4.11.04

Mantan Bersahabat

Aku agak gak suka dengan kata mantan. Bekas banget gitu deh, kayaknya. Padahal konon kabarnya, mantan itu bentuk yang lebih baik dari bekas. Apapun itu, mantan adalah mantan. Kalau seseorang mengucapkan kata mantan, pasti deh yang dibayangkan itu biasanya mantan pacar. Iya kan. Jarang ada mantan-mantan lainnya.

Aku punya mantan dan juga merupakan mantan orang. Begitulah hidup.
Aku juga harus hidup dengan orang yang punya mantan-mantan tertentu.

(hmm, kok kayaknya harus nulis kata "mantan" beberapa kali, jadi bikin kata tersebut berbunyi agak aneh gitu)

Aku sih berharap, selalu punya hubungan baik dengan mantan. Untunglah, walaupun biasanya melewati jalan berliku dan rusak parah, akhirnya sih para mantan itu biasanya juga merupakan teman-teman terbaikku

(entah sih untuk yang terakhir ini, kok tiba-tiba gak pernah angkat teleponku, dan juga gak pernah kirim-kirim sms lagi ya)

Abang juga punya mantan, malah kayaknya kalau mau diklasifikasiin bisa seru loh! Untunglah, Abang dan aku terbuka-terbuka aja urusan itu, dan pembicaraan tentang yang satu itu selalu asik asik aja.

Nah, tapi ada seorang mantan yang akhir-akhir ini bikin gerah aku. Namanya juga mantan pacar, jelas hubungannya dulu kan dekat ya. Gitu juga dengan mantan yang satu ini. Setelah beberapa bulan agak tidak terdengar kabar beritanya (yah, kadang ada satu dua telepon atau sms dari si mantan atau ke si mantan sih), akhirnya mulai muncul ke peredaran.

Minggu lalu, Put bertandang ke rumah Abang. Namanya juga dulu kan berhubungan dekat, juga berhubungan dengan keluarga, gak boleh dong hubungan seperti itu juga putus gitu aja. Put maen untuk ketemu Emak. Demi kenyamanan semua orang, aku gak kesana dalam waktu yang bersamaan, tokh gak lama, dan biar bisa ngobrol enak ajalah. Tapi kok ya setelah itu, kayaknya komunikasi dan hubungan jadi agak kenceng ya? Jadi sering telepon lagi.

Phhffff, aneh banget. Aku ini orang yang gak pernah cemburuan deh. Kalopun terjadi, gak jarang itu tuh emang sengaja, dibikin cemburu, biar rame aja, padahal di hati mah gak ada apa-apanya. Apalagi kalo udah ada komitmen bersama gitu. Buat apa. Kita musti belajar percaya dan juga belajar mempergunakan kepercayaan itu sebaik-baiknya. Tapi kali ini, duh, ser ser-an juga tuh kalo tahu sang mantan mendekat lagi.

Wajar atau enggak?

Aku pikir sih wajar-wajar aja. Tidak wajar kalau ditanggapi berlebihan. Seperti tadi pagi. Sempet juga agak sedih, waktu tau Put minta ditemenin cari flashdisk. Untungnya, itu hanya berlangsung sekian saat, dan kemudian hati dan pikiran lebih tenang. Terutama, karena Abang tidak menyembunyikan hal seperti ini, dan aku pikir, kalau aku tidak suka dengan ide itu, pasti Abang juga akan mempertimbangkan. Ini mungkin hanya bentuk ketidakpercayaan diri aku aja. Aku percaya Abang. Justru, baguslah kalau hubungan dengan mantan itu tetap baik-baik aja. Daripada ada teror dan ancaman ini itu, yang nyata atau terselubung, lebih baik punya mantan bersahabat, kan?


No comments:

Post a Comment