sih?) hihih..

    ReplyDelete
  2. Katanya, penyebab putus sih macem-macem. Dan untunglah saya belum pernah putus, mau gimana lagi lha nggak pernah nyambung :D

    ReplyDelete
  3. sepatumerah: iya, mudah2an iya nih, gue jadi teringet artikel 10 things-nya elu. mirip bener deh, terutama paragraf kedua sebelum terakhirnya kekekek :)

    imponk: hmm, jadi mungkin perlu dipikirin ya, apa yang nyebabin dua orang itu bisa nyambung, kayaknya gak bisa dibandingin ama tali deh :p

    ReplyDelete
  4. mmmmm putus...
    bisa menyakitkan kedua belah pihak,
    tapi bisa juga cuma satu pihak,
    bahkan yang satunya bukan cuma nggak sakit, tapi bahagia dengan ke-putus-an itu.

    ReplyDelete
  5. Biasanya, kalo tali jemuran gue sepanjang -- misalnya -- 10 m putus, jadi 5 m, misalnya, tiang jemuran yg satunya (atau dua2nya) bakal gue pindah, sehingga jarak dua tiang jemuran gue yg tadinya 10 m menjadi 5 m, dan tali jemuran yg putus tadi pun "cukup" utk menjadi sebuah tali jemuran yg tidak putus lagi. Saatnya utk menggeser "tiang jemuran" kah skrg? Atau "tiang jemuran" dibiarkan pada tempatnya semula, dan mencari tali jemuran lain yg masih sepanjang 10 m? :D

    ReplyDelete