28.11.04

Keluarga

Pagi-pagi tadi semua sudah dipanggil untuk ngobrol-ngobrol pagi. Yah, akhirnya sih tidak semua, karena salah satu adikku masih tewas ditempat tidur. Ini sesuatu yang sudah lama gak bisa kami lakukan, soalnya semua sibuk antara Bandung dan Jakarta. Selalu ada ada saja yang masih ada di Jakarta, atau sebaliknya ada ada saja yang tengah berada di Bandung.

Ngobrol banyak, walaupun aku cukup tahu pasti, sebetulnya bintang tamu pagi ini adalah aku sendiri. Tidak jauhlah, pasti percakapannya berhubungan dengan satu orang yang begitu aku sayangi juga. Tapi aku bersyukur, ternyata obrolan bisa berjalan lancar, walaupun, yah, tissue terpaksa harus keluar dari tempatnya juga sih.

Pernah punya hubungan begitu dekat dengan keluarga? Baguslah, kalau iya. Kalau aku ini, hubungan yang dekat dengan keluarga, tetapi terlalu sangat dekat dengan ayahku. Susah! Nasib anak perempuan kali ya, anak perempuan pertama pula, anak kesayangan pula, anak yang jadi tumpuan impian dan cita-cita satu keluarga. Mau dianggap beban, ya jadi berat, tapi dianggap bentuk penghargaan, ya mudah-mudahan bisa dijalani.

Nyatalah, bahwa hubungan aku dengan ayahku memang begitu kuat, sehingga sulit untuk mulai berbagi dengan orang lain di luar keluarga. Tapi, tokh hidup ini kan sebuah proses, sebuah pembelajaran juga. Aku harus belajar lebih mengerti dan memahami dan juga keluargaku.

Senang, bahwa itu semua bisa keluar. Senang, bisa ngobrol lagi, mengeluarkan unek-unek, berbagi kasih. Pada akhirnya, kita semua ingin yang terbaik buat orang-orang yang kita kasihi, bukan? Aku sayang banget ama keluargaku.

Terimakasih, Tuhan...

4 comments:

  1. wah.. senang yah bisa ngumpul dengan keluarga. apalagi memang hubungan antar pribadi-pribadinya begitu dekat.

    jadi tumpuan harapan orang tua. hmmm... ini selalu terlintas di kepala saya, disaat tidak ada saudara yg bisa diandalkan diharapkan. yap. jgn dijadikan beban sekalipun itu adalah sebuah mandat tak tertulis.

    ReplyDelete
  2. adezigh, makasih bgt, komentarnya nguatin gue banget deh. btw, kok blognya gak bisa diakses ya?

    ReplyDelete
  3. huehehhee,...
    one comment: .. be careful lah, mell, not to use the word "tewas"....

    ReplyDelete
  4. keluarga, aku juga sayang ama kluargaku.. critanya gini, kak.. dulu, aku anak ce sendiri.... dulu, waktu masih sendirian kesannya nga enak sih, mau rambut cepak mana boleh? tapi begitu dapet ade ce, kembar pula.. perhatian beralih dong.. mau cepak? silahkan.. mau botak? silahkan... dulu aku pikir itu bentuk ketidakperdulian bapakku setelah punya 2 putri lagi..

    dan kasus terbaru nih, tentang teman hidup, tentu.. dulu, ketemu ini-itu, dipertanyakan.. tapi sekarang? bahkan nga ada komen, yang bikin aku bingung.. ini bentuk ketidakperdulian atau pemberian kepercayaan yang sebesar-besarnya? kalau kaka lagi galau karna hubungannya masih "didiskusikan", deep down aku malah pengin kak, "dibahas" di keluarga.. hehehe... tapi, yah.. kita liat aja lah nanti... aku sih setuju sama kakak... semua hubungan itu proses, bukan hanya hubungan dengan pasangan, bahkan hubungan antar saudara dalam keluarga juga proses kan?

    aku dengan saudara-saudara laki-lakiku, hmm.. cukup canggung lah.. jarang dan hampir nga pernah ada yang namanya "diskusi" (baik ngobrol2 atau sejenisnya), tapi sama kaya kakak.. aku juga sayang ama kluargaku.. at least, aku masih punya mereka yang pasti nga akan pergi jauh-jauh.. :)

    ReplyDelete