24.11.04

Copy Paste

‘Eh, kapan dong kita jalan, mencari skripsi yang judulnya sama tea.’

Ha?! Aku bengong. Apa sih yang baru dia bilang? Betulkah pendengaranku? Mencari skripsi dengan JUDUL SAMA? SAMA? Aku terhenyak, dan kuputuskan untuk menunda meneruskan buku yang tengah kubaca.

‘Yah, paling enggak, gue mau kopi bab 1-nya aja dulu.'

Uih, aku sama sekali tidak salah dengar. Beneran, aku kaget. Bagaimana bisa?

Dulu, aku justru main ke perpustakaan, melihat Tugas Akhir (TA) yang ada untuk memastikan bahwa TA aku tidak sama dengan mereka. Tapi, ini, malah mencari yang sama?!

Lebih gila lagi, dia memang sudah berniat untuk mengambil Bab 1 dari skripsi siapapun itu, supaya bisa memberikan judul. Duh, aku bener-bener gak bisa ngerti. Mereka betul-betul sedang membicarakan “membuat skripsi” kan, bukan sekedar tugas makalah kelas *wah, apakabar dengan “sekedar tugas makalah kelas” ya? Maaf deh, bawaan “berasa ada di kelas” aku mulai keluar *eh, draftnya salah satu mahasiswa aku belum dikoreksi, ugkh*. Apa dia tidak tahu apa itu Bab 1, apa artinya, kenapa harus ada dan seterusnya. Itu bukan sekedar hanya Bab 1, tapi justru menjadi landasan seluruh penelitian yang mau dilakukan. Berat memang, tapi seseorang yang mau meneliti jelas harus tahu pasti kenapa mau meneliti itu, untuk apa, bagaimana melakukannya dan seterusnya.

Jadi inget satu waktu, aku dan abang pernah tanpa sengaja membahas ini di salah satu masa-masa ngacapruk. Waktu itu, (rasanya) satu diantaranya kami membahas kebingungan kami berdua dengan kata kata’ Sudah sampai bab berapa’ yang sering ditanyakan kepada orang yang sedang skripsi *kayaknya dulu, aku gak bisa jawab deh kalau pertanyaannya ini, karena betul-betul tidak bisa dilakukan bab per bab seperti itu*. Betapa memang ya, pembuatan skripsi itu bagaikan momok, dan mimpi buruk. Ada apa sih dengan mahasiswa sekarang? Apa memang TA atau skripsi itu suatu beban berat dan dilihat hanya sebagai satu tiket untuk bisa diwisuda dan dengan demikian bisa sedikit pamer kiri pamer kanan? Apa memang tidak ada keinginan untuk mengetahui lebih lanjut suatu hal yang berhubungan dengan studi yang diambilnya? Sedih. Ada beberapa orang yang begitu bersemangat mengerjakan skripsi harus mengalami kendala finansial atau kendala akademik, misalnya saja karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang dianut pembimbingnya.

Bikin skripsi itu memang penuh luka liku. Seperti ikut ospek aja, penderitaan lahir batin, walau tidak mau diulang, tapi gak penah mati buat dibicarakan!

Tapi, hey, itulah yang membedakan kamu dengan anak SMA, dengan mereka yang mungkin tidak beruntung untuk bersekolah formal seperti kalian *walau pengalaman membuktikan bahwa banyak orang pintar yang tidak menempuh jalur formal tersebut*. Duh, seandainya saja dia sadar bahwa dia adalah orang yang beruntung bisa punya kesempatan ntuk mencoba mensitesis suatu hal dan mendapat bimbingan untuk itu, mudah-mudahan penelitian bukan milik "peneliti" semata, mudah-mudahan tidak lagi terpikir untuk copy paste skripsi.

2 comments:

  1. seharusnya mereka mensyukuri bisa berpendidikan tinggi, tidak seperti saya yang hanya lulusan sekolah rendahan

    ReplyDelete
  2. di kampusku *itu* mba, khususnya jurusan sosial, memang harus dikerjakan per bab. soalnya klo bab yg duluan belum selesai, tolok ukur buat bab berikutnya ga ada. lg pula pembimbingnya juga 'maunya' begitu.

    soal mensyukuri dan tidak memang susah dilihat dari luar. karna orang yg copy paste tujuannya beda2 mba, ada yg pengen cepet lulus berhubung uang kuliah mahal, ada yg bener2 butek alias otak pas-pasan, ada yg males.

    menurutku, justru yg tidak 'copy paste' harus bersyukur karna ditakdirkan punya kemampuan, kesempatan dan keuangan yg menunjang murninya skripsi.

    ReplyDelete