18.11.04

Baca

Seminggu ini, selama libur Lebaran, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Maklum, harus ikut menjaga rumah tetap bersih, nyaman, musti masak, dan jaga rumah. Gentian sih ama yang lain.

Entah kenapa, semangat untuk bekerja ada di titik terendah, jadi selama beberapa waktu, aku coba menghabiskan beberapa bacaan yang udah jadi utang. Masyarakat Konsumsi? Hmm, ntar deh. Terus buku Kritik Moral Pembangunan juga dikesampingin dulu deh. Kayaknya malah buku Lynda Weinman yang punya Dindin lebih menarik, dan emang berhasil terbaca semua (Din, kalau lagi baca, makasih banget ya). Untuk bacaan ringan, aku baca ulang beberapa novel. Akhirnya aku memutuskan untuk baca satu buku dan satu novel.

Good and Culture ini buku terjemahan. Ternyata cukup menarik. Belum semua kubaca sih, baru beberapa chapter. Ini buku berisi tulisan beberapa orang, jadi bisa dibaca secara terpisah. Satu hal yang menarik, mengingatkan aku sama percakapan-seumur-hidup aku dengan dia, yang aku coba kontak beberapa waktu lalu. Toleransi. Sebetulnya artikel itu bicara tentang pluralisme. Carson melihat ada 3 jenis pluralisme:
1. Pluralisme bisa mengacu kepada keragaman yang semakin meningkat (di dalam budaya Barat).
2. Walaupun agak kabur, pluralisme bisa mengacu pada toleransi keragaman seperti ini, jadi, dalam penggunaannya, ketika orang berbicara tentang "masyarakat kita yang pluralistik" yang mereka maksudkan bukan hanya bahwa masyarakat kita memiliki keragaman yang begitu lar biasa, tetapi juga bahwa secara umum masyarakat kita bersifat toleran terhadap keragaman tersebut, atau seharusnya bersifat demikian.
3. Tetapi pluralisme sering pula mengacu kepada suatu pendirian filosofis. Pendirian ini menegaskan bahwa toleransi merupakan mandat, karena tak ada gelombang di laut keragaman yang memiliki hak untuk mendahului semua gelombang lain. Di dalam dunia religius, tak ada agama yang berhak menyatakan bahwa hanya dia yang benar sementara yang lainnya alah. Satu-satunya kredo yang mutlak adalah kredo pluralisme (didalam pengertian ketiga ini) sendiri.
Batasan pertama merupakan akibat dari definisi pluralisme kita yang ketiga. Orang-orang yang yakin dengan proposal bahwa semua wawasan adalah sama absahnya, telah meniadakan kemungkinan ada satu atau lebih opini yang memiliki suatu klaim khusus akan kebenaran atau keabsahan. Saat menyanjung keunggulan pikiran terbuka, mereka secara bersamaan menutup keterbukaan pikiran; mereka bersikap dogmatis tenang pluralisme dalam pengertian ketiga dan dengan demikian, mengeyahkan pluralisme dalam pengertian kedua.
Ini yang menarik. Apakah toleransi kemudian harus diartikan sebatas kita menerima perbedaan itu, atau malah mengagung-agungkan perbedaan. Apakah betul kita bisa menerima perbedaan? Seberapa tidak menghakiminyakah kita?
Kebiasaanku itu, membaca beberapa buku bersamaan. Biasalah, satu untuk dibawa-bawa kemana-mana, persiapan nunggu di tempat parkir, nunggu orang dan lain lain, biasanya ini nih bacaan gak mikir, itu istilah aku, bacaan lain ada bacaan di tempat tidur, ada bacaan di urusan ngajar, ada bacaan urusan pengen tau aja, ada bacaan untuk nemenin aku makan. Hehe.
Nah untuk bacaan santai hari ini, aku memilih Birthday Girl. Gak perlu mikir, dan gak butuh waktu lama. Konon sih buku ini cukup "lucu". Pas aku baca, buku ini sebetulnya tidak terlalu pas deh kalo musti dikategorikan sebagai lucu. Cukup menyentuh tapi rada kedodoran juga sih. Cukup seru, karena plotnya seperti plot film Love Actually. Jadi tiap bab kayak bicara tentang orang lain, tapi kemudian satu sama lain terkait. Ceritanya, jelas tentang perempuan yang berulang taun. Dari yang berulang tahun ke 10 tahun sampai ke 60 taun. Hmm, ulang tahunku sendiri masih lama, tapi aku tahu, bulan November itu, banyak banget teman-temanku yang berulang tahun. Ada orang-orang yang terbiasa merayakannya, ada yang bahkan tidak menganggap itu sebagai satu hari istimewa. Gimana dengan kamu?
Buku yang pertama belum selesai sih, tapi buku kedua langsung selesai dalam beberapa waktu. Itu pun dibaca sambil nonton film. Hihihi. Berarti musti cari buku santai lagi nih, buat nemenin nyelesain buku pertama.

5 comments:

  1. hmm... dapat pengetahuan baru deh akuuu hehe.. makasih..makasih.. :D

    ReplyDelete
  2. ketika dihadapkan keanekaragaman, saya selalu berujar 'beruntung agama yg saya anut selalu memposisikan kasih sebagai yg paling depan, iya kasih tanpa memandang perbedaan', sebuah keberuntungan yg selalu saya antisipasi untuk tidak berubah menjadi egoisme.

    ReplyDelete
  3. Kalau gue sih agak nggak suka kata "toleransi" Mel soal-soal keragaman. Bbrp debat rasial jg mempermasalahkan apa toleransi adalah kata yg tepat buat coexistence. Soalnya toleransi menunjukkan batas, atau kayak bikin kesalahan, kalau kecil2 sih cingcay lah. Gua sih lebih suka kata "menerima&menghormati" hehe ....

    patsy

    ReplyDelete
  4. hari ulang tahun menurut saya?

    hari biasa seperti hari-hari lainnya. mengingat usia saya bertambah dan semakin tua serta dituntut untuk lebih bijak dan bertanggungjawab *darn*.

    hari ulang tahun adalah hari dimana saya harus mengeluarkan dana yang cukup besar atas desakan orang-orang yang ingin supaya hari jadi saya dirayakan dan mereka bisa menikmati. huh.. padahal seharusnya sebaliknya, bukan? yg ulang tahun malah gak dapet kado :)

    ReplyDelete
  5. Patsy: setuju, gue gak suka toleransi yang itu. tulisan gue diatas emang cuman sepersekiannya sih :) dia juga bilang, orang udah salah kaprah dalam bilang toleransi ke tipe yang ketiga itu. dan sebetulnya jadinya mereka malah tidak bertoleransi... apapun itu deh artinya!
    Buat Imponk, iya nih, ultah berarti tekor. Kecuali di taiwan, konon justru temen2nya yang nraktir yang ulang taun. ASik kan :)

    ReplyDelete