16.11.04

Mobil Jakarta

Orang-orang Jakarta itu harusnya gak perlu dateng ke Bandung!

Buat aku orang Jakarta adalah orang orang yang
• berKTP Jakarta, atau
• lahir dan besar di Jakarta,
• bekerja di Jakarta, apalagi kalau tidak pernah kuliah atau sekolah di Bandung misalnya (kalau sudah sempet kuliah disini, biasanya sih asik asik aja orang-orangnya),
• juga termasuk orang orang yang mengaku orang Bandung tapi menghabiskan jauh lebih banyak masa hidupnya di Jakarta.

Oke, suatu waktu, mungkin aku juga akan jadi orang Jakarta sih....

Huh, lagi kesel banget nih. Barusan aja lewatin daerah Dago, dan, seperti biasa, Dago itu dari ujung utara sampai ujung selatan, di hari-hari libur, selalu padat. Sebenernya sih sesuatu yang biasa ya, setidaknya udah setiap minggu aku alami. Tapi tadi, mungkin juga karena mood yang lagi gak enak, rasanya muak banget liat mobil-mobil berplat B itu.

Memang sih tidak semua mobil berplat B itu dimilki oleh orang Jakarta. Baik itu orang Jakarta karena KTP atau karena sehari-hari bekerja di Jakarta atau karena hidup dari pekerjaan yang dilakukan di Jakarta. Tapi, aku sering langsung menerka dari gaya membawa mobil. Gosh. Mau tau, gini nih:
1. Cara bawa mobil yang sangat egois dan *sok* berketerampilan tinggi, khususnya soal ada ruang kosong, begitu ada ruang kosong sedikit aja, langsung main embat, tidak perduli itu hak dia atau bukan. Hey, don't get mad at me. I've been there. Aku juga, dalam beberapa waktu di setiap tahunnya harus bekerja di Jakarta, harus tinggal di Jakarta. Aku dan keluarga pernah menghabiskan sebagian besar hari dalam seminggu di Jakarta, atau setidaknya setengah minggu di Jakarta. Aku tahu bagaimana rasanya menyetir di Jakarta, aku tahu perubahan apa yang aku rasakan waktu aku harus kembali menyetir di bandung. Maurice adikku pernah bilang, sekian lama bolak balik menyetir di Jakarta membuat saat kembali menyetir di Bandung, bawaan dia pasti langsung ingin nyerobot dan itu bisa dilakukan dengan sangat baik, sudah terbiasa soalnya. Ah, kalau tidak begitu, bisa jadi menyetir di Jakarta menjadi penderitaan lahir batin! Jadi, kalo kamu ada di bandung dan ngeliat mobil menyetir dengan begitu egoisnya, coba deh liat plat nomor kendaraan tersebut.

2. Masih tentang cara bawa mobil yang sangat egois dan *sok* berketerampilan tinggi, kali ini berkaitan dengan ketidakmauan untuk mengalah. Barusan tuh aku ngelewatin daerah Golf Dago, mau tidak mau harus melewati daerah Kordon, daerah yang berdasarkan pengamatan selama dua tahun terakhir selalu macet di malam minggu. Hari ini juga. Macetnya itu bukan semata-mata karena volume kendaraan yang memang membludak, tapi juga karena ketidakmauan untuk mengalah. Jalan itu kecil, kadang masih diperkecil oleh mobil-mobil yang parkir. Jalan menuju kafe-kafe yang menjadi tujuan utama orang-orang ke daerah tersebut mengharuskan kendaraan berbelok tajam ke arah jalan yang sangat menanjak. Biasanya, semua ingin bisa segera jalan, plus ditambah selalu saja ada kendaraan yang sok pintar dan malas mengantri, mereka memutuskan untuk menyela dan kemudian, hei, berhadapan dengan kendaraan lain yang menuju arah berlawanan. Gosh, apa susahnya sih sabar dan memberi jalan buat orang?

3. Jalan dianggap sebuah jalur perlombaan menjadi mobil tercepat dan tergesit. Kalau sebuah kendaraan memberi tanda sen atau tanda berbelok atau hendak masuk ke sebuah jalan besar dari jalan kecil, herannya kendaraan yang tadinya lambat malah dipercepat, alias, begitu tahu ada orang yang kalau dia tetep mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sama akan bisa masuk di depan dia, itu adalah kesalahan.

Bahkan di tempat nongkrong favoritku, aku bisa menebak mana yang bukan orang Bandung. Maaf, tapi kelakuan kalian bener bener memuakan. *coba deh perhatikan tempat tempat nongkrong dan makan favorit di Bandung, yang banyak diantaranya saat ini udah jadi mantan tempat favorit buat aku, dan juga tempat belanja di Bandung. Perhatikan baik baik*

Tapi teteup, aku sebel kotaku jadi tambah gak puguh! Mungkin, ini seperti keluhan salah satu pembimbing aku dulu, Paolo Russo. Dia orang Venesia, dan kami pernah membahas ini dalam satu diskusi kami, mungkin, Venesia perlu menerapkan pembayaran untuk orang-orang yang tidak berKTP Venesia untuk bisa masuk kota demi menjaga kota dan penduduk didalamnya.

Jadi, untuk siapa sih sebetulnya kota itu? Untuk orang yang tinggal disana semata? Seberapa publik sebuah kota yang merupakan ruang publik itu? Sulit untuk mentutup sebuah kota dari orang luar dan memperlakukannya seperti ruangan bioskop yang bisa dibatasi dan elu harus bayar kalau mau masuk.

Mungkin aku hanya perlu menutup mata melihat dan merasakan kelakuan yang semena-mena dari orang luar yang ingin membuang penatnya di kotaku tercinta: makan, berbelanja, kuririlingan atau *katanya* melihat perempuan-perempuannya. Apapun itu, aku hanya berharap tolonglah berperilaku menyenangkan. Aku memang gak bisa buat apa apa, lagipula Bandung mengklaim dirinya sebagai kota pariwisata, dan mengambil duit dari label yang dibuatnya itu.

2 comments:

  1. Coba aja nyetir di Medan, Mel..."supir" Jakarta mah bakal mati kutu bengong tak berani bergerak di sono...untung aja Medan - Bandung jauh ya... :P

    ReplyDelete
  2. iya, nih, ded. Tapi apa itu angkot gak kurang garangnya ya? dan, sebetulnya, darah yang ada di gue bisa membuat gue jadi pengemudi yang lebih gila...hehehehe

    ReplyDelete