9.11.04

Fast Food Anyone?

Seperti yang pernah aku ceritain beberapa waktu lalu, 3,5 bulan terakhir ini aku lagi terus menerus membaca buku-buku tentang gaya hidup. Umumnya berkutat di soal makanan, kecuali satu: barbie culture.

Salah satu buku yang pertama aku baca tentang makanan adalah Fast Food Nation, yang sekarang sudah ada edisi bahasa Indonesianya: Negeri Fast Food. Yah, sekalipun terjemahannya agak ajaib, buku terjemahan ini lumayan membantu mempercepat penyelesaian pembacaan *aduh struktur bahasaku aneh banget*. Baca buku ini, melihat bagaimana Amerika dan industri makanan fast food atau yang biasa diterjemahin sebagai cepat saji. Eric Schlosser membuka semua hal tentang industri yang satu ini, mulai dari awal berkembangnya *yang cukup menggugah dan inovatif pada masanya, dan yang pasti sudah banyak dibukukan oleh pendiri-pendirinya* sampai bagaimana kentang goreng itu bisa enak rasanya *rasanya lebih baik tidak tahu, deh* terus sampai ke nasib para pekerjanya dan tentu saja bagaimana itu mempengaruhi yang namanya globalisasi itu. Schlosser juga melihat bagaimana ini bukan sekedar masalah industri makanan, tapi juga mempengaruhi kebudayaan satu negara, di bukunya: Amerika, tapi aku pikir, juga di negaraku tercinta ini.

Kemudian, aku juga menonton super size me, sebuah film oleh Morgan Spurlock yang memenangkan beberapa penghargaan dan di-claim sebagai "a film of epic portions". Morgan Spurlock secara spesifik menembak McDonalds. Ia menjadikan dirinya obyek studi dengan tidak memakan apapun kecuali produk McDonalds selama 30 hari penuh: makan pagi, siang dan malam.

Spurlock adalah orang dengan kondisi fisik yang memang sangat sehat, dibuktikan oleh berbagai keterangan dan tes dari dokter dan para ahli. Dia memulai pola makan McDonalds dengan muntah-muntah di hari kedua *saking eneuknya kali ya*. Sampai akhirnya bertahan. Dan tahukah anda hasilnya? Bukan saja sekedar bertambah 24,5 lbs (atau sekitar 13 kg), tapi juga kolesterol naik ke 230, ditambah kemungkinan mengalami gagal jantung dua kali lipat, depresi, kecapaian, liver yang rusak dan masih banyak lagi.

Banyak hal dari dua buku tersebut yang tumpang tindih dan saling mengkonfirmasi. Mereka bukan yang pertama, dan jelas, tampaknya, bukan yang terakhir, yang mencoba mengupas McDonalds (tentu saja ada lebih dari satu berbagai bantahan, sanggahan terhadap semua tulisan tersebut dari pihak corporate!)

Satu buku lain yang belum selesai dibaca adalah Masyarakat Konsumsi. Sebetulnya sebuah karya klasik dari Jean P. Baudrillard yang muncul 1970 berjudul asli La Societe de consommation, jauh di kala masalah konsumsi menjadi sebuah perbincangan hangat. Baudrillard, gitu loh, butuh waktu untuk membacanya. Aku musti nyambung dengan beberapa teori filsafat lainnya, musti agak ngeh dengan Marx, Durkheim, apa itu struktur dll *untung ada yang bantu aku buat ngerti ini semua, terimakasih Bang*. Disini juga melihat bagaimana melihat barang-barang yang kita konsumsi yang memang kita butuhkan dengan yang kita butuhkan untuk memenuhi gaya hidup kita (tunggu sampe beres baca yaaa).

Aku ini memang bukan penggemar fast food. Entah kenapa, mungkin karena masa masa kere. Kadang, memang aku membeli kentang goreng McDonalds (satu-satunya makanan yang tidak mengandung gula...ternyata!), atau sundae coklatnya *sekarang sudah makin sulit untuk menghabiskan satu porsi sundae buatku*. Tapi cukup segitu. Aku masih lebih suka makan ayam timbel di bawean, beli lotek di jl. macan, beli gado-gado di tengku angkasa, dan terutama makanannya mami atau masak sendiri (kalau cukup niat, memang). Lebih puas, lebih kenyang, lebih (merasa) sehat, dan lebih cocok aja dengan lidah. Simpel.

Membaca dan menonton film itu, membuat cukup miris. Rasanya, kita memang cenderung tidak memperhatikan apa yang kita makan, fast food menjadi gaya hidup (sampai-sampai anak kecil akan lebih mengenal Ron McDonalds ketimbang tokoh sejarah/ilmuwan), kemudahannya begitu menyenangkan, berbeda dengan memasak makanan sehat di rumah yang tampak jadi sangat merepotkan. Kita juga memberikan begitu banyak uang untuk corporate yang begitu makmur tanpa sadar mereka mengambil uang itu diatas kerugian-kerugian yang kita alami. Bukan saja untuk makanan, tapi untuk banyak barang yang kita (pikir) dibutuhkan.

Kita tidak bisa mengabaikan ini semua begitu saja! Kita bisa makan tanpa harus menjadi gendut, sakit dan ditipu. Harapanku, sebagaimana Schlosser, akan ada abad baru yang menghadirkan rasa enggan berkompromi, berkurangnya ketamakan, bertambahnya belas kasihan, berkurangnya kecepatan, bertambahnya akal sehat, serta gurauan akan hakikat dan kesetiaan merk, pandangan akan makanan yang lebih dari sekadar bahan bakar. Tokh, kita tidak pernah dipaksa untuk membeli fast food, atau membeli ponsel merk terbaru, kan?. Kita punya pilihan. Pilihan untuk hidup lebih baik, berpikir lebih jauh terhadap apapun yang kita beli, makanan ataupun barang. Pilihan apa yang akan anda ambil?

No comments:

Post a Comment