30.11.04

Prahara

...kulihat matamu berkaca, mengingat berat beban kita

Hari Minggu kemarin, dia bertemu dengan lelaki itu. Bukan suatu pertemuan yang mudah dilakukan, tapi dia harus melakukannya. Setelah melewati sekian hari dalam kebingungan, dalam kegundahan, akhirnya dia punya cukup kekuatan untuk bertemu lelaki itu...

...dan mendung selimuti paras batinku dirundung ragu dan cemas

Sore itu, hujan deras mengguyur kotanya. Tapi itu tidak membuat dia patah semangat untuk keluar rumah. Segera dia ambil payung dan jaket hujannya. Duh, ini kan payung dari lelaki itu, dan ini juga jaket hujan dari lelaki itu, batinnya mendesah. Berat sekali rasanya kaki hendak melangkah.

...cerita dua manusia diterjang prahara, mencoba upaya

'Dimanakah kamu?' batinnya bertanya-tanya. Kembali melihat jam tangannya. Sudah lewat 5 menit dari waktu yang dijadwalkan. Dia kembali menyeruput kopi panas di depannya, sambil mengingat percakapan-percakapan terakhirnya dengan lelaki itu. Percakapan panjang yang melelahkan, percakapan yang begitu berat, yang selalu berakhir dengan air mata.

...mungkin dulu kita tergesa menyatukan langkah

Dia kembali teringat pada masa-masa awal perkenalannya dengan lelaki itu. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Perjalanan waktu yang membuat dia melihat lelaki itu menjadi sosok yang sangat istimewa. Dia kembali teringat pada saat mereka memutuskan untuk berjalan bersama, mencoba melalui hari-hari bersama, mencoba mewujudkan mimpi-mimpi bersama. Indah sekali,

...tak sadar langkah berbeda dalam tentukan arah

Kembali dia menarik napas. Buku yang dipegangnya tidak mampu menarik perhatiannya yang memang hanya ada pada lelaki itu. Teringat pada rasa senang dan juga rasa sakit yang dia rasakan. Kesedihan yang keluar saat dia melihat kegalauan dan kekesalan lelaki itu terhadap banyak hal. Sesak rasanya harus melihat dia memendam amarah yang sedemikian kuat. 'Ah, kami memang bergerak ke satu titik yang sama dengan alasan yang berbeda,' pikirannya berkata.

...harapku, jangan dulu berpisah, kenanglah saat cinta merekah

'Sayangku, aku sudah membuat keputusan, ini keputusanku sendiri, kita harus putus," demikian kata-kata yang diucapkannya kepada laki-laki itu beberapa waktu lalu. Laki-laki itu, saat itu, hanya terdiam.

...pintaku, jangan dulu menyerah, sebelum sesal nanti terlambat sudah

Akhirnya, lelaki itu datang. 'Dia kehujanan, batinnya berbisik, kasian'.
'Maaf terlambat,' kata lelaki itu.
'Tidak apa,' balasnya. Dia hanya menatap lelaki itu dengan hasrat cinta yang masih dia rasakan, dengan kasih yang begitu tulus. Lelaki itu melihatnya, menggengam tangannya yang dingin itu, dan kemudian memeluknya. Sebuah tindakan yang menunjukkan perasaan yang terdalam, lebih dari 1001 kata yang bisa dikatakan. Begitu dalam. Dia tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum. Yah, memang, hanya sampai disini. Inilah akhirnya.

Ya Tuhan, kuatkan dia dan lelaki itu.

5 comments:

  1. aku juga pernah begini, beberapa kali malahan. karna kita masih sekampus, kadang sekelas, pernah satu kelompok tugas. susah n berat, banget...tapi it worth all the pain :'), aku cenderung nikmatin 'pain'nya. hehehehe...no other choice.

    ReplyDelete
  2. Ada yang pernah bilang ke gue..kasih sayang (ke ortu, sahabat, pacar, suami, dsb) itu kayak nanem bunga anggrek. mesti dirawat, dikasih air, dikasih sinar matahari..terusss-terussan mesti diperjuangkan.
    Berat, tapi they say, it's worthy. Hold on! :)

    ReplyDelete
  3. Just learn to see through the eyes of eternity that everything indeed happens for a reason..a good reason :) And you'll see how beautiful the thousand stars dancing above, smiling at you, walking home with you...at this very moment :)

    ReplyDelete
  4. Dimana-mana perpisahan emang nga enak. Seperti teman yang lain, dia juga harus pergi, untuk jalani liku hidupnya sendiri, dan kita juga sendiri. Jika Dia berkehendak lain, mungkin ada tikungan yang mempertemukan liku hidup kalian lagi. Suatu saat nanti, Tuhan tau. Mungkin kita harus belajar dulu, karena belum mampu untuk bersama-sama. Tapi, jangan ingkari imanmu, itu yang paling penting.. karena berkat tidak selalu hadir dalam sukacita.

    ReplyDelete
  5. Diakah lelaki yang dimaksud perempuan itu? Laki-laki yang selalu gelisah dan meledak-ledak tatkala menerawang setiap sisi-sisi kehidupan yang ada di sekelilingnya. Sabar ya, semuanya pasti akan berjalan baik. Jangan pernah mimpi terhapus karena ada jurang budaya dan keyakinan yang berbeda. Tambatkan mimpimu setinggi-tingginya, kecuali kematian menghampiri.

    Penuh Kasih, Aku.

    ReplyDelete