13.11.04

Cemburu

Gak tau kenapa, dan gak ngerti kenapa. Tapi hubungan yang satu ini membuat aku jadi perempuan yang mudah sekali merasa cemburu. Sesuatu yang bukan aku. Sangat bukan aku.

Aku ini sulit sekali untuk bisa merasa cemburu, kalopun ada, terkadang sebetulnya agak sedikit dibesar-besarkan, karena katanya cemburu itu bumbu penyedap. Bukan berarti aku tidak pernah cemburu. Pernah, tapi kadar cemburunya sebetulnya sangat sangat kecil.

Bisa jadi, aku terbiasa menjadi yang pertama, kalo kalian bisa mengerti apa yang aku maksud. Jarang aku bersama seseorang yang pernah punya mantan, gitu loh maksudnya. Mungkin itu juga penyebabnya aku tidak pernah cemburu, dan malah jadi terlalu percaya diri *huh, memang deh semua yang berlebihan itu tidak baik*.

Sekali waktu aku tidak menjadi yang pertama buat seseorang, hubungan itu tidak begitu bisa dikategorikan sebagai hubungan pacaran, lebih ke HTS, kali ya, kalau memang HTS itu merupakan kategori sebuah hubungan. Kalaupun cemburu, saat itu cemburu tersebut justru tidak pada tempatnya, dan malah biasanya aku ini yang dicemburui oleh perempuan perempuan dari lelaki yang jadi sahabatku *bentuk kepercayaan diri yang terlalu berlebihan lainnya*.

Cukuplah basa basinya.

Aku ini sekarang sangat mudah untuk merasa cemburu. Itu saja intinya. Satu bahan percakapan yang sebelumnya selalu aku tanggapi asik-asik aja, kali ini aku terima dengan hati agak miris.

Aku cemburu, tapi tidak cemburu yang menyebabkan aku benci kepada seseorang atau orang tertentu. Aku cemburu kepada kesempatan, kepada kebersamaan, kepada sebuah sejarah yang aku tidak tahu akan aku miliki atau tidak. Aku cemburu karena juga rasa kuatir, aku tidak bisa memberikan itu, menggantikan itu semua.

Lucu sekali, aku justru cemburu kepada masa lalu. Atau itu sebetulnya tidaklah lucu dan sangat manusiawi? Entahlah.

Untuk yang satu ini, aku agak enggan untuk menceritakannya, membahasnya, mengakuinya. Aku takut, abang justru akan berhenti bercerita tentang itu semua (atau mungkin tepatnya tentang orang itu semua, ya?). Aku tidak mau itu. Aku ingin tidak ada yang perlu ditutupi, atau sesuatu yang artifisial *ehm, kamu suka bilang gitu, kan*, dibuat-buat untuk menutupi sesuatu. Tidak. Jangan. Apa aku ini sakit? Udah tau gak suka, tapi kok dibiarkan. Bukan gitu, dimana-mana sesuatu yang tidak terlihat jadi jauh lebih berbahaya dan menyeramkan. Dan di atas semua itu, itu semua masa lalu yang pernah begitu penting buatnya, masa lalu yang punya arti penting untuknya, masa lalu yang gak bisa dibuang begitu saja. Masa lalunya.

Dan terutama, karena aku musti belajar menerima seseorang yang selalu dengan masa lalu *masa lalu yang spesifik, ya*, karena apapun masa lalunya, aku sayang dia.

No comments:

Post a Comment